Mereka memasuki mobil, sebelum melaju Alea memberikan cincin itu pada Sean.
"Sean, ambil ini" ucap Alea.
"Apa aku harus memakainya?" tanya Sean.
"Tentu saja, dengan begini. Aku akan tahu jika kamu ada di dekatku" balas Alea yang langsung memasangkan cincin tersebut tanpa izin dari Sean.
"Lihat permata kita menyala" sambung Alea dengan senang.
"Hm" balas Sean.
"Untuk mengganjal perutmu, makan makananmu" sambung Sean yang langsung melajukan mobilnya.
"Ok" balas Alea.
Ia masih melihat cincin melingkar di jarinya yang terus menyala. Senyumnya terus mengembang karena merasa senang.
"Cepat makan makananmu" ucap Sean yang melihat Alea masih sibuk dengan cincinnya.
"Baik-baik" timpal Alea.
Alea membuka bungkusan makanan yang ia beli sebelumnya. Alea memakannya dengan lahap karena terasa sangat enak.
Ia menoleh pada Sean yang fokus mengemudikan mobilnya. Melihat itu, Alea membuka bagian milik Sean. Ia sedikit memotongnya lalu menyodorkannya pada Sean untuk menyuapi lelaki itu.
"Ayo makan" ucap Alea.
"Tidak usah, kau saja" balas Sean.
"Kamu juga harus makan Sean" tegas Alea.
"Buka mulutmu" sambung Alea mendekatkan suapannya.
Karena perut Sean yang lapar juga, akhirnya Sean membuka mulutnya dan melahap makanan itu.
"Bagaimana? enakkan?" tanya Alea mendapat anggukan dari Sean.
"Kalau begitu ayo makan lagi" sambung Alea kembali menyodorkan suapan kedua.
"Kau juga makan" ucap Sean.
"Iya, aku juga makan" balas Alea.
Dua puluh menit sudah berlalu, akhirnya mereka sudah sampai di sebuah restoran yang sangat mewah. Bahkan Alea sangat tertegun melihat restoran itu.
"Ayo" ajak Sean menggerakkan lengan tangannya.
Alea tidak mengerti apa yang di maksud Sean. Sean yang mengetahui itu meraih tangan Alea lalu memasukkannya pada lengan miliknya.
Alea tersenyum dibuatnya, lalu ia mengeratkan pegangannya pada lengan kokoh milik Sean.
Begitu juga dengan Sean, ia menoleh pada Alea. Ada rasa senang dihatinya kala Alea mengeratkan lingkaran tangannya di lengan miliknya.
Mereka mulai berjalan memasuki restoran mewah itu dengan kaki yang menginjak karpet merah sampai ke tempat yang sudah Sean siapkan.
Disana sudah banyak pelayan berjajar yang siap melayani mereka. Tak lupa ada beberapa orang yang memainkan musik seperti biola, piano dan lainnya.
Sesampainya di tempat makan, Sean melepaskan tangan Alea. Ia menarik satu kursi dan meminta Alea untuk duduk.
Alea mulai duduk di atasnya, ia benar-benar merasa aneh dengan sikap Sean yang berubah seperti ini.
"Kamu mau makan apa?" tanya Sean.
"Aku? terserah kamu saja" balas Alea.
Sean mengangguk, ia membisikkan sesuatu pada salah satu pelayan. Lalu tak lama dari itu, beberapa pelayan langsung membawakan makanan yang sudah disiapkan sebelumnya.
Sangat banyak, makanan yang dihidangkan di atas meja sangatlah banyak.
"Wah, kenapa banyak sekali" ucap Alea.
"Karena yang ku tahu kamu suka makanan" balas Sean.
"Memangnya aku seperti itu ya dimatamu" gerutu Alea.
"Aku hanya bercanda" timpal Sean.
"Tidak lucu" lirih Alea pelan.
"Udah makan makanannya" balas Sean.
Sean mengambilkan beberapa hidangan untuk Alea.
Semuanya berjalan sangat lancar dan nyaman. Mereka menikmati makanan yang mereka makan dengan diiringi musik.
Sesekali Alea menoleh pada orang yang memainkan alat musik piano. Ia merasa bahwa alat musik itu tidak asing dengannya.
"Ada apa" tanya Sean.
"Aku ingin memainkan benda itu" tunjuk Alea.
"Piano?" tanya Sean.
"Piano?" lirih Alea, ia merasa akrab dengan kata itu. Tiba-tiba saja kepala Alea sangat sakit. Garpu yang ia pegang terjatuh dan kedua tangannya memegang kepalanya.
"Ada apa?" tanya Sean.
"Kepalaku" rintih Alea.
Sean berusaha membantu Alea, namun ia juga bingung harus melakukan apa.
(Aneh, kenapa akhir-akhir ini kepalaku selalu sakit. Dan bayangan-bayangan mulai muncul di pikiranku) pikir Alea.
Sean memberikan air putih yang hangat pada Alea.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Sean.
"Aku tidak apa-apa" balas Alea.
(Hanya saja hari ini bayangan itu semakin jelas. Saat dibazarpun kepalaku terasa sakit karena merasa tidak asing dengan tempat itu) sambung Alea dalam hati.
"Apa sebaiknya kita pulang?" tanya Sean.
"Tidak, lanjutkan saja. Sangat jarang kita keluar dan kamu menemaniku" balas Alea.
Sean menganggukkan kepalanya, mereka kembali melanjutkan menyantap makanan yang ada di atas meja.
Setelah beberapa waktu kemudian, mereka berdua telah selesai. Sean kembali mengajak Alea memasuki mobil.
"Kamu serius? kita mau melanjutkannya?" tanya Sean.
"Tentu saja, aku tidak apa-apa Sean"
"Baiklah" ucap Sean lalu menancapkan gas mobilnya.
Lagi-lagi di perjalanan kepala Alea terasa sakit, perasaan tidak asing itu kembali muncul kala melihat pemandangan jalan sekitar.
"Alea kamu yakin?" tanya Sean.
"Aku tidak apa-apa Sean" sambung Alea.
Tak membutuhkan waktu yang lama mereka sudah sampai di tempat tujuan, yaitu pasar malam. Perjalanan yang cukup lama membuat mereka sampai di pasar malam pada malam hari. Dan itu, sesuai dengan perkiraan Sean.
"Terimakasih Sean" ucap Alea yang refleks memeluk Sean.
Sean diam, lalu tak lama tangannya bergerak membalas pelukan Alea.
"Apa kau suka?" tanya Sean.
"Aku suka" balas Alea yang masih memeluk Sean.
"Suka apa? pasar malam atau memelukku?" tanya Sean membuat Alea tersadar dan melepas pelukannya.
"Hehehe maaf" balas Alea.
"Indah sekali" ucap Alea.
"Ayo masuk" ajak Sean mendapat anggukan dari Alea.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba kepala Alea kembali terasa sakit. Bayangan-bayangan aneh kembali muncul di pikirannya yang semakin jelas.
Bahkan dalam bayangannya, Alea pernah pergi ke tempat seperti ini. Tapi dengan siapa dalam ingatan itu Alea tidak bisa memastikannya dengan jelas.
"Alea kamu baik-baik saja? apa lebih baik kita pulang saja?" tanya Sean.
"Tidak Sean, aku sangat ingin bermain disini" jawa Alea.
Tidak ada pilihan lain, mau bagaimana lagi. Sean tidak bisa pergi karena Alea sangat ingin berada di tempat ini.
Sean membawa Alea untuk duduk, ia memberikan minuman agar Alea merasa tenang.
"Bagaimana?" tanya Sean.
"Jauh lebih baik" ucap Alea.
"Sean" panggil Alea.
"Hm"
"Terimakasih selalu ada disaat aku kesulitan" jelas Alea membuat Sean diam seribu bahasa.
"Aku tidak sebaik itu Alea" balas Sean membuang wajahnya.
"Aku tahu, tetapi sebenarnya kamu adalah orang yang baik" sambung Alea.
Sean tak menjawab apapun, ia memilih diam. Ada perasaan aneh yang kini menyelimuti hatinya.
"Sean, aku ingin naik itu. Ayo" ajak Alea mengalihkan suasana canggung di antara mereka.
"Sean ayo" paksa Alea.
"Tidak bisa Alea, itu seperti anak kecil " tolak Sean. Bagaimana mungkin Sean harus menaiki patung kuda yang memutar.
"Aku mohon" bujuk Alea dengan memasang wajah imutnya.
"Baiklah" pasrah Sean.
"Yeeayy" senang Alea.
Alea segera menarik tangan Sean, mereka mulai menaiki patung kuda yang berputar.
"Sean cepat foto aku" teriak Alea memasang ekspresi lucunya.
Sean mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, ia memotret Alea yang terlihat sangat cantik.
"Bagaimana?" tanya Alea yang berjalan mendekat.
"Hati-hati" tangkap Sean meraih tubuh Alea yang hampir terjatuh karena berjalan pada permainan yang masih berputar.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Sean.
"Aku tidak apa-apa. Mana lihat" balas Alea yang langsung merebut ponsel Sean untuk mengalihkan kegugupannya.
"Wah lucu sekali. Ayo kita bikin video" sambung Alea.