Setelah Sean pergi, Alea kembali duduk untuk mencari tahu apa yang terjadi pada ingatannya. Akhir-akhir ini banyak sekali bayangan muncul, entah itu seorang anak kecil yang sedang bermain dengan kedua orang tuanya, atau bayangan sosok lelaki yang ada di dalam layar laptop Sean.
"Sebenarnya apa yang terjadi" gumam Alea.
Alea memegang kepalanya, semakin ia mencoba untuk mengingat semakin terasa sakit yang ada di kepalanya.
"Lebih baik aku membereskan semuanya dulu" pikir Alea.
Ia berdiri dan mulai membereskan tempat makan, tak lupa ia juga mencuci piring sisa makan tadi pagi.
"Selesai" ucap Alea yang sudah membereskan ruang dapur, tak hanya itu. Alea juga membersihkan semua bagian ruangan karena Sean yang tidak suka jika apartemennya berantakan.
Alea kembali ke dapur, ia berniat untuk menyeduh s**u coklat kesukaannya.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul satu siang. Alea menonton televisi hingga tertidur.
Klek
Suara pintu apartemen terbuka.
Sean kini pulang lebih awal, ia mempunyai janji pada seseorang.
"Alea" panggil Sean sembari membuka sepatunya.
Tak ada jawaban apapun, Sean berjalan beberapa langkah. Hingga ia menemukan Alea yang tengah tertidur pulas.
Sean mendekat ke arahnya. Tak sengaja bibirnya mulai melengkungkan sebuah senyuman.
"Bulu mata yang panjang" gumam Sean mengulum senyumnya. Sean mengakui bahwa wanita yang ada didepannya ini sangat cantik. Bahkan saat tidurpun wajahnya tetap manis dan menyenangkan untuk di pandang.
"Sean" panggil Alea yang mulai membuka mata.
Sean segera bangkit sedikit menjauh dari posisi sebelumnya.
"Sudah pulang? jam berapa ini" tanya Alea beralih melihat pada jam dinding.
"Masih siang, tidak biasanya kamu pulang cepat" sambung Alea.
"Kenapa kau tidak menyukainya" tanya Sean.
"Hmm, tidak juga" balas Alea.
"Sudah cepat sana, siap-siap aku akan mengajakmu ke suatu tempat" ucap Sean yang langsung pergi meninggalkan Alea.
Alea mengerutkan dahinya, rasanya hari ini Sean terlihat sangat aneh. Meskipun begitu, Alea tetap melakukan apa yang dikatakan oleh Sean. Bersiap untuk pergi yang entah kemana.
Tok ... tok ... tok
Seseorang mengetuk pintu kamar Alea.
"Sebentar" teriak Alea memakai handuk kimono juga handuk kecil yang berada di kepalanya karena baru saja selesai mandi.
"Iya?" tanya Alea membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Alea lagi yang melihat Sean tak menjawab pertanyaannya.
"Sean?" panggil Alea yang akhirnya membuat Sean tersadar dari lamunannya.
"Ekhem, ini. Pakai ini" ucap Sean langsung memberikan sebuah kotak Alea.
Alea yang melihat Sean menyodorkan sebuah kotak, ia mengambilnya dengan ekspresi bingungnya karena sikap Sean yang semakin hari semakin aneh.
Sementara itu, Sean yang baru saja meninggalkan kamar Alea terus mengatur nafasnya. Bagaimana bisa semakin hari Alea semakin cantik dan terlihat menarik. Walaupun barusan itu, Alea hanya memakai kimono dan gulungan handuk di kepalanya.
"Ada apa denganku. Sean fokus dengan rencanamu" gumam Sean mengacak rambutnya.
Dua puluh menit telah berlalu, Sean kini sudah siap dan menunggu Alea untuk keluar.
"Alea cepat" ucap Sean, ia merasa aneh kenapa wanita selalu terlambat dan lama, memangnya apa yang mereka lakukan.
"Ya, ya sebentar" balas Alea yang masih memandang pantulan dirinya di depan cermin.
"Bagus sekali baju ini" lirih Alea pelan di akhiri senyum kecilnya.
"Aku datang" ucap Alea mengambil tas selempang kecilnya.
"Kenapa lam-"
Sean tidak menyelesaikan kalimatnya, ia cukup di buat tertegun dengan penampilan Alea yang sangat cantik. Bahkan lebih cantik dari kemarin malam.
Alea tersenyum, ia memutar tubuhnya memperlihatkan penampilannya pada Sean yang sudah memberikan mini dress putih selutut sekaligus dengan sandal berwarna putih yang mempunyai hak kaca tidak terlalu tinggi.
Selain itu, rambut panjang Alea ia biarkan tergerai dan di beri manik kecil di bagian kanan rambutnya. Membuat dirinya terlihat sangat imut, cantik, dan indah.
"Cantik" ucap Sean sangat pelan.
"Apa?" tanya Alea mencoba memperjelas apa yang dikatakan Sean.
"Tidak, ayo pergi" ucap Sean yang langsung membuang wajahnya lalu berjalan keluar.
"Hey tunggu" pekik Alea dengan memasang senyumnya. Entah kenapa dirinya merasa senang kala Sean mengatakan sebuah kata 'cantik'.
Ya memang benar, sebenarnya Alea mendengar apa yang dikatakan Sean. Hanya saja ia ingin mendengar lebih jelas, namun tetap saja. Sean selalu gengsi untuk memuji orang lain.
"Sepertinya kau sangat senang hari ini" ucap Sean yang kini sudah berada di dalam mobil bersama Alea.
"Hm" angguk Alea terlihat sangat lucu.
Sean membuang wajahnya lalu menghidupkan mesin mobil miliknya. Ia sedikit mengukir senyumnya melihat Alea yang sangat imut.
"Aku akan membawamu ke sebuah tempat, tetapi kita akan pergi membeli lensa untukmu. Karena matamu akan menarik semua orang" jelas Sean.
"Baik, terserah kamu saja. Aku percaya dengan apa yang akan kamu lakukan"
Deg.
Aneh, hati Sean merasa gundah mendengar kalimat yang di ucapkan Alea. Dadanya sedikit terasa sesak namun ia mencoba untuk tidak memperlihatkan ekspresi apapun.
"Apakah masih jauh?" tanya Alea.
"Sebentar lagi" jawab Sean. Hingga beberapa menit Sean mengehentikan mobilnya dan pergi ke sebuah tempat khusus pembuatan kontak lensa.
"Ayo" ajak Sean mendapat anggukan dari Alea.
"Iya" balas Alea.
Sean berjalan lebih dulu meninggalkan Alea.
"Sean pelan-pelan, aku sedikit kesulitan" ucap Alea yang kesulitan untuk menyamai langkahnya dengan Sean.
"Kemari" ucap Sean mengulurkan tangannya.
Alea terdiam, ia melihat Sean lalu beralih pada tangan Sean yang terbuka.
Grep
Alea meraih tangan Sean, ia memberikan sebuah senyuman padanya.
Mereka kembali berjalan memasuki tempat itu.
Alea duduk di sebuah kursi khusus, matanya di cek untuk menyesuaikan dengan kontak lensa yang berwarna biru. Sehingga kedua bola matanya berwarna biru.
"Aku sudah menyiapkannya sesuai dengan apa yang kau katakan. Dan lensa yang ku siapkan sepertinya cocok untuknya" ucap teman Sean yang membantu membuatkan lensa untuk Alea.
"Hm, pasang saja" balas Sean.
Setelah menunggu beberapa menit bahkan sampai satu jam, akhirnya Alea sudah memakai lensa itu dan berlatih bagaimana cara mengambilnya dan memasangnya kembali. Selain itu, Alea juga di beri tahu kapan ia harus mencopot lensa itu dan memberikannya cairan atau membersihkannya dengan cairannya.
"Ck ck ck, ternyata benar. Kau memang cantik sekali" ucap teman Sean.
"Baik - baik, aku tidak akan mengganggunya" sambungnya melihat Sean yang memincingkan matanya.
"Alea ayo" ajak Sean
"Ah iya baik, terimakasih ka" ucap Alea memberikan senyumnya.
"Sama-sama cantik" balas teman Sean.
"Alea" panggil Sean.
"Iya-iya"
Alea melambaikan tangannya, ia pamit untuk pergi dan memasuki mobil Sean.
"Sepertinya hatimu mulai tumbuh kembali" ucap lelaki itu tersenyum lalu berbalik kembali melanjutkan pekerjaannya.
Hening,
Suasana di dalam mobil terasa sepi, tak ada perbincangan apapun dari keduanya. Alea juga merasa aneh dengan sikap Sean yang berubah.
"Alea" panggil Sean namun masih fokus memandang lurus.
"Iya?" balas Alea dengan antusias.
"Aku tidak suka kamu tersenyum seperti itu pada orang lain"