"Biar ku buatkan kopi saja" gumam Alea membuang nafas dalamnya.
Alea mengambil satu gelas dan alat pembuatan kopi, karena biasanya Sean selalu menyukai kopi yang dibuat sendiri. Walupun sebenarnya Sean tidak terlalu sering minum kopi.
"Dimana ya aku menyimpan biji kopi itu" gumam Alea mencari keberadaan kotak yang berisi biji kopi.
"Oh itu" tunjuk Alea.
Biji kopi berada di paling atas, ketinggian Alea tidak bisa mencapai itu. Oleh karena itu, Alea menarik kursi kecil yang ada disana yang sudah disiapkan sebelumnya.
Alea mulai menaiki bangku kecil itu, tangannya meraih kotak kopi tersebut. Hanya saja, tiba-tiba kakinya tergelincir.
Sedangkan Sean yang baru saja datang melihat Alea yang hendak terjatuh segera mendekat dan meraih tubuh Alea.
Bruk!
Lagi-lagi dengan posisi yang sama. Alea berada di atas Sean bersamaan dengan kopi yang berhamburan jatuh menimpa keduanya bagaikan air hujan yang turun.
Alea segera bangkit, ia memegang keningnya. Bagaimana bisa hal ini terjadi lagi dalam waktu yang dekat.
"A-ku akan ke kamar dulu" ucap Sean sedikit gugup.
"Hm" angguk Alea.
Sean meninggalkan Alea yang berada di dalam dapur, ia memijat keningnya mengatur pernafasan dan hatinya yang kini sudah tidak beraturan.
Begitu juga dengan Alea, ia segera mengambil air minum dan meminumnya untuk menetralisir perasaannya yang kini sedang bercampur aduk.
"Aku harus menyelesaikan masakanku" ucap Alea mencoba untuk fokus.
Beberapa menit kemudian, barulah Alea selesai mempersiapkan semuanya.
Ia berjalan menuju kamar Sean, dan memanggilnya untuk sarapan.
"Ya, sebentar lagi"
"Baiklah, aku tunggu di ruang makan" balas Alea.
Alea berbalik, ia berjalan menuju ruang makan. Namun, hanya beberapa langkah kepalanya tiba-tiba saja terasa sakit. Alea mencoba untuk melanjutkan langkahnya tetapi kepalanya semakin sakit.
Ada bayangan-bayangan aneh dalam pikirannya, dan itu membuat kepalnya semakin terasa sakit.
Karena terlalu sakit dan terasa berat. Alea sudah tidak bisa menahannya hingga terjatuh pingsan, dan yang lebih parahnya saat Alea terjatuh kepalanya terbentur sebuah meja yang tak jauh dari sana.
Sementara itu, Sean mendengar suara di luar kamarnya. Ia berjalan dan membuka pintu kamarnya. Dirinya melihat Alea yang sudah terbaring tak jauh dari pintu kamarnya.
"Alea" panggil Sean sedikit panik.
"Alea" ulang Sean memanggilnya.
Tanpa berpikir lama, Sean segera mengangkat tubuh Alea dan membawanya ke dalam kamar Alea. Disana Sean membaringkan tubuh Alea dengan sangat pelan. Ia juga merapikan selimut hangat untuknya.
"Apa aku harus telpon dokter?" gumam Sean.
"Kepalanya"
Sean melihat pelipis di bagian kepala Alea membiru. Sean menebak sepertinya kepalanya terbentur pada meja yang tak jauh ada disana.
Sean keluar dari kamar Alea, ia mengambil beberapa obat dan mengoleskannya pada Alea.
Drrrrtt ... drrrtt ... drrrrtt
Ponsel Sean kini berdering, ia merogoh saku jasnya melihat siapa yang memanggilnya.
"Ada apa Jamsh"
"Kau datang saja ke kemari" sambung Sean yang langsung mematikan panggilannya.
Setelah mengobati memar Alea, Sean keluar dari kamar Alea. Dan disana sudah ada Jamsh yang menunggu di depan pintu kamar.
"Kau mengagetkanku saja" ucap Sean yang berbalik menutup pintu dengan sepelan mungkin.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu" tanya Sean yang merasa aneh dengan tatapan Jamsh.
"Sudah, jangan menatapku seperti itu. Kemari" sambung Sean berjalan menuju ruang tamu.
"Katakan ada apa" tanya Sean dengan serius.
"Tuan, Tuan Maxi sudah mulai mencurigai kita" ucap Jamsh pada Sean.
"Kenapa bisa begitu"
"Tuan Maxi melacak ponselnya"
"Bukankah kalian sudah mengaturnya"
"Benar tuan, tapi-"
"Berikan padaku" ucap Sean meminta laptop yang dipegang Jamsh.
"Ini tuan" ucap Jamsh memberikan benda itu.
Sean meraihnya, Ia membuka laptop tersebut lalu mengotak ngatik sebuah program yang ada pada layar benda tersebut.
"Tuan" panggil Jamsh.
"Hm" jawab Sean yang masih fokus dengan laptopnya.
"Ingat tujuan kita, saya tidak ingin tuan-"
Belum sampai Jamsh melanjutkan perkataannya Sean menghentikan jari jemarinya yang sedang memainkan laptop.
"Aku tahu Jamsh" balas Sean.
"Tolong buatkan kopi" sambung Sean.
Jamsh mengangguk ia berjalan menuju dapur, sebenarnya Jamsh juga tahu. Sean menyuruhnya pergi membuatkannya kopi hanya sebuah alasan.
Jamsh tahu betul dengan perasaan Sean yang kini mulai melunak terhadap Alea.
Oleh karena itu, Jamsh harus mengingatkan terus menerus pada Sean agar tidak terjatuh ke dalam perangkapnya sendiri.
Sementara itu, Sean menundukkan kepalanya. Ia mengingat kejadian yang telah terjadi bersama Alea. Apakah benar perasaannya mulai melunak? pertanyaan itulah yang kini memenuhi pikirannya.
"Sean" panggil Alea membuatnya terkejut.
"Hm" balas Sean yang masih tetap memasang wajah datarnya.
(Kenapa dia terasa dingin) pikir Alea.
"Ada apa" tanya Sean yang kembali fokus pada laptopnya.
"Hmm, tidak" balas Alea.
Sean hendak menutup laptopnya, namun ada sebuah gambar yang menarik perhatian Alea.
"Tunggu, siapa itu" tunjuk Alea yang melihat foto beberapa orang. Termasuk ada foto dirinya di dalam sana. Namun yang menarik perhatiannya yaitu foto lelaki yang tidak terasa asing.
"Maxi" ucap Sean langsung menutup laptopnya.
(Maxi? kenapa lelaki itu selalu ada di dalam mimpiku dan bayangan memoriku. Siapa dia) pikir Alea.
"Ini tuan kopi nya" ucap Jamsh yang baru saja datang membuat secangkir kopi yang begitu wangi.
"Jamsh, kamu ada disni? kalau begitu kita makan bersama-sama" ajak Alea dengan mata berbinar.
"Baik" ucap Jamsh
"Tidak" ucap Sean
Jamsh dan Sean mengatakan kata yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.
"Sudah ayo, kita semuanya makan bersama" ajak Alea meraih lengan Jamsh membawanya ke ruang makan dan langsung memaksanya duduk.
Sementara Sean, entah kenapa ia merasa tidak suka dengan sikap Alea yang memegang lengan Jamsh didepannya.
"Sean kemarilah" ajak Alea.
Sean menghembuskan nafas kasarnya, ia berjalan menuju meja makan.
"Akan ku ambilkan" ucap Alea memberikan makanannya untuk Sean dan Jamsh.
Tidak ada perbincangan dari ketiganya, suasana terasa sangat canggung dan hening. Hanya dentingan sendok piring yang mengiringi mereka.
Apalagi saat ini Alea hanya diam fokus pada makanannya dengan pikirannya yang entah kemana.
(Apa yang dimaksud perbincangan Jamsh dan Sean) pikir Alea yang sebenarnya ia sudah mendengar perbincangan mereka dari awal.
(Dan, siapa lelaki itu) Alea yang terus berusaha mengingat siapa lelaki yang bernama Maxi.
"Alea, kau masih diam" tanya Sean membuyarkan semua yang ada dalam pikirannya.
"Ah iya" ucap Alea melihat Jamsh dan Sean sudah selesai dengan sarapannya.
"Aku akan membereskannya, kalian akan pergi bekerja bukan?" sambung Alea.
"Hm" angguk Sean.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Sean merasa ada yang aneh pada Alea.
"Ah aku baik-baik saja. Kalian pergilah sebelum terlambat" ucap Alea membereskan piring kotor yang ada disana.
"Hm, kalau ada apa-apa panggil saja aku"
"Okey"
"Jamsh" panggil Sean yang melihat Jamsh terus memandang Alea yang sedang tersenyum.
"Baik tuan" ucap Jamsh langsung berjalan cepat keluar dari ruangan itu.
Sean mengerutkan dahinya, ada apa dengan Jamsh? padahal ia belum memberikan perintah apapun.