Dari Daniel kecil, sang ayah sudah mendidiknya agar dia tumbuh menjadi polisi seperti dirinya. Tidak jarang Daniel kecil mendapat tamparan di wajah, jejak sabuk di betisnya, atau pukulan sapu di punggungnya kalau dia melakukan kesalahan. Sang ayah bilang itu demi dirinya nanti di saat dewasa.
Bahkan saat Daniel kecil menangis setelah tersandung dan jatuh ke tanah, ayahnya akan membentaknya, menyuruhnya berhenti. “Anak cowok itu enggak boleh nangis! Kayak cewek aja kamu!”
Makian dan pukulan adalah pendidikan yang dia dapatkan dari sang ayah. Namun yang membentuk kepribadiannya adalah kasih sayang sang ibu yang diam-diam memanjakan Daniel di belakang ayah. Saat dia bersama ibunya Daniel seperti menjadi anak seusianya, dia bisa merengek saat tidak suka atau menginginkan sesuatu, dia bisa memakan permen kesukaannya walau tetap dibatas, dia bisa mendengarkan dongeng-dongeng yang selalu dibacakan ibunya sebelum tidur.
Bagi Daniel ibunya adalah fairy godmother yang mengabulkan semua keinginannya, Peterpan yang membawa dia pergi dari kekejaman sang ayah, dan korek api yang menghangatkannya di malam dingin. Sosok yang ia percaya akan selalu bersamanya, tempat dia pulang dan merasa aman.
Mungkin karena rasa cintanya pada sang ibu, Daniel yang saat itu baru berusia 15 tahun untuk pertama kalinya melawan sang ayah saat dia melihat tangan besar itu melayang, menampar pipi ibu yang basah karena air mata. Ada rasa marah yang langsung menelan semua logikanya, ia memukul ayahnya dengan kepalan tangannya yang tak jauh berbeda dari kepalan wanita dewasa.
“Kalau mau pukul, pukul yang benar! Apa-apaan tenagamu ini?! Memangnya kamu cewek, Dani?!” Tuding sang ayah yang bahkan tidak merasakan apapun dari pukulan Daniel yang bertubi-tubi. “Angkat sikutmu! Ayunkan dengan tubuhmu, Dani! Gimana kamu bisa jadi polisi kalau lemah gini?!”
Frustasi dengan kekuatannya sendiri, Daniel melangkah mundur, menyiapkan kuda-kuda, dan—dengan sedikit enggan—mengikuti arahan sang ayah. Dengan penuh kebencian, tinjunya melayang dan menghantam pipi ayah dengan kencang, membuat lelaki bertubuh kekar itu mengambil langkah mundur. Buku-buku jarinya lecet dan nyeri. Walau tidak membuat sang ayah jatuh, itu adalah pukulan pertamanya yang bisa memberi impak pada sang kepala polisi.
Sejak saat itu Daniel melatih dirinya agar bisa melindungi sang ibu. Semakin menutup dirinya dan larut dalam petualangannya seorang diri. Kecuali saat gadis itu menanyakan keikutsertaannya dalam salah satu lomba olahraga sekolah.
“Dani, mau ikut voli enggak? Kita kurang orang nih,” tutur gadis yang sekarang dia simpan jauh dalam lubuk hatinya.
Gadis itu, yang sekarang wajahnya sudah perlahan hilang dari ingatannya, adalah satu-satunya orang yang masih repot-repot mengajak Daniel bergaul saat SMA. Di setiap kegiatan kelas, anak itu akan menanyakan keikutsertaanya dan menyemangatinya dari tempat penonton. Mungkin bagi gadis itu, sapaan dan ajakannya hanyalah kebiasaan, namun bagi Dani yang pada saat itu sedang kalut merasakan hal yang berbeda. Seandainya dulu dia memberanikan diri untuk lebih dekat, akankah cerita mereka berbeda sekarang?
Larut dalam pemikirannya sendiri Daniel tidak sadar panggilan dari rekan detektifnya sedari tadi. “Bang Dani!” Seru Jaka kesal.
Daniel yang terlihat sedang memandang bangunan tinggi di luar jendela, melirik ke arah rekannya yang mengemudikan mobil mereka. “Apa?” Tanyanya datar.
“Udah sadar? 2+2 berapa?”
Daniel mengerlingkan matanya, “…empat.”
“Ok. Tadi kita dapet panggilan. Ada anak SMA yang nusuk gurunya di SMA Bakti Pertiwi,” jelasnya tanpa emosi.
Daniel yang mendengarkan langsung menoleh ke arah lelaki yang lebih muda 4 tahun dari dirinya itu. “Korbannya gimana?”
Masih fokus melaju, menyalip mobil-mobil di depannya bagai pembalap, Jaka mengetuk-ngetukkan jarinya di setir mobil. “Belum tau, tapi kayaknya langsung dilarikan ke rumah sakit enggak sih? Udah ada polisi patroli yang ke sana sih, kita mah…” ujarnya mengaburkan tujuan mereka ke sana.
Daniel kembali mengerlingkan matanya, sepertinya kasus ini akan dioper ke tim lain setelah hari ini. Semua kasus yang ada hubungannya dengan orang-orang tertentu selalu ditangani oleh tim khusus. Kadang dia mempertanyakan, untuk apa dirinya yang polisi biasa ini ditugaskan pada awal penyelidikan kalau setelahnya disuruh untuk angkat kaki? Tapi apalah daya, orang yang tak punya kuasa tugasnya hanya menjalankan perintah saja, dengarkan dan taati seperti anjing.
-oOo-
Daniel tidak pernah mengira, dia akan menginjakan kakinya lagi di sekolahnya dulu. Tidak sebagai alumni apalagi sebagai polisi. Tapi di sini lah dia berdiri tepat di pintu masuk sekolahnya.
Kira-kira siapa guru yang menjadi korban penusukan muridnya? Apa guru yang dia kenal? Tapi kalau dipikir-pikir lagi, apa ada guru-gurunya dulu yang belum pensiun?
Bangunan sekolahnya saja sudah banyak berbeda. Dia juga bisa melihat ada bagian yang ditutup terpal dengan plang bertuliskan ‘sedang renovasi, jaga jarak’. Sekolahnya dulu sekarang sudah lebih modern dengan banyak sentuhan teknologi di mana-mana. Sebenarnya dia tidak begitu kaget, apalagi dengan adanya kucuran dana dari perusahaan pengembang tersohor, sudah pasti sekolah ini masuk dalam kategori sekolah elit.
Larut dalam pikirannya sendiri, Daniel mendapati dirinya berhenti di depan polisi patroli yang bertugas. Di belakang 2 polisi itu, dia bisa melihat seorang anak SMA yang menundukan wajahnya, di sebelah anak itu berdiri 3 orang lelaki yang sepertinya merupakan guru di sana. Salah satu dari 3 guru itu tampak familiar di mata Daniel, namun dia memusatkan perhatiannya pada rekan polisinya.
“Habis ini biar kami yang urus. Semua bukti dan foto langsung kirim ke divisi 1 kriminal saja. Untuk sidik jari dan darah periksa di lab lalu suruh orang forensik mengirimkan hasilnya lewat email,” perintah Daniel pada polisi yang berjaga.
“Siap laksanakan!”
“Ya, makasih.”
Jaka sudah lebih dulu menghampiri anak laki-laki tersebut. Karena usianya yang belum legal secara hukum, kedua tangan anak itu tidak diborgol melainkan diikat dengan tali ripet. Dia melihat bagaimana rekan polisinya itu berjongkok dan menyodorkan botol air mineral ke arah anak itu. Dia dapat dari mana minuman itu?
“Ini, minum dulu. Habis ini kamu ikut abang ke kantor ya,” kata lelaki berkacamata itu dengan suara yang lembut, sama sekali berbeda dengan saat lelaki itu berbicara pada Daniel.
“Saya bukan anak kecil,” balas anak SMA itu ketus, mengabaikan air mineral yang ditawarkan.
Seorang guru yang terlihat paling tua di antara 3 guru itu, menempeleng kepala anak itu. “Hush! Yang sopan, Cakra!”
Anak bernama Cakra itu menyipitkan matanya kesal, kemudian bergeser menjauhi guru tersebut. Jaka yang melihatnya mendongak, kemudian tersenyum ke arah sang guru. Tapi Daniel bisa melihat tatapan matanya yang tidak suka.
Tidak ingin ada pertumpahan darah yang lain, Daniel buru-buru menyela Jaka. “Kami akan langsung membawa Cakra ke kantor untuk dimintai keterangan. Saya harap bapak-bapak sekalian nantinya bersedia untuk datang saat dipanggil sebagai saksi,” tuturnya dengan tegas.
“Ah ya, baik. Tentu saja pak, kami akan berusaha untuk kooperatif dalam penyelidikan. Bagaimanapun juga, salah satu rekan kami menjadi korban dan murid kami tercinta melakukan hal seperti ini... kami harap kasus ini bisa selesai dengan seadil-adilnya tanpa harus menghancurkan masa depan anak didik kami,” balas guru lelaki itu dengan wajah sedih dan prihatin.
Sejujurnya Daniel sedikit ragu, kalau orang di depannya ini benar-benar bersimpati dengan pelaku maupun korban, namun dirinya yang selalu mengikuti SOP tersenyum mengangguk ke arah sang guru. Dia kemudian mengisyaratkan pada Jaka untuk segera pergi dari sini.
Baru beberapa langkah dia keluar dari gerbang dalam sekolah menuju mobilnya terparkir, salah satu guru muda yang tadi ikut menjaga Cakra menghentikannya.
“Sebentar, kang!”
Daniel menoleh ke arah guru itu.
Sambil sedikit terengah-engah dia berdiri di depan Daniel. “Kamu teh Dani bukan sih? Alumni sekolah ini?”
Daniel yang mendapat pertanyaan tidak terduga mengamati lelaki di depannya itu selama beberapa detik. Dia guru yang tadi terlihat familiar. “Iya. Kenapa gitu?”
“Tuh kan bener Dani! Inget urang teu? Urang Dunia yeuh! Dudung Kurnia! Tapi sekarang mah orang-orang manggil Mas Kur sih, udah bukan Dunia lagi,” jelas guru lelaki itu dengan senyum lebar.
Daniel yang sejujurnya tidak begitu ingat hanya bisa tersenyum canggung. “Oh.. iya, inget kok.”
Dia sesekali melihat ke arah mobil seolah memberi isyarat kalau dirinya sedang sibuk. Kurnia yang salah menangkap arti dari isyaratnya langsung menepuk pundak Daniel dengan keras.
“Hebat euy! Sekarang mah udah jadi polisi!”
“Oh.. iya, makasih. Kamu juga sekarang jadi guru. Mm.. saya harus buru-buru balik kantor, kalau enggak ada yang penting lagi… saya permisi dulu,” tuturnya dengan cepat kemudian menganggukkan kepalanya.
“Ah! Kamu inget Macaroon enggak?”
Deg!
Nama yang tidak pernah dia sangka akan terdengar lagi olehnya. Nama yang sama dengan salah satu jenis kudapan itu hanya dia temukan sekali seumur hidupnya dan itu terjadi saat dia SMA. Gadis yang wajahnya perlahan terlupakan, namun namanya yang unik rasanya sulit untuk hilang.
Daniel melihat Kurnia dengan tatapan bingung. Kenapa nama itu tiba-tiba muncul di pembicaraan mereka berdua?
“Iya, inget.”
Kurnia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tangannya menggaruk tengkuknya. “Dia… guru yang ditusuk sama Cakra. Urang cuma mau ngasih tau itu aja sih… sama tolong jangan kasar-kasar ke anak itu. Dia enggak jahat kok,” jelas lelaki itu kemudian mengangkat tangannya dan kembali masuk ke dalam gedung sekolah tersebut.
Daniel yang masih memproses omongan Kurnia, kembali berjalan ke arah mobil dan duduk di kursi belakang bersama Cakra. Sedangkan Jaka kembali mengemudikan mobil mereka menuju kantor polisi.
Jadi guru yang tertusuk dan dilarikan ke rumah sakit itu… Macaroon?
-oOo-
Glosarium
Urang - Merupakan salah satu kata Bahasa Sunda, yang artinya aku.