Ruangan ukuran 2x3 itu hanya diterangi oleh lampu temaram, dengan cat abu pekat yang menyerap cahaya, sebuah jendela observasi satu arah yang membuat kaca di ruangan itu lebih mirip cermin, dan sebuah pintu satu orang yang menjadi satu-satunya akses keluar-masuk membuat ruangan ini seolah-olah dipakai untuk mengisolasi siapapun yang ada di dalamnya dari dunia luar. Dalam ruangan tanpa ventilasi itu, duduk seorang anak SMA di salah satu sisi meja besar yang diletakkan tepat di tengah ruangan.
Dari balik kaca satu arah yang ada di samping kiri anak itu, 5 orang dewasa berdiri bergerombol di ruangan yang jauh lebih sempit lagi. Kelimanya mengamati anak SMA tersebut larut dalam pikiran masing-masing.
“Besok juga kasusnya bakal diambil alih sama tim khusus, tulis laporan seadanya aja udah!” perintah Pak Ham dengan nada lelah. Lelaki itu adalah ketua tim Daniel dan Jaka. Umurnya sudah 56 tahun, tinggal menunggu waktu untuk akhirnya dia bisa pensiun dari semua pekerjaan melelahkan ini.
“Kok gitu pak?” tanggap Jaka yang tidak terima.
Ketiga rekan timnya menatap horor ke arah polisi muda tersebut. Dani yang bisa menebak kemana arah pembicaraan ini hanya bisa pasrah dengan prospektif kerja lembur di depan mata.
“Emangnya kamu mau apa, hah?” tantang Terra, satu-satunya polisi wanita di tim tersebut. “Kasus anak yang hilang itu juga bukan urusan kita dari awal, ngapain kita harus nambahin kerjaan? Emang kalian berdua enggak ada kasus lain apa?”
“Enggak ada,” tanggap Jaka dengan senyum lebarnya. “Kasus yang kemarin juga udah selesai kan? Mbak Terra sama Reza juga lagi enggak ada kerjaan. Selain nulis laporan ngapain lagi coba? Lagi pula tim khusus kerjanya apa? Sampai sekarang anaknya juga belum ketemu tuh?”
“Hush! Kamu mau ada pertumpahan darah apa?” tegur Pak Ham sambil menempeleng kepala Jaka.
“Tapi Mas Jaka enggak salah juga sih, pak. Mereka dapet kerjaan kan karena privilege. Tapi hasilnya mana? Masa kita ngalah sama orang-orang titipan kayak mereka?” bela Reza sambil merangkul Jaka yang membenarkan pembelaan pemuda itu.
“Apa salahnya kita coba selidikin? Kalau memang kata Cakra bener, kan bapak bisa dapet promosi terakhir,” rayu Jaka berusaha mendapatkan simpati ketua timnya. “Lagi pula, Pak Ham juga punya anak perempuan kan? Jadi pasti paham lah perasaan bapaknya siswi yang hilang itu. Kalau anak Pak Ham hilang juga, emangnya bapak bisa diem aja?”
Kepala Jaka kembali ditempeleng, tapi kali ini oleh Daniel yang merasa kata-kata rekan kerjanya itu kelewatan.
“Sekalipun saya enggak setuju sama perumpamaanya Jaka, tapi mungkin dia ada benarnya juga, Pak. Siapa tahu kita semua dapat promosi kalau kasus ini selesai,” tanggap Terra yang sedari tadi mendengarkan pendapat Jaka dan Reza.
Daniel yang saat itu merasa hanya Terra yang tidak akan setuju dengan ide ini, mendengar pendapat wanita itu, dia sedikit merasa terkhianati. Tidakkah laporan yang harus mereka kerjakan juga sudah banyak?
“Kalau menurutmu gimana, Daniel?” tanya Pak Ham yang melayangkan tatapannya pada pemuda paling tinggi di ruangan itu.
Semua mata menatap ke arahnya yang membuat dirinya sedikit tidak nyaman. Kenapa harus dia yang memberi pendapat terakhir? Kalau semua tergantung pendapatnya jujur saja dia tidak ingin terlibat… atau mungkin lebih tepatnya tidak ingin terlalu terlibat dalam kasus ini. Jika memang harus blak-blakan, dia lebih penasaran pada guru yang menjadi korban anak SMA itu, dan jika benar wanita itu adalah korban yang saat ini sedang terbaring di rumah sakit, Daniel lebih ingin mengusut kasus Cakra sampai tuntas daripada menyelami kasus siswi hilang yang bahkan tidak dia kenal. Namun di sisi lain, hati nuraninya sedikit terbebani, karena bagaimanapun juga siswi itu memiliki keluarga yang mungkin menunggunya.
Meski begitu terlepas dari apa yang dia pikirkan, tatapan orang-orang yang ada di ruangan itu terhadapnya rasanya lebih berat dari semua pertimbangannya. Sehingga akhirnya yang bisa dia lakukan adalah mengangguk. “Mungkin enggak ada salahnya juga kita selidikin, Pak,” ujarnya datar. Walaupun hatinya berteriak, mengapa dirinya menggali lubang sendiri?
Pak Ham yang tadinya tidak ingin menambah pekerjaan tidak perlu sebelum dia pensiun akhirnya mengangguk. “Yah kalau semuanya setuju, ya udah. Saya coba bilang ke Pak Cokro untuk membiarkan tim kita mengambil alih kasus ini,” ujar Pak Ham dengan sedikit tidak ikhlas. Dia kemudian langsung keluar dari ruangan, mempersiapkan diri bertemu dengan atasannya yang menyebalkan.
Jaka menjulurkan telapak tangannya ke arah Reza yang disambut tepukan penuh semangat dari pemuda itu. Keduanya tersenyum puas.
“Nanti kalian yang bikin laporan ya!” perintah Terra yang juga ikut keluar dari ruangan itu.
“Yaahh! Kok gitu??” rengek keduanya ikut keluar bersama wanita itu, berusaha bernegosiasi.
Daniel yang masih ada di ruangan itu mengamati Cakra yang ada di seberang cermin. Anak itu menatap cermin seolah tahu Daniel ada di sana. Kalau memang benar, korban dari penusukan hari ini adalah wanita itu… lalu apa?
-oOo-
BRAK!
Setumpuk dokumen berjilid-jilid dijatuhkan dengan kasar di atas meja Tim 3. Semua anggota tim itu yang sedang sibuk dengan laporan masing-masing langsung melirik ke arah orang yang memberikan mereka dokumen tersebut.
“Nih! Selamat ya! Semoga habis ini kalian enggak dipindahin!” ujar lelaki yang membawa dokumen itu dengan penuh sarkasme.
“Hmm… kayaknya kalian deh yang seharusnya khawatir soal itu,” tanggap Jaka kembali fokus pada layar komputernya. Mengabaikan seutuhnya keberadaan lelaki yang lebih tua darinya itu.
Wajah lelaki itu menjadi merah padam mendengar tanggapan lelaki berkacamata tersebut. “Heh, lo kira lo hebat apa? Sok-sokan pake kacamata biar keliatan pinter? Emangnya di sini enggak ada yang tahu apa kalau itu kacamata palsu?” tuding lelaki itu sambil bergegas menuju kursi Jaka, siap untuk menyerang.
“Duh, enggak ada yang bilang ini asli kali,” jawabnya dengan senyum kecil di wajahnya.
Terra yang ada di depannya berusaha untuk menutupi senyumannya, seolah dia masih fokus pada pekerjaannya. Daniel yang ada di sebelahnya sudah berdiri untuk menghentikan pertikaian yang mungkin akan terjadi.
“Makasih ya Bang dokumennya,” tuturnya sehangat mungkin sambil meletakkan kedua tangannya di depan d**a lelaki itu. “Nanti kalau kita ada pertanyaan, tolong dibantu ya Bang,” lanjutnya berusaha menenangkan keadaan.
Pemuda itu menatap Daniel dengan penuh kebencian. “Tanya si b*****t itu aja! Dia pinter kan!” maki pemuda itu tetap tidak terima.
Reza yang entah sejak kapan berdiri, mengalungkan tangannya pada leher lelaki itu. Kemudian merapikan baju pemuda itu. “Enggak usah dibawa panjang lah, Mas,” tuturnya ceria. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke arah pemuda itu dan menutup mulutnya dari samping seolah tidak ingin ada yang dengar. “Nanti yang ada Mas Agi yang keliatan b**o,” lanjutnya tanpa mengecilkan suaranya. Setelah itu dia melepas rangkulan tangannya dan menarik ujung bibir Agi memaksanya untuk tersenyum. “Nah, gitu kan ganteng ya nggak?”
Agi yang merasa sangat dipermalukan oleh Tim 3 menghentakan kakinya kesal dan melangkah pergi sambil memaki mereka dengan keras. Sedangkan orang-orang yang dia maki langsung sibuk dengan dokumen yang baru saja mereka dapat.
“Hmm.. kesaksian ini legit enggak sih? Kok beda banget sama anak itu?” tanggap Reza yang membaca file saksi untuk kasus hilangnya siswi SMA Bakti Pertiwi.
“Antara mereka semua bohong atau tersangka kita yang bohong,” tanggap Terra yang melihat file CCTV kasus tersebut.
“...guru yang ditusuk Cakra siapa sih namanya?” tanya Jaka pada Daniel yang sedang membaca file berisi detail kejadian hilangnya siswi tersebut.
Daniel terdiam sebentar. Cakra tidak pernah mengatakan siapa nama guru itu, katanya dia tidak pernah diajar guru tersebut karena dia tidak bersekolah di SD Bakti Pertiwi. Namun Kurnia mengatakan namanya yang tidak mungkin dia lupakan. “...Macaroon.”
“Lho? Nama tante anak ini juga sama, Macaroon Darmawan. Emang nama Macaroon tuh hits nya? Kayak nama kue soalnya,” komentar Jaka yang masih sibuk membaca profil Nurlela.
Dani yang mendengar nama lengkap wanita itu dari bibir Jaka langsung ikut membaca file yang dibaca pemuda itu. Dia yakin betul itu nama wanita yang selalu dia simpan jauh di dalam hatinya. Macaroon Darmawan.
Jaka kemudian menegakkan tubuhnya seperti menyadari sesuatu. Dia menyisir rambutnya ke belakang sambil mendengus, terkesima. “Anak itu dari awal tahu pasti korbannya siapa, huh?” komentar pemuda itu.
“Bang, gimana kalau kita coba ngobrol sama gurunya Cakra yang di rumah sakit?” ajak Jaka pada rekannya itu.
Daniel yang menghubungkan perkataan Jaka dari tadi tahu apa yang pemuda itu pikirkan. Macaroon yang dia kenal adalah guru yang menjadi korban Cakra dan tante dari siswi yang hilang. Sedari awal Cakra mungkin memang mengincar wanita itu, walaupun dia masih belum mengerti untuk apa?
-oOo-