Dirinya selalu tahu bahwa dia sama sekali tidak berbakat dalam bidang olahraga. Tidak seperti anak lelaki seusianya, Cakra tidak begitu suka panas-panasan diterpa sinar mentari yang menusuk mata. Hal itulah yang membuatnya tidak semangat saat jam pelajaran olahraga tiba.
Kelasnya sedang bermain dodgeball di lapangan, saat dia melihat keributan yang terjadi di ruang komite.
Sekolah Bakti Pertiwi merupakan sebuah sekolah swasta yang diurus langsung oleh Yayasan Peduli Negeri, anak perusahaan dari PT. Jagat Dirgantara Landscape. Dalam satu komplek sekolah terdapat tiga jenjang pendidikan yaitu SD, SMP, dan SMA dengan nama yang sama.
Bentuk bangunan sekolah tersebut dibentuk seperti huruf U dengan posisi lapangan yang berada tepat di tengah-tengah gedung tersebut. Hal itulah yang menyebabkan Cakra bisa melihat kericuhan di ruang komite yang berada di lantai dasar gedung utama.
Anak-anak yang penasaran akan kegaduhan tersebut sudah lebih dulu mengerumuni pintu ruangan tersebut, berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi. Sedangkan kelas Cakra yang sedang jam pelajaran olahraga menjadi tidak kondusif, sehingga meskipun guru olahraga mereka juga menyuruh mereka untuk tetap fokus, banyak anak-anak yang berhamburan menuju ruang komite. Cakra salah satunya.
Dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi, namun sekilas dia bisa melihat beberapa orang polisi seperti sedang menyeret seorang pria yang berteriak dan melontarkan kata-k********r. Saat dia berniat bertanya ‘ada apa’ pada salah satu murid di sana, tangan kanannya ditarik seseorang sehingga dia hampir terjungkal ke belakang.
“Apaan sih!?” serunya sambil berusaha melepaskan tangan yang menariknya. Dia menoleh dan melihat Zulfikar yang masih menggenggam tangannya dengan erat.
“Ikut!” suruhnya pada teman sekelasnya tersebut.
Mereka berjalan ke arah tempat yang lebih sepi, di bawah tangga gedung sekolah SD. Di situ Zulfikar baru melepaskan genggamannya. Dia melipat kedua tangannya di d**a.
“Kamu ngomong apa sama bapaknya Ela?” tembak pemuda tampan itu berusaha menahan amarahnya.
“Emang aku ngomong apa sama bapaknya Ela?” tanya balik Cakra tidak mengerti.
Zulfikar tersenyum seolah mencemoohnya, tidak percaya. “Pesta miras? Atau semacamnya mungkin?”
Cakra terdiam beberapa saat. Manatap Zulfikar bingung sebelum akhirnya ingat apa yang dia lakukan kemarin sore. “Oh…”
“Oh? OH!? Kamu tahu enggak apa yang kamu omongin dan ke siapa?” tuduhnya sambil meninggikan nadanya.
Cakra yang tidak terima menarik kerah Zulfikar dengan kedua tangannya dan mencengkramnya dengan kuat. “Aku cuma ngasih tau apa yang seharusnya Bapaknya Ela ketahui! Semua orang berusaha nutupin! Bahkan kelihatannya enggak ada yang peduli! Jadi apa salahnya kalau bapaknya Ela tau ada pesta miras waktu kemarin pendas?”
Zulfikar balik menarik kerah Cakra dengan kuat. Urat-urat di lehernya terlihat jelas. “Kamu gila ya!? Cakra kamu mikir enggak sih!? Kamu tau enggak siapa yang tadi dibawa sama polisi!?”
“Siapa emang!?”
“Bapaknya Ela!”
Cakra yang mendengar kabar tersebut langsung melepaskan cengkramannya. Dia tidak percaya orang yang diamankan oleh polisi adalah Om Heri. “Kenapa?”
“Ya gara-gara omongan lu yang enggak berdasar, anjing!”
Pemuda tampan itu menghempaskannya ke tembok di belakangnya dengan keras. Cakra yang masih berusaha mencerna kata-kata Zulfikar tidak siap dan akhirnya tersungkur di lantai.
Teman sekelasnya itu mengacak-acak rambutnya marah. “Kamu bahkan enggak dateng ke pendas! Tahu apa kamu soal pesta miras!? Emang kamu punya buktinya!? Punya!?” teriak pemuda itu sambil berusaha sekeras mungkin untuk tidak memukul Cakra. “Kamu tahu gara-gara omongan mu itu sekarang bapaknya Ela dilaporin atas tuduhan pencemaran nama baik! Kamu tahu enggak Ela punya adek!? Kalau bapaknya Ela sampe ditahan keluarganya gimana, Cakra!?”
“Ya terus aku harus gimana? Diem aja kayak kamu gitu!? Pura-pura enggak tahu!?” Cakra langsung bangkit, tidak terima dengan semua amarah yang dilayangkan Zulfikar. Menurutnya teman sekelasnya itu tidak punya hak mengomentari perbuatannya karena dia hanya diam tak melakukan apapun.
“Iya! Diem aja! Kayak anak-anak yang lain!”
Cakra tidak percaya pemuda itu sangat pengecut. Atau jangan-jangan dia juga terlibat?
“Kamu… kamu minum juga?”
“ENGGAK ANJING!” Zulfikar terlihat sangat tertekan. “Kamu enggak ngerti… kita enggak akan bisa menang, Cak. Aku juga selalu berdoa supaya Ela cepet ketemu, supaya dia baik-baik aja. Supaya semuanya cuma mimpi…”
Zulfikar menjatuhkan tubuhnya dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
“Kalau emang kamu mikir gitu, enggak seharusnya kamu tutup-tutupin, Zul.”
Zulfikar mengangkat kepalanya, melihat ke arah Cakra yang penuh tekad. Dia kemudian kembali menunduk dan terdiam cukup lama. Keduanya tidak bersuara maupun beranjak dari tempat itu, bahkan setelah bel pelajaran selanjutnya berbunyi.
“...sebenernya…”
-oOo-
Pagi ini Zulfikar diskors karena dianggap lalai sebagai ketua ekskul. Kebungkamannya dianggap alasan gossip tak berdasar beredar hingga sampai ke telinga orang tua murid. Cakra yang mendengar kabar itu tidak habis pikir, bagaimana bisa sekolah masih berusaha menutupi kebenaran tentang kasus ini? Dia juga tidak mengerti kenapa kepolisian sangat lambat dalam melakukan penyelidikan?
Kasus hilangnya Nurlela seolah sengaja ditutup-tutupi dan berusaha diselesaikan sebagai kasus anak remaja yang kabur dari rumah. Semua orang yang tahu apa yang sebenarnya terjadi seperti dibungkam, dipaksa untuk diam. Cakra mendengar kabar bahwa kasus pencemaran nama baik sekolah oleh bapaknya Nurlela juga akan terus diperkarakan hingga ke meja hijau.
Apa mereka tidak malu? Semuanya hanya peduli apa kata mereka yang punya kuasa, tanpa berusaha mencari tahu apa yang dirasakan mereka yang putus asa. Kalau memang akhirnya tidak akan ada orang yang bersuara, mempertanyakan kebenaran… maka biarlah dia yang menanggung beban itu. Jika dengan dirinya melakukan sesuatu yang ekstrim bisa membawa Nurlela kembali, dengan senang hati dia akan menjadi penjahat dari cerita ini.
-oOo-
Cakra merencanakan kejahatannya dengan baik. Hari itu dia berpamitan dengan kedua kakaknya, memeluk mereka erat sambil berkata ‘cinta’. Sebenarnya dia tidak ingin membuat khawatir kakak perempuannya, apalagi setelah kedua orang tua dan kakak sulung mereka meninggal. Namun dirinya tahu betul, apa yang terjadi pada kakak tertua mereka, keadilan yang tidak dia dapatkan karena pelaku pembunuhannya tidak tertangkap sampai sekarang, tidak bisa terjadi pada orang lain.
Seandainya Nurlela memang tidak selamat, dia ingin keluarga gadis itu melihat keadilan untuk putrinya. Dia juga ingin Nurlela dapat disemayamkan dengan layak. Seandainya dia benar-benar tidak bisa lagi melihat senyum gadis itu… Cakra ingin memberikan peristirahatan ternyaman sepanjang hidupnya.
Dengan penuh tekad Cakra memulai harinya dengan pergi ke sekolah.
-oOo-
Dirinya menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha untuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Tangannya merogoh pisau lipat yang ada di dalam saku celananya. Dia harus berhasil. Jikalau jeruji besi adalah tempat dia akan menghabiskan waktunya beberapa tahun ke depan, maka dia harus berhasil menarik orang-orang yang mencelakai Nurlela bersamanya!
Cakra sudah datang ke sekolah sejak subuh tadi. Dia menunggu bersama dengan mentari yang perlahan menyinari bumi. Sekolahnya itu perlahan mulai ramai dengan kedatangan murid dan guru yang tak sabar memulai hari mereka. Beberapa dari mereka saling sapa dan bersenda gurau, tanpa mengetahui apa yang akan dilakukan Cakra.
Cakra mencemooh dirinya sendiri, memangnya siapa dia sampai orang-orang itu peduli dengannya. Walaupun dia, yang seorang anak SMA, duduk hingga bel masuk sekolah di tangga Sekolah Dasar pun tidak akan ada yang peduli. Tapi dirinya mensyukuri hal tersebut. Biar mereka mengabaikannya sehingga tekadnya ini tidak akan luntur dan dia bisa menjalankan aksinya.
Cukup lama Cakra menunggu di tempat itu, berdoa agar target kecilnya datang ke sekolah. Dia terus memperhatikan gerbang masuk utama menuju dalam gedung sekolahnya dengan seksama. Saat dia melihat anak yang sedari tadi ditunggunya, dengan perlahan dan mantap dia melangkahnya kakinya dengan cepat menuju anak itu.
“Cakra?”
Sapaan yang dia dengar saat sudah dekat dengan anak tersebut diabaikannya. Dia bahkan tidak sadar siapa saja yang ada di sekelilingnya. Dia hanya fokus pada tujuannya.
Dengan cepat dia membungkukkan tubuhnya dan mengangkat anak itu dengan satu tangan. Anak yang dia angkat kaget dan mulai meronta, namun Cakra memeluknya erat sehingga anak itu tetap tidak bisa lepas.
“DIAM! Jangan bergerak!” Serunya sambil mengayunkan pisau yang dia genggam erat di tangan kanannya.
Murid-murid juga para guru yang tadinya berjalan santai di sekitarnya langsung berhenti di tempat. Beberapa dari mereka bahkan hingga berteriak kaget. Anak yang ada di pelukannya terlihat takut dan mulai menangis tanpa suara.
“Cakra, kalau kamu ada masalah kita bisa obrolin ini baik-baik. Sekarang lebih baik kalau kamu turunkan dulu nak Alfin nya ya?” Tutur guru yang memanggilnya tadi.
Guru itu adalah Bu Lune, adik dari Om Heri yang waktu itu dia lihat di rumah Nurlela. Dia berdiri tepat di depan Cakra dan seolah berusaha melindungi anak murid yang ada di belakangnya. Guru itu tersenyum lembut ke arah dirinya, seolah mengatakan dia mengerti kenapa Cakra melakukan semua ini. Namun yang Cakra inginkan bukan pengertian, dia ingin tindakan tegas dari sekolahnya ini.
“Jangan mendekat!” Serunya lagi, kali ini meletakkan mata pisau tepat di leher anak berusia 7 tahun tersebut.
Guru-guru lain yang tadinya berniat mengamankannya dari belakang serentak berhenti kaget.
“Cakra! Jangan gegabah… kamu tahu kan apa yang kamu lakuin saat ini tidak benar?” Ujar Bu Lune selembut mungkin.
Anak SMA itu malah menertawakan perkataan guru di depannya. “Ya emang kenapa? Orang pasti sama kalian bakal ditutup-tutupin juga.”
Sambil menyandera Alfin, Cakra berputar di tempat. Menatap mata setiap orang yang mengelilinginya.
“Buat kalian yang penting cuma anak-anak berduit kan? Sedangkan kita yang rakyat jelata? Cuma bagian dari ekosistem paling rendah yang bisa dibuang kapan aja!” Cakra kembali berputar, kembali menatap Bu Lune tajam. “Kalian semua sama!”
Dari ekor matanya, Cakra melihat kerumunan dari arah gedung SMA memberi jalan pada seseorang. Samar-samar pertanyaan ‘ada apa’ ‘siapa’ ‘kok bisa’ terdengar dari arah kerumunan itu. Tak lama 3 orang guru pria sudah berdiri di barisan paling depan.
“CAKRA! KAMU GILA YA!? BERHENTI SEKARANG JUGA!” seru Pak Irwan selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA. Dia dan 2 guru lainnya memasang badan, seolah siap melumpuhkan Cakra kapan saja.
Cakra yang melihatnya hanya bisa tertawa menghina. “Emangnya kalian bisa apa? Bapak enggak tau anak ini anak siapa?” tanyanya sambil menekan pisaunya ke leher anak yang tidak bersalah. Alfin yang kaget kembali menangis. “Perlu saya jelasin pak? Kalau putera pemilik yayasan sekolah ini sampai kenapa-napa, apa bapak-bapak semua bisa pura-pura enggak tahu, hah?”
“Cakra!”
“Ok. Ok. Kamu mau apa? Kita bisa bicarakan ini baik-baik,” tawar Pak Irwan sambil mengangkat kedua tangannya.
“Apalagi yang bisa didiskusiin? Bukannya kalian udah mutusin buat ngubur kasusnya Ela dalem-dalem? Bahkan sampai menjarain bapaknya Ela,” jawabnya skeptis. “Kalau bapak bisa… coba tutupin yang ini juga.”
Dengan gesit Cakra memperbaiki genggaman pisaunya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi bersiap untuk menikam anak dipelukannya. Orang-orang yang berkerumun melihat keributan itu berteriak panik.
Tepat sebelum tangannya mengayun, Bu Lune mengambil langkah cepat menuju dirinya sambil memanggil namanya. “CAKRA!” kedua tangannya dia angkat di depan tubuhnya.
“Saya tahu seberapa khawatirnya kamu sama Ela. Kamu ingin mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan kamu. Saya juga. Walaupun saya juga enggak tahu apakah Ela baik-baik saja, apakah dia selamat? Tapi saya yakin… dia enggak akan setuju sama apa yang kamu perbuat sekarang, Cakra.”
Bu Lune yang sudah berada tepat di depannya, mengulurkan tangannya membelai lembut punggung Alfin berusaha menenangkan. Anak itu terisak sambil berusaha berpindah ke pelukan gurunya. Cakra yang melihat wajah anak malang tersebut menurunkan tangan kanannya.
“Jangan kamu buang masa depanmu, nak,” bisik Bu Lune sambil tersenyum sedih.
Cakra yang menatap mata guru perempuan itu lekat-lekat, menurunkan Alfin perlahan. Membiarkan anak itu berlari ke arah guru lain yang ada di belakang Bu Lune. Orang-orang di sekitar mereka menghembuskan nafas lega, lupa akan fakta bahwa Cakra masih menggenggam pisau lipat di tangan kanannya.
Bu Lune yang juga tidak ingat akan pisau itu berniat untuk memeluk Cakra, melindunginya dari kejamnya dunia. Namun apa yang dia rasakan adalah rasa sakit yang luar biasa di perut kirinya.
“Maaf, Bu. Tapi saya udah enggak bisa mundur.”
Clang!
Suara besi beradu dengan ubin menarik perhatian kerumunan itu. Darah yang berceceran bersamaan dengan jatuhnya pisau lipat itu ke tanah dan posisi Bu Lune yang sudah meringkuk di tanah perlahan menjelaskan apa yang baru saja terjadi di depan mereka.
“DARAHH!”
Dan kericuhan pun tak terhindarkan.
-TBC-