“Ela?”
“Iya. Waktu pendas kemarin dia beneran enggak dateng?”
Lawan bicaranya itu terdiam sebentar seolah berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. “...kurang tau juga ya. Soalnya aku enggak diem di satu tempat, jadi sebenernya enggak ketemu sama semuanya. Tapi… ya emang aku enggak ketemu Ela waktu sabtu.”
“Kamu enggak mastiin anggotamu lengkap atau enggak emang?”
Zulfikar tersenyum dengan penuh paksaan. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi memilih untuk mengurungkannya. “Cakra… anggota PMR tuh banyak banget. Dan banyak juga yang enggak aktif kayak kamu kan? Aku mana sempet merhatiin semuanya?”
“Yaa tapi Ela kan bendaharamu! Masa kamu enggak ada urusan sama sekali sih pas hari-H!?”
Pemuda itu menghela nafas, kesal. “Ada. Tapi aku minta tolong Tono buat nyariin bendahara karena waktu itu aku lagi sibuk banget, dan yang aku tahu semuanya kelar. Jadi aku mikirnya dia udah ketemu Ela. Tapi habis itu kamu nanya, Ela dateng atau enggak. Ya udah aku jawab sejujur-jujurnya aja. Aku enggak tau. Kamu bisa tanya Putri, soalnya hari itu dia yang absen siapa aja yang hadir.”
Zulfikar langsung pergi melengos tanpa memperdulikan panggilan Cakra.
Rasanya Cakra ingin menimpuk kepalanya dengan batu. Bagaimana bisa Zulfikar bilang dia tidak tahu siapa saja yang hadir dalam acara pendas itu? Dia tahu anak yang masuk ekskul PMR karena prasyarat rapor ada banyak hingga sulit untuk ditangani seorang diri, namun tetap saja kalau ada apa-apa cowok itu kan harus tanggung jawab juga karena dia ketuanya! Tapi lihat! Dia secara terang-terangan mengatakan dia tidak peduli apa yang terjadi pada anggota ekskulnya! Dasar gila!
Sekarang dia harus mencari Si Tono-Tono itu. Anak kelas mana lagi Si Tono? Apa dia cari anak yang namanya Putri? Dia anak kelas 12 juga kan ya? Aduh! Cakra rasanya ingin mengutuk dirinya yang tidak pernah peduli pada siapapun selain Nurlela.
Saat sedang menyusuri lorong kelas 12, Cakra mendengar nama Nurlela disebut dalam sebuah pembicaraan. Hal itu membuat Cakra terdiam, berniat untuk menguping.
“...tapi saya lihat Ela ke sekolah kok hari Sabtu! Saya bahkan ngobrol sebentar sama dia.”
“Bu Lune, saya sudah coba konfirmasi sama anak yang waktu itu hadir di acara pendas PMR. Mereka bilang Nurlela memang tidak datang. Bahkan saat dihubungi pun tidak dijawab. Sudahlah bu, jangan bikin susah sekolah.”
“Bikin susah gimana sih pak? Saya cuma ingin bapak memastikan lagi. Saya yakin kok Ela itu dateng ke acara pendas ekskulnya. Dia ponakan saya pak, masa saya enggak ngenalin ponakan saya sendiri?”
Lawan bicara guru perempuan itu menghela nafas kesal. “Kalau Bu Lune masih enggak percaya, cari tahu saja sendiri! Mikirin rapor saja sudah sakit kepala saya, ini lagi harus ngurusin anak hilang!” gerutunya sambil melangkah pergi.
“Pak Irwan!”
Guru perempuan itu berusaha mengejar lawan bicaranya. Cakra yang mendengar percakapan kedua guru itu terdiam cukup lama. Jadi Nurlela datang ke acara pendas? Terus kenapa semua orang bilang dia enggak pernah hadir?
-oOo-
“Eh, kamu… tau Putri anak PMR nggak?” tanya Cakra pada teman sebangku Nurlela. Walaupun Nurlela sangat dekat dengan teman sebangkunya, namun Cakra tidak pernah berbicara langsung dengan gadis itu. Dia bahkan tidak ingat siapa namanya.
“Putri yang kecil?” tanya balik gadis itu seolah memastikan.
“Iya kali ya… yang sekretaris PMR di angkatan kita…”
“Oh.. iya itu Putri yang kecil, anak kelas sebelah. Kenapa emang?”
“...enggak sih. Aku mau nanyain soal pendas PMR kemarin.”
Anak perempuan di depannya menunjukan wajah bingung, kemudian mengangguk kecil. “Kamu masih nyariin Ela?”
Cakra hanya menunduk tidak menjawab.
“Putri pindah sekolah minggu kemarin. Habis acara pendas,” cerita gadis itu pelan.
Cakra yang mendengarnya langsung mendongakkan kepalanya kaget. “Pindah? Kenapa?”
Gadis itu mengedikkan bahunya. “Katanya sih… ayahnya pindah kerja,” ujar gadis itu dengan suara pelan. “Tapi… sebenernya banyak yang curiga. Kayaknya… emang pendas PMR kemarin ada apa-apa deh,” lanjutnya sambil menundukan kepala.
Cakra menyadari bagaimana orang-orang di kelasnya berusaha untuk tidak menyebut nama Nurlela atau mempertanyakan apa yang terjadi pada gadis itu. Mereka seolah pura-pura tidak tahu atau memang tidak peduli. Namun yang membuat Cakra bertanya-tanya adalah bagaimana gadis di depannya ini, yang jelas-jelas sudah menjadi teman sebangku Nurlela dari awal kelas 11 bisa sangat tak acuh dengan kasus hilangnya Nurlela. Apa dia tahu sesuatu?
“...ada apa emangnya?”
Gadis itu menatap mata Cakra lekat-lekat. Dia kemudian menoleh melihat ke sekeliling seolah memastikan keadaan aman. Setelah yakin siapapun yang dicari tidak ada di ruangan itu, dia kembali menoleh ke arah Cakra. “Ini baru gosip sih… tapi kayaknya kemarin tuh… anak PMR pada party.”
Cakra yang mendengarnya tidak begitu kaget. Tentu saja party yang dimaksud bukan pesta ulang tahun atau semacamnya. Sekalipun tidak begitu terlihat, namun anggota ekskul PMR sebagian besarnya adalah anak geng sekolah. Karena kegiatan ekskulnya yang cenderung santai dan anggotanya yang terbilang lembek, supaya prasyarat harus masuk ekskul kalau mau dapat rapor semester terpenuhi, kebanyakan dari anak-anak geng itu memutuskan untuk masuk ekskul PMR. Selain itu tidak sedikit juga yang menjadikan kegiatan ekskul alasan untuk bolos sekolah atau tidur di UKS saat jam pelajaran berlangsung.
Yang membuat guru-guru tutup mata akan tingkah bandel anak-anak tersebut adalah para orang tua mereka yang rata-rata pemegang kekuasaan baik dalam bidang pemerintahan maupun ekonomi negara. Siapa juga yang bisa bicara kalau lawannya sudah uang dan kekuasaan?
Namun yang membuat Cakra geram adalah kemungkinan Nurlela terlibat dalam kenakalan anak-anak itu. Cakra tahu betul Nurlela tidak mungkin dengan sukarela bergabung dalam ‘pesta’ mereka, sehingga kemungkinannya hanya satu, gadis itu dipaksa untuk ikut dan sesuatu yang buruk terjadi padanya.
-oOo-
Ada rasa marah berlebih yang menguasai hati dan pikirannya. Kemungkinan sesuatu yang buruk terjadi pada Nurlela dan semua orang yang bersangkutan memutuskan untuk mengubur masalah ini dalam-dalam. Mereka bahkan tidak memberikan penjelasan atau alasan yang logis, hanya terus menyangkal seolah dengan begitu Nurlela akan kembali dengan sendirinya.
Tidak sadarkah mereka kalau keluarga gadis itu kebingungan dan cemas? Khawatir anak perempuan mereka mengalami sesuatu yang buruk. Takut terlambat dan akhirnya harus berpisah tanpa berpamitan.
Hari itu juga Cakra kembali mendatangi rumah Nurlela. Saat dia masuk, dia melihat guru perempuan yang tadi siang diliatnya. Guru itu sedang memeluk Ibu Nurlela yang menangis tersedu-sedu. Apa Nurlela sudah ketemu?
“Apa ada kabar baru tentang Ela, om?” tanya Cakra pada Ayah Nurlela. Pria itu yang membukakan pintu dan mempersilahkan dirinya masuk.
Ayah Nurlela menggeleng kepalanya pelan. “Lune… um, maksud saya, adik saya bilang sekolah sedang berusaha yang terbaik untuk memastikan apa yang terjadi pada Ela. Adik saya guru SD Bakti Pertiwi, dia memang tidak tahu banyak tentang acara ekskulnya Ela, tapi katanya teman kerjanya yang merupakan guru SMA Ela mau membantu kami dalam mencari Ela.”
“Oh ya? Siapa, om? Biar besok saya langsung temuin. Ada beberapa hal yang menurut saya janggal, saya rasa guru-guru harus tahu deh.”
Ayah Nurlela melihat ke arah Cakra bingung. “Memangnya apa yang janggal, ndok?”
Cakra diam untuk beberapa saat, apa lebih baik dia menceritakan tentang gosip yang beredar? Tapi Om Heri kan bapaknya Nurlela, dia berhak tahu petunjuk sekecil apapun tentang kasus anaknya. Setelah membulatkan tekadnya, Cakra menatap mata Ayah Nurlela dengan mantap. “Sebenernya om… ada gosip yang beredar di sekolah. Katanya waktu acara pendas PMR kemarin, para anggotanya pada minum-minum, om.”
“Minum-minum?”
Cakra bisa melihat bagaimana wajah Om Heri, istrinya, dan guru perempuan yang ada di sana mengeras, kaget dengan ucapan Cakra. Walau hanya sekilas dia juga melihat wajah guru perempuan itu berubah seperti panik kemudian berusaha untuk terlihat tenang. Cakra yang pada saat itu tidak begitu peduli dengan guru tersebut kembali memusatkan perhatiannya pada Ayah Nurlela.
“Iya, om… mi-ras…”
“Maksud kamu… mereka… mabok?”
Cakra mengangguk ragu.
Om Heri yang nampak tidak percaya, kemudian terlihat seperti mencocokkan waktu dari setiap kejadian yang dia ketahui. Pria itu kemudian terlihat memaksakan dirinya untuk tersenyum walau Cakra bisa merasakan aura mematikan yang terpancar dari tubuhnya yang jangkung.
“Nak Cakra, gimana kalau kamu pulang dulu hari ini? Om sama tante juga mau ke kantor polisi habis ini. Lagi pula besok kamu juga masih sekolah kan? Langsung pulang ya,” tutur pria itu dengan lembut.
Cakra tahu dia sedang diusir secara halus, namun dia mengiyakan dan langsung meninggalkan kediaman Nurlela. Tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelah kepergiannya.
-TBC-