Jikalau Cakra harus mendeskripsikan Nurlela dengan satu kata, maka sudah pasti kata itu adalah ‘cantik’. Seorang gadis sebaya yang telah mencuri hatinya sejak awal masuk SMA. Cara dia berpakaian dengan menutup auratnya sesuai ajaran agama, caranya memperlakukan orang lain dengan lembut dan sama rata, hingga senyum yang selalu dia berikan bahkan pada mereka yang menggunjing di belakang membuat Cakra jatuh hati pada gadis itu, sangat dalam dan mengakar hingga merasuki jiwanya.
Cakra tahu dirinya hanya satu di antara banyaknya pengagum rahasia gadis itu, yang kebetulan memiliki tempat khusus di samping gadis cantik tersebut. Nurlela yang supel tidak memilih-milih teman, sehingga tanpa sadar Cakra yang selama ini selalu menghabiskan waktunya sendirian, ikut ditarik dalam pusaran gravitasi si primadona.
Setiap pagi dia akan duduk di kursi meja paling belakang, tepat di sebelah jendela yang berhadapan langsung dengan pohon flamboyan yang ditanam di tempat parkir mobil sekolahnya. Tak lama Nurlela yang baru saja datang akan duduk di kursi meja depannya. Setelah dia menghempaskan tubuhnya seolah beban hidupnya sudah banyak, dia melepas tali ransel dari pundaknya, dan berbalik ke belakang.
“Cak, hari ini enggak ada PR kan ya?” tanyanya seperti burung parot. Pertanyaan yang sama setiap harinya.
“Hmmm… kalau mtk kemarin udah beres, enggak ada kok,” jawabnya dengan senyum kecil.
“Ohhh udah dong! Hehe…”
Baru Cakra berniat menanyakan hal lain, seorang anak laki-laki duduk di sebelahnya dan langsung menyela.
“Ela, RAB yang buat pendas nanti udah beres belom? Si Putri nanyain tuh, dia bilang mau nyelesein proposalnya hari ini,” ujarnya tanpa jeda.
Cakra dapat melihat bagaimana gadis di depannya salah tingkah ketika pemuda itu langsung mengajaknya bicara tanpa aba-aba.
“Oh! Udah kok! Bentar…”
Nurlela langsung membuka tasnya dan berusaha menemukan apapun yang sedang dia cari. Tak lama dia mengeluarkan binder ukuran A4 dari dalam tasnya. Dia meletakkan binder itu di atas meja depan Zulfikar, anak laki-laki yang baru datang. Dibukannya lembaran kertas binder itu sampai dia menemukan hal yang dia cari.
“Ini, Zul. Aku udah nanya anak acara, desain, sama logistik. Um… tapi coba kamu liat dulu, ada tambahkan lagi enggak ya?” tanyanya sambil melirik ke arah pemuda itu.
Cakra yang seolah-olah terlupakan keberadaannya, tahu kalau gadis di depannya ini sebenarnya sedang teriak kegirangan di dalam hati. Pemuda yang duduk di sebelahnya itu memang terbilang cukup tampan, namun auranya yang karismatik adalah alasan banyak anak perempuan mengaguminya, dan itu termasuk Nurlela, gadis yang dia sukai.
Sebenarnya mereka bertiga tergabung dalam satu ekstrakurikuler yang sama, bedanya Cakra hanya anggota biasa yang tidak begitu aktif sehingga keberadaannya sering dilupakan. Sedangkan Nurlela adalah seorang bendahara dan Zulfikar adalah ketua dari ekskul tersebut. Banyak pembicaraan Nurlela dan Zulfikar yang tidak dapat Cakra pahami, namun sedikit banyak dia tahu apa yang sedang direncanakan teman-temannya tersebut.
“Ok. Ini udah cukup kok. Aku foto ya, biar bisa langsung kukasihiin ke Putri,” tutur Zulfikar mengakhiri pembicaraan dengan Nurlela. Setelah dia memotret tulisan tangan Nurlela dengan gawainya dia langsung beranjak pergi sambil tersenyum ke arah gadis itu.
Setelah yakin pemuda tampan itu sudah tidak bisa mendengarnya lagi, Nurlela langsung menoleh ke arah Cakra dengan senyum lebar mengembang di wajahnya. dia kemudian terkekeh centil yang membuat Cakra menggelengkan kepala.
“Seneng ya?”
“Mm banget lah!”
“Tembak aja sih kalau sesuka itu mah.”
“Pengennya sih gitu…”
Cakra yang melihat gadis di depannya sedang dimabuk asmara hanya tersenyum kecil. Dia yang mengetahui perasaan gadis itu harus mengunci rapat-rapat perasaannya sendiri dan menyemangati perempuan yang dia sukai berakhir dengan lelaki lain.
Ada kalanya dia berharap gadis itu tiba-tiba sadar akan perasaannya dan kembali menyukainya, namun Cakra tahu hal itu tidak akan pernah terjadi.
-oOo-
“Cakra! Kamu liat meteor semalem nggak? Keren banget! Aku jadi pengen ke Boska lagi deh!”
“Mau ditemenin?”
“Wah beneran? Mending kapan ya?”
“Sabtu?”
“Sabtu ini? Aku ada pendas! Kamu nggak akan dateng emang?”
“...aku kan bukan anggota aktif, nggak kayak kamu.”
“Ya nggak papa kali dateng! aku tunggu ya!”
Saat itu Cakra tidak pernah menyangka kalau janji yang dipaksakan oleh gadis itu adalah janji terakhir mereka. Dia tidak pernah memenuhi ajakan Nurlela untuk datang menghadiri acara pendas ekskulnya tersebut, dan saat Senin tiba gadis itu menghilang seperti genangan air yang menguap karena matahari. Meninggalkan bumi tanpa wujud.
“Ela belom dateng?” tanya Cakra pada teman sebangku gadis itu.
Anak perempuan yang bahkan namanya tidak diingat Cakra menoleh ke arahnya. “Belom… telat bangun kali.”
“Oh… ok.”
Cakra mengeluarkan gawai dari dalam sakunya. Dia langsung mengirimkan pesan singkat pada Nurlela melalui salah satu fitur pengirim pesan. Namun pesannya itu bahkan tidak dibaca, hingga bel masuk berbunyi, gawainya tidak menunjukan tanda adanya notifikasi yang masuk.
Satu minggu berlalu, tetapi Nurlela masih belum menampakkan diri. Beberapa guru mempertanyakan ketidak hadirannya, namun beberapa lainnya seolah mengabaikannya. Cakra yang tidak bisa menghubungi gadis itu sama sekali, sudah berulang kali berkunjung ke rumahnya, hanya saja rumahnya selalu kosong.
Hari ini dia memutuskan untuk menunggu di depan rumah gadis itu sampai orang tuanya pulang. Dia ingin memastikan Nurlela baik-baik saja dan bertanya kenapa tidak ada kabar apapun ke sekolah.
Hari mulai gelap, angin malam tanpa henti berhembus membuatnya sesekali menggigil kedinginan. Jarum jam terus bergerak, sekelompok awan menutupi cahaya bulan di langit. Ketika dia memutuskan untuk pulang, sorot lampu mobil menyinarinya dari kejauhan.
Sebuah mobil sedan lawas berhenti di depan rumah Nurlela. Seorang ibu paruh baya keluar dari tempat duduk penumpang, menghampiri dirinya.
“Maaf, siapa ya?” tanya wanita itu. Cakra yang sudah lebih dekat dengannya, bisa melihat dengan jelas raut cemas dan sedih dari ibu itu. Matanya bengkak seperti tidak berhenti menangis.
Cakra sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menyapa wanita itu. “Saya Cakra, teman sekelasnya Nurlela. Ela sudah seminggu nggak masuk sekolah, jadi saya mau menjenguk dia kalau boleh…” tuturnya sedikit canggung. Dia menundukkan pandangannya, tidak berani menatap wanita itu secara langsung. “Ela… baik-baik aja kan ya, tante?”
Selama beberapa detik hanya deru mesin mobil yang terdengar. Lalu tak lama isak tangis wanita paruh baya itu memasuki alat pendengarannya. Cakra langsung menengadahkan kepalanya. Betapa kagetnya dia saat melihat wanita itu sudah menangis meraung-raung sambil memukul-mukul dadanya. Seorang pria yang sepertinya adalah suaminya keluar dari mobil dan langsung memeluk istrinya berusaha menenangkannya.
“Maaf ya ndok… lebih baik kamu kembali lagi besok. Ini juga sudah malam, nanti orang tuamu khawatir,” kata pria itu dengan nada yang lembut.
Cakra yang bingung harus apa akhirnya memutuskan untuk pamit dan kembali ke rumahnya. Sepanjang malam pikirannya terus berkeliaran, memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.
-oOo-
Cakra terlentang di atas kasurnya, pikirannya kembali pada pembicaraannya dan Ayah Nurlela sore tadi.
“Ela… sudah seminggu hilang. Sabtu kemarin dia pamit untuk menginap di sekolah. Katanya ada acara ekskul yang mengharuskannya menginap di sekolah. Ela semangat sekali waktu membicarakan acara sekolahnya itu. Tapi habis itu kami… tidak bisa menghubungi dia lagi. Apa… sebenarnya acaranya tidak ada ya, ndok?”
“Ah… yang saya tahu acaranya ada dan berjalan lancar kok pak. Teman sekelas saya ketua ekskulnya Ela. Tapi dia enggak ngomong apa-apa sih… sama saya.”
“Oh… gitu ya ndok…” Ayah Ela menyesap tehnya perlahan. Dia tampak berpikir dan Cakra tidak ingin menanyakan sesuatu yang akhirnya akan menjadi beban. “Sebenarnya kami sudah ke sekolah, saat Ela belum pulang juga setelah magrib di hari Minggu. Tapi waktu kami tanya, katanya Ela enggak pernah dateng ke acara itu. Kami ingin pihak sekolah memeriksa lagi dari rekaman CCTV atau semacamnya, tapi kata mereka Ela enggak ada… dia emang enggak dateng… padahal Ela pamit sama kami untuk pergi ke sekolah…”
Pria itu terlihat sangat cemas, nada suaranya tidak yakin dan dari raut wajahnya terlihat jelas dia memiliki banyak pikiran. Mungkin karena anak perempuannya menghilang tanpa kabar dan yang bisa dia lakukan saat ini adalah menunggu kabar dari kepolisian.
“Apa sudah ada kabar dari polisi, om?”
“...belum. Saya harap… no news is good news,” ujarnya sambil tersenyum lelah.
Cakra yakin Nurlela bukan tipe yang akan kabur atau berbohong pada orang tuanya. Selain itu dia tahu betul kalau gadis itu menantikan acara pendas ekskulnya dengan penuh semangat. Apalagi dia bisa bermalam di satu tempat yang sama dengan Zulfikar. Kalau dia tidak datang ke acara pendas itu, apa artinya dia diculik saat menuju sekolah?
Dia harus bertanya pada Zulfikar, apa Nurlela benar-benar tidak datang ke acara pendas…
-TBC-
*Glosarium*
Pendas - Pendidikan Dasar. Sebuah acara penyambutan anggota baru yang biasanya diakhiri dengan pelantikan calon anggota menjadi anggota tetap sebuah ekstrakurikuler.
Ekskul - kependekan dari Esktrakurikuler.