Karisa membagi pasangan secara acak. Pada akhirnya Migu dipasangkan dengan Lila, sedangkan Wanda dengan seorang anak laki-laki lain. "Nah, kalian cari kartu yang seperti ini dalam waktu 25 menit," jelas Karisa, mengangkat satu kartu contoh, lalu melanjutkan, "Yang mendapat paling banyak kartu adalah pemenangnya." Begitu stopwatch dinyalakan, mereka menyebar ke seluruh lantai satu dengan tangan diborgol. Anak-anak dari kelompok lain juga melakukan hal yang sama.
Lila menarik Migu dengan berhati-hati ke dalam sebuah lapangan voli di ujung lantai satu yang kosong melompong. "Emangnya bakal ada di tempat kayak gini ya? Kukira cuma di koridor aja," gumam Migu. Lila malah tertawa kecil. "Aku sengaja ajak ke tempat sepi kok. Kamu nggak tau kalau aku belajar Sensory Tracking —kemampuan melacak keberadaan suatu target— ya? Waktu perkenalan diri di kelas tadi kan aku udah nampilin. Nih lihat," jawabnya dengan bangga.
Kedua iris mata Lila mendadak berubah menjadi warna kuning bercahaya. Dia menutup mata dan fokus dalam diam untuk sesaat. Migu melihatnya dengan penuh rasa kagum. Setelah mata Lila kembali normal, dia menarik Migu untuk jalan bersama ke salah satu rak rongsokan yang kosong di sudut lapangan. Lila berjinjit dan meraih secarik kertas dari bagian paling atas dari rak itu, tulisannya "Selamat Datang".
"Wah keren, keren!" Migu bertepuk tangan sambil melompat-lompat girang. "Kalau gini, kita bisa menang dong."
"Nggak juga sih, aku masih pemula banget. Cuma bisa dalam radius dekat aja, udah gitu kadang suka keliru juga haha," jawab Lila, menggaruk tengkuknya dengan tersipu malu. Setelah dia bilang begitu, tiba-tiba dari balik salah satu dinding di lapangan, seseorang menembus masuk secara tiba-tiba.
"Ha-hantu?" bisik Migu. Jantung Migu nyaris jatuh ke lantai, padahal jelas-jelas orang yang datang dengan menembus dinding barusan itu adalah Karisa. "Halo halo, kalian ya rupanya, pantesan ini bunyi-bunyi daritadi," kata Karisa. Di tangannya, dia membawa sebuah alat kubus seukuran genggaman tangan wanita. "Maaf aku lupa ngasih tahu ke anak-anak Bahasa. Nggak ada pakai-pakai Altera Energy, oke? Jangan curang ya," lanjutnya lagi.
Karisa maju dan menagih kartu di tangan Lila. Lila menyerahkannya dengan berat hati. "Maaf, kak," katanya dengan takut-takut. "Nggak apa-apa, aku sendiri juga lupa ngasih tau tadi, maaf ya," jawab Karisa dengan ekspresi bersalah. Dia pergi menembus dinding lagi setelah mengurusi mereka berdua.
"Alat apa itu?" tanya Migu penasaran. "Itu pendeteksi Altera Energy. Kalau ada yang pakai skill dari Altera Energy, bakal bunyi-bunyi deh dia. Katanya nanti kalau ulangan atau ujian, guru-guru ngawasnya pakai itu, takut ada yang curang, hihi," jawab Lila. Mereka berjalan keluar dari lapangan yang kosong melompong itu. "Ngomong-ngomong Migu, kamu belajar kemampuan apa? Kayaknya tadi kamu nggak maju ya waktu di kelas?"
Migu terkejut karena Lila tiba-tiba bertanya. "Em... anu... itu... aku...." Migu tergagap-gagap, tidak tahu entah harus menjawab apa. "Ka-kalau menurut tebakanmu, aku orang yang bakal belajar apa?" tanya Migu pada Lila, tapi bola matanya entah melihat ke arah mana, takut ketahuan sedang ngeles. "Em... kalau Migu sih... Vector Manipulation?" cetus Lila sambil tertawa.
"Kenapa begitu?" tanya Migu penasaran. Lila tiba-tiba menatap heran pada Migu. "Hah? Apa beneran manipulasi vektor? Aku cuma bercanda lho tadi —itu kan ilmu yang level atas banget, katanya susah kalau belajar itu."
Migu tertawa geli dan hendak menyanggah Lila, tapi tidak jadi karena mereka mendengar suara-suara orang berbicara dengan nada tinggi, seperti sedang marah. Migu dan Lila saling bertatapan ragu, tapi akhirnya memilih untuk datang ke sumber suara. Dari balik dinding, mereka mengintip Finny, Kanya, dan dua orang anak laki-laki tengah mengerubungi Danu yang tengah menciut gemetaran di pojokan, seperti mau menyatu dengan dinding. Danu adalah laki-laki bertubuh gempal dan bergaya rambut seperti jamur dari kelompok mereka.
"Sini kartu-kartunya semua, harus dibilangin berapa kali sih?" gertak salah satu anak laki-laki yang tidak mereka kenal. "Ta-ta-ta-tapi kan aku yang dapat," jawab Danu, membela diri dengan bibir gemetaran. Anak laki-laki yang lain mendorong Danu hingga dia terjungkang jatuh. Finny dan Kanya tertawa terbahak-bahak. "Cuma kartu doang dia lindungi sampai sebegitunya lho, padahal ujung-ujungnya kita bisa ambil paksa juga kali. Ini Akmal sama Aryo udah baik banget nggak ngeluarin bogem mereka daritadi lho," kata Finny sambil cekikikan.
"Li-Lila, gimana nih?" Migu merasa bersalah sekali karena hanya diam menonton di sana. Dia kaget sekali, tidak menyangka bahwa di SMA sekelas Ozolero pun ada kejadian bullying seperti ini. Lila juga sama gelisahnya dengan Migu. "Migu, ayo bantuin," ajak Lila. Dia menggamit-gamit ujung seragamnya dengan gugup.
Salah satu dari Akmal atau Aryo bahkan menendang bahu Danu, padahal mereka sudah mendapat kartunya. Puncaknya, mereka menertawai Danu ketika celananya tiba-tiba basah. Sepertinya dia mengompol karena terlalu takut. "Eh, ta-tapi...," ucap Migu, terhenti. Lila sudah maju beberapa langkah, tapi Migu tidak ikut bergerak sehingga borgol mereka robek. Namun borgol itu bukan lagi benda penting untuk dibahas dalam situasi ini.
Emangnya bantuin orang boleh pakai "tapi"? Migu bertanya-tanya sendiri dalam hatinya. Dia terdiam. Mau bagaimana pun, Migu juga terlalu takut untuk menyelamatkannya. Dia takut dirinya malah ikut-ikutan jadi korban setibanya di sana. Dia juga tidak mau berurusan dengan berandalan-berandalan itu seumur hidupnya. Tiba-tiba Migu merasa dirinya benar-benar seorang pengecut.
"Aku nggak salahin kamu, Migu. Aku juga takut. Mau gimana lagi?" ucap Lila dengan pasrah. "Kalau kita gini terus sih keburu udah selesai merekanya. Kartunya juga keburu diambil sama mereka —yah, kartu itu ga terlalu penting sih."
"Oi, ngintipin apa kalian berdua?" Wanda muncul dari belakang mereka bersama partnernya, seorang anak laki-laki Bahasa bernama Jeki. "Hai, kalian... Lila sama... Migu kan?" Jeki menyapa mereka.
"Itu suara apa?" tanya Wanda. Mendengar teriakan-teriakan mencurigakan tersebut, dia menyingkirkan Migu dan Lila dari tempat mereka, lalu gantian mengintip pemandangan itu. Wanda menoleh kaget pada Migu dan Lila. "Heh, kalian berdua, kalau nggak berani setidaknya panggil panitia atau bagaimana dong daritadi!" serunya, tidak habis pikir.
Wanda lari ke sana begitu saja. Borgol kertasnya langsung robek. "Ya ampun, itu cewek ngeri banget, sumpah," ujar Jeki, mengelus-ngelus keningnya. Dari tempat itu, mereka melihat Wanda teriak-teriak di sana. Dia menarik kerah salah satu cowok itu dan menghempasnya ke lantai tanpa ampun. Dia menjambret rambut Finny dan menatap mengerikan sekali, lalu mengata-ngatai perempuan itu dengan sesuatu sebelum menamparnya kuat-kuat.
"Gila itu gorila, kalau gini sih dia juga nge-bully kali!" jerit Lila tak percaya. "Gimana pun juga kan mereka yang duluan," jawab Jeki, tidak setuju. Lila kembali fokus dengan mata tertutup, tampaknya sedang melakukan sensory tracking-nya. "Aduh kayaknya orang-orang udah pada datang gara-gara denger ribut," kata Lila dengan khawatir. "Oi, gorila! Ayo pergi sekarang kalau nggak mau disidang sama BK!" panggilnya. Para pem-bully itu sudah kabur entah ke mana, sambil menyumpah-serapah Wanda.
Alih-alih menolong Danu, Wanda malah mencengkram kerahnya. "Kamu itu orang bukan sih? Punya kaki? Punya tangan? Terus kenapa malah ngeringkuk kayak siput mati?" tanyanya dengan marah. "Gara-gara kamu borgolku robek!" Wanda meninggalkannya setelah berkata seperti itu. Danu bahkan tidak berani memandangnya.
Lila dan Jeki menggelengg-geleng, tidak mampu berkata-kata. Setelah cukup mengenal Wanda selama ini, Migu tidak heran lagi dengan kelakuannya. Dia memang seperti itu.
Mereka kembali ke lapangan tepat waktu. Namun karena borgol mereka robek, mereka akan menerima suatu hukuman yang akan diberitahu besok. Kegiatan MOS untuk hari itu dilanjutkan dengan beberapa materi pengenalan sekolah, diskusi, dan tur ruangan-ruangan lantai satu. Danu kembali bergabung dengan kelompok delapan setelah celananya beganti menjadi celana olahraga.
***
Dalam kegelapan total, seorang laki-laki dengan tubuh bercahaya membelakangi Migu. Migu memanggil-manggilnya berkali-kali. Setelah panggilan ke sekian puluh kali, akhirnya laki-laki itu menoleh. Dia terlihat mirip... Norwen, tapi dalam versi bocah laki-laki yang lebih muda. Anak itu menangis. Air matanya mengalir deras penuh kesedihan, tapi bibirnya melekukkan senyuman.
Migu berusaha bertanya padanya, tapi tiba-tiba pemandangan itu buyar dan dia bangun di atas tempat tidurnya. Migu memegang-megang matanya yang basah oleh air mata. Dia menangis dalam tidurnya. Itu... mimpi? Tapi kenapa ada si Norwen? tanya Migu. Entah kenapa, hatinya terasa sedih sekali.
*
To be continued.
17 Agustus 2020