Migu menyeret-nyeret kakinya menuju gedung sekolah dengan lesu. Kepalanya sedikit pusing dan badannya panas dingin sejak dia bangun dari mimpi menyedihkannya tadi malam. Wanda dan Ayaka di sebelahnya berkali-kali menanyai keadaannya karena dia sama sekali tidak ikut mengobrol.
Migu bersikeras bahwa dirinya baik-baik saja, sebenarnya karena ia takut ketinggalan informasi kalau harus bolos hari ini. Ujung-ujungnya ketika di kelas, kepalanya tergeletak tak berdaya di atas meja. Wirman, si teman sebangku yang tak punya hati, memandanginya seperti melihat seonggok serangga. "Kalau sakit, jangan di sini. Jelek banget itu muka," katanya, membuat Migu ingin melempar mejanya pada laki-laki itu.
Sosok Migu, yang tertutupi orang yang duduk di depannya, mendengar penjelasan dari Evelin tanpa sanggup mengangkat kepalanya. Pagi ini, Evelin menjelaskan tentang mata pelajaran yang harus mereka ambil. "Untuk semua jurusan, ada mata pelajaran wajib, yaitu Agama, Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Sejarah Indonesia, dan Bahasa Inggris," kata Evelin, membaca ulang tulisan besar yang ada di layar depan kelas.
"Jadwal pelajaran kalian mungkin bakal rilis besok pagi. Untuk mata pelajaran khusus jurusan Bahasa, ada Antropologi, Bahasa dan Sastra Inggris, Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Bahasa Jepang. Untuk seluruh anak kelas sepuluh, kalian wajib memilih dua mata pelajaran dari jurusan lain untuk pelajaran lintas minat, nanti pilihan kalian akan didata," lanjut Evelin. "Kemudian karena jurusan Bahasa di SMA ini adalah School of Altera, kurikulumnya tentu akan berbeda dari sekolah biasa. Jangan kaget ya," katanya, memberi kedipan sebelah mata.
Semakin lama, Migu merasa kepalanya semakin nyut-nyutan dan berputar-putar, memusingkan sekali. Dia meringis kecil berkali-kali. "Bu Evelin." Tiba-tiba Wirman mengangkat tangannya. "Migu sakit, Bu," adunya tanpa meminta izin pada Migu. Setelah itu, akhirnya Migu pergi ke UKS dengan dipapah Airis.
Airis adalah ketua kelas paling pendiam dalam hidup Migu. Dia dingin dan sangat penyendiri. Selama jam istirahat kemarin, dia tidak berusaha berbaur dan terlihat nyaman membaca buku di kursinya seorang diri. Beberapa anak di kelas sudah mulai menggosipinya dengan macam-macam. Sepanjang jalan ke UKS, tidak ada yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan di antara mereka, benar-benar keheningan yang canggung.
Guru yang bertugas di UKS adalah seorang perawat bernama Linea. "Halo, kamu yang sakit, namanya siapa?" tanyanya dengan ramah, sembari mulai mendata sesuatu di komputernya. "Migu Evangeline, Bu," kata Migu dengan lemah. Linea tiba-tiba terlihat kaget. "Migu... Evangeline? Yang dari jurusan Bahasa?" katanya dengan mata membulat.
Reaksi ini membuat Migu teringat pada reaksi guru-guru di hari peresmian penerimaan siswa baru ketika mendengar namanya. Rasanya aneh sekali, seolah mereka telah lama membicarakan sesuatu yang mengerikan tentang Migu, lalu terkejut setengah mati saat ketemu orangnya. Tapi, memangnya guru-guru ini mau membicarakan apa tentang dirinya? Migu memandang pada Airis. Gadis itu tidak terlihat terlalu peduli. Bola mata hitam yang kelam itu menatap dingin dari balik kacamata beningnya.
Migu masuk ke bilik tempat tidur untuk perempuan dan berbaring di sana. "Aku balik ke kelas dulu, ya. Cepat sembuh. Kalau ada apa-apa bilang ke Bu Linea aja," kata Airis, lalu pergi setelah itu. Migu berterima kasih padanya dan memejamkan matanya penuh kelegaan. Dia berusaha keras untuk tidur, tapi sedaritadi hatinya tidak tenang. Sesuatu dalam dirinya memberontak, seolah memberitahu sesuatu pada dirinya secara tidak masuk akal.
Migu meremas kepalanya kuat-kuat. "Arrgh! Kenapa sih?" erangnya penuh keputusasaan. Perasaan aneh itu lama kelamaan semakin meluap-luap. Migu akhirnya berdiri dengan sempoyongan, lalu berjalan tertatih-tatih ke daerah bilik untuk anak-anak cowok. Dia menyibak tirai salah satu bilik keras-keras. Di atas tempat tidur di hadapannya, sosok Norwen tidur dengan tenang seperti seorang pangeran. Migu jelas sadar bahwa dirinya tengah bertindak agak gila. Kenapa tahu-tahu aku bisa sampai di sini? tanya Migu dengan penuh kegelisahan.
Naluri-naluri aneh yang menyelimutinya daritadi menuntun dirinya pada laki-laki itu. Setelah Migu menurutinya, perasaan tidak nyaman di hatinya hilang begitu saja, memberi rasa lega yang amat sangat. Sebagai gantinya, kepalanya jadi sakit. Cowok ini, tidur aja berusaha buat kelihatan keren ya? batin Migu. Dia jelas salah paham. Norwen sama sekali tidak berusaha terlihat keren, dia hanya sedang tertidur.
"Kenapa ngintip-ngintip bangsal cowok? Ada urusan denganku?" Tiba-tiba Norwen berbicara. Kedua matanya masih terpejam dengan anggun. Migu merasa bulu kuduknya langsung berdiri. Dia cukup sadar bahwa tindakannya saat ini berada sangat jauh dari batas wajar: mengintip lawan jenis yang sedang tertidur di UKS. "Ma-maaf," ucap Migu, buru-buru menutup tirai bilik tempat tidur Norwen. Wajahnya merah padam. Apa dia lagi sakit? Atau bolos lagi? Nggak mungkin bolos sih, soalnya kan benar-benar dicek sama Bu Linea, jadi nggak bisa pura-pura, pikir Migu.
"Jangan dekat-dekat lagi, kepalaku sakit banget tiap ketemu," kata Norwen dari balik tirai. Migu langsung berubah jengkel seketika. Memangnya cuma kamu doang? Kepalaku juga sakit! omelnya dalam hati. Kepalanya pusing dan perutnya mual sekali karena berdiri terlalu lama. Migu sudah berusaha berjalan secepat mungkin kembali ke tempat tidurnya, tapi akhirnya dia hanya bisa pergi beberapa langkah dari bilik tempat tidur Norwen. Setelah itu...
"Hoek!"
Seluruh isi perut Migu keluar dalam cucuran muntah yang bau dan menjijikkan. Terdengar suara tirai disibak membuka, dan kepala Norwen menyembul dari baliknya. Setelah ini, Migu rasanya tidak mau bertemu dengan laki-laki ini lagi selamanya. Dia sudah terlalu banyak melihat sisi memalukan dari diri Migu! Migu sudah tidak punya muka lagi di hadapannya.
***
Migu bangun dari tidurnya ketika mendengar bel berbunyi. Jam istirahat baru saja berakhir. Setelah ini, anak kelas sepuluh akan berkumpul lagi dengan kelompok MOS masing-masing. Migu mencoba berdiri dari ranjangnya dan menemukan dirinya sudah pulih. Kepalanya tidak terlalu pusing lagi, meski tubuhnya masih terasa panas. Setelah izin pada Linea, Migu pergi ke titik kumpul kelompok delapan.
"Migu emangnya udah sembuh? Pakai balik ke sini lagi. Kalau aku sih pasti langsung izin pulang lalu tidur enak-enakan," kata Wanda. "Aku udah ngerasa mendingan kok," jawab Migu dengan yakin. Migu melihat sekeliling dan matanya bertemu pandang dengan Norwen. Dia masih terlihat agak pucat. Norwen mengirim tatapan dingin padanya. Migu langsung membuang muka dengan malu.
Karisa datang dan menjelaskan beberapa macam-macam materi pengenalan sekolah lagi sebelum game untuk pertemuan kedua dimulai. Mereka disuruh menghafal mars SMA Ozolero dan menyanyikannya berulang-ulang hingga mulut terasa kering sekali.
Setelah itu, akhirnya sesi yang mereka tunggu-tunggu akan dimulai. "Dari kemarin kan kita udah main permainan kecil-kecilan. Kalau kemarin mainnya berpasangan, hari ini satu kelompok satu tim," jelas Karisa. "Kecuali yang borgolnya putus kemarin, masing-masing kalian akan mendapat lima poin. Untuk anak-anak yang dapat kartu, satu kartu dikonversikan menjadi dua poin. Lalu, sekarang kita bakal ke mall!" seru Karisa dengan riang. Dia menunjuk ke arah luar jendala yang transparan.
Semuanya langsung berebut melihat ke luar. Di depan gerbang raksasa SMA Ozolero yang megah, telah berjejer belasan bus. Menyadari bahwa Karisa tidak sedang bercanda, tiba-tiba mereka semua berteriak-teriak girang.
*
To be continued.
19 Agustus 2020