Migu saling tatap-tatapan dengan laki-laki itu. Dia merasa salah tingkah sekali, tapi tidak tahu juga harus berbuat apa. Pertemuan pertama mereka benar-benar malu-maluin. Sekarang malah bertemu saat sama-sama membolos. Migu sembarang duduk di salah satu kursi, membelakangi orang itu, dan pura-pura memainkan ponselnya.
"Jangan di situ," larang laki-laki tersebut. Migu menoleh padanya. Alisnya datar dan tatapan matanya teduh, tapi memberi kesan dingin. Wajahnya seperti ukiran patung yang indah dan tanpa emosi. "Kenapa?" tanya Migu, masih diam di tempatnya.
"Ada CCTV, nanti ketahuan," jawabnya datar. Migu langsung panik. Dia menyingkir dari tempat itu dan merapat ke dinding. "Jadi di mana yang aman?" tanya Migu lagi. Anak laki-laki itu menunjuk ke tempatnya sendiri. "Cuma di sini." Migu sama sekali tidak berencana untuk dekat-dekat dengan laki-laki itu. Sensasi rasa malu di peristiwa itu masih melekat erat di seluruh serabut otaknya.
Satu-satunya pilihan adalah pergi ke tempat lain. Migu sudah mau membuka pintu ketika laki-laki itu tiba-tiba malah beranjak dari tempatnya dan hendak pergi. Dengan wajah mengantuk dan seragam agak kusut, dia melewati Migu yang tengah menatapnya dalam diam. Migu mengintip tag nama di seragam laki-laki itu, "Norwen Akasia".
Migu tiba-tiba saja teringat sesuatu ketika laki-laki itu sudah berlalu di pintu. Dia buru-buru menahan laki-laki itu dengan menepuk bahunya. "Eh, bentar," kata Migu, memberi jeda. Norwen menghentikan langkahnya, lalu Migu melanjutkan, "Jaket yang waktu itu-"
Migu belum sempat menyelesaikan kata-katanya. Tiba-tiba kepalanya sakit sekali, seolah ada sesuatu yang menghimpitnya kuat-kuat dari segala arah. Migu mengerang dan meremas akar-akar rambutnya. Pandangannya menggelap dan di tengah layar hitam itu ada sekelebat bayangan orang-orang yang wajahnya tak terlihat. Apa-apaan ini? Migu bergumam dalam hatinya.
Kontras dengan suasana sekitarnya yang seharusnya sunyi, telinga Migu mendadak penuh dengan suara-suara tawa dan keberisikan-keberisikan yang tidak masuk akal. Napasnya memburu kuat sekali. Rasanya seperti sedang mengalami kelumpuhan tidur. Aku bisa mati, pikir Migu. Dia sudah berteriak "Tolong" banyak sekali, tapi tak kunjung ada yang datang membantunya,
"... hei, hei...! Migu... Evangeline!"
Suara yang terasa sangat dekat itu samar-samar menyusup ke telinga Migu. Tak lama kemudian, pelan-pelan suara-suara berisik di telinganya mengecil dan menghilang. Migu membuka matanya perlahan dan mendapati sosok Norwen sedang mengguncang-guncang pelan bahunya.
"... hei... Migu Evangeline. Kamu kenapa?" Dia bertanya dengan ekspresi sedikit panik. Mereka masih di posisi yang sama seperti tadi, di tempat yang sama juga. Migu tidak bisa berpikir jernih untuk sesaat. "Aku kenapa?" Migu malah balik bertanya.
"Kenapa malah tanya aku?" Norwen melempar balik pertanyaan itu dan Migu hanya terdiam. Norwen terlihat memikirkan sesuatu sejenak dan kemudian masuk kembali ke ruang duduk itu, kelihatannya berubah pikiran. "Balik ke kelasmu sana," pintanya. Dia meninggalkan Migu tanpa menunggu jawaban, dan kembali tidur ke tempat yang nyaris dia serahkan pada Migu tadi.
Akhirnya, dengan penuh kegelisahan, Migu benar-benar kembali ke kelasnya. Dia juga takut kalau kejadian tadi terulang lagi ketika dirinya sedang sendirian dan tidak ada yang bisa membantunya, mengerikan sekali. Dibanding dengan kejadian barusan, aksi penampilan kemampuan bergilir di kelas tidak ada apa-apanya. Namun dia benar-benar beruntung karena ketika kembali ke kelas, bel istirahat berbunyi.
***
Kelompok delapan untuk kegiatan MOS akan berkumpul pertama kali di lapangan indoor basket. Di sisi lain dari lapangan itu adalah tempat berkumpul untuk anak-anak kelompok sembilan, kelompoknya Ayaka. Migu dan Wanda datang agak awal. Mereka bergabung dengan anak-anak yang duduk melingkar dan berkenalan dengan beberapa anak yang sudah ada di sana.
Migu tidak tahu apakah ini yang dinamakan jodoh atau bagaimana, tapi Lila lagi-lagi sekelompok dengan mereka. Dia memandang sinis sekali pada Wanda, tapi akhirnya memilih duduk di samping Migu juga karena belum kenal siapa-siapa, yang artinya Migu harus berada di tengah-tengah mereka, menahan tegangan tinggi di antara keduanya.
"Eh ada Migu." Suara Nevan terdengar mendekat dari arah belakang Migu. Senyumnya merekah. Migu menoleh dan balas menyapa "Hai". "Asik, sekelompok sama Migu. Ini kelompok sembilan kan?" tanya Nevan dengan ceria. Dia menyalami beberapa orang yang ada di sekitar sana dan memperkenalkan dirinya dengan riang. Sifatnya yang ramah dan baik hati membuatnya semakin terlihat bersinar.
"Kamu salah kelompok, Nevan. Kelompok kamu tuh di sana." Migu menunjuk ke lingkaran anak-anak di sisi lain dari lapangan. "Eh salah, malu deh." Dia menertawai dirinya sendiri dan mengacak-acak rambutnya, lalu berlari pergi. "Dadah semuanya, sori ganggu."
"Oalah, jadi itu anak IPA yang dibicarain dari kemarin, haha —aku baru lihat di i********: doang. Orang ganteng mah bebas," celetuk Lila tiba-tiba. Matanya berbinar-binar dan tatapannya masih belum lepas dari Nevan yang sudah menjauh. Migu mengedarkan pandangannya dan melihat beberapa anak-anak cewek melakukan hal yang sama. Beberapa bahkan berbisik-bisik kecil dan histeris sekali dua kali. "Ih Migu, beruntung banget bisa kenal sama dia," kata Lila lagi, menyenggol-nyenggol bahu Migu.
"Aku tetanggaan sama dia dari kecil," jawab Migu dengan tawa kecil. Meski begitu, dia tidak menampik bahwa dirinya merasa beruntung. Dia menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas. Migu juga sama saja seperti anak-anak cewek lain walaupun sudah kenal Nevan dari lama. Dia tidak bisa menolak rasa berdebar-debarnya.
"Ya iyalah, dia mana mau sama cewek tukang gosip kayak lo," cetus Wanda tiba-tiba. Lila langsung menatap galak. "Apaan sih gorila? Nggak ada yang ngomong sama kamu tuh!" Nah kan, mulai lagi, batin Migu, merasa sudah saatnya dia menjadi petugas di rumah penitipan anak lagi. Migu membekap mulut Wanda rapat-rapat sebelum dia bicara yang lebih kasar. "Udah, udah. Jangan ribut lagi, aku capek dengarnya!" kata Migu memohon.
Beberapa anak yang tersisa datang satu per satu. Migu merasa dadanya mencelos ketika melihat sosok dua perempuan yang datang bersama ke lapangan. Mereka adalah dua orang yang menertawakan dan mengabaikan Migu di minimarket. Migu sama sekali tidak mau sekelompok dengan mereka berdua, pokoknya tidak mau. Sayangnya, alih-alih pergi ke lingkaran kelompok sembilan, mereka bergabung dengan kelompok delapan. Migu merasa mood-nya langsung rusak.
Di belakang mereka berdua, ada seorang anak laki-laki tinggi dengan rambut coklatnya yang agak mencolok. Migu merasa familier dengan siluetnya. Ketika dua kepala dua perempuan itu menyingkir, sosok dingin Norwen yang tengah berjalan sendirian datang bergabung dengan lingkaran kelompok delapan. Migu mati-matian menyembunyikan wajahnya.
"Siapa tuh yang kayak bule? Kok nggak pada bicarain dia dari kemarin ih, cakep banget padahal," gumam Lila di sebelah Migu. Aduh, jadi dia anak baru juga? Kenapa sih mesti satu kelompok, batin Migu. Rasanya dia mau tukaran kelompok saja dengan Ayaka. Di sana tidak ada orang-orang yang ingin dia hindari, dan dia bisa sekelompok dengan Nevan juga.
Anak-anak cewek bisik-bisik lagi. Migu bisa mendengar sedikit kesenangan hati mereka.
"Cakep ya tapi sombong sama penyendiri gitu kesannya, nggak mau nyapa-nyapa. Pantesan nggak seterkenal Nevan, haha."
"Kayaknya cuek gitu ya anaknya, kyaa! Keren banget!"
"IG-nya apa ya? Coba intipin namanya —Morven? Norven? Bener ga sih?"
"Keren ya gayanya, agak berantakan sama cuek-cuek gimana gitu. Kyaa~"
Tak lama setelah itu, seorang kakak tingkat panitia datang ke tengah-tengah mereka. "Halo semuanya, nama aku Karisa Junianta dari kelas 11-Bahasa-10, pendamping kelompok delapan!" Semuanya mulai tenang dan mendengarkan aba-aba dengan seksama. Dia berbicara dengan nada bersahabat namun tetap tedengar tegas.
Satu per satu dari mereka memperkenalkan diri. Dua anak menyebalkan yang Migu temui di minimarket adalah Kanya dan Finny, anak-anak jurusan IPS. Sementara itu, Norwen Akasia yang sangat dihindari Migu berasal dari jurusan IPA. Setelah perkenalan, Karisa menjelaskan sebuah permainan pembukaan untuk hari itu. Dia mengeluarkan sebuah kardus berisi sepihan kertas.
"Di dalam kardus ini ada borgol kertas. Kalian akan dibagi berpasangan dan harus keliling daerah lantai 1 untuk mencari kartu tulisan 'Selamat datang', dengan tangan diborgol dengan ini. Kalau borgolnya lepas, kalian kalah dan ada hukumannya juga. Kelompoknya, aku yang tentukan."
Semuanya mulai berisik lagi, setengah senang, setengah deg-degan menebak-nebak siapa yang akan menjadi kelompok mereka.
"Lihat tuh muka anak-anak cewek, pada ngarep sekelompok sama si Noren —atau siapalah namanya tadi— itu semua, haha!" Wanda tertawa terbahak-bahak di samping Migu.
*
To be continued.
16 Agustus 2020