Selagi anak kelas 11 dan 12 mulai bertempur dengan kelas-kelas mereka, anak-anak baru masih harus melewati MOS, masa orientasi siswa, selama tiga hari. Migu agak heran mendapati dirinya sendiri melompat-lompat girang di kamarnya ketika melihat pengumuman bahwa dirinya satu kelas dengan Wanda dan Ayaka, mengingat bahwa baru beberapa hari yang lalu dia merasa sangat ingin menjauh dari mereka.
Selama masa orientasi, pada dua jam pelajaran pertama di pagi hari, mereka akan mendapat sesi bersama wali kelas di ruang kelas masing-masing. Setelah itu, mereka akan berkumpul sesuai kelompok campuran semua jurusan yang sudah dibuat oleh panitia MOS. Pagi ini, semua anak kelas sepuluh mengambil undian nomor kelompok masing-masing saat melewati gerbang masuk sekolah. Migu mendapat nomor delapan. Wanda juga sama.
"Yaaah! Aku sembiran!" rengek Ayaka dengan bibir mengerut kesal. "Nggak mau, maunya delapan, delapan, delapan!" paksa Ayaka pada seorang kakak tingkat yang menjaga kotak undian. Di sampingnya, Wanda seru sekali memanas-manasi Ayaka untuk memaksa kakak tingkat itu sampai diperbolehkan untuk tukar kelompok. Migu cuma sanggup menahan malu.
Mereka datang ke kelas tanpa berhasil menukar kelompok Ayaka. Kelas mereka berada di lantai tiga. Ruangannya penuh dengan siraman cahaya matahari dari jendela kaca luas yang menghadap ke lapangan basket. Kursi meja disusun berpasang-pasangan dengan gantungan tas dan laci untuk tiap orang. Di bagian belakang kelas ada loker berjejer penuh. Pendingin ruangan menyala dalam suhu terdingin di salah satu sisi dinding.
Wanda duduk sebangku dengan Ayaka, sedangkan Migu terpaksa harus duduk di satu-satunya kursi yang tersisa karena mereka menghabiskan terlalu banyak waktu berdebat di kotak undian tadi. Yang menjadi teman sebangku Migu adalah seorang anak laki-laki dengan wajah malas yang daritadi hanya tidur. Dia mengangkat wajahnya untuk kenalan dengan Migu tanpa niat sedikit pun. Namanya adalah Wirman Kiel, anak yang seperti tidak punya niat hidup sama sekali.
Di meja belakang Migu ternyata adalah tempatnya Lila dan Yuni. Migu langsung merasakan aura perang dunia ketika Lila menatap Wanda dan Ayaka dari kejauhan. "Aduh pusing, udah satu lantai di asrama, satu kelas sama preman lagi," gumam Lila, sok memijit-mijit keningnya. "Lila, udah deh jangan ngomong gitu lagi," ucap Yuni dengan raut tidak suka. "Migu, senang banget bisa sekelas sama kamu!" serunya dengan ceria.
Ketika sesi bersama wali kelas dimulai, seorang guru muda yang cantik masuk ke kelas mereka, 10-Bahasa-4. Migu masih mengingatnya. Dia adalah guru yang menanyai namanya dan memperbolehkan dirinya masuk ke ruang pertemuan saat upacara penyambutan siswa baru.
"Selamat pagi anak-anak, saya Evelin Christy. Mulai hari ini, saya adalah wali kelas kalian," katanya dengan bibir merah merona yang melekuk ramah. Dia memancarkan aura kecantikan perempuan dewasa. Cara bicaranya tegas, tapi menyenangkan. Ditambah lagi, dia masih muda. Kalau begini, tidak hanya anak laki-laki yang senang padanya, anak perempuan pun akan jatuh cinta padanya dengan mudah.
Agenda pertama mereka hari ini adalah memilih ketua kelas. Seorang anak perempuan berkacamata dengan wajah dingin adalah satu-satunya yang mencalonkan diri. Namanya Airis Thalia, selalu menduduki posisi ketua kelas sejak SD. Sekilas dilihat, Airis adalah anak yang pendiam dan cuek, bertolak belakang dengan karakteristik ketua kelas pada umumnya. Karena tidak ada kandidat lain, Airis resmi diangkat menjadi ketua kelas mereka.
"Selanjutnya, saya akan memberi pengenalan dasar tentang dunia Altera dan sekolah ini. Saya yakin masih banyak dari kalian yang butuh untuk tahu lebih kan?" Setelah Evelin bicara begitu, matanya bertemu pandang dengan mata Migu untuk beberapa detik. Migu tidak tahu kenapa Evelin melihatnya seperti itu.
"Sejak tahun 1500, makhluk jenis baru mirip manusia bermunculan di segala dimensi kehidupan. Mereka disebut Altera," jelas Evelin. Dia menunjuk pada layar di depan kelas yang menampilkan penjelasan-penjelasan singkat. "Ada yang mau menjelaskan bagian setelah ini?" tawarnya. Tidak sampai seperempat detik, jari seorang anak perempuan dengan pipi berbintik mengacung semangat, takut sekali kesempatan ini direbut oleh seseorang. Bokongnya bahkan naik beberapa senti dari kursi.
"Dengan kemampuan tambahan dibanding manusia biasa, Altera ada untuk menjaga kestabilan kehidupan di tengah lingkungan sosial, mulai dari segi budaya, keamanan, alam, teknologi, dan hubungan antar kelompok sosial. Sejak dulu Altera hidup berdampingan dengan manusia. Meski tidak secara ketat dirahasiakan, pada umumnya manusia tidak tahu tentang keberadaan Altera —hanya kalangan tertentu yang tahu. Ah, ngomong-ngomong, saya Saina Amalia. Salam kenal semuanya."
"Perfect, Saina. I love you already!" Evelin bertepuk tangan dengan bangga untuknya. Setelah itu, Evelin juga menjelaskan tentang lima fraksi penugasan Altera. Meski tidak diwajibkan untuk bergabung, pada dasarnya dunia pekerjaan untuk Altera terbagi menjadi lima fraksi: Fraksi Keamanan dan Moral, Fraksi Perhubungan, Fraksi Alam, Fraksi Kemanusiaan dan Budaya, dan Fraksi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. "Ada yang tahu apa tugas tiap-tiap fraksi?"
Jari Saina mengacung setinggi langit. Evelin tertawa senang, "Terima kasih Saina, simpan jawabanmu untuk pelajaran Sejarah minggu depan ya! Kelas kita beruntung punya kamu!" ucapnya. Dia berkedip sebelah mata.
"Apa? Belajar gituan di Sejarah? Beda banget sama SMP aku dulu —SMP biasa sih bukan School of Altera." Anak-anak berbisik-bisik riuh rendah. Migu menunduk di tempat duduknya, kembali gelisah mengingat kejadian kemarin. Bagaimana jika semua orang di sini tahu bahwa aku bukan Altera? Apakah aku akan dikeluarkan? tanya Migu dalam hatinya.
Tiba-tiba dia merasa bahwa dirinya adalah seorang penipu. Dia mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk mengaku pada teman-temannya dan meminta saran apakah dia perlu mengundurkan diri dari sekolah ini atau tidak. Kemungkinan terbaiknya, dia mungkin saja bisa pindah ke jurusan lain, tapi Migu tidak berharap banyak. Toh dia masuk ke sekolah ini tanpa tes apa pun.
"Sekarang, keluarkan ponsel kalian," pinta Evelin. Migu mendengar Lila dan Yuni memekik di belakang. "Asik! Akhirnya dijelasin tentang poin-poin itu!" jerit Lila, kesenangan. Evelin mengarahkan mereka untuk mengunduh sebuah aplikasi dan membuat sebuah akun.
"Melihat dari ekspresi kesenangan kalian, sepertinya kalian sudah pada tau ya. SMA Ozolero menerapkan sistem poin untuk siswa-siswa. Poin itu bisa didapat dari memenangkan perlombaan, aktivitas keorganisasian, nilai-nilai tes pelajaran, hadiah dari guru, dan sebagainya —baca sendiri. Lalu... poin itu bisa kalian gunakan untuk berbelanja di semua toko di Pulau Ozolero!"
Migu menatap ponselnya dengan antusias. Kalau dengan sistem begini, bisa saja dia sama sekali tidak perlu mengeluarkan uang saku. Semua akun baru mendapat poin 10 pada awalnya. Dia membaca beberapa keterangan di aplikasi itu. Poin bisa didapat dengan beberapa cara.
["..."]
["Nilai ulangan 100: mendapat 5 poin"]
["Masuk OSIS: mendapat 50 poin"]
["Juara nasional: mendapat 75 poin"]
["Melaporkan tindakan kriminal di sekolah: mendapat 100-200 poin"]
["Mendapat kiriman rasa terima kasih: mendapat 3-5 poin"]
["Menjadi juara kelas: 50 poin"]
["..."]
Evelin mengetuk-ngetuk papan tulis dengan kuku-kukunya, menenangkan anak-anak yang ribut gara-gara terlalu antusias, merasa akan menjadi saudagar kaya dengan sistem poin seperti itu. "Sudah, sudah. Ayo kembali kondusif lagi. Setelah ini kita bakal masuk ke sesi berikutnya, perkenalan diri ditambah dengan penampilan skill dari Altera Energy. Nah, maju satu per satu ya, dari mbak yang cantik di pojok kanan," ucapnya dengan tegas.
Di benak Migu seolah ada petir menyambar. Kedua tangannya berubah sedingin es lagi. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan maju ke depan sana. Tidak boleh maju, atau dia akan ketahuan. Satu per satu anak-anak maju, memperkenalkan diri masing-masing dan menampilkan macam-macam kemampuan di luar akal sehat manusia. Migu bergetar hebat sekali di bangkunya sembari menonton seorang anak mengeluarkan bola api dari mulutnya di depan kelas.
"Oi, kalau gugup juga nggak usah sebegitunya juga kali." Wirman, anak yang menjadi teman sebangkunya melirik keheranan, masih dengan wajah malasnya. Dia menunjuk pada kedua tangan Migu yang kini sedang meremas-remas kuat ujung roknya sendiri. Migu sendiri sudah hampir menangis. Dia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. "Aku... nggak bisa ngeluarin kekuatan-kekuatan aneh kayak gitu," gumamnya lirih, lalu terkejut sendiri karena dirinya tiba-tiba malah membocorkan hal itu pada Wirman.
"Hah? Ngomong apaan? Terus pas tes masuk sekolah ini kamu nunjukin apa? Joget kayak audisi K-Pop?" Wirman menjawab terheran-heran. "Nggak mungkinlah nggak bisa, kecuali kamu amnesia atau emang b**o kebangetan."
Berbicara dengan Wirman sama sekali tidak membantu. Semua omongannya hanya main serobot saja. Migu akhirnya maju ke depan kelas sebelum gilirannya. "Bu...," ucapnya tanpa berani memandang mata Evelin. "Sa-saya mau permisi ke toilet." Evelin tersenyum dengan senang hati. "Silakan Migu, take your time," katanya.
Migu sama sekali tidak pergi ke toilet. Akan tetapi, dia sudah tidak berniat kembali ke kelas lagi sampai sesi itu selesai. Dia berjalan cepat-cepat di koridor, takut bertemu dengan guru yang sedang patroli. Migu ingat bahwa di lantai tiga ada sebuah area duduk. Dia mengambil jalan yang diyakininya benar, dan sampai pada sebuah ruangan luas dengan atap kaca. Lantainya beralaskan rumput sintetis. Ada banyak kursi dan meja yang berjejer-jejer seperti di restoran. Tempat ini seperti perpustakaan mini.
Sekilas, tempat itu terlihat kosong. Namun di tempat yang agak sulit dijangkau mata, seorang anak laki-laki berseragam tengah tidur di atas rumput dengan wajah tertutup buku. Tadinya dia tidur seperti itu, tapi setelah Migu membuat suara pintu yang ditutup, laki-laki itu mengangkat buku yang menutupi wajahnya dan membuka matanya dengan kesilauan.
Migu tiba-tiba langsung menyesal sekali. Anak laki-laki yang tengah bolos itu adalah orang yang meminjamkannya jaket di peristiwa yang sudah tidak mau diingat-ingatnya lagi itu.
*
To be continued.
15 Agustus 2020