Gedung sekolah SMA Ozolero memang sudah terlihat luas dari luar. Migu dan teman-temannya sembarang mengikuti orang yang berjalan di depan. Mereka tiba di ruang pertemuan yang luas dan penuh kursi. Wanda duluan mengambil tempat di kursi kosong, kemudian Ayaka dan Migu duduk di samping kiri dan kanannya. Suara riuh rendah percakapan orang-orang bersatu padu dengan suara orang yang sedang mengetes mikrofon.
Migu merasa familiar dengan potongan rambut dan bentuk punggung anak cowok yang duduk di kursi depannya. Dia mengamati dengan seksama, bahkan hingga menjulur-julurkan lehernya. Wanda kelihatannya sadar akan gerak-gerik Migu. "Kamu kenal dia?" tanya Wanda. "Mirip kayak orang yang kukenal sih," jawab Migu ragu-ragu.
Setelah dia menjawab begitu, Wanda berdiri sedikit dari kursinya dan menepuk bahu orang itu. Sekarang Migu hanya bisa menepuk kening, menyesal sekali sudah memberitahu Wanda. Dia memekik "Jangan" dengan pelan, tapi terlambat. Ketika sosok itu menoleh, ternyata benar. Nevan duduk di sana, tersenyum pada Migu, tentu mengira bahwa yang menepuk bahunya barusan adalah Migu. Sementara itu, Wanda cekikikan dengan Ayaka.
Migu balas tersenyum kagok dan melambai pada Nevan. Untuk sesaat, dia berdebar-debar sekali hingga wajahnya memerah dan tidak bisa memikirkan apa pun lagi. Setelah akal sehatnya kembali, dia baru kepikiran sesuatu. Jika ada Nevan di sini, maka...
"Kita salah ruangan! Ini sih ruangan untuk anak-anak IPA sama IPS!" seru Migu dengan panik. Baru saja duduk, mereka langsung pergi berlari-lari lagi sambil mengecek map wilayah sekolah lewat ponsel. Akhirnya mereka tiba di ruangan pertemuan yang benar.
"Aduh anak-anak cewek. Cantik-cantik kok telat." Beberapa guru yang menjaga pintu masuk ruangan menyambut mereka. Ada antrian beberapa anak yang juga baru sampai. Mereka menunggu untuk diperiksa dengan alat semacam scanner yang bentuknya mirip tongkat estafet, tapi memancarkan cahaya berwarna biru aqua. Setelah alat itu mengeluarkan suara ting seperti bel, mereka diperbolehkan masuk.
"Apa itu?" tanya Migu pada Ayaka. "Itu alat pendeteksi Altera," jawab Ayaka dengan santai. Migu langsung cemas lagi. Apa itu Altera? Bagaimana kalau aku bukan Altera? Apa aku diusir? Jangan-jangan email undangan sekolah itu sejak awal memang salah kirim ya? pikir Migu. Dia gelisah sekali hingga tidak bisa berhenti meremuk-remukkan jari-jarinya sendiri. Antrian memendek hingga tiba waktunya untuk Wanda.
Alat itu mengeluarkan suara ting untuk Wanda dan Ayaka, lalu mereka segera diperbolehkan masuk. Ketika gilirannya tiba, Migu menutup matanya erat-erat, takut kalau pendeteksi itu tidak mengeluarkan suara ting yang diharapkan semua orang. Beberapa detik kemudian, terdengar suara tetot dari pendeteksi Altera itu. Tuh kan benar. Aduh bagaimana ini? gumam Migu dalam hatinya. Guru-guru yang berada di sana menatap heran pada dirinya.
"Kamu bener jurusan Bahasa?" tanya guru yang memegang alat pendeteksi itu. Migu mengangguk ketakutan. Seorang guru muda perempuan dengan heels tinggi dan bibir merah menghampirinya. Migu mengintip tag nama perempuan itu dan membaca nama "Evelin Christy" di sana.
"Nama kamu siapa?" tanya Evelin dengan senyum hangat. "Mi-Migu Evangeline, Bu," jawab Migu dengan tergagap-gagap. Semua guru yang daritadi memperhatikan insiden ini tiba-tiba membekap mulut tidak percaya. Mereka berbisik-bisik satu sama lain, membuat Migu tidak nyaman. Evelin mendiskusikan sesuatu dengan guru-guru lain sebentar, lalu kembali lagi dan berucap dengan ramah, "Sudah nggak apa-apa Migu, ayo silakan masuk, gabung sama temen-temen kamu."
Dengan perasaan tidak nyaman, dia duduk di samping Ayaka. Panggung ruang pertemuan ini agak berbeda dari ruangan untuk anak IPA dan IPS tadi. Ada sebuah pintu besi dengan bingkai pintu penuh tombol yang berdiri secara janggal di atas panggung. Pintu itu tidak menempel pada dinding, dia hanya berdiri seperti hiasan saja. Migu merasa hal itu lucu hingga pintu tersebut dibuka seseorang dan di dalamnya penuh dengan cahaya warna-warni yang berputar-putar membentuk silinder.
Dari tengah-tengah silinder itu, muncul kaki seseorang. Kaki itu melangkah keluar, menampakkan sosok pria asing berambut pirang dengan seragam tuksedo dan topi bulat. Dia datang ke mimbar pidato, penuh senyum. "Good morning, ladies and gentlemen," sapanya. Kemudian, dia melanjutkan pidato itu dalam Bahasa Inggris.
"Mungkin sebagian dari kalian pernah tahu atau melihat aku. Ya, aku Anthony O'Collins, ketua umum dari keseluruhan Fraksi Perhubungan untuk periode ini.
"Selamat datang di SMA Ozolero, tempat yang tepat bagi kalian untuk tumbuh menjadi Altera-Altera luar biasa. Ya, dari tepuk tangan kalian, aku bisa mendengar semangat-semangat baru yang luar biasa. Saat ini, dunia Altera bertumbuh pesat dan akan selalu membutuhkan jiwa muda yang haus akan ilmu dan pengalaman. SMA Ozolero adalah salah satu sekolah pemasok Altera dengan kualitas tinggi di dunia.
"Altera Lulusan Ozolero bisa kau temukan di universitas-universitas bergengsi di seluruh dunia. Kemudian di kursi penugasan ada Jonathan Gunawan --kuharap tidak salah menyebut namanya-- dari Fraksi Keamanan dan Moral, Luis Hermanto dari Fraksi Alam, Shania Akari dari Fraksi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan banyak sekali nama-nama berbakat lainnya, kalian pikir mereka berasal dari mana? SMA Ozolero."
Anak-anak lain bertepuk tangan antusias sekali, merasa semakin bangga akan posisi mereka saat ini. Beberapa tidak tahan untuk berdiri dan memekik-mekik heboh, termasuk Wanda dan Ayaka. Sementara itu, Migu merasa dirinya tengah tersesat di dunia lain. Perutnya mules dan pelipisnya nyut-nyutan.
Anthony O'Collins masuk kembali ke pintunya setelah menyelesaikan pidatonya. "Aku akan masuk ke Fraksi Perhubungan suatu saat nanti!" Terdengar teriakan lantang seseorang dari lautan kepala anak-anak yang sedang duduk, disambut dengan sorakan "huuu" dari semua orang.
"Baiklah, good luck with that, siapa pun yang teriak barusan," ucap seorang guru tua yang pendek dan gemuk di mimbar pidato saat ini. "Halo, Pak Alex atau Pak Dean, boleh tolong angkat Travelling Door-nya dulu," pintanya pada seseorang lewat mikrofon. Dua laki-laki berseragam guru muncul dan menyingkirkan pintu yang disebut Travelling Door itu dari atas panggung. Setelah pintu itu hilang, dia berdehem di mimbarnya.
"Perkenalkan, saya Antani Aditya, kepala sekolah SMA Ozolero. Maaf baru muncul, tadi saya pidato di jurusan IPA/IPS dulu, haha," ucapnya dengan tawa mirip sinterklas. Sosoknya mengingatkan Migu pada bentuk Mario Bros.
"Saya tahu di antara kalian ada yang sudah sangat familier dengan dunia Altera, ada juga yang cuma pernah dengar sekali dua kali. Semua itu tidak penting, yang penting adalah fakta bahwa kalian semua saat ini adalah anak-anak dari School of Altera yang akan belajar bersama-sama, menjadi luar biasa.
"Saya ceritakan sedikit sejarah ya. Jurusan Bahasa SMA Ozolero sama seperti School of Altera lainnya, berdiri seperti sekolah biasa dan menyembunyikan aktivitas Altera kita dengan cara memisah kelas-kelas untuk manusia biasa dan para Altera. SMA ini sudah berdiri sejak dua ratus tahun yang lalu. Jurusan Bahasa sendiri memiliki fokus pendidikan yang terarah pada Fraksi Perhubungan --meski kalian cuma akan belajar dasar-dasarnya saja, tidak seperti di universitas.
"Meski kurikulum pembelajaran kita menjurus pada Fraksi Perhubungan, kalian tidak dipaksa harus meniti karir di Fraksi Perhubungan nanti. Bebas kok. Sama seperti anak-anak IPA yang memilih kuliah jurusan IPS, atau sebaliknya. Yang ingin saya tekankan di sini adalah, kalian bebas ingin berkembang seperti apa di sekolah ini."
Lagi-lagi semua anak bertepuk tangan meriah. Migu merasa kepalanya semakin pusing saja. Semua orang tidak henti-hentinya menyebutkan tentang Altera. Kalau jurusan Bahasa di SMA Ozolero ini adalah Altera, bukankah Migu sudah salah tempat? Dirinya bahkan menghasilkan reaksi negatif dari pendeteksi Altera yang tadi. Dia juga tidak pernah mendengar apa pun tentang Altera seumur hidupnya.
Setelah pidato kepala sekolah, ketua osis mengambil giliran. Dia adalah anak laki-laki dengan seragam dan potongan rambut yang sangat mematuhi peraturan. Namanya Rano Putra. Dari sekali lihat saja, Migu memberi penilaian bahwa cowok ini tidak akan pernah melewatkan mandi paginya setiap hari dan tidak akan mau melanggar peraturan walau diberi uang jutaan.
Dia berpidato sambil memamerkan gigi putih yang pasti selalu disikatnya dua kali sehari. Benar-benar seseorang dengan aura siswa teladan yang sempurna. Pendapat Migu dikuatkan oleh Wanda yang mendengus sepanjang pidato Rano. Tentu saja orang-orang seperti Wanda dan Ayaka tidak akan suka pada anak-anak disiplin seperti itu. Migu tersenyum geli di tempatnya.
Setelah mendengar rangkaian kata sambutan yang seperti tidak ada habisnya, mereka tiba di acara penutupan. Segerombolan anggota paduan suara menyanyikan mars SMA Ozolero dengan merdu, dan seorang guru muda bernama Alex mengambil alih mikrofon.
"Baiklah anak-anak yang sangat bersemangat sekali hari ini, kami telah menyiapkan acara penutupan yang paling sesuai untuk semangat kalian yang sudah tumpah-tumpah itu! Dalam hitungan mundur saya dari lima sampai satu, kalian semua boleh memamerkan skill dari Altera Energy kalian! Ingat, jangan sampai bikin orang lain terluka, oke?"
Semua anak tiba-tiba berteriak kegirangan di tengah kebingungan Migu. Altera Energy?
"Lima..."
"Empat..."
"Tiga..."
"Dua..."
"Satu..."
Duar! Ribuan confetti turun dari langit-langit, bersamaan dengan petir, gumpalan air, semburat api, kembang api, suara-suara melengking, anak-anak yang terbang di udara, bunga-bunga tumbuh secara tidak masuk akal, angin p****g beliung mini, kursi melayang di langit, dan... dan... terlalu banyak yang terjadi dalam satu detik itu.
Migu melirik pada Wanda dan terkejut melihat tangannya yang penuh dengan aliran listrik kebiruan. "Jangan dekat-dekat! Ini Electricity Manipulation, nanti kena ke kamu!" larang Wanda. Sementara itu, Ayaka tengah keseruan tertawa-tawa sambil berpindah-pindah dari bayangan orang lain, mengejutkan mereka satu per satu.
Migu langsung paham sekarang. Kekuatan-kekuatan aneh itu... adalah skill dari Altera Energy. Dan dirinya adalah satu-satunya yang tidak bisa melakukan apa pun di sini, soalnya dia bukan Altera.
*
To be continued.
14 Agustus 2020