"Loh? Masa kamu nggak tau tentang jurusan kita?" Mulut Wanda melingkar lebar dan dia menepuk keningnya. "Asrama lantai 2 sampai lantai 19 itu untuk campuran anak-anak IPA sama IPS. Lantai 20 sampai lantai 30 itu lantai khusus untuk jurusan Bahasa, di website dikasih tau kok. Ya mau gimana lagi, nggak mungkin dicampur kan? Kegiatan kita kan beda."
"Oh jadi gitu ya? Tapi kenapa mesti kayak gitu?" tanya Migu lagi, sehingga Wanda dan Ayaka menatap heran sekali padanya. "Apaan sih, Migu? Masa nggak tau? Jadi kesel nih aku —kalau kamu itu Ayaka sih udah aku tabok lagi," gumam Wanda, mendekatkan wajahnya pada Migu dengan alis terangkat sebelah. Migu langsung mencemaskan keselamatannya dan mengucapkan kata "Ampun" dengan spontan.
"Ka-kalau gitu aku pulang dulu ya, mau ganti celana, hehe," kata Migu dengan gugup. Sebenarnya dia hanya ingin melepaskan diri secepat mungkin dari mereka berdua.
"Ayo bareng sama aku. Aku nggak mau belduaan sama dia, bisa gila aku!" paksa Ayaka. Dia menggandeng lengan Migu erat-erat, mengabaikan cibiran Wanda di belakang mereka. Lalu kenapa kalian malah jalan-jalan berduaan? tanya Migu dalam hatinya, penuh keputusasaan.
"Enak aja, aku juga ikut kalau kayak gitu. Kita kan udah temenan sejak kemarin," protes Wanda. Dia menyejajarkan langkahnya di samping mereka. "Ya kan? Ya kan? Ya kan?" desaknya di telinga Ayaka, tapi Ayaka malah mendorong Wanda jauh-jauh. "Olang gila!" teriak Ayaka.
"Orang! Orrrr...ang!" pekik Wanda, kelihatan kesal sekali. "Bedain r sama l, dasar oon. Belajar kok setengah-setengah!?"
Jika yang barusan dihina Wanda adalah Migu, pasti Migu akan langsung sedih karena tersinggung. Ayaka tidak menanggapi dengan serius. Dia hanya berusaha menendang-nendang b****g Wanda sambil tertawa-tawa. Kepala Migu rasanya mau pecah berada di dekat dua orang ini. Sepanjang perjalanan menuju asrama, mereka terus meracau-racau tidak berhenti, dan masing-masing meminta pembelaan dari Migu di berbagai sesi pertengkaran.
Setelah mereka naik lift asrama ke lantai 24, Migu berharap kamar mereka berada di arah berlawanan, lalu berpisah selamanya. Namun, Wanda malah tiba-tiba nyeletuk, "Main ke kamar Migu yuk!" dengan riangnya. Sementara itu, Ayaka kelihatan antusias seolah dia sudah kepikiran hal yang sama daritadi. "Ayo, ayo. Boleh kan, Migu?" tanyanya dengan berseri-seri.
Migu menghela napas dengan pasrah. "Ya, terserah kalian," jawabnya. Sebenarnya dia berat hati sekali.
"Asik! Akhirnya ada olang yang mau nampung aku sama Wanda!" seru Ayaka senang. "Sebagai gantinya, aku kasih lihat satu pertunjukan seru buatmu ya?" kata Ayaka. Setelah berucap seperti itu, tubuhnya perlahan menyusut dan menghilang. Dari balik pintu kamar yang sedang mereka lewati, terdengar seorang cewek menjerit-jerit histeris.
Migu pucat pasi, dan Wanda tertawa terbahak-bahak. Dari bayangan di celah antara bawah pintu dan lantai, tubuh Ayaka terbentuk lagi secara perlahan-lahan. Dia muncul sambil ngakak. Tak lama setelah itu, pintu dengan hiasan bertuliskan "Putri Silalahi" itu membanting terbuka. Seorang anak perempuan dengan rambut penuh busa dan badan hanya ditutupi handuk muncul dengan wajah merah padam.
"NGGAK ADA OTAK YA?" teriaknya keras-keras. Beberapa pintu lain terbuka dan beberapa pasang mata penasaran mengintip keluar. Ayaka dan Wanda telah menarik Migu untuk melesat pergi dari sana. "Apa itu barusan?" Migu masih terpana.
"Pelpindahan lewat bayangan. Aku bisa pindah lewat bayangan yang bersentuhan denganku. Itu cabang ilmu dari pengendalian kegelapan —Darkness Manipulation atau bahasa kerennya, diajarin kakekku dulu," jawab Ayaka sambil terkekeh-kekeh. Migu tertegun. Apa-apaan itu? Emangnya manusia normal bisa ngelakuin hal kayak gitu? batinnya, tapi anehnya Wanda juga tidak terlihat heran.
Migu mendudukkan Wanda dan Ayaka di atas karpet bulunya. Sementara itu, Migu membersihkan tubuhnya di toilet terlebih dahulu. Dia melepas jaket dari pinggangnya dan menatapnya dalam-dalam. Wajah pria penyelamat itu terlintas di benaknya dan dia langsung teringat rasa malu bertubi-tubi itu lagi. Dengan wajah memerah, dilemparnya jaket itu ke dalam keranjang baju kotor.
Migu lalu ikut duduk dan melahap spageti saus tomatnya. "Yang tadi itu, bukannya kamu keterlaluan ya Ayaka? —nyusup ke toilet orang waktu dia lagi mandi," gumam Migu, akhirnya memberanikan diri untuk protes.
"Waktu pertama kali aku buka pintu kamar asramaku kemarin, dia juga ngagetin aku dari dalam. Ngeselin banget kan?" dengus Wanda, sambil menggigit biskuit yang disodorkan Migu padanya.
Ayaka hanya cekikikan tidak jelas. "Kalau ke Wanda kemarin sih aku memang mau jahil aja. Kalau si Putri itu, kemarin dia numbangin koperku, lalu ngomongnya 'ups, sori, sengaja'. Aku kesal dong!" serunya. "Aku sering jahil sih, makanya nggak ada yang mau temenan sama aku —Wanda juga sama, nggak ada yang temenan sama dia," lanjut Ayaka, menjulurkan lidahnya pada Wanda.
"Terus kenapa kalian malah temenan hari ini?" Migu mulai merasa dirinya sedang menghadapi dua anak TK.
"Karena pasti nggak ada yang mau temenan sama orang kayak kami, dari dulu juga selalu dijauhi. Daripada sama-sama ngenes, akhirnya aku ajak dia buat damai aja, terus temenan deh. Gitu," jelas Wanda. Migu menggeleng-geleng tidak menyangka. Dua orang ini memang konyol, tapi awal mula pertemanan mereka pun jauh lebih konyol.
Mendengar Wanda berkata seperti itu, dia jadi teringat pada perkataan perempuan di minimarket kemarin. "Apaan sih, kamu aja sana. Males banget sama anak-anak polos gitu haha." Dia yang baru merasakan satu penolakan seperti itu saja langsung nangis meraung-raung di jalanan. Meski situasinya berbeda, Wanda dan Ayaka mungkin sudah merasakan berkali-kali lipat banyak penolakan seperti itu.
Besok adalah hari peresmian penerimaan siswa baru. Lagi-lagi, ruangan upacara penerimaan untuk jurusan Bahasa dipisah dari jurusan IPA dan IPS. Migu bingung sekali. Dia tidak mengerti kenapa jurusan Bahasa selalu serba dipisahkan dari IPA dan IPS. Wanda dan Ayaka sama sekali tidak menganggap hal itu aneh. Mereka malah dengan senang hati mengajak Migu untuk pergi bersama mereka besok pagi.
Migu sesaat mengira dirinya berasal dari dunia lain dan semua orang di sini tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Dia terus bertanya-tanya dalam hati, bahkan hingga ketika Wanda dan Ayaka sudah pergi dari kamarnya. Untuk mengalihkan perhatiannya, dia menghabiskan sisa hari dengan tidur-tiduran dan menonton video lucu, berharap akan menemukan jawabannya besok di upacara peresmian.
***
Setelah memakai seragam putih abu-abu perdananya, Migu tersenyum pada cermin. Dia menjepret beberapa foto dan mengirimkannya pada Viola.
["Migu pakai seragam! hehe"]
Setelah ini, dia akan menjemput Wanda dan Ayaka. Untuk pergi ke kamar mereka, Migu harus menyeberangi beberapa koridor dan sebuah ruang duduk. Tiap lantai di asrama ini dilengkapi dengan lima ruang duduk yang luas. Ada televisi lebar, meja besar, dan sofa-sofa empuk yang panjang di sana. Di ruang duduk itu, dua anak perempuan berseragam yang tengah duduk tiba-tiba mencegatnya. "Hai kamu," kata salah satunya.
"Halo," jawab Migu dengan ramah.
"Nama kamu siapa? Aku Lila, ini Yuni," katanya. Lila adalah seorang perempuan anggun dengan alis yang tegas. Sementara itu, Yuni terlihat sangat manis dan memancarkan aura yang menyenangkan.
"Aku Migu." Dia menyalami mereka berdua bergantian.
"Kemarin aku lihat kamu main bareng si cewek sembrono dan anak Jepang nyebelin itu. Pasti kamu ngerasa terpaksa banget, kan?" dengus Lila. "Baru hari pertama aja langsung terkenal gara-gara bikin ribut. Nggak ngerti lagi deh lihat mereka itu." Migu terpaku di tempatnya berdiri. Memang benar bahwa awalnya dia terpaksa, tapi Wanda dan Ayaka sebenarnya juga bukan anak-anak yang jahat. Mereka bahkan berniat menolong Migu di tengah insiden memalukan kemarin.
"Aduh Lila, kamu nggak boleh ngomong gitu...!" Yuni kelihatan panik dan khawatir sekali mendengar omongan Lila.
"Aku sih cuma mau ngasih peringatan aja ke kamu. Kalau kamu main sama mereka, lama-lama orang juga ngegosip yang enggak-enggak tentang ka—"
"Makasih peringatannya, Lila. Sejauh ini aku senang-senang aja kok sama mereka," potong Migu. Dia memaksakan sebuah senyum manis untuk Lila. "Aku juga nggak masalah kalau digosipin sama orang. Justru aku beruntung dijauhi sama orang-orang begitu, kan?" jawab Migu lagi, berusaha tidak menyakiti perasaan Lila.
"Mau gue tinju lo?" Tiba-tiba Wanda datang dari salah satu koridor, menatap mengerikan pada Lila. "Ayo Wanda, tinju, tinju, tinju." Ayaka bertepuk-tepuk tangan menggebu-gebu di sebelah Wanda. "Nggak, nggak! Jangan!" teriak Migu, menarik Ayaka dan membekap mulut perempuan itu.
"Duluan ya, Lila, Yuni," ucap Migu. Dia menyeret-nyeret Wanda yang sebenarnya tengah bersiap-siap untuk menghajar Lila di satu tangan, dan satu tangannya yang lain mati-matian membekap mulut Ayaka yang tidak bisa berhenti memanas-manasi keadaan. Entah kenapa, rasanya dia jadi seperti seorang petugas di rumah penitipan anak.
*
To be continued.
13 Agustus 2020