Migu bangun tidur dalam keadaan terkaget-kaget. Dia cuma berniat untuk rebahan sebentar setelah menata barang-barangnya kemarin, tahu-tahu dia ketiduran sampai pagi. Pantulan dirinya di depan cermin menampakkan sosok dengan rambut yang helaiannya mencuat bengkok ke sana-sini, masih memakai baju yang sama sejak kemarin siang. Tanpa berani mengendus tubuhnya sendiri, dia memutuskan untuk langsung mandi.
Rasanya masih sulit untuk percaya bahwa dia bangun di kamar barunya hari ini. Biasanya dia akan melihat wajah Viola dengan make up glamornya setiap hari, sedangkan di sini saat ini, dia tidak kenal siapa-siapa. Membayangkan asrama, dia sempat memikirkan betapa menyenangkannya tinggal bersama seperti keluarga bersama teman-teman perempuan yang lucu-lucu. Tampaknya semua itu butuh proses. Saat ini Migu masih berada di tahapan mau-jalan-jalan-tapi-tidak-ada-teman atau mau-berdiam-diri-di-kamar-tapi-lapar.
Dia belum makan apa pun sejak kemarin malam. Setelah mandi, dia mengunyah beberapa biskuit coklat yang dibawanya dari rumah. Untuk pertama kalinya setelah menempati kamar ini, dia menyibak gorden lebar yang menutupi jendela. "Hah?" Migu terperangah. Dia tidak berekspektasi macam-macam. Karena ini adalah pulau terpencil, dia pikir di belakang wilayah sekolah hanya ada restoran dan hutan-hutan.
Namun yang dilihatnya selain hutan di salah satu sisi pulau adalah tatanan jalanan perkotaan rapi yang disisipi taman, beberapa gedung kecil —kafe, salon, supermarket, toko buku, rumah sakit—, halte-halte, dan bahkan ada bianglala —sepertinya ada taman hiburan juga. Satu-satunya jenis kendaraan yang terlihat adalah beberapa bus berwarna biru pastel bertulisan "Bus Ozolero" yang besar. Melihat pemandangan itu, sesuatu di dalam diri Migu bergejolak hebat, membuatnya merasa girang sekali. "Gila, ini gila banget!" jerit Migu, tidak bisa menahan diri. Dia melompat-lompat kecil dan menari-nari dengan riang.
Dengan antusias, dia langsung mengenakan hoodie berwarna mint yang kebesaran dan mengganti celana boxer melarnya dengan sebuah jeans putih yang ketat. Dia akan pergi mencari sesuatu untuk dimakan di luar sana. Perutnya sudah melilit kelaparan. Migu masuk ke dalam lift bersama sekawanan anak-anak yang tengah bercanda tawa. Migu ingat wajah mereka. Mereka sama-sama mengantre kunci kamar di resepsionis kemarin, yang artinya mereka juga anak-anak baru. Hanya saja, mereka sudah berhasil berteman dekat.
Melihat mereka seperti itu, Migu menyadari betapa dirinya sangat menyedihkan. Sembari berjalan keluar gedung asrama putri sendirian dengan murung, Migu mengecek website SMA Ozolero lagi. Benar saja, di sana ada map wilayah. Sementara itu, di situs map yang paling sering digunakan Migu sehari-hari, wilayah Pulau Ozolero sama sekali tidak terdeteksi, hanya diberi keterangan "SMA Ozolero" untuk keseluruhan pulau ini.
Migu masuk ke sebuah minimarket bernama "Foods&Goods". Dia memasukkan beberapa barang seperti sabun dan alat tulis ke dalam keranjang belanja, lalu pergi ke rak pendingin berisi makanan-makanan berat yang tinggal dihangatkan untuk dimakan. Dia berpikir lama sekali di sana, bingung memilih antara nasi dengan ayam teriyaki, nasi goreng teri, atau spageti saus tomat. Di tengah rasa bingungnya, perut bagian bawah Migu tiba-tiba terasa nyeri.
Migu meremas perutnya dan merintih kecil. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Migu memutuskan untuk langsung mengambil spageti saus tomat yang hanya tersisa satu di sana. Tangannya menyentuh wadah plastik spageti bersamaan dengan tangan seseorang. Migu menoleh dan berpandangan dengan seorang perempuan dengan rambut dikeriting. "Ya udah, ambil aja," kata perempuan itu pada Migu.
"Nggak apa-apa, untuk kamu aja," jawab Migu cepat. Perempuan itu sepertinya setuju sehingga dia langsung memasukkan spageti itu ke dalam keranjangnya tanpa basa-basi. Dia masih berdiri di sana, menunggu satu temannya yang masih mikir-mikir.
"Aduh Kanya, aku nggak tau yang mana yang enak. Bingung uh...."
"Sembarang ambil aja elah, aku juga mana tau, Fin."
Dari pembicaraan itu, kedengarannya mereka juga anak-anak baru. Migu tiba-tiba merasa bahwa ini adalah salah satu kesempatannya. Jadi dia memberanikan diri untuk berbicara. "Kalian anak baru juga ya?" tanya Migu dengan senyum. "Aku Migu, salam kenal," lanjutnya, mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Kedua perempuan itu saling bertatapan dalam diam. Migu langsung memeriksa kata-katanya barusan dengan panik, takut ada ucapan yang salah atau aneh, tapi rasanya tidak ada. Tiba-tiba salah satu dari mereka tertawa cekikikan. "Namanya Migu, lucu ya? Jawab tuh, dia ngajak kenalan," kata anak yang berambut keriting sambil menyikut-nyikut temannya. Dengan wajah mengejek, temannya menjawab, "Apaan sih, kamu aja sana. Males banget sama anak-anak polos gitu haha." Mereka lalu pergi meninggalkan Migu begitu saja.
Migu mematung dan perlahan menurunkan tangannya yang terulur hampa. Tadinya hanya perutnya yang terasa nyeri, sekarang dadanya sakit dan napasnya juga sesak. Rasanya dia barusan diinjak-injak dengan kaki tidak kasat mata. Migu buru-buru mengambil sembarang makanan dan pergi ke kasir. Dia membayar semua belanjaannya dan berjalan pulang secepat mungkin.
Dia tidak mengerti kenapa dirinya di perlakukan seperti ini. Padahal dia tidak berbuat kesalahan pada mereka. Keterlaluan, batinnya. Di tengah perjalanannya, ponselnya berbunyi. Dia mendapat chat masuk dari Viola. Viola mengirim foto dirinya bersama Migu, Wulan, dan Sarah kemarin, sewaktu di Pelabuhan Ozolero. Mereka tersenyum bahagia, memamerkan deretan gigi, dengan pose tangan berbentuk gunting. Langit sore hari indah sekali hari itu.
["Good morning, Migu~~~!"]
["Ini foto kemarin. Cute abis kita!"]
["Jangan lupa makan yang teratur yaa!"]
["Jangan nonton Youtube terus di kamar. Pergi keluar, main sama teman, oke?"]
Pergi keluar, main sama teman. Setelah membaca baris itu, Migu langsung menggeletakkan kantong belanja ke lantai, dan jongkok di sampingnya, tidak peduli orang-orang memandanginya terheran-heran. Dia membenamkan wajahnya di kedua lutut dan membiarkan air matanya mengalir sampai terseguk-seguk. Ternyata seperti ini rasanya sudah berusaha pun tetap tidak bisa juga. Aku bingung, apa aku satu-satunya yang kayak gini? Kenapa orang lain bisa? Migu bertanya-tanya dalam hatinya yang tengah berkecamuk. Dia terus menangis hingga tersedak beberapa kali.
"Aduh." Seseorang yang lewat nyaris jatuh tersandung oleh kantong belanjaan Migu. Migu mendongak dengan wajahnya yang dia yakini sedang jelek sekali hingga harimau pun akan lari ketakutan. Di tengah pandangan yang buram oleh air mata, Migu melihat sosok laki-laki tinggi dengan kulit cerah, iris mata coklat, dan rambut berantakan yang sewarna dengan iris matanya. Migu langsung merasa malu sekali ketika bertatapan dengan pria itu.
"Ma-maaf!" ucap Migu keras, sebelum pria itu pergi. Migu buru-buru berdiri dan mengusap kedua matanya. Dia mengangkat kantong belanjaannya dan merapikan pakaiannya sendiri. Pria itu menatap dingin pada Migu. Dia hanya mengagguk kecil, lalu diam saja untuk sesaat, seperti ingin bicara sesuatu, tapi ragu sekali. Setelah bertingkah seperti itu, dia tiba-tiba melepaskan jaket yang dia kenakan, lalu mengulurkannya pada Migu, tanpa berkata apa pun.
"Eh? Untukku? Nggak apa-apa kok, aku bukan lagi sakit," sela Migu, membuat isyarat tangan untuk menolak. Perutnya memang nyeri sedaritadi, tapi jaket itu tidak akan membantu, lagipula asrama sudah dekat. "Tapi makasih, ya," gumam Migu.
"Bukan gitu," kata pria itu akhirnya, pelan sekali. Dia masih bersikeras menyodorkan jaketnya walau sudah ditolak. Sesaat dia terlihat sedang kesulitan sekali untuk memberitahu sesuatu.
"Ada apa?" tanya Migu dengan kepala dimiringkan. Pria itu ekspresinya datar, tapi dinilai dari gerak-geriknya, kelihatan sedang bingung dan gelisah sekali. "Bilang aja, nggak apa-apa kok."
"Ambil aja. Pakai," pintanya pelan, tanpa menatap pada Migu.
Dipaksa tanpa alasan yang jelas seperti itu, Migu rasanya jadi tidak sabaran karena penasaran. "Kenapa harus gitu? Emangnya ada apa? Aku kan udah pakai hoodie, panas banget," tolak Migu dengan sehalus mungkin.
Setelah itu, akhirnya, pria itu berkata penuh raut keputusasaan, "Di celanamu... ada... da-darah. Ba...nyak."
Pantas saja perutnya nyeri daritadi. Entah sudah sejak kapan dia berjalan ke sana kemari tanpa tahu bahwa dirinya tengah "kebocoran" di hari pertama "tamu bulanan"-nya hari ini. Sudah begitu, dia bahkan memakai celana berwarna putih. Migu lantas segera menutup-nutup bagian bokongnya dengan tangannya dan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Beberapa orang di belakangnya terbatuk-batuk mendadak. Migu yakin sekali mereka sedang menahan tawa.
Dengan sebelah tangan yang sedang bebas, Migu menutup wajahnya, salah tingkah. Sekarang wajah Migu tidak tahu harus diletakkan di mana. Kalau saja Bumi membelah jadi dua, Migu dengan senang hati masuk ke tengah-tengahnya untuk menghilang saat ini juga. Wajahnya panas karena malu.
"Ma-makasih!" seru Migu tanpa berani menatap wajah pria itu. Migu menjambret jaketnya cepat-cepat. Baru saja Migu hendak melingkarkannya ke pinggang, tiba-tiba ada suara perempuan berteriak-teriak heboh di belakangnya. "Oi! Kamu! Hei hei, sini-sini —eh dia itu yang aku ketemu di asrama kemarin ya?"
Migu menoleh dan mendapati dua orang perempuan familier berlari-lari ke arahnya seperti kesetanan. Yang berteriak barusan adalah perempuan bernama Wanda yang membuat kerusuhan di depan kamarnya kemarin. Yang menemaninya adalah perempuan berkulit putih dan bermata sipit yang melakukan atraksi sulap dengan cara keluar dari bayangannya kemarin.
"Kamu bocor! Bocor! Bendera Jepang!" teriak Wanda dengan panik sekali, seolah dunia akan runtuh sebentar lagi. Hari ini tampang garangnya tertutupi karena tatonya tersembunyi di balik sweater hitam yang dia pakai. Si perempuan-bayangan itu buru-buru menyumbat mulut Wanda. "Oi, jangan teliak kencang-kencang dong karau kasih tau tentang itu!" katanya, dengan logat khas dan huruf "r" dan "l" yang tertukar-tukar. "Kamu juga tuh kalau ngomong yang bener dikit dong?! Minggir sana ih!" protes Wanda, sembari melepas tangan yang membekap mulutnya.
Migu buru-buru mengikat jaket tersebut ke pinggangnya. "Udah nggak apa-apa kok. Ngomong-ngomong, makas-" Ketika Migu menoleh pada pria barusan, dia sudah menghilang. Sebagian dari dirinya lega karena tidak perlu berlama-lama dengan laki-laki itu. Habisnya, dia benar-benar sudah nyaris gila. "Aduh mampus, aku malu banget," katanya pelan, sembari mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
"Oh udah dapat jaket. Bagus kalau gitu," kata Wanda, ketika sudah tiba di hadapan Migu sambil terengah-engah. Dia menepuk-nepuk pundak Migu dengan lega sehingga Migu mendongak padanya. "Itu muka kenapa? Habis ditonjok?" tanya Wanda, memperhatikan kedua mata bengkak Migu gara-gara menangis. Migu buru-buru menggeleng. "Enggak kok," jawabnya.
"Oh gitu? Kalau iya sih mau aku tambahin lagi, haha!" serunya sambil tertawa-tawa memamerkan tinjunya. Migu tiba-tiba merasa ngeri. Dia teringat perempuan itu ketika tengah marah-marah di depan kamar asramanya kemarin. Benar-benar tipikal mirip tukang bully di film-film. Melihat wajah serius Migu, Wanda menatap sebal. "Aku bercanda lho. Aduh nih anak sensi amat. Kenalin, aku Wanda. Ini Ayaka," katanya.
"Nggak usah bercanda lagi kamu, Wan. Sensi, sensi, ngatain orang sensi, padahal tiap bercanda emang nggak pelnah lucu!" dengus Ayaka. Dia memandang Migu dengan kasihan, sepertinya menyadari bahwa bengkak di mata Migu itu gara-gara habis menangis. "Udah perasaan paling lucu ya mentang-mentang cadel gitu?" balas Wanda, meninju bahu Ayaka tanpa ragu dan tidak menahan kekuatannya sama sekali. Ayaka mengaduh kesakitan dan balas memukul-mukul Wanda. Migu lagi-lagi menatap ngeri pada mereka berdua.
"A-aku Migu, salam kenal," jawab Migu pelan. "Kalian berdua yang kemarin berantem di lantai 24 asrama kan? Udah baikan?" tanya Migu ragu-ragu. Sejujurnya Migu ingin menyarankan mereka berdua untuk tidak usah berteman saja, soalnya sekarang mereka bahkan tengah jambak-jambakan tanpa ragu di hadapan Migu.
"Sebenernya sih... gitu. Bisa dibilang udah," jawab Wanda, mengacungkan jempolnya dan berkedip sebelah mata, meski tingkah lakunya mencerminkan hal sebaliknya —dia menempeleng kepala Ayaka untuk sebagai serangan akhir hingga gadis itu menggeram kesal.
"Ngomong-ngomong Migu —aduh udahan ih Wanda, aku udah capek, b**o— kita kan sama-sama anak Bahasa, ayo nongkrong bental yuk di mana. Aku nggak tahan berduaan sama cewek gila ini," kata Ayaka sambil merapikan rambutnya. Wanda juga tengah mengikat ulang rambutnya.
Migu tadinya sangat, sangat, sangat ingin mendapat teman. Namun, dia tidak menampik bahwa dirinya agak takut pada dua perempuan ini. Sama sekali tidak ada kecocokan di antara mereka bertiga. Namun, yang paling penting, Migu agak penasaran dengan sesuatu. "Darimana kamu tau kalau aku jurusan Bahasa juga?"
"Loh? Masa kamu nggak tau tentang jurusan kita?" Mulut Wanda melingkar lebar dan dia menepuk keningnya.
*
To be continued.
12 Agustus 2020