Migu merasa lega bisa mendapat seseorang untuk menemaninya masuk ke wilayah sekolah untuk pertama kalinya. Anak laki-laki memang curang soal pertumbuhan tinggi badan. Tinggi Migu sekarang hanya sebatas pundak Nevan saja, padahal dulu mereka sepantaran.
Nevan merangkul Migu dengan santai, padahal Migu merasa dadanya hampir meledak karena perasaan bercampur aduk —malu, sedih, dan hasrat ingin ke toilet karena gugup. Ketika ia mengintip pada Nevan yang sedang mengecek tata cara check in asrama di ponselnya, Migu malu sekali meski hanya mengakuinya di dalam hati, tapi ia berpikir Nevan benar-benar tampan. Ia sudah bisa membayangkan anak-anak perempuan yang melengking seperti kesurupan anak kucing ketika menyadari bahwa mereka sekelas Nevan nanti.
Tadinya Migu malu sekali karena kedapatan menangis oleh Nevan, tapi sekarang tidak lagi setelah menyadari bahwa dia bukan satu-satunya yang sesegukan sambil pura-pura kelilipan. Di antara keramaian anak-anak yang berjalan searah, nyaris semuanya terpaksa terus melangkah dengan hidung berlendir dan mata membengkak yang tidak dapat disembunyikan. Yang paling parah adalah anak cewek yang masih gelondotan di pinggang ibunya bahkan sampai dihardik oleh petugas daritadi.
"Ibu, tolong patuhi peraturannya, ya. Seharusnya dari sejak ketemu papan yang itu —yang tinggi dekat pantai tadi— sudah nggak boleh ada orangtua. Kalau nggak, saya yang juga kena marah sama atasan nanti."
"Tamara..., mama cuma boleh sampai sini saja. Kamu masuk sendiri ya?" Migu bisa mendengar suara keributan itu samar-samar. Ibu-ibu yang menyapa Migu dan Viola dengan ramah di kapal tadi tampak kerepotan sekali. Bibir Tamara mengerucut maju beberapa senti, menolak dengan suara mirip-mirip balita yang sedang dipaksa makan beberapa potong brokoli.
Namun yang membuat Migu terheran-heran adalah, Nevan sama sekali tidak meneteskan air mata. Sudah begitu, dia sama sekali tidak ditemani siapa pun. "Nevan, kamu nggak sedih ya, harus pisah sama orangtua kamu?" Tahu-tahu pertanyaan itu lepas dari mulut Migu.
"Nggak terasa tuh, soalnya aku sengaja datang sendirian, jadi nggak ada suasana haru perpisahannya, haha," jawab Nevan.
"Oalah gitu ya." Migu sesaat bingung harus menjawab apa. Apakah artinya hubungannya dengan orangtuanya sedang tidak baik? Mungkin sebaiknya tidak usah membahas itu, pikir Migu. "Kamu... ambil jurusan apa?"
"Em...." Dia tampak bingung sejenak akan menjawab apa. "Sesuai tebakan kamu sih pasti, aku ambil IPA. Sebenarnya ragu, pengennya kayak sekolah-sekolah lain yang masih pakai kurikulum lama —pilih jurusannya di kelas sebelas—, tapi di sini harus langsung pilih sejak masuk. Migu masuk jurusan apa?"
"Aku jurusan Bahasa," jawab Migu, lalu Nevan terlihat kaget sekali. "Migu? Jadi kamu...?" Matanya melebar dan dia berhenti berjalan tiba-tiba.
"Iya, aku masuk jurusan Bahasa, memangnya kenapa?" tanya Migu, tidak menyangka reaksi Nevan berlebihan begitu. SMA dengan jurusan Bahasa memang nyaris sudah tidak tersedia di Indonesia, dan daridulu memang sering diremehin orang —begitu kata Viola. Namun, —bahkan Viola yang cerdas juga mengatakan ini— ini SMA Ozolero, bisa masuk saja ajaib, siapa yang peduli lagi soal jurusan?
Nevan memandang ragu pada Migu untuk sesaat, lalu akhirnya dia tersenyum tipis. "Ya udah, nggak apa-apa kok. Semangat ya sekolahnya nanti."
Setelah berjalan lima puluh meter dari tepi pantai, mereka tiba di gerbang pagar raksasa yang pintunya terbuka lebar-lebar. Di dalam gerbang itu, ada sekitar tiga gedung besar dan beberapa gedung kecil lain —yang sepertinya daerah ekstrakulikuler. Tiga gedung besar itu terdiri dari dua gedung asrama, masing-masing untuk perempuan dan laki-laki, dan satu gedung utama sekolah.
Masing-masing gedung asrama yang fantastis itu kurang lebih terdiri dari tiga puluh lantai, untuk memuat semua siswa dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas. Gedung sekolah hanya terdiri dari empat tingkat, tapi luasnya sebelas dua-belas dengan GOR, dan "dua belas"-nya adalah gedung sekolah itu.
Selain gedung-gedung, ada beberapa hiasan mewah seperti air mancur, beberapa menara yang entah apa fungsinya, patung-patung, sebuah gedung gereja, taman-taman outdoor, lampu-lampu taman berderet rapi di antara rerumputan, dan beberapa drone yang berterbangan daritadi untuk mendokumentasikan kedatangan siswa baru semester ini.
Melihat pemandangan bak kota utopia itu, rasanya mereka bahkan tidak akan terkejut kalau seseorang yang agak gila di Ozolero menyewa malaikat berterbangan untuk memainkan lagu syahdu sebagai sambutan selamat datang bagi anak-anak baru. "Gila, mimpi apa aku sekolah di tempat kayak gini." Migu mendengar Nevan berdecak kagum sendiri.
"Tahu nggak? Ketemu kuntilanak sama pocong itu lebih realistis daripada ini," gumam Migu. Tawa Nevan pecah di sampingnya. "Boleh juga banyolannya, Migu. Kayaknya kita udah harus pisah, nih?" kata Nevan ketika mereka sampai di percabangan jalan yang memisahkan jalan menuju asrama putri dan putra.
"Dadah, Migu. Kapan-kapan main bareng ya? Di belakang sana katanya ada mall!" seru Nevan dari kejauhan. Mereka pergi dengan saling melambaikan tangan, dan Migu sebenarnya terkejut mendengar soal "mall". Kejutan apalagi yang ada di sini?
Migu mengecek sekali lagi dokumen siswa baru di website Ozolero. Dia akan menempati lantai 24 di kamar A-24-095 gedung ini. Masing-masing siswa akan menempati kamar pribadi di asrama. Migu mengantre untuk mendapatkan kunci di resepsionis yang melayani dengan ramah di depan pintu kaca otomatis lantai satu. Di antara keramaian, sudah ada beberapa anak yang berkelompok dan mengobrol dengan ceria. Migu berdiri di tempatnya dengan murung, memikirkan kenapa dia tidak bisa menjadi seperti mereka.
Setelah mendapatkan kunci, Migu buru-buru masuk ke lift. Dia butuh mengisi energinya dengan cara rebahan seperti ulat bulu, bergeliat di atas kasur sepanjang hari dan akan keluar kalau merasa lapar saja. Dia keluar di lantai 24 dan mengikuti petunjuk jalan yang tergantung di langit-langit. Di depan kamar A-24-095, tiga tumpuk koper miliknya berjejer rapi. Dia melewati koridor yang ramai dengan anak-anak yang juga sedang memasukkan barang ke dalam kamar.
Kamarnya kurang lebih tidak terlalu luas, tapi lebih dari cukup untuk ukuran satu orang. Ada kamar mandi kecil, pendingin ruangan, tempat tidur single, meja belajar, karpet bulu, meja rias, lemari besar, rak buku tinggi, dan jendela besar yang ditutupi tirai perak yang tebal. Migu mengusap permukaan meja dengan ujung telunjuknya dan tidak ada setitik debu pun yang menempel di sana. Artinya dia tidak perlu bersih-bersih lagi dan tinggal bersantai setelah menata barangnya sendiri.
Migu melepas jaket dan ranselnya, menyalakan pendingin ruangan, lalu bersiap-siap untuk menarik masuk satu per satu kopernya. Baru saja dia melangkah ke luar pintu kamar yang terbuka, seorang perempuan berkulit coklat dan berambut pendek kusut lewat di depannya sambil berteriak-teriak, meracau tidak jelas.
Migu langsung panik ketika perempuan itu berhenti dan menoleh padanya. Alis perempuan itu melekuk menyeramkan dan tatapannya galak. Gadis itu memakai celana olahraga dan tank top, menampakkan tato wajah menyeramkan di lengannya. Kalau saja dia tengah mengulum rokok, Migu seperti melihat anak perempuan baddass yang dia pikir cuma ada di film-film.
"Hei," katanya, cukup untuk langsung membuat Migu merinding. "Kamu lihat anak cewek putih dan sipit mirip hantu yang lewat sambil ketawa-ketawa ke sini nggak?" tanyanya dengan raut marah. Migu cepat-cepat menggeleng. Tiba-tiba sebuah kaleng minuman kosong jatuh dari atas dan menubruk kepala perempuan itu sebelum berkelontangan di lantai. Wajahnya langsung memerah sembari mendongak cepat ke atas.
"b*****t cewek s****n, muncul sini! WOI!" Dia mulai berteriak-teriak tidak karuan lagi. Migu tidak tahu mana yang lebih menakutkan, kaleng yang jatuh sendiri padahal tidak ada seorang pun di langit-langit, atau cewek yang mengamuk dengan aura gorila ini.
"Punten pisan ini teh, teu kenging baribin atuh, ini asrama, urang lagi belajar juga euy.(*)" Seorang perempuan berkacamata, dengan gaun tidur dan rambut dikepang, keluar dari kamar sebelah sambil berkacak pinggang.
----- (*) : "Maaf banget, tolong jangan berisik. Ini asrama. Aku juga lagi belajar ini."
"Ngomong apa sih lo? Nggak ngerti juga gue —mana sih itu si cewek b*****t," gumam perempuan itu lagi, tidak peduli.
"Aduh, haroream ah, anak-anak dialek Jakarta lagi. Biasana suka pada bandel.(*)" Perempuan itu masuk kembali, lalu menutup pintu. Dari dalam sana, terdengar peringatan terakhir darinya, "Kalau masih ribut juga, nanti aku laporin ke petugas asrama ya. Kalian mah anak baru ya, belum tau hukumannya kayak apa."
-----(*) : "Aduh, males ah, anak-anak dialek Jakarta lagi. Biasanya suka pada bandel."
"Apa sih, nggak ada hubungannya sama dialek kali. Dasar senior cerewet."
Perempuan mirip preman itu kelihatannya tambah gusar. Migu menatap gugup ke arah lantai, tidak tahu harus berbuat apa. Apa sebaiknya aku abaikan saja, lalu beresin koperku ya? Aku juga nggak pengen terlibat sama anak-anak kayak gini, batin Migu. Dia baru saja hendak berbuat demikian, tapi tiba-tiba bayangan dirinya di lantai bergerak ke arah yang tak sesuai dengan gerakan tubuhnya.
"Eh?" Migu terlompat kaget. Dia berharap itu hanya halusinasinya, tapi kejadian berikutnya terjadi begitu cepat hingga dia tidak mampu memikirkan apa pun.
Bayangan milik Migu bergumpal-gumpal secara aneh sesaat, kemudian sosok berempuan berkulit putih dan mata sipit muncul perlahan seperti terbuat dari tinta hitam yang disihir membentuk manusia penuh warna. Setelah itu, dia memisahkan diri dari bayangan Migu, dan bayangan tubuh Migu kembali normal lagi.
"Bwek, Wanda b**o. Aku di sini!" seru perempuan yang baru muncul itu dengan sedikit cadel. Lidahnya melet-melet keluar dan pantatnya digoyang-goyangkan pada Wanda yang seperti dinamit siap meledak. Detik berikutnya, mereka kembali kejar-kejaran dengan ribut di koridor yang luas, membiarkan semua orang menatap kesal pada mereka berdua.
Migu sudah hampir kehabisan ludah untuk ditelan. Hari pertama pun sudah begini. Ada berapa ribu macam kejutan lagi yang akan dia temui di sekolah ini?
*
8 Agustus 2020
TBC.