Di dalam kapal yang tengah bergerak, Migu melihat ke anak-anak lain yang duduk di sekitarnya. Hampir semua dari mereka ditemani orangtua. Sebenarnya daritadi dia sedang menimbang-nimbang kapan waktu yang tepat untuk mulai mencari teman—mengajak salaman dan saling kenalan.
Migu hidup sebagai anak yang tidak suka memulai obrolan duluan selama ini karena dia selalu punya Wulan dan Sarah di sekitarnya. Sekarang keadaan sudah berbeda. Dia takut jika telat sedikit saja, tahu-tahu semua anak cewek sudah punya geng masing-masing.
"Tegang banget sih neng?" Viola menyikut pelan lengan Migu. "Gue kurang lebih ngerti apa yang lo rasain saat ini. Nggak usah memaksakan diri untuk langsung ini dan langsung itu. Pelan-pelan aja, enjoy prosesnya secara natural, yang penting sedikit demi sedikit diri lo ada kemajuan. Oke?" katanya pelan.
Migu jadi malu karena ekspresinya terbaca oleh Viola. "Iya, Kak," jawabnya salah tingkah. Begitu kapal ini tiba di Pulau Ozolero, Migu akan turun dan Viola akan pulang lagi dengan kapal ini. Wali hanya boleh mengantar sebatas ikut naik kapal, murid-murid harus masuk sendiri ke wilayah sekolah sehabis itu. Memperhatikan anak-anak di tempat duduk yang berada beberapa baris di depannya, Migu mendadak menangkap sosok yang tidak asing di sana.
"Kak, Kak Vi!" Migu menepuk paha Viola hingga mengejutkannya. "Lihat itu tuh, Nevan kan?" Dia menunjuk-nunjuk pada sesosok laki-laki yang duduk sendirian di samping jendela, tengah tertidur memakai earphone. Nevan adalah tetangga yang tinggal tepat di samping rumah Migu. Mereka sering main bersama waktu kecil, lalu berhenti ketika masuk ke SMP yang berbeda. Lagi-lagi alasannya karena Nevan berhasil masuk SMP favorit, sedangkan Migu tidak bisa karena kendala nilai rapot. Sejak saat itu mereka hanya ketemu sesekali saat sedang saling bertamu.
Viola memicingkan matanya dan tampak sama terkejutnya dengan Migu. "Wah iya itu Nevan. Dia pintar sih, gue nggak kaget sebenarnya kalo dia masuk sini juga," kata Viola. "Asyik dong lo satu sekolah sama dia. Mana udah makin cakep gitu lagi. Dia mau ambil jurusan apa ya? Kalo gue jadi lo udah gue gebet sih, Mi." Viola tertawa-tawa iseng di tempat duduknya.
"Apaan sih, Kak. Aku nggak ada rencana buat cari pacar lho, cari teman aja susah!" selak Migu dengan wajah memerah. "Kayaknya dia mau ambil jurusan IPA ya? Kan orangtuanya dokter dan punya rumah sakit," gumamnya lagi.
"Ngomong-ngomong, kita udah mau sampai nih. Gue boleh ikut turun nggak ya?" tanya Viola. Perjalanan menyeberangi pulau ini memakan waktu 30 menit. Migu mengangkat bahu karena tidak tahu juga.
"Boleh kok kalau turun, tapi cuma sampai ke tepi pantainya aja nanti. Habis itu balik lagi ke sini." Seorang ibu-ibu muda yang duduk di samping Viola menjawab dengan ramah. Dia mengenakan setelan blus biru dipadu dengan rok selutut. Rambutnya diikat rapi dan parfumnya wangi sekali. Di sebelah ibu itu, ada anak perempuan yang hidungnya merah dan matanya berair.
"Oh gitu ya. Ibu ngantarin anak juga ya?" tanya Viola dengan senyum. Ibu itu mengangguk dan menunjukkan anak perempuannya pada Viola. Dia terlihat seperti bayi perempuan besar yang sehabis menangis karena wajahnya lucu. Ditambah lagi dia memakai rok berenda-renda dan pita besar di rambutnya.
"Iya, ini anak saya, murid baru juga. Namanya Tamara." Tamara menatap cemberut pada Viola dan Migu, bertolak belakang dengan ibunya yang terlihat hangat.
"Kalau saya sih ngantar saudara, bukan anak, hehe," kata Viola, lalu mencolek pinggang Migu. "Migu, kenalan tuh sama Tamara," bisiknya. Migu memaksanya simpul senyum tipis. Dia ragu-ragu mau mengangkat tangannya untuk mengajak bersalaman. "Ha-halo. Aku Migu. Salam kenal, Tamara." Akhirnya Migu menyapa singkat dengan gugup.
Tamara diam saja selama beberapa detik. Setelah itu, dia membuang muka sehingga Migu terbatuk-batuk malu di tempatnya. Bagus sekali. Perkenalan diri pertamaku, dan balasannya seperti ini, gumam Migu dalam hati.
"Maaf ya, dia memang agak kurang ramah kalau belum kenal. Sebenarnya anaknya baik kok," kata ibunya dengan kewalahan.
Migu tersenyum canggung. "Iya, nggak apa-apa kok, Bu."
Tak lama setelah kejadian tak menyenangkan itu, kapal akhirnya berlabuh di tepi pantai. Migu turun bersama Viola membawa ransel kecilnya, sementara itu koper-kopernya akan diangkut oleh petugas ke gedung asrama mereka masing-masing. Setelah melihat sebuah papan besar bertuliskan "Batas orangtua/wali", Viola berhenti berjalan, diikuti oleh Migu.
"Nah, gue cuma boleh sampai sini," kata Viola dengan berat hati. "Lo baik-baik ya di sana, makan yang teratur, istirahat yang cukup. Belajar juga yang rajin. Lalu—apa lagi ya—oh, cari temen-temen yang kasih dampak positif buat lo. Pokoknya nikmati masa SMA lo, eksplor diri lo. Meskipun lo pasti dituntut buat belajar yang rajin di sini, ingat kalau sekolah itu bukan cuma buat belajar aja. Kalau ada apa-apa langsung telepon gue aja, oke?"
Viola yang sedari kemarin seperti tenang-tenang saja dan bodoh amat dengan keberangkatan Migu, tiba-tiba cerewet mengeluarkan sederetan nasihat seperti seorang ibu. Migu merasa mata dan hidungnya jadi panas lagi. "Iya Kak. Tenang aja," jawab Migu pelan. Duh, gawat. Aku mau nangis, pikirnya.
Viola menepuk-nepuk puncak kepala Migu dengan senyum hangat. "Oke, jaga diri ya, Migu. Gue dan keluarga nggak nuntut lo buat bisa ini dan itu, yang penting lo bahagia dan jadi orang berguna aja," katanya lagi. Kali ini dia berjalan mundur sambil melambai. Migu balas melambai terus, hingga Viola berjalan semakin jauh dan hilang di antara keramaian.
Ketika sosok Viola lenyap dari pandangannya, Migu berbalik dan menggigit bibirnya. Aku nggak tahan lagi, batinnya. Setelah itu, air matanya bercucuran turun. Dia buru-buru menyekanya dengan tangan, dan mempercepat jalannya. Parah, harusnya aku tahan dulu sampai masuk kamar di asrama nanti, kan. Dia mengomeli dirinya sendiri.
Di tengah jalan, tiba-tiba seseorang datang dan melingkarkan tangan ke punggung Migu. "Duh, baru nyampai juga, haha." Nevan tertawa kecil sambil menepuk pelan punggung Migu, mencoba membuatnya merasa lebih baik.
Migu kaget bukan main. Dia buru-buru menyembunyikan wajah kacaunya. Malu sekali.
*
1 Agustus 2020
TBC.