Evelin berbicara sembari mondar-mandir di depan kelas. Dia mengajar mata pelajaran Sejarah di kelas Migu. Yang artinya, pelajaran Sejarah akan jadi lebih disukai Migu ketimbang pelajaran lainnya. Wajah tegas Evelin dibingkai rambut yang terurai indah. Seperti yang sudah dijanjikan sejak awal, dalam beberapa pelajaran, mereka juga akan membicarakan kisah-kisah Altera. Layar di depan kelas menunjukkan gambar dua siluet tubuh manusia yang dijejerkan. Salah satu di antaranya memiliki lingkaran bersinar di tengah-tengah dadanya. Ujung titik laser—alat bantu mengajar—yang dibawa Evelin menunjuk tepat ke lingkaran bersinar itu. "Pembeda utama antara manusia biasa dan Altera," kata Evelin sembari menatap sekeliling.
"Lingkaran bercahaya ini adalah representasi dari energy core, inti energi dari seorang Altera. Pada kenyataannya, inti ini tidak bisa dilihat atau ditunjukkan secara kasat mata di dalam tubuh para Altera, namun keberadaannya sudah diakui sejak ratusan tahun yang lalu. Energi spesial yang dimiliki oleh seorang Altera itu diproduksi oleh energy core. Oleh karena itu, energi Altera tidak akan pernah habis, hanya butuh istirahat setelah penggunaan berlebihan," jelas Evelin dengan cermat. Migu sangat tertarik pada informasi-informasi seperti ini. Sekeras apa pun dia mencari di internet, tidak ada orang konyol yang terang-terangan bercerita tentang Altera di sana (kalau pun ada, pasti akan dibereskan oleh Altera ahli yang bertugas untuk hal-hal seperti itu).
Banyak hal yang membuat Migu kagum karena tidak mengetahuinya selama ini. Di pelajaran Kewarganegaraan kemarin, gurunya menjelaskan tentang keterlibatan Altera di struktur pemerintahan. Diam-diam, sejak ratusan tahun yang lalu para Altera ini memiliki struktur organisasi sendiri di samping pemerintahan resmi negara. Mereka berkoordinasi secara rapi dengan beberapa pejabat penting negara yang berhak tahu. Semuanya berjalan dengan begitu mulus! Sudah begitu, dia juga mendapat cerita-cerita besar tentang teknologi dan ilmu pengetahuan milik para Altera yang sebenarnya sudah ratusan tahun lebih maju ketimbang milik manusia zaman ini. Kendati demikian, semua itu disembunyikan karena cukup para Altera ini yang menggunakannya untuk hal-hal penting.
Evelin melanjutkan materinya dengan macam-macam hal yang diam-diam melibatkan Altera di dunia ini, "... para Altera selama ini telah menyelamatkan hewan-nyaris-punah dengan teknologi reproduksi, berkali-kali berhasil menenangkan gunung berapi yang akan meledak, menahan gempa bumi dahsyat yang bisa memakan jutaan korban jiwa, dan memastikan sebanyak mungkin hutan aman dari kebakaran." Dia berhenti ketika tangan seseorang mengacung tinggi dan bertanya, "Maaf kalau melenceng, tapi aku benar-benar penasaran. Apakah anak dari orangtua Altera sudah pasti seorang Altera juga?"
Migu memasang telinganya lebar-lebar. Dia juga beberapa kali bertanya-tanya tentang hal ini. Apakah orangtuanya yang meninggal terlalu cepat itu sebenarnya tidak sempat memberitahunya tentang hal ini? Atau mereka memang tidak tahu apa-apa sejak awal? "Pertanyaan bagus," ucap Evelin. "Ada yang ingin membantu saya menjawab?" tawarnya. Jari Saina mengacung tanpa ragu.
"Jawabannya adalah tidak," kata Saina cepat. "Nice Saina, benar sekali," puji Evelin senang. "Altera bukanlah sebuah warisan yang dibawa turun-temurun antar keturunan. Tidak sama sekali. Ketika bayi hadir di dunia ini, tidak ada yang bisa menebaknya sampai ia dites dengan alat pendeteksi Altera," lanjut Evelin. Migu menatap Evelin penuh ketertarikan. Sembari Evelin melanjutkan pelajarannya, pikiran Migu melayang-layang kembali ke rumahnya. Bagaimana dengan Viola? Apakah dia tahu sesuatu? Tapi rasanya tidak.
"Kalian ingat kan, School of Altera di SMA Ozolero jurusan Bahasa ini berfokus pada pendidikan Fraksi Perhubungan? Itu bukan hanya sekadar label atau omong besar. Fraksi Perhubungan bergerak sebagai koneksi antar organisasi-organisasi Altera di seluruh dunia agar dapat berkoordinasi dengan rapi. Kalian benar-benar akan dikenalkan pada tugas Fraksi Perhubungan sejak awal," kata Evelin, wajahnya tegasnya jadi semakin serius. Dia menegur beberapa anak yang mengobrol, pertanda informasi kali ini agak penting. "Setiap sebulan sekali, kalian akan dijadwalkan pergi ke negara lain dengan Travelling Door untuk menjalankan misi. Kalian akan bertugas seperti seorang anak magang. Dan misi ini wajib, atau kalian tidak bisa naik kelas."
"Gila! Seru banget nggak tuh?" Semua orang langsung ribut dalam hitungan detik. "Artinya aku bisa pulang sesekali dong?" canda Ayaka di bangkunya. "Tidak bisa, Ayaka," sanggah Evelin cepat-cepat. "Misinya tidak terlalu sulit, santai saja dan jangan terlalu kepikiran. Saya harap kalian banyak-banyak berlatih keahlian kalian, karena itu akan sangat berguna di kemudian hari," lanjutnya. Migu sama sekali tidak bisa santai. Dia berdebar-debar kencang. Apakah dirinya yang belum punya keahlian seperti Altera lain seusianya berhak untuk merasa seantusias ini untuk misi tersebut?
"Kita ke sana sekarang?" tanya Wanda pada Migu ketika jam sekolah sudah berakhir. Migu mengagguk yakin dan mengambil langkah mendahului Wanda. Ayaka memisahkan diri untuk pulang duluan ke asrama. Wanda dan Migu datang ke ruangan Klub Fisika. Semalam, Migu berlatih hingga tengah malam di lantai teratas gedung asrama mereka yang berupa lapangan indoor luas, khusus tempat latihan anak-anak Bahasa. Migu mati-matian membaca buku yang dipinjamkan Yuni, tapi dia tetap tidak mengerti apa pun. Pada akhirnya, Wanda yang menyimpulkan isi buku itu untuk Migu.
"Kamu tahu vektor, kan? Segala sesuatu yang memiliki arah itu bisa dikatakan sebagai vektor. Pengguna manipulasi vektor bisa mengubah arah bergeraknya sesuatu. Selain itu, bisa juga memanipulasi tingkat kuat-lemahnya dan kecepatan bergeraknya," jelas Wanda sembari mencoret-coret sesuatu di papan tulis depan ruangan Klub Fisika. Lama-kelamaan, rasanya malah Wanda yang akan bisa melakukan manipulasi vektor duluan. Migu mendengarkan dengan kagum sekaligus iri.
"Contohnya ketika aku menyerangmu dengan listrik-listrik seperti ini," kata Wanda, lalu tiba-tiba menyambar listrik biru ke arah Migu. Migu menjerit dan mundur tunggang-langgang, disusul tawa keras dari Wanda. Dia tidak akan tahan jika belum berbuat iseng barang sehari saja. "Kalau aku mati bagaimana?" tanya Migu cemberut. "Tidak akan, kalau kamu udah bisa manipulasi vektor. Dengan keahlian itu, kamu bisa membelokkan arahnya sesuai keinginanmu. Paling idealnya langsung diarahkan balik ke penyerangmu saja. Gila, keren banget sih!" seru Wanda, malah dia yang begitu bersemangat.
"Segala interaksi yang ada di dunia ini pada dasarnya kebanyakan termasuk vektor. Kalau udah menguasai keahlian ini, kamu bakal sangat susah untuk diserang. Bayangin, kalau ada yang mau nonjok dari belakang, bisa langsung kamu tolak tonjokannya. Kekuatan tonjokan yang dia berikan malah bakal balik kena ke si penyerang itu sendiri. Makanya, keahlian ini termasuk tingkat tinggi," jelas Wanda. "Semangat, Migu," teriak Zaka dari salah satu kursi. Dia sedang menyeimbangkan botol air minum di udara, melatih Gravity Manipulation-nya. "Kami mendukungmu! Kasih lihat si nenek lampir itu minggu depan," sambung Chris juga. Ruangan ini memang bebas dimasuki semua anggota Klub Fisika kapan saja. Lapangan mini di depan ruangan juga sering dijadikan arena latihan. "Trims!" balas Migu dari kejauhan. Dia tersenyum lebar.
Wanda dan Migu berhadap-hadapan di lapangan mini itu. Beberapa pasang mata menonton mereka dan melontarkan kata-kata dukungan. Wanda berkali-kali melontarkan serangan listrik pada Migu. Alih-alih berusaha mengalihkan arah listrik itu, Migu menjerit-jerit ketakutan hingga tenggorokannya sakit. Dia tidak bisa fokus dan malah sibuk berlarian menghindari listrik. Dua jam pertama mereka lalui seperti itu. Wanda sudah mulai kelelahan sehingga aliran listriknya melemah. Migu menatapnya penuh rasa bersalah. "Dengar. Aku nggak bakal benar-benar serang kamu, listriknya nggak akan menyentuh kamu sedikit pun. Jadi, fokus aja untuk mengalihkan arahnya, jangan khawatir macam-macam. Oke?" kata Wanda. Setelah Migu mengangguk, dia mengeluarkan aliran listrik yang nyaris tidak terlihat. Sepertinya dia sudah mencapai batasnya.
"Butuh bantuan?" tanya Zaka. Ia datang menghampiri mereka. Zaka membawa sebongkah kertas diremas dan melemparnya ke arah Migu. Kertas itu datang dengan cepat. Migu berkonsentrasi penuh hingga ia bisa melihat setiap langkah yang ditempuh bola kertas itu dalam perjalanan menabrak keningnya. "Aw!" Migu mengaduh sembari mengelus jidatnya. Dia sama sekali tidak berhasil melakukan apa pun, bahkan terhadap bola kertas tak berdaya itu. "Kurasa, lebih baik mulai dari serangan-serangan ringan seperti ini. Lebih hemat energi juga, kan?" saran Chris. Setelah mereka sama-sama setuju, Wanda, Chris, dan Zaka benar-benar melempari Migu dengan bermacam-macam barang, seperti tong sampah. Migu tidak berhasil melakukan apa pun. Dia pulang dengan berat hati sore itu. "Jangan putus asa. Namanya juga belajar. Dulu, kami semua juga sepertimu," ucap Zaka sembari menepuk punggung Migu.
Mendengar dukungan-dukungan seperti itu, Migu kembali lagi ke ruangan Klub Fisika keesokan harinya. Dengan ditemani Wanda, Chris, dan Zaka berganti-gantian, dia agaknya sudah dilempari ratusan macam barang dengan harapan salah satunya bisa dihempas balik oleh Migu. Sayangnya tidak. Hari itu pun Migu belum bisa melakukan apa pun. Meski hatinya kecewa, dia tetap kembali lagi besoknya, besoknya, dan besoknya.
"Sudah siap?" tanya Zaka. Migu mengangguk yakin. Karena latihan dengan cara-cara ringan tidak membawa hasil, Wanda memulai asumsi bahwa alam bawah sadar Migu jadi tidak menganggap serius sehingga latihannya tidak akan efektif. Oleh karena itu, hari ini Zaka akan benar-benar menggunakan Gravity Manipulation untuk melatih Migu. "Konsentrasi saja, jangan takut. Aku nggak benar-benar akan melukaimu, kok." Zaka melayangkan sebuah botol berisi penuh air dengan cepat ke arah Migu. Bongkahan batu besar, dua buah kursi, dan tiga bola basket mengantri di sebelah Zaka. Ketika Migu tidak berhasil melakukan apa pun, Zaka membuat botol itu berhenti tepat di depan hidung Migu. Kemudian Zaka bersiap-siap dengan sebongkah batu. Langkah seperti itu dia ulang terus-menerus.
Pintu membuka di tengah-tengah latihan mereka, dan seorang perempuan berwajah angkuh muncul. Hari ini tidak ada pertemuan Klub Fisika, untuk apa Elena datang ke sini? Semua orang yang sedang mengobrol di sana jadi diam tiba-tiba. Elena hanya datang untuk mengambil beberapa buah buku dari rak, sehingga yang lain mulai melanjutkan aktivitas mereka kembali. Migu juga melanjutkan latihannya.
"Latihan macam apa ini? Bikin geli saja," kata Elena tiba-tiba. Dia tertawa menyindir. "Bukan begini caranya melatih seseorang. Biar kutunjukkan yang benar," gumamnya dengan raut wajah yang menyebalkan. Di luar dugaan, dia suka mencampuri urusan orang lain juga. Zaka dan Chris mundur dengan pasrah. Wanda tetap berdiri di tempatnya, menatap Elena dengan tatapan menantang. Elena mengangkat sebelah tangannya. Migu langsung panik dan waswas. Di atas telapak tangan Elena, terkumpul sebuah bola energi berwarna kuning yang semakin lama semakin besar. Setelah itu, dia melemparkan bola energi itu pada Migu. Dia mau membunuhku ya? pikir Migu, marah sekali. Dalam kondisi seperti ini, tidak mungkin dia bisa melakukan apa pun, dan Elena jelas-jelas hanya ingin mempermalukannya saja. Dia bahkan tidak ragu-ragu menyerang Migu tanpa menahan diri. Migu menghindar sehingga bola energi itu mendentum keras dinding di belakangnya, mengeluarkan suara yang keras sekali. "Saya rasa anda berlebihan!" teriak Wanda, terkejut sekali. "Oh ya? Kurasa sudah saatnya anak-anak sok tahu seperti kalian lebih banyak diam dan belajar. Terutama si Vector Manipulator palsu ini," kata Elena dengan sinis. Suasana di ruangan itu tegang sekali.
Elena melempar beberapa bola energi lagi. Lama-kelamaan, kecepatannya semakin meningkat. Migu hanya berlari ke sana kemari, merasa dirinya sedang ditindas. Dia ingin berteriak dan marah, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain mendendam pada senyum penuh kepuasan di wajah Elena ketika melihat Migu berlarian seperti objek permainan. Pada akhirnya, Migu tersandung ketika tengah menghindar. Salah satu bola energi melaju cepat ke arahnya. "AWAS MIGU!" Orang-orang di sekitarnya berteriak histeris sekali. Semua orang juga tahu bahwa bola energi dari Elena jelas sangat berbahaya hingga bisa menghancurkan tubuh seseorang.
Migu menatap samar bola energi yang melaju kencang di hadapannya. Dasar guru menyebalkan. Aku bergabung ke sini untuk belajar, kenapa malah seperti ini? batin Migu. Akhirnya dia menggeram keras, mengeluarkan amarah yang sudah ditahan-tahannya dari tadi. Ketika bola energi itu sudah mencapai keningnya, bola itu tiba-tiba melesat menjauh dalam kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata. Setengah detik berikutnya, terdengar suara seseorang terpental ke dinding, dan suara krak pertanda dinding yang retak. Ketika Migu membuka mata, Elena menempel ke dinding yang sudah patah sedikit. Wajahnya penuh memar dan rambutnya kusut. Beberapa bagian pakaiannya robek dan dia nyaris tidak mampu berdiri.
Untuk beberapa saat, mereka semua hanya diam. Namun, Wanda menghapus ketegangan dengan tepuk tangan gembira. "Berhasil Migu! Berhasil! Akhirnya kamu bisa!" teriak Wanda, di depan Elena yang memandang marah sekali. Elena dibantu berdiri oleh Zaka dan Chris yang berada paling dekat dengannya (Tentu saja sebenarnya mereka sedang menahan-nahan tawa geli). Anak-anak lain yang berada di ruangan itu memandang kagum pada Migu, tidak terlalu memusingkan Elena.
"Migu Evangeline, pemotongan 25 poin karena menyerang guru," kata Elena dengan wajah merah yang gusar. "Pemotongan 50 poin lagi karena merusak infrastruktur sekolah." Setelah berbicara seperti itu, dia pergi dengan kepala nyaris meledak. Migu merogoh ponselnya dan mengecek jumlah poinnya saat ini. Minus 75. Alih-alih mendapat cara baru untuk menabung, dia malah berutang sekarang. Tapi siapa peduli? Dia berhasil mengeluarkan manipulasi vektor pertamanya!
"Nggak mungkin! Ini nggak mungkin! Keahlian itu butuh sepuluh tahun lebih untuk dikuasai! Siapa kamu sebenarnya?" Brian maju dengan wajah tidak terima. Pipinya merah dan bibirnya mengerut menahan amarah. Dia mendekat pada Migu dengan wajah menantang. "Minggir, tukang caper," kata Wanda. Dia menyambar listrik ke celah di antara Migu dan Brian. "Menyerang sesama murid ada hukumannya," tandas Brian dengan tajam. "Jadi lo murid juga? Kirain anak bayi." Wanda menarik Migu pergi dari semua kekacauan itu. Mereka pulang dengan hati gembira setelah banyak hal yang terjadi hari ini.
***
21 September 2020
To be continued.