Migu dan Ayaka mengerjakan PR matematika di ruang duduk asrama sejak pulang sekolah. Wanda bergabung dengan mereka satu jam kemudian sambil terkuap-kuap. Ternyata PR itu agak rumit sehingga kening mereka berkerut sampai dua jam kemudian. Setelah PR memuakkan itu selesai, mereka mengobrol ngalur-ngidul mumpung ruang duduk itu sedang dikuasai mereka bertiga.
Ayaka tengah bercerita tentang ruang Klub Kegelapan yang lampunya sudah rusak selama dua belas tahun dan tidak pernah diganti, ketika terdengar kumpulan teriakan tidak wajar dari arah luar gedung. Mereka menjejalkan kepala ke jendela dan mengintip lapangan bola basket di kejauhan. Nevan kebetulan sedang melesat membawa bola dan anak-anak cewek di bangku penonton nyaris kehilangan kewarasan mereka ketika Nevan berhasil mencetak satu angka.
"Wah, Nevan," goda Ayaka sembari menyikut pinggang Migu. "Apa sih, Ayaka?" protes Migu, tapi wajah memerahnya tidak bisa disembunyikan. "Kayaknya kita harus ke sana," ajak Ayaka.
"Boleh, tapi aku digendong ya?" sela Wanda, sembari memutar bola matanya. "Ogah!" tolak Ayaka. "Udah tau jauh banget, malah ngajak-ngajak ke sana cuma buat lihatin tuh cowok," balas Wanda. Memikirkan harus turun dengan lift lalu jalan kaki beberapa belas meter ke lapangan itu saja dia sudah mengantuk lagi. "Sini ikut aku." Ayaka tiba-tiba menarik mereka ke lift, dan memencet tombol lantai 30.
"Apa-apaan? Mau ngapain?" tanya Migu kebingungan.
Ayaka membawa mereka ke salah satu sudut ruangan yang tertutup tirai. Dia menyibak tirai itu terbuka dan di baliknya ada sebuah pintu besar. Terakhir kali Migu melihat Travelling Door adalah yang ada di ruang Klub Fisika. "Emang kamu tau cara mengoperasikannya? Aku enggak mau mati bareng kalian, thanks," kata Wanda cepat-cepat.
"Aku pernah coba satu kali, sih," jawab Ayaka dengan santai, lalu sibuk mengotak-atik tombol di samping gagang pintu. "Kita bakal pergi ke ruangan Klub Kegelapan--soalnya lebih aman karena aku kenal tempatnya. Dari sana lumayan dekat ke lapangan," lanjutnya. Ayaka menarik daun pintu itu membuka dan di dalam sana hanya penuh dengan cahaya spiral berwarna norak.
"Ayaka tung--" Migu menelan ludah dengan gugup dan Ayaka sudah duluan terjun ke dalam sana. Wanda maju pelan-pelan dan berkata, "Ya sudah, hitung-hitung latihan sebelum misi yang sebenarnya." Dia masuk dan meninggalkan Migu membengong kebingungan. Apa sebaiknya aku masuk? Aku takut, batin Migu. Migu menghabiskan semenit untuk meragu. Setelah itu, akhirnya dia maju dan membulatkan tekad. Ah sudahlah, sekali-sekali coba hal yang seru, pikirnya, lalu ikut cemplung ke dalam cahaya spiral itu, tidak lupa menutup gagang pintu di belakangnya.
Migu mengira tubuhnya akan terjun bebas ke tengah cahaya spiral itu, tapi ternyata kakinya masih berpijak pada lantai. Setelah berjalan sekitar lima langkah, dia menemukan gagang pintu lainnya di tengah pusaran cahaya. Migu menarik pintu itu membuka dan dia sampai di sebuah ruangan megah dengan satu meja kerja besar. Di depan meja kerja, ada meja tamu dan tiga sofa gemuk yang berlantai karpet bulu. Migu menutup daun pintu Travelling Door di belakangnya dengan takut-takut. Seingatnya, lampu ruangan Klub Kegelapan sudah rusak selama dua belas tahun, lalu kenapa ruangan ini terang benderang? Dia memeriksa Wanda dan Ayaka. Yang ditemukan Migu hanyalah wajah-wajah pucat pasi.
"Gawat... ini di mana?" tanya Ayaka. Wanda menatap galak sekali padanya. "Ruang Klub Kegelapan?" sindirnya. "Nggak lucu!" balas Ayaka. Beberapa saat kemudian, terdengar langkah-langkah kaki mendekat dan suara-suara percakapan kecil. Ketika gagang pintu mulai berputar, Wanda menjulurkan jemarinya ke langit-langit ruangan dan menyambarkan listrik ke lampu-lampu. Dalam sekejap, ruangan menjadi gelap, hanya ada sedikit cahaya matahari sore yang tembus dari tirai tebal. Wanda, Migu, dan Ayaka menempel ke balik salah satu sofa. Daun pintu mengayun terbuka dan terdengar suara saklar lampu ditekan berkali-kali.
"Aduh, lampunya rusak lagi. Bukannya baru diganti minggu kemarin ya?" gumam suara berat yang familier. Suara ini terakhir kali Migu dengar di upacara penerimaan siswa baru. Tidak salah lagi, tempat ini adalah ruang kepala sekolah. Laki-laki yang baru masuk itu adalah Antani Aditya, si kepala sekolah SMA Ozolero yang mirip sinterklas. Dia tidak datang sendirian. Ada seorang wanita masuk dengannya, bisa disimpulkan dari suara heels yang mengetuk-ngetuk lantai.
"Sebentar, Bu Klarin. Saya panggil petugas dulu." Antani mengangkat gagang telepon dan bicara tentang lampu rusak, lalu mengembalikan gagang telepon itu lagi. "Tadi kita bicara sampai mana?" tanya Antani. Wanda, Migu, dan Ayaka mencari-cari kesempatan setelah memastikan pintu ruangan dibiarkan terbuka. Ayaka bisa saja kabur duluan dengan mudah, tapi dia akan memastikan keselamatan Wanda dan Migu terlebih dahulu karena merasa bersalah. Mereka mengendap-endap pelan sekali untuk berpindah ke belakang sofa yang paling dekat dengan pintu. Setelah itu, mereka tinggal merangkak pelan menuju luar ruangan.
"Tentang Migu Evangeline. Sejauh ini, untunglah tidak ada hal-hal melenceng yang terjadi padanya," kata seseorang yang dipanggil Klarin. Migu berhenti bergerak, begitu pula Wanda dan Ayaka. "Mereka membicarakanku?" bisik Migu tanpa suara, memastikan bahwa Wanda dan Ayaka juga mendengar hal yang sama. "Kuharap sampai seterusnya akan begini, tapi kita tidak boleh lengah. Dia punya potensi berbahaya yang sangat besar. Pokoknya jangan lepaskan pengawasan," gumam Antani.
"Ada satu hal yang menarik," lanjut Klarin. "Menurut data dari Klub Fisika, dia memegang keahlian Manipulasi Vektor. Cukup tidak masuk akal ya, untuk anak seumurannya. Jangan-jangan ada hubungannya dengan itu?" tanyanya. "Hmm, bisa saja dia memang berbakat. Tapi tidak menutup kemungkinan bakat itu juga berasal dari energi berbahaya di dalam dirinya. Sebenarnya yang kutakutkan adalah suatu hari energi itu membuat dia melukai orang lain." jawab Antani.
Jantung Migu berdegup kencang. Pembicaraan apa ini? Dua orang guru menggosip tentang dirinya? Dia ingin di sana lebih lama lagi, tapi Wanda dan Ayaka menarik-nariknya keluar. Kata-kata terakhir yang dia dengar di sana adalah Antani yang berkata, "Bagaimana lagi, sejak awal dia penuh dengan energi jahat."
"Mereka bicarain apa, sih?" tanya Ayaka terheran-heran. Mereka akhirnya benar-benar pergi menuju lapangan basket yang letaknya terpisah dari gedung utama sekolah. "Potensi berbahaya? Apanya yang bahaya?" tanya Wanda, sembari mengamati Migu dari ujung kaki hingga kepala. "Mana kutahu!" ucap Migu kesal. Dia lebih khawatir dari siapa pun saat ini. "Baiklah, kita simpan topik ini untuk nanti-nanti. Kamu tenangkan pikiran dulu, oke?" kata Ayaka, sembari menepuk-nepuk punggung Migu.
Mereka tiba di lapangan basket yang nyaris kosong. Pertandingan tadi sudah berakhir. Meski begitu, mereka memutuskan tetap duduk di deretan bangku penonton karena sudah datang jauh-jauh. Pikiran Migu masih berkecamuk. Dia diam menatap pada lapangan kosong sehingga Ayaka dan Wanda juga tidak berani mengobrol. "Hei," panggil Migu. "Apa aku pernah bertingkah aneh?" tanyanya, membuat Wanda dan Ayaka mengerjap bingung. "Maksudku, siapa tahu tanpa sadar, aku berbuat macam-macam?"
"Nggak pernah kok."
"Lalu, apa kalian juga beranggapan aneh tentang... manipulasi vektor yang berhasil aku lakukan?"
Mereka diam sejenak. "Jujur saja, hal itu sangat mengagumkan, memangnya siapa yang peduli soal 'aneh'-nya?" gumam Ayaka. "Selama kamu tidak melakukan hal-hal berbahaya, kurasa nggak apa-apa," tambahnya. "Kalau pun kamu nanti berubah pikiran, dan jadi kepengen melakukan hal-hal berbahaya, kamu bisa bergabung denganku," katanya cengengesan.
"Setuju, tapi aku agak penasaran soal percakapan itu. Jelas sekali mereka menyembunyikan sesuatu tentangmu--sesuatu yang dirimu sendiri saja nggak tahu," timpal Wanda. "Menurutku, kamu harus cari tahu."
"Begitu ya," jawab Migu lesu.
"Eh lihat, itu Nevan!" seru Ayaka. "Nevan! Nevan! Di sini!" teriaknya, sembari melambai-lambai. Nevan di kejauhan tersenyum pada mereka, senyum yang bisa melelehkan hati orang-orang tanpa sisa. Dia berlari mendekat. "Hai, Migu, Ayaka, dan..."
"Wanda."
"Oh jadi kamu yang namanya Wanda?" Nevan sedikit kaget. "Ya, aku yang biasanya dipanggil cewek gorila itu," timpal Wanda cuek. Nevan tertawa. "Senang bisa kenal denganmu," katanya. "Jadi, tadi ada pertandingan?" tanya Ayaka. "Penentuan tim inti," koreksi Nevan. "Dan kamu terpilih?" tanya Migu antusias.
Nevan mengangguk senang. "Iya, aku berhasil," katanya.
"Wah keren banget," seru Ayaka mengacungkan dua jempol ke udara. Nevan menggaruk tengkuknya dengan malu-malu. "Trims, Ayaka."
"Ngomong-ngomong, Migu... ikut aku sebentar, yuk?" kata Nevan. Meski bingung, Migu pergi mengikutinya. Di belakang mereka, Wanda dan Ayaka menahan-nahan diri untuk menjerit dan menggodanya.
Nevan menyuruh Migu menunggu sebentar sementara dia berbicara dengan salah satu anggota basket yang sedang menenggak botol air. "Oi, Irvin, mana voucher tadi? Belum dikasih ke orang, kan?" tanya Nevan padanya. "Belum, tapi aku berubah pikiran. Sekarang harus bayar, dua ratus ribu," balas Irvin.
"Ogah! Dih, serius ini," desak Nevan. "Makanya kalau udah dikasih itu nggak usah sok-sokan nolak," jawab Irvin sembari tertawa. "Nih!" katanya. Dia menyodorkan selembar kertas pada Nevan. "Makasih, bro. Duluan," kata Nevan, lalu kembali pada Migu.
Dia memamerkan selembar voucher itu ke hadapan Migu. "Ayo, ke sini," ajaknya, dengan senyum lebar. Di voucher itu tertulis "PROMO GRILL&EAT, KHUSUS ANAK BARU SMA OZOLERO!"
"Boleh," jawab Migu, mengangguk-angguk senang.
"Tapi harus dua orang cewek, dan dua orang cowok. Ada teman yang mau kamu ajak?" tawar Nevan.
Migu berpikir sejenak, lalu tiba-tiba dia teringat sesuatu. Sebenarnya dia ragu, tapi dia ingin sekali mengajak mereka. "Sepertinya ada."
***
["Hai, Yuni."]
["Lusa besok, jalan-jalan ke mall bareng yuk?"]
Migu mengirim pesan itu. Yuni langsung mengirim balasan saat itu juga.
["Wah, asikk! Ayo!"]
Setelah berpikir-pikir panjang, Migu kembali mengetik pesan balasan.
["Aku berencana ngajak Norwen. Kamu mau kan? Kalian bisa saling kenal dari sana nanti."]
Tring! Yuni mengirim balasan lagi, kali ini agak lama.
["Em..."]
["Aku senang sih, tapi beneran nggak apa-apa? Aku takut bikin canggung."]
Migu bukannya ingin menjadi agen biro jodoh dadakan, tapi dia hanya berusaha untuk menyenangkan Yuni setelah apa yang telah Yuni lakukan padanya. Setiap kali dia bersyukur karena telah berhasil melakukan Manipulasi Vektor, bayang-bayang wajah Yuni muncul di benaknya seperti seorang pahlawan. Bagaimana pun, dia jelas berutang pada Yuni. Migu tidak bisa kalau tidak melakukan sesuatu untuknya.
["Nggak apa-apa. Kita pergi lusa nanti ya."]
Sekarang... saatnya menghubungi Norwen. Migu agak takut-takut dan berhati-hati kali ini. Dia tidak seakrab itu dengan Norwen, bagaimana bisa mengajaknya pergi bersama secara tiba-tiba? Mana mungkin dia mau! Migu tiba-tiba putus asa, tapi dia tetap mencoba mengirim pesan itu dan membuang harga dirinya jauh-jauh.
["Hai."]
["Maaf mengganggu waktumu."]
["Aku mau mengajakmu ke acara makan-makan bersama, berempat, sebagai ganti karena udah meminjamkan jaketmu waktu itu."]
["Kamu bersedia datang?"]
Aku sudah gila ya? Ini terlalu formal, kan? Ah, sudahlah, bodo amat. Migu mengutuk-ngutuk dirinya di dalam hati. Tring! Sepuluh menit kemudian, Norwen mengirim pesan balasan.
["Boleh, kapan?"]
***
28 September 2020
To be continued.