Migu mengikuti Wanda masuk ke ruangan besar di lantai tiga yang pintunya digantungi tulisan "Ruang Klub Fisika, selain jurusan Bahasa dilarang masuk!". Ada beberapa jenis ekstrakulikuler di SMA Ozolero yang hanya boleh diikuti oleh siswa jurusan tertentu, ada juga yang gabungan. Aturan untuk esktrakulikuler jurusan Bahasa lebih ketat. Tentu saja mereka tidak menginginkan seorang anak dari jurusan IPA atau IPS dikira gila karena bersaksi melihat anak-anak di Klub Layangan sedang berterbangan di udara.
Daripada berjalan bersama, lebih tepat dikatakan bahwa Migu menempel di balik punggung Wanda, berusaha sekeras mungkin menjadi transparan. Level rasa percaya diri Migu langsung berada di titik terendah pada detik pertama memasuki ruangan itu. Migu sudah menyusun rencana jika orang-orang ini akan mengadakan sesi pertujukan 'keahlian' di pertemuan pertama ini, maka dia akan pergi ke toilet dan tidak mau kembali lagi.
Cahaya oranye dengan kesan hangat menerangi setiap sudut ruangan Klub Fisika bernuansa cokelat dan kuno ini. Tidak ada pipa kapiler, hydrometer, barometer, dan segudang alat ukur untuk percobaan fisika lainnya di sini. Ruangannya seperti ruang kelas yang berisi meja dan kursi, tapi mejanya berukuran dua kali lipat lebih besar dari meja kelas biasa. Selain itu, di bagian depan kelas ada ruang kosong yang lebih lebar dari area meja dan kursi, seperti lapangan mini.
"Hai," sapa seseorang yang duduk di samping Migu. "Aku, Zaka, salam kenal," kata seorang anak laki-laki dengan kulit cokelat dan rambut keriting. Bulu matanya lentik sekali, anak cewek mana pun akan iri padanya. Dia berduaan dengan anak laki-laki lain bernama Chris. Migu bersalaman dengan Zaka, Chris, dan seorang anak lain di meja depan yang bernama Brian. "Sudah dengar tentang klub ini?" tanya Brian ringan.
"Ada informasi apa aja?" tanya Wanda penasaran. "Kakakku ketua klub ini tahun lalu, sekarang udah lulus. Jadi aku udah tahu lumayan banyak sih," jawab Brian sok penting. "Lalu? Itu saja?" balas Wanda sembari memutar bola matanya. "Kata kakakku—ini cuma sedikit informasi dari banyak yang kudapat darinya—nanti ada banyak divisi, ada divisi kelistrikan, ada divisi energi, dan lain-lain," kata Brian, memberi informasi yang pasti akan mereka dapatkan juga ujung-ujungnya. "Wah, makasih, sangat membantu," sindir Wanda. Seakan merasa pujiannya kurang, Brian membuka mulut lagi. "Guru pembina kita namanya Elena Andrew. Dia sinis, cuma baik ke anak-anak tertentu. Kalian sebaiknya hati-hati, nggak ada yang tahu tipe murid kesukaan dia itu seperti apa," lanjut Brian, dadanya membusung maju dengan bangga seolah dia yang paling memenuhi kriteria murid idaman itu. Sayang, tidak ada yang peduli pada omongannya. Toh mereka bergabung untuk belajar, bukan untuk mencari muka ke Elena.
Brian pergi berbicara dengan orang lain, sementara Wanda sibuk mencemoohnya dengan Migu. "Aku nggak suka dia," ucap Chris dengan kening mengerut. Migu setuju, tapi selama dia tidak mengganggu orang lain, Migu tidak berencana untuk memusuhinya. Di kejauhan, dia bisa melihat Brian sedang menepuk-nepuk dadanya sambil berbicara dengan bangga. Entah cerita heroik apa yang sedang dia bawa di sana.
Sesi pertemuan dimulai ketika pengurus-pengurus inti muncul di depan ruangan. Mereka memperkenalkan diri dan menjelaskan aktivitas-aktivitas yang akan mereka lalui bersama—seputar latihan mingguan dan evaluasi penguasaan keahlian bulanan. Migu gemetaran tanpa alasan yang jelas. Dia sangat takut seseorang akan menunjuknya secara tiba-tiba dan memaksanya untuk menunjukkan kemampuan manipulasi vektor yang belum bisa dia lakukan sama sekali. Ketika para kakak tingkat itu selesai berbicara, seorang perempuan muda menggantikan posisi mereka. Dia mengenakan seragam guru dan tatapan matanya mengingatkan Migu pada kucing yang sinis. Elena mengenalkan dirinya tanpa memoles senyum sedikitpun.
Berkali-kali Elena mengedarkan pandangannya ke satu per satu wajah-wajah baru yang tegang. Ketika tatapannya bertemu dengan Migu, dia berhenti dan membiarkan pandangan mereka terkoneksi untuk beberapa detik. Migu menelan ludah dan pura-pura melihat ke arah lain. Elena berdehem keras setelah menjelaskan beberapa aturan-aturan yang harus dipatuhi Klub Fisika, misalnya denda poin jika terlambat dan hukuman jika menggunakan keahlian untuk berantam dengan sesama murid. "Karena ini masih pertemuan pertama, tidak banyak yang bisa kita lakukan," ucap Elena seraya menatap jam tangannya. Migu langsung girang. Ayo, pulangkan kami, serunya dalam hati. "Karena masih ada waktu empat puluh menit, sebaiknya kita persilakan anggota baru untuk perkenalan diri, sekalian tunjukkan keahlian kalian satu per satu," lanjut Elena.
Dada Migu mencelos. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Wanda, mengerti kekhawatiran Migu. "Aku nggak bisa, aku mau pergi aja," kata Migu dengan suara bergetar. Dia memeluk lututnya dengan panik. Beruntung mereka duduk di bagian belakang sehingga giliran mereka masih lama. Migu masih sempat melihat Brian maju dengan wajah berseri-seri, sudah sangat siap untuk menjadi anak kesayangan Elena. "Namaku Brian Prayoga, dari kelas 10-Bahasa-1, salam kenal semuanya," ucapnya dengan suara lantang. "Oh, jangan pada kaget gitu dong," katanya pada segerombolan anak-anak kelas sebelas di sisi kiri lapangan mini yang sama sekali tidak sedang kaget, "pasti kalian mikir aku mirip seseorang ya? Kakakku ketua klub ini tahun lalu," ucapnya dengan bangga. Anak-anak kelas sebelas itu sedikit pun tidak terkesan, beberapa batuk-batuk sambil menahan tawa. "Adiknya Briana ternyata. Saya jadi penasaran, ayo tunjukkan kemampuanmu," ucap Elena tertarik. Wanda mendengus jijik di bangkunya.
"Aku belajar manipulasi cahaya," kata Brian. Dia mengangkat tangannya ke udara. Di tengah-tengah ruangan, ada sebuah bola cahaya putih yang semakin lama semakin membesar sampai indera penglihatan semua orang dibutakan olehnya. Mereka tidak dapat melihat apa pun untuk sesaat. Namun beberapa detik kemudian, cahaya-cahaya itu pecah berhamburan menjadi butiran-butiran kecil berkelap-kelip, jatuh berlahan sembari berpendar di udara. Indah sekali. Semua orang mengucap kata "wow" penuh kekaguman. Migu dan Wanda juga tidak berkedip, tidak ingin melewatkan momen langka ini. "Sekian, terima kasih," ucap Brian dengan wajah berseri-seri senang, merasa berhasil menjadi bintang untuk hari ini.
"Begitu saja?" tanya Elena datar. Tawa di wajah Brian lenyap seketika. Semua orang juha membisu tiba-tiba. "Sebagai adiknya Briana, agak mengecewakan," ucap Elena dingin. "Next!" pintanya. Brian kembali ke tempat duduknya dengan wajah memerah, kelihatannya malu sekali. Anak berikutnya maju dengan rasa percaya diri yang sudah ludes. Kelihatannya karena gugup, dia mengeluarkan listrik-listrik yang kacau dan nyaris menyerang anak yang duduk paling depan. "Aku nggak suka si Brian itu, tapi Bu Elena ini jelas lebih nggak beres lagi," gumam Zaki. "Benar," jawab Migu setuju. Dia sendiri merasa jantungnya sudah mau meledak. Ketika gilirannya sudah mendekat, Migu melancarkan rencananya. Dia maju ke depan kelas dan berbicara pada Elena.
"Bu, saya permisi ke toilet dulu, ya," ucapnya dengan takut-takut. Elena mengamatinya sesaat. "Giliranmu sudah dekat, kan? Bagaimana kalau perkenalan diri dulu sebelum ke toilet, biar nggak ketinggalan," katanya dingin. Migu memutar otaknya untuk memikirkan beribu alasan. "Saya rasa nggak bisa ditahan lagi," mohonnya. "Namamu? Oh, Migu Evangeline ya," kata Elena setelah mengintip tag nama Migu di seragamnya. Elena kemudian mencari-cari sesuatu di kertas yang berisi daftar nama anggota. "Vektor Manipulation?" tanyanya sembari membetulkan posisi kacamatanya dengan cermat. "Menarik, ayo silakan perkenalkan dirimu," pintanya, tidak menanggapi jawaban Migu sedikit pun.
Migu berdiri di depan ruangan seperti berdiri di ambang kehancuran hidupnya. Dia menatap nanar pada satu per satu pasang mata yang menatap tak sabaran padanya. "Na-nama saya Mi-Migu Evangeline," kata Migu tergagap-gagap. Kedua tangannya meremas-remas ujung bajunya. Setelah itu, dia sama sekali tidak berani bicara apa pun lagi, hanya diam seperti orang bodoh. Di kejauhan, Wanda menatap kasihan padanya. "Ayo, tunjukkan Vector Manipulation-mu. Kedengarannya hebat," ucap Elena dengan nada menyindir. Semua anak langsung terkesiap ketika mendengar "Vector Manipulation" hingga kumpulan suara tarikan napas mereka dapat terdengar jelas.
Migu menunduk penuh keputusasaan. Setelah membulatkan tekat di tengah riuh bisik-bisikan orang, akhirnya dia membuka mulut dan berkata, "Maaf, aku... belum bisa." Semua orang menatap keheranan padanya.
"Sudah kuduga, cuma anak-anak sombong yang sok pamer menggunakan nama kekuatan-kekuatan sulit. Ternyata isinya nol. Sudah begitu, strategi kaburmu jelek sekali. Pura-pura izin ke toilet? Kupikir setidaknya anda agak pintar jika ingin membuat kebohongan sebesar ini," cerca Elena. Dia menatap jijik pada Migu. Semua orang membisu lagi, menatap Migu dengan tatapan setengah kasihan dan setengah penasaran.
Migu kembali ke tempat duduknya dengan wajah menunduk. Dia membenamkan wajahnya ke lutut. Wanda menepuk-nepuk pundak Migu dengan prihatin. "Aku bakal tendang batang hidungnya langsung kalau jadi kamu, Migu," gumam Wanda berapi-api. Migu mati-matian menahan tangisnya. Dia belum pernah direndahkan seperti ini. Sebodoh apa pun dia di kelas, tidak ada yang pernah mempermalukannya sejauh ini. Bahkan yang menghinanya adalah seorang guru. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Menguasai Vector Manipulation dalam waktu dekat tampaknya mustahil, tapi jika tidak bisa, dia mungkin akan terus diinjak-injak begini oleh Elena.
"Setelah ini, ayo kita latihan sampai kamu bisa, Migu. Aku bantu. Pokoknya si Elena s****n itu bakal bayar omongannya," kata Wanda penuh emosi. "Aku benci dia."
***
To be continued.
15 September 2020