"Altera Energy-ku hilang," kata Migu dengan wajah muram. Wanda dan Ayaka datang ke kamar Migu tengah malam itu juga setelah dikirimi chat. "Nggak mungkin, kan?" tukas Ayaka dengan wajah mengantuk. Dia sudah lengkap dengan piyama merah jambu dan penutup mata yang terpasang di jidat. Migu sedikit kesal karena baik Wanda maupun Ayaka tidak sepanik dirinya. Migu mengangkat telapak tangannya dan berusaha keras sekali lagi. Tetap saja tidak ada yang terjadi.
"Coba lakukan yang benar. Mungkin teknikmu salah. Ini, lihat," kata Wanda untuk ke sekian kalinya, tapi kali ini akhirnya mereka mencoba mencontohkan untuk Migu. Satu detik berlalu, tidak ada apa pun yang muncul di telapak tangan mereka. Wanda dan Ayaka mengernyitkan kening mereka. Sepuluh detik... tidak, bahkan setelah dua puluh detik, Altera Energy mereka tidak kunjung muncul.
"... kenapa nggak bisa?" tanya Wanda sambil bertatapan dengan Ayaka. Bibir mereka mulai pucat pasi. "Aaaaaa!" teriak Ayaka frustasi. "Apa ini karma karena aku suka jahil?!" pekiknya. Wanda juga ikut menjerit penuh keputusasaan. "Gimana ini? Bisa-bisa kita dikeluarkan dari sekolah kalau begini. Udah begitu... nanti... gimana kata keluargaku...." Dia menggeletakkan tubuhnya di atas lantai sembari mulai mengamuk-ngamuk.
"Coba kita pikir ulang. Ini nggak masuk akal, kan?" tanya Migu, berusaha menenangkan keduanya. "Iya, emang nggak masuk akal. Tapi ini beneran nggak bisa, Migu," jawab Ayaka, bahkan mulai sesegukan sambil terus berusaha mengeluarkan cahaya Altera Energy pada telapak tangannya. Mereka kacau.
Tok! Tok!
Seseorang memanggil dari balik pintu. "Punten, ini teh udah tengah malam, jangan ribut atuh," ucap suara itu. Migu membuka pintu dan bertatap muka dengan perempuan yang waktu itu memarahi Wanda karena ribut di hari pertama kedatangan mereka di asrama. Dia adalah Silvi Pratama, anak kelas sebelas yang tinggal di kamar sebelah Migu. Mereka sempat beberapa kali kebetulan bertemu di ruang duduk lantai 24.
"Ma-maaf, Kak," kata Migu dengan kepala tertunduk. Silvi menatap heran dan kemudian mengintip sedikit ke balik punggung Migu. Wanda sedang membentur-bentur pelan keningnya ke lantai. Keduanya terlihat nyaris kehilangan kewarasan mereka. "Maaf ikut campur, kalau boleh tau, ada masalah apa?" tanyanya dengan tatapan curiga.
Migu ragu sejenak, tapi kemudian menjawab, "Altera Energy kami... hilang." Silvi terperanjat kaget dan matanya melotot. Dia mencoba memeriksa Altera Energy miliknya sendiri, dan dia sukses dengan cahaya biru menyala terang benderang di telapak tangannya. "Nggak mungkin bisa hilang, kan? Kalian habis ngapain?" tanya Silvi cemas. Meski begitu, dia jelas lega karena miliknya masih baik-baik saja. Migu hanya diam yang mengangkat bahunya.
"Eh, jangan-jangan...." Silvi mendadak berhenti. Sebuah pikiran mengejutkan baru saja muncul di benaknya. "Coba keluar dari kamarmu," pinta Silvi. Migu menurut meski kebingungan. Dia melangkah keluar dan mencoba mengeluarkan Altera Energy-nya. Dalam sekejap mata, cahaya biru berkobar terang di telapak tangannya. Migu terperangah dan menatap tak percaya. "Bi-bisa!" pekiknya.
Wanda dan Ayaka berebut melesak keluar dari pintu kamar Migu. Ayaka mengeluarkan Altera Energy-nya tanpa masalah, dan Wanda mengeluarkan listrik-listrik mengerikan dari sekujur tubuhnya. "Wow," ucap Migu. Sambaran listrik biru dari Wanda menyala-nyala di iris matanya yang gelap. "Cukup, sebelum ada yang luka dan bikin ribut lagi," tegur Silvi pada Wanda. Wanda tidak peduli pada Silvi yang jelas-jelas sinis padanya, pokoknya dia sedang lega sekali.
Silvi masuk ke dalam kamar Migu setelah minta izin padanya. "Di kamarmu ada lapisan Anti-Altera," kata Silvi, sembari mengamati sekeliling. "Lapisan itu menonaktifkan segala Altera Energy yang ada di lingkupannya," jelasnya cermat. Migu memahami satu per satu kata-kata Silvi dengan teliti. Istilah itu begitu asing di telinga Migu hingga dia tidak tahu apakah itu hal yang baik atau buruk. "Kenapa di kamarku ada lapisan itu?" tanya Migu tak mengerti. Sementara itu, Wanda dan Ayaka juga tampak berpikir keras.
"Justru seharusnya aku yang nanya itu ke kamu, kan?" tukas Silvi, mengamati Migu dengan seksama. "Bisa aja ada kesalahan atau ada hubungannya dengan penghuni kamar sebelumnya. Kalau lapisannya mengganggu, laporin aja ke petugas asrama," saran Silvi. Dia sudah mau melangkah masuk ke kamarnya lagi, kemudian memutuskan untuk memberi peringatan terakhir. "Jangan ribut lagi, oke?"
Tanpa diberi peringatan seperti itu, keributan malam ini sudah berakhir dengan kembalinya Wanda dan Ayaka ke kamar mereka. Pikiran Migu meluas ke mana-mana setelah ditinggal seorang diri. Bagaimana jika ternyata ada pelaku yang sempat mengendap masuk ke kamarnya dan memasang lapisan Anti-Altera itu? Bagaimana jika seseorang di sekolah ini tengah merencanakan sesuatu yang buruk padanya? Sayangnya, dia adalah satu-satunya yang terlalu memikirkan hal itu. Wanda dan Ayaka berpendapat lapisan itu hanya sesuatu milik penghuni sebelumnya yang ketinggalan di sana.
Migu segera melaporkan lapisan itu pada helpdesk gedung asrama yang hanya terus-terusan tersenyum dengan ramah, tidak terlihat terganggu oleh kekhawatiran Migu. Dia menyuruh Migu untuk tenang saja seolah asrama ini terlalu aman untuk disusupi. Setelah lewat berhari-hari, tidak terlihat pertanda siapa pun akan dikirim ke kamarnya untuk menghilangkan lapisan tersebut. Migu berkali-kali membicarakan tentang hal itu, tapi sejak awal memang dia adalah satu-satunya yang mengganggap serius soal ini.
"Tenang aja Migu, lapisan itu sama sekali nggak berbahaya, oke? Bisa jadi memang banyak anak-anak yang pasang lapisan itu di kamar sebagai pelindung karena kita nggak pernah tau kalau ada Altera yang berniat buruk dengan cara menyerang kita di kamar," kata Wanda sembari mengerik kotoran di kukunya. Mereka sedang bersantai di salah satu ruang duduk asrama.
"Memangnya ada bahaya macam apa di sini? Kita bisa diserang sewaktu-waktu?" tanya Ayaka dengan polos. "Kita nggak pernah tau. Siapa tau perang bakal pecah besok. Kalian bisa bayangkan sendiri, kan, pertarungan antar Altera itu kayak apa?" jawab Wanda ringan. Migu tiba-tiba merinding. "Makanya, anggap aja lapisan Anti-Altera itu sebagai pelindungmu," lanjut Wanda dengan bosan. Dia sudah memberi jawaban yang sama berkali-kali setiap Migu mengungkit hal itu lagi. Sebenarnya cukup masuk akal, tapi Migu tidak puas.
Sejak awal guru-guru di sekolah memperlakukannya dengan tidak biasa. Tiap kali mendengar namanya untuk pertama kalinya, setidaknya mereka akan terkesiap dan melototinya seolah-olah wajahnya aneh. Beberapa guru agak lebih menyukainya dibanding anak-anak lain entah karena apa. Saina, si anak pintar yang hobinya mengangkat tangan, bersusah payah untuk menonjol secara akademis, tapi Migu yang biasa-biasa saja entah kenapa lebih menarik perhatian.
Sebagai gantinya, beberapa guru lainnya agak canggung padanya, dan kelihatan sekali menghindar sebisa mungkin darinya. Misalnya Rianti Yaris, si guru matematika killer yang melewatkan nama Migu untuk maju mengerjakan soal di depan kelas sesuai nomor urut absen, sehingga anak-anak lain iri sekali padanya.
Sekarang, di kamarnya ada hal tak biasa. Sepertinya, untuk beberapa minggu, Migu harus menahan diri dengan kegelisahan ini. Masalahnya, permintaannya pada petugas asrama sama sekali tidak digubris. Apakah dia perlu menemui kepala sekolah? Bukankah itu berlebihan dan agak seperti sedang mencari perhatian?
"Daripada mikirin itu terus, mendingan kamu belajar deh, Migu," kata Wanda lagi. Ayaka tiba-tiba tertawa dan Migu langsung cemberut. "Aku pikir, aku bakal jadi yang paling b**o di kelas, soalnya Bahasa Indonesia-ku nggak sebagus yang lainnya, eh ternyata...." Migu menendang pelan betis Ayaka yang sedang selonjoran di sofa paling panjang hingga dia berjerit "ouch" pelan. "Berhenti bahas-bahas itu!" teriaknya sebal. Sepertinya, bergaul dengan Wanda dan Ayaka tanpa sadar membuat Migu menjadi anak yang lebih keras dan berani, menyesuaikan dengan mereka berdua (ternyata omongan Lila ada benarnya juga).
Sebenarnya, dalam minggu ini, nilai pre-test untuk semua mata pelajaran di kelas mereka sudah mulai dibagikan. Migu sama sekali tidak berhasil mendapat satu pun angka yang lebih besar dari 50. Dia mati-matian menyembunyikannya karena malu, tapi Wanda dan Ayaka melakukan seribu satu cara untuk merenggut lembar nilainya, lalu menertawainya seharian penuh. Setidaknya, Wanda masih mendapat nilai 85 di pre-test Antropologi dan Ayaka dapat nilai 80 di pelajaran Matematika. Jika nilai Migu terus-terusan seperti itu, dia terancam untuk ikut kelas tambahan mulai bulan depan.
"Ngomong-ngomong, Migu. Udah mau jam tiga nih, ayo siap-siap," kata Wanda. "Untuk?" tanya Migu tak mengerti. "Hari ini pertemuan pertama ekskul Klub Fisika," jawab Wanda. "APA?" Migu kaget sekali. Dia sama sekali tidak tahu informasi itu. Sedikit pun dirinya belum siap untuk ketemu dengan orang-orang di sana. Bagaimana jika mereka harus menampilkan keahlian lagi? Dia kan belum bisa melakukan apa pun selain memamerkan Altera Energy-nya!
*
To be continued.
29 Agustus 2020