["Sori, tadi ada urusan lain. Selesai jam sekolah nanti aku ke kelasmu."]
Migu mengirim pesan seperti itu pada Norwen tadi. Dia nyaris lupa bahwa hari ini adalah jadwal piketnya. Migu berlarian menyapu lantai kelas, takut membuat Norwen menampakkan wajah-wajah menyeramkan gara-gara menunggu terlalu lama. Laki-laki itu tindakannya benar-benar tidak tertebak dan misterius gara-gara ekspresinya selalu datar.
Wanda dan Ayaka kembali ke asrama duluan atas permintaan Migu sendiri. Kelas IPA letaknya sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari deretan ruang kelas Bahasa. Karena jam pulang sekolah sudah lama berakhir, kelas-kelas sudah kosong melompong. Yang terlihat hanya beberapa anak iseng yang piketnya tidak selesai-selesai gara-gara sibuk bercanda tawa.
Migu mengintip sedikit ke dalam kelas Norwen sebelum masuk. Dia menggeser pintu membuka dan mendapati laki-laki itu sedang tidur di atas tiga kursi yang disatukan. Tiap kali ketemu selalu aja sedang tidur. Kerjanya cuma tidur ya? gumam Migu dalam hatinya. "Permisi, Norwen," panggil Migu pelan. Dia mengetuk pundak Norwen dengan telunjuknya.
Ketika telunjuknya bersentuhan dengan tubuh Norwen, Migu merasa darahnya langsung berdesir. Sensasi berdenyut-denyut di kepalanya kembali lagi. Migu langsung sadar bahwa dirinya akan mendapat serangan sakit kepala dan suara berisik yang mengerikan itu lagi. Namun, tiba-tiba saja.... Plak!
Norwen cepat-cepat menyingkirkan tangan Migu begitu menyadari kehadirannya. "Jangan pernah sentuh aku lagi. Kamu sadar, kan, tiap kali kita dekat-dekat selalu ada efek-efek aneh?" Setelah tangannya dihempas menjauh oleh Norwen, rasa sakit kepala Migu langsung lenyap begitu saja. Dia selamat, meski harus mendapat siraman tatapan sedingin es dari Norwen.
Migu menelan ludah dengan gugup. Kemarin-kemarin, dia pikir itu hanya kebetulan. Setelah Norwen sendiri yang berkata seperti itu, Migu tersadar bahwa ada suatu hal yang aneh di antara mereka. "Ke-kenapa bisa begitu?" tanyanya dengan bulu kuduk merinding. "Mana ku tahu," jawab Norwen langsung.
Migu langsung jengkel lagi. Dia menyerahkan sebuah tas kertas berisi jaket Norwen yang sudah dicuci bersih dan wangi, meski ingin sekali rasanya melempar benda tersebut langsung ke wajah laki-laki itu. "Terima kasih," kata Migu dengan ekspresi tidak suka, lalu langsung melembutkan tatapannya setelah menyadari bahwa mau bagaimana pun, Norwen waktu itu sudah membantunya melalui jaket ini.
Migu keluar dari kelas Norwen, meninggalkannya sendirian di dalam sana. Fiuh, akhirnya urusanku sama dia udah selesai, batin Migu sembari menggeser pintu kembali menutup. "Hai Migu!" Dia terlompat kaget ketika sosok seseorang tiba-tiba menyapanya. Yuni muncul dengan senyuman ramahnya seperti biasa. Sedang apa dia di sini? tanya Migu dalam hati.
"Hai Yuni. Aduh aku kaget, kirain siapa," jawab Migu sembari menertawakan dirinya sendiri. "Kebetulan banget ketemu Migu! Aku juga mau pulang. Mau bareng?" ajak Yuni dengan ceria.
Mereka berjalan beriringan kembali ke asrama. "Migu, kata Lila, kamu bisa Vector Manipulation ya? Hebat banget," ucap Yuni di tengah obrolan mereka. Migu langsung terbatuk-batuk. "Ya ampun, udah menyebar sampai mana gosipnya? Nggak benar kok," sela Migu cepat-cepat. Dia menggeleng kuat-kuat.
"Oh, jadi Lila salah dengar informasi ya, haha," balas Yuni sambil tertawa geli. "Kalau begitu, Migu belajar apa? Waktu tes masuk sekolah, kamu nampilin apa?" tanyanya dengan raut penasaran. "Em... Um... Kalau itu...." Migu langsung terbata-bata dengan arah sorot mata tak beraturan. Ditanya seperti ini malah membuatnya semakin bingung saja. Dia tidak bisa membiarkan semua orang tahu bahwa dia masuk dengan undangan —atau dia akan segera menjadi bahan pembicaraan karena itu kasus yang tidak biasa.
"Aku... aku... belajar manipulasi vektor, tapi cuma bisa sedikit banget hehe, soalnya itu kan susah," jawab Migu dengan senyum canggung yang dibuat-buat. "Wah, udah aku duga, Migu keren banget. Sebenarnya, ayahku juga keahliannya manipulasi vektor. Katanya, kebanyakan orang dewasa pun butuh waktu minimal sepuluh tahun untuk benar-benar bisa mempraktikkannya saja —belum lagi belajar untuk mengendalikannya."
"Wah, gitu ya? Tapi aku sebenarnya masih level pemula banget, jangan bilang-bilang ke orang ya, aku... malu." Migu tiba-tiba langsung menyesal karena sudah mengaku yang tidak-tidak. Keahlian manipulasi vektor itu kedengarannya tidak main-main. Bisa gawat sekali kalau beritanya keburu tersebar, lalu ketahuan bahwa dirinya telah berbohong.
"Nggak apa-apa kok. Kebanyakan dari anak kelas sepuluh juga begitu. Aku udah setahun belajar Air Bending —pengendalian udara— tapi sampai sekarang cuma bisa bikin sedikit angin kencang doang. Yah, aku jarang latihan sih," kata Yuni sembari menggaruk tengkuknya dengan malu-malu. "Oh, kan ada itu!" seru Yuni, terlihat gembira secara tiba-tiba. "Ayahku pernah ngasih buku tebal tentang Vector Manipulation. Katanya siapa tahu aku tertarik, tapi sebenarnya aku sama sekali nggak butuh. Kayaknya bakal berguna kalau aku kasih ke Migu aja," katanya dengan riang.
Dia benar-benar menarik Migu ke kamarnya yang bernuansa kuning cerah. Setelah membongkar rak berisi buku-buku nonfiksi yang bercampur dengan novel selama sepuluh menit, dia mengeluarkan sebuah buku tebal dengan sampul keras berwarna hijau. Sudah sampai begini, Migu tidak bisa lagi menolaknya.
Migu langsung merasa mau pingsan setelah mengintip beberapa puluh lembar pertama. Isinya kurang lebih kumpulan teori-teori fisika yang dihubung-hubungkan dengan struktur tubuh manusia dan Altera Energy. Migu sudah mendapat cerita panjang lebar dari Wanda dan Ayaka ketika dia memamerkan Altera Energy-nya di sekolah tadi. Kata mereka, tahap awal untuk belajar sebuah keahlian dengan Altera Energy biasanya dimulai dengan memahami teori-teori. Setelah berhasil melakukan suatu kemampuan yang diincar, orang-orang baru akan meninggalkan pelajaran teori itu, dan fokus latihan mengontrol kekuatannya.
"Terima kasih, Yuni...," ucap Migu dengan senyum merekah. Karena sudah terlanjur sampai di sini, sepertinya Migu setidaknya harus mencoba mempelajarinya sedikit.
Yuni adalah tipe teman yang disenangi oleh semua orang di kelas. Dia agak pemalu, tapi sebenarnya selalu peduli kepada orang lain. Migu merasa beruntung bisa mengenalnya. Ketika Migu sedang sakit kemarin, dialah yang mengirimkan materi-materi MOS di kelas untuk Migu dan menawarkan macam-macam makanan ke kamarnya untuk memulihkan tubuhnya. Dia juga selalu membujuk Lila untuk tidak memojokkan Wanda dan Ayaka. Sekarang, dia bahkan membantu Migu untuk menyempurnakan Vector Manipulation-nya —padahal sebenarnya Migu sama sekali tidak bisa dan tidak tahu kekuatan macam apa itu.
Migu sudah hendak kembali ke kamarnya, tapi kemudian Yuni menahannya. "Ngomong-ngomong, Migu...," katanya, memberi jeda, lalu kelihatan agak salah tingkah. "Soal kita ketemu di depan kelas 10-IPA-8 tadi, jangan bilang-bilang ke siapa-siapa ya, terutama ke dia...."
"Dia? Siapa?" tanya Migu heran.
"No-Norwen," jawab Yuni, wajahnya memerah, bahkan tidak berani memandang Migu. "La-lagipula aku nggak kenal dia kok!" sanggah Yuni cepat-cepat, padahal Migu tidak berkata apa pun. Sedetik kemudian, tawa Migu pecah. "Oke, aman kok. Wah, ternyata Yuni suka Norwen?" kata Migu dengan senyum lebar. Yuni yang sedang tersipu malu begitu terlihat sangat manis. "Kamu nggak berencana buat coba kenalan sama dia? —misalnya masuk ekskul yang sama dengan dia," tanya Migu.
"Mau sih... tapi...." Yuni menjawab dengan ragu-ragu. Migu kurang lebih paham apa yang ingin disampaikan Yuni. Norwen adalah anak laki-laki dengan tampang mencolok yang seragam dan rambutnya berantakan. Wajahnya juga lumayan oke. Dengan tampang seperti itu, dia bisa saja masuk ke jajaran anak cowok populer. Namun Norwen selalu kelihatan suka mengisolasi diri, makanya orang-orang hanya berani melihatnya dari kejauhan. Ditambah lagi, Migu sudah tahu bahwa sifat laki-laki itu agak ketus. Dia jadi tidak tega jika Yuni harus menghadapinya. Aduh, Yuni. Kenapa malah naksir orang yang ribet seperti dia sih? batin Migu.
"Aku lumayan kenal dia. Kalau gitu, mau aku bantu?" tawar Migu dengan bersemangat. Dia benar-benar ingin melakukan sesuatu untuk Yuni. Mungkin ini kesempatannya, mumpung dia pernah bicara beberapa kali dengan Norwen. "Se-sebenarnya aku nggak berencana buat kenalan sama dia kok, tapi kalau Migu menawarkan, aku nggak nolak juga sih," jawab Yuni dengan wajah bersemu semakin merah.
Migu kembali ke kamarnya sambil memikirkan seribu macam skenario. Meski dia menawarkan bantuan dengan senang hati, sebenarnya Migu sama sekali tidak kepikiran cara apa pun untuk mempertemukan Norwen dengan Yuni. "Aaaa! Gimana ya?" jeritnya seorang diri. Dia berguling-guling di atas kasurnya.
Malam harinya, Migu melesat ke kamar Wanda dan memberitahunya bahwa dia juga akan mendaftar ke Klub Fisika. Wanda langsung bersorak girang karena mendapat satu teman di klub barunya nanti. Manipulasi Vektor adalah cabang ilmu dari Klub Fisika dan Migu sudah terlanjur menipu Yuni terlalu dalam. Mau tidak mau, pertama-tama dia akan mencoba dulu. Kalau benar-benar tidak bisa lagi, maka dia akan beralih ke keahlian yang lain.
Migu memeluk bantalnya erat-erat dan mencoba mengeluarkan Altera Energy dari telapak tangannya untuk sekadar berbangga diri sebelum tidur. Apa aku perlu kasih tau tentang ini ke Kak Viola ya? Kan keberadaan Altera sebenarnya nggak wajib dirahasiakan, gumam Migu dalam hati. Namun... tidak ada cahaya biru yang keluar dari telapak tangan Migu. "Loh, tadi bisa kok?" gumamnya kebingungan. Migu berusaha keras sekali, tapi Altera Energy-nya tidak mau muncul. "Kenapa begini sih?" tanyanya nyaris menangis.
*
To be continued.
25 Agustus 2020