Sambil selonjoran di atas kasur, Migu mengetuk-ngetuk layar ponselnya dengan gugup. Dia masuk ke aplikasi chat, lalu mengetik sesuatu, menghapusnya, keluar, masuk lagi, dan berkali-kali mengulang langkah-langkah itu. Semalam, Migu menemukan kontak "Norwen Akasia" di grup chat kelompok delapan. Daritadi dia mau mengirim pesan untuk membicarakan persoalan jaket, tapi dia terus-terusan ragu karena membayangkan wajah penuh intimidasi Norwen yang berkata "Nggak usah geer".
Kegiatan MOS sudah usai dan Migu tidak berhasil ikut sampai akhir karena dia sakit selama dua hari. Norwen juga beda jurusan dengannya. Kecil sekali kemungkinan Migu akan bertemu dengannya secara kebetulan. Oleh karena itu, satu-satunya jalan adalah dengan membuat janji ketemuan.
["Halo, ini Migu Evangeline yang sekelompok sama kamu."]
Setelah mengumpulkan tekad, Migu akhirnya benar-benar memencet tombol "kirim".
["Aku mau ngembaliin jaketmu besok. Mau ketemu di mana?"]
Dia menghembuskan napas lega dan membanting ponselnya jauh-jauh. Migu jadi merasa bodoh karena berpikir terlalu panjang hanya untuk mengirim pesan seperti itu. Tak lama kemudian, dia mendengar suara pintu kamarnya berdebum-debum berisik. Migu membuka pintu dengan jengkel. Suara debuman itu adalah cara barbar mengetuk pintu khas Wanda.
"Pintu kamarku bisa hancur tau?" omel Migu sembari diserang hamburan pelukan dari Wanda dan Ayaka. Mereka bercerita heboh tentang banyak peristiwa yang dilewatkan Migu: tentang Jennifer dari jurusan IPA, si cewek cantk yang terpilih jadi Queen di acara penutupan MOS; tentang Nevan yang banyak mendapat surat cinta; tentang gosip kelompok sebelas yang berhasil menang menjadi kelompok terbaik gara-gara kakak pendampingnya curang; dan lain-lain.
"Lalu, lalu, kata Bu Evelin, kita harus ambil minimal satu ekstrakulikuler yang berhubungan dengan pengendalian Altera Energy," kata Wanda. "Aku mau masuk ke Klub Fisika, soalnya sejauh ini aku udah belajar Electricity Manipulation," ceritanya. "Kalau aku sih udah pasti juga ke Klub Kegelapan," kata Ayaka dengan ceria.
Sejujurnya, tak satu pun dari nama-nama ekstrakulikuler yang mereka sebutkan itu terasa masuk akal. Klub Fisika terlalu tidak cocok untuk anak jurusan Bahasa. Klub Kegelapan terdengar seperti bercandaan sekelompok murid penggemar misteri yang sedang mengada-ada. Hanya saja, setelah Migu menghubung-hubungkannya dengan "Altera", dia cukup mengerti.
Pada akhirnya, Migu akan terus dihadapkan dengan pembicaraan-pembicaraan tentang Altera Energy lagi. Dia tidak bisa terus-terusan menghindar selamanya. "Migu, kalau kamu gimana? Aku penasalan banget, habisnya kamu nggak pernah nunjukin!" Ayaka bertanya dengan mata berbinar-binar.
Migu menghela napas dengan pasrah. "Aku... bukan Altera."
Baik Wanda maupun Ayaka terdiam. "Haha, apaan sih Migu?" sela Wanda sambil tertawa garing. "Beneran, waktu diperiksa pakai scanner Altera, ternyata aku memang bukan Altera," gumam Migu dengan lesu. "APA?" Mereka berteriak dan melototi Migu seperti melihat kotak kejutan.
"Kok bisa sih? Beneran? Terus kamu kok bisa lolos tes masuk jurusan Bahasa? Kita kan masing-masing harus nunjukin skill dari Altera Energy kita," tanya Wanda dengan wajah syok. "Aku diundang tanpa tes masuk," jawab Migu datar.
Perkataan singkat dari Migu membuat Wanda dan Ayaka berteriak sekali lagi. "KOK BISA SIH?" Ayaka mengguncang-guncang bahu Migu tak percaya. Migu membongkar-bongkar email lama dari ponselnya dan menunjukkan email undangan itu pada mereka. "Kenapa? Kok bisa sih? Emang kamu sespesial apa Migu? Orangtua kamu pejabat di mana?" Wanda mencercanya dengan pertanyaan-pertanyaan aneh.
Migu merasa kepalanya penat sekali. Dia paham bahwa Wanda dan Ayaka terkejut, tapi dirinya juga sama kacaunya dengan mereka saat ini. "Argh! Aku juga nggak tauuu!" seru Migu sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Dilihat dari sisi mana pun, kejadian ini tidak masuk akal. Meski undangan sekolah waktu itu memang salah alamat, masih ada hal-hal yang janggal. Para guru-guru waktu itu kan sudah tahu bahwa dia bukan Altera? Tapi kenapa malah membiarkannya berkeliaran di jurusan Bahasa begitu saja?
Tring! Di tengah kekacauan itu, ponsel Migu membunyikan nada pertanda notifikasi masuk. Dia meraih ponselnya yang tadi sudah dilempar jauh, dan memeriksanya. Ada pesan baru dari Norwen.
["Jam setengah dua belas, ke kelasku di 10-IPA-8"]
***
Setelah bel jam istirahat kedua berbunyi, Migu meninggalkan kelas seorang diri. Hari pertama sekolahnya, setelah MOS, cukup normal. Mereka belajar materi-materi biasa ketika jam matematika, Bahasa Inggris, dan antropologi. Besok-besok, materinya akan mulai berubah jadi "luar biasa" untuk menyesuaikan dengan kurikulum khusus School of Altera —guru-guru sendiri yang bilang begitu. Migu tidak bisa lagi menahan rasa gelisahnya setiap hari karena takut akan tiba saatnya di mana dia tidak bisa berpura-pura menjadi seorang Altera lagi.
Oleh karena itu, dia bertekad untuk membicarakannya dengan wali kelasnya hari ini. Migu menunggu kemunculan Evelin dengan sabar di ruang tunggu untuk siswa di kantor guru. "Halo Migu. Ada apa?" Evelin muncul dengan senyum merekah. Meski dia bertanya seperti itu, Migu yakin bahwa Evelin sebenarnya bisa menebak sendiri maksud kedatangannya. Dia kan sudah tahu bahwa Migu mengeluarkan suara tetot yang mengejutkan dari scanner Altera waktu itu. Justru malah aneh kalau Migu tidak mencoba membahas perihal itu dengannya.
Evelin mengajak Migu untuk mengobrol di ruangannya. Migu bercerita dengan suara pelan sekali, takut ada seseorang yang mendengarnya. "Jadi, gimana, Bu? Saya tidak memenuhi syarat buat jadi murid di sini, kan? Apa sejak awal undangan waktu itu palsu ya?" Migu bertanya dengan suara bergetar. Dia bahkan tidak mampu berekspektasi macam-macam.
"Kalau kamu nanya pendapat Ibu, sebenarnya undangan itu nggak mungkin salah alamat kok. Memang untuk kamu, Migu," jawab Evelin menenangkannya. "Nah, seharusnya kamu udah tau, kan, kalau kemampuan-kemampuan luar biasa yang bisa dilakukan seorang Altera itu berasal dari Altera Energy. Contohnya teman dekatmu, Wanda, belajar manipulasi listrik. Sebenarnya yang dia lakukan adalah mengubah Altera Energy menjadi sekumpulan listrik yang bisa dia kendalikan. Kamu udah pernah melihat wujud mentah dari Altera Energy?" tanya Evelin, menjelaskan dengan sabar.
Migu menggeleng cepat. Evelin menengadahkan sebelah tangannya. Di atas telapaknya, tiba-tiba muncul sekelebat cahaya biru yang berkobar-kobar mirip api. Migu langsung terlonjak dari tempat duduknya. "Itu... bentuk mentah Altera Energy?" Evelin tersenyum dan mengangguk. "Iya, semua kekuatan aneh-aneh yang kamu lihat dari teman-teman kamu itu berasal dari sini, bisa dibilang adalah bahan bakarnya."
"Nah, sekarang Migu coba keluarkan juga," pinta Evelin. "Aku?" Migu mengerjap-ngerjap bingung. Bukankah sudah jelas bahwa dirinya bukan Altera dan tidak mungkin punya energi-energi itu?
"Kalau kamu nggak bisa, nggak mungkin undangan ke SMA Ozolero akan dikirim ke kamu. Makanya Ibu katakan, undangan itu nggak salah kirim kok," jawab Evelin dengan yakin. Migu dengan ragu mendengarkan arahan-arahan dari Evelin. Dia menengadahkan sebelah tangannya dan memejamkan matanya dengan konsentrasi. Rasakan sesuatu yang membara di dalam diriku. Rasakan... Rasakan...
Beberapa percik cahaya biru yang sangat kecil berpendar sesaat di telapak tangan Migu, tapi sangat sebentar. Migu memandang Evelin penuh rasa tak percaya. "Be-berhasil!" pekiknya. Migu melompat berdiri dari kursinya. Evelin memandang bangga dengan ekspresi yang berkata "Sudah kubilang, kan?"
Sampai jam istirahat usai, Migu terus-terusan mencoba untuk membuat percikan lebih besar yang menyala lebih lama, dan dia perlahan-lahan berhasil. Migu merasa ada kupu-kupu berterbangan di dadanya. Beban yang menumpuk di kepalanya selama beberapa hari belakangan barusan diangkat, meninggalkan rasa lega di sana. "Wah, fantastis Migu! Untuk pemula, kamu memang luar biasa. Anak-anak Altera pada umumnya butuh waktu berminggu-minggu latihan hanya untuk mengeluarkan percikan pertama dalam hidup mereka!" puji Evelin dengan tepuk tangan kecil.
Migu merasa hidungnya mengembang. "Tapi... kenapa ya scanner waktu itu nggak menganggap saya sebagai Altera?" tanya Migu. Evelin memandang Migu dalam-dalam. "Meski begitu, kamu punya Altera Energy kan? Itu aja udah cukup untuk sekarang. Kamu udah bisa sekolah dengan tenang," jawab Evelin dengan senyum hangat. Akan tetapi, Migu menampakkan ekspresi tidak puas.
Evelin terlihat menyadarinya, jadi dia melanjutkan, "Sebenarnya scanner Altera itu nggak pernah salah. Kasus siswa sepertimu baru pertama kali terjadi di sekolah ini. Ibu nggak bisa cerita lebih banyak lagi untuk sekarang," kata Evelin. Cerita? Emangnya ada cerita tentang apa di ballik semua ini? Migu bertanya-tanya dalam hati. Setelah mengucapkan terima kasih, dia berjalan kembali ke kelasnya karena bel jam masuk sudah berbunyi lagi.
Meski di kepalanya tersisa sejuta macam pertanyaan, Migu tidak bisa menahan rasa bahagianya karena ternyata dia juga sama seperti teman-temannya. Dia memiliki Altera Energy, yang artinya dia bisa mengeluarkan kekuatan-kekuatan ajaib itu! Dia tersenyum lebar, tidak sabar memberitahu Wanda dan Ayaka nanti.
Di tengah-tengah kebahagiaannya, Migu tiba-tiba teringat sesuatu. Dia melirik jam tangan di pergelangannya dan langsung menepuk keningnya. Ya ampun, aku janji mau ngembaliin jaket Norwen jam setengah dua belas, rutuk Migu. Jarum jam telah menunjuk pukul dua belas lebih sepuluh menit. Kalau mau pergi sekarang juga tidak sempat karena guru-guru sudah mulai masuk ke kelas. Mungkin dia perlu mencoba datang ke kelas Norwen pada jam pulang sekolah nanti.
*
To be continued.
23 Agustus 2020