Pasang demi pasang kaki turun menginjak lantai basement sebuah mall besar di Pulau Ozolero. Isi tempat itu sama seperti pusat perbelanjaan pada umumnya, hanya saja pengunjung hariannya hanya siswa. Ketika jam sekolah sedang berlangsung, mall itu biasanya kosong melompong. Jadi kalau berencana bolos sekolah ke sana juga percuma saja, seperti sengaja terjun ke dalam perangkap.
Dalam aba-aba kakak kelas pendamping kelompok, anak-anak kelas sepuluh menyebar ke seisi mall seperti kawanan semut yang terkejut. Misi tiap kelompok hanya satu: berbelanja barang dengan warna sama, sebanyak mungkin, dengan poin yang mereka dapatkan di permainan sebelumnya. Kelompok yang kumpulan barangnya paling berat adalah pemenang, sehingga masing-masing anggotanya dapat hadiah 10 poin.
Kelompok Migu sepakat mengumpulkan barang-barang berwarna merah. Wanda berlari ke gunungan apel di deretan buah-buahan dan Lila menghilang ke dalam toko perabotan. Sumbu semangat semua orang langsung terbakar setelah diiming-imingi hadiah 10 poin (Mau bagaimana lagi, poin kan sama dengan uang!). Migu langsung meriang begitu diterpa udara dari pendingin ruangan. Demamnya belum sembuh total.
Sambil berkali-kali menahan ingus di hidungnya, dia mencari keberuntungan ke bagian perkakas olahraga. Barangkali bisa menemukan barbel sepuluh kilo berwarna merah, dia pasti bakal langsung dipuja-puja oleh anggota kelompoknya. Sayang, Migu tiba di hadapan rak dengan tulisan "Barbel" yang kosong melompong. Tentu saja yang kepikiran untuk mengambil barbel bukan cuma dirinya.
"Aaa! Udah habis!" seru Ayaka setelah tiba-tiba datang dengan berlari-lari seperti macan mengamuk. "Hai Migu," sapanya kecewa. "Ayaka, gimana? Dapat?" Nevan menyusul dengan cara berlari yang sama di belakangnya. Dia sempat cemberut saat melihat rak kosong itu, tapi ketika pandangannya bertemu wajah Migu yang sedang malu-malu, entah kenapa dia jadi tersenyum.
Migu, sementara itu, sejak awal memang tidak bisa tenang ketika sedang bersama Nevan. Jantungnya berdegup tidak karuan, rasanya ingin tutup muka saja karena ekspresi wajahnya pasti sangat b**o. "Hai Ayaka, Nevan," panggilnya dengan salah tingkah. "Kamu lagi sakit? Pucat banget," gumam Nevan, mengecek suhu di kening Migu. Migu merasa sensasi yang hangat dan menyenangkan langsung menjalari sekujur tubuhnya.
"Ekhem!" Ayaka mengingatkan mereka bahwa dirinya masih berada di sana. "Migu sama Nevan pacalan ya?" tanyanya sambil tertawa-tawa geli. Tiba-tiba dia menaikkan volume suaranya dan berteriak-teriak seperti anak kecil. "Guys, guys, Nevan sama Migu paca...." Nevan menangkap Ayaka dan membekap mulutnya rapat-rapat. "Ssst! Ayaka! Jangan kayak gitu dong," kata Nevan.
Ekspresi wajahnya agak kesal. Untuk ukuran orang yang baru mengenal Ayaka, reaksi Nevan patut dimaklumi (Migu sendiri masih selalu berusaha untuk bersabar). Ayaka tersenyum iseng dan meminta maaf. Pipi Migu bersemu merah. Tapi... barusan Nevan nggak menampik perkataan Ayaka, ya? batinnya. Mereka sama sekali tidak punya hubungan, tapi Migu merasa mau pingsan gara-gara memikirkan hal seperti itu saja.
"Permisi." Suara seseorang menyusup di antara mereka. Migu mendongak dan menemukan Norwen menatapnya sedingin es. Migu sedikit terkejut melihat sosoknya. Setelah dipikir-pikir, orang cuek macam Norwen mana mungkin akan peduli pada peristiwa-peristiwa memalukan tentang Migu yang disaksikannya. Lagi pula dia bukan siapa-siapanya. Migu jadi yakin bahwa selama ini dia hanya membuat dirinya repot saja dengan memikirkan rasa malu itu. Mulai saat ini dia akan bersikap biasa-biasa saja dengan Norwen.
"Ngapain? Kami nggak ngehalangin jalan kok?" jawab Migu bingung. Jujur saja, dia sama sekali tidak suka pada sorot mata Norwen yang tanpa emosi, sama sekali tidak ada kehangatan di sana, membuat Migu teringat pada... mimpinya tadi malam.
"Kamu yang ngapain, malah sekongkol sama kelompok orang," balas Norwen. "Sekongkol? Siapa yang sekongkol?" Migu merasa darahnya mulai memanas. "Ya udah, aku cuma minta tolong kalian geser sedikit kok," gumam Norwen lagi. Norwen membelah kerumunan mereka bertiga untuk mendekat ke rak barbel yang kosong. "Mau barbel juga? Udah habis daritadi," kata Ayaka dengan tawa geli.
Norwen mengabaikan mereka dan mendadak melompat tinggi sekali. Migu benar-benar nyaris tidak mempercayai penglihatannya. Dia memanjat naik dengan mulus ke atas rak di ketinggian tiga meter dan membongkar sesuatu di atas sana. "Ih, dia udah gila ya?" tanya Ayaka. Migu setuju padanya kali ini. Sesaat kemudian, Norwen melompat turun membawa sebuah kotak di tangannya, seolah kotak itu ringan, padahal gambar di kotaknya adalah sebuah barbel merah dengan keterangan "10 kg".
Setelah itu, dia melongos pergi begitu saja. Awalnya Migu sudah kesal sekali pada Norwen, tapi sekarang dia malah benci pada dirinya sendiri yang menatap Norwen dengan mata berbinar-binar, ingin sekali menyampaikan rasa terima kasih karena kini mereka berada sangat dekat dengan hadiah 10 poin. "Ya ampun, itu orang atlet parkour ya? Migu kenal dia?" Nevan masih terperangah keheranan. Migu buru-buru menggeleng. "Aku sekelompok sama dia, tapi cuma bicara satu dua kali doang," jawabnya.
"Aku bakal naik ke atas sana juga! Pokoknya aku akan naik!" Ayaka menatap dengan berapi-api. Migu tiba-tiba langsung khawatir dengan apa yang akan dilakukan Ayaka, meski mereka tidak sekelompok. "Ayaka, jangan pindah-pindah pakai bayangan itu di sini. Aturannya nggak boleh, terus Nevan sama Norwen jurusan IPA lho, mereka bukan Altera. Takutnya kalau mereka lihat nanti urusannya jadi panjang," bisik Migu cepat-cepat sebelum Ayaka kebablasan.
Ayaka tiba-tiba langsung cemberut seperti anak kecil. Nevan menatap mereka berdua dengan kening berkerut yang mengatakan "Sedang bicarain apa?".
Meski Migu sudah memperingatinya untuk memanggil petugas saja, Ayaka dengan tidak sabaran berusaha memanjat-manjat sendiri. Migu mati-matian menutup bagian bawah rok Ayaka. "Nevaaaan! Jangan lihat!" Migu berteriak-teriak, lama-lama rasanya bisa sinting. "Ayaka, turun ih, nanti raknya roboh! Cowok tadi itu emang abnormal! Kalau kamu jatuh gimana?" pekik Migu. Beberapa anak yang penasaran lewat sambil berbisik-bisik.
"Bisa kok! Migu tenang aja, nih aku udah tarik satu!" teriak Ayaka di atas sana. Dia menyembulkan sebuah kotak dari atas dan Nevan berusaha mati-matian menangkapnya dari bawah. "Satu... dua... ti...."
Krak!
Rak itu membengkok, membuat tumpukan kotak-kotak meluncur turun. "Awas, bahaya!" teriak Nevan, dia bingung sekali harus menyelamatkan siapa. Terakhir kali dia mendongak ke atas, sosok Ayaka sudah lenyap seperti hantu (Dia pasti menyelamatkan diri menggunakan kemampuan Darkness Manipulation-nya, tapi Nevan kan tidak tahu).
Migu melindungi kepalanya dengan dua lengan tangannya. Ketika tumpukan kotak berisi barang dengan berat berkilo-kilo itu berjatuhan turun, Migu sudah bersiap untuk merasakan sakitnya. Terdengar suara berdebum di kanan kiri Migu, tapi semua kotak yang berjatuhan ke arahnya dihalangi oleh punggung Nevan. Mereka jatuh ke atas lantai dalam keadaan Migu terlindungi dengan aman oleh tubuh Nevan yang lebar dan berat.
***
"Migu, maafin aku, maaf, maaf!" Ayaka datang ke UKS sambil menangis. Wanda, Lila, dan Yuni menyusul di belakangnya. Migu baru saja bangun dari tidurnya lagi. Ia dan Nevan dipulangkan ke sekolah duluan untuk mengobati luka mereka. Linea sempat mengomeli Migu karena bersikeras untuk ikut MOS, padahal dirinya masih sakit.
Kejadian tadi benar-benar menggemparkan seisi mall. Apalagi karena menyangkut Nevan, si anak baru yang seperti artis, semua orang berebut untuk melihat kondisi mereka. Linea berkata, untuk ukuran kejadian tadi, keselamatan mereka berdua benar-benar ajaib. Mengingat beban yang menimpa mereka bertubi-tubi, seharusnya Nevan mungkin sudah patah tulang atau mendapat trauma di kepala, tapi itu tidak terjadi. Dengan kata lain, mereka sangat beruntung.
"Aku udah minta maaf ke Nevan juga, tapi rasanya masih belum cukup," kata Ayaka, lalu menyodorkan Migu sekantong plastik berisi cemilan. "Kamu luka di mananya Migu? Udah aku bilang kan jangan dekat-dekat sama anak barbar kayak mereka," kata Lila. Wanda dan Ayaka langsung memandang jengkel. "Udah, nggak usah peduliin omongannya Lila, dia nggak serius kok," bisik Yuni menenangkan mereka.
Migu hanya mendapat memar serta luka kecil di lengan dan betis. Semua gara-gara Nevan melindunginya waktu itu. Dia jadi penasaran pada kondisi Nevan saat ini. Lukanya pasti jauh lebih parah. Teman-teman Migu diusir dari UKS oleh Linea setelah jam besuk berakhir. Mereka melambai pergi dengan wajah masam.
Migu memanfaatkan kesempatan ini untuk mengunjungi Nevan di bangsal anak cowok. Ketika memindahkan bungkusan cemilan dari Ayaka ke lantai, Migu menemukan sepaket obat-obatan di nakas samping tempat tidur. Di atasnya, ada selembar kertas dengan tulisan jelek yang mengatakan "Untukmu". Senyum Migu mengembang dan dia buru-buru turun dari ranjangnya.
Di ruang depan UKS, Migu samar-samar mendengar Linea mengusir rombongan cewek-cewek yang merengek-rengek ingin melihat Nevan. "Kalau mau jenguk, berempat atau berlima aja, jangan sampai satu RT begini." Linea terdengar kewalahan sekali. Migu terbatuk-batuk menahan tawa. Dia menyelinap masuk ke wilayah bangsal anak cowok. Kalau ketahuan Linea, dia bisa dimarahi lagi.
"Nevan, Nevan, kamu di sebelah mana?" panggil Migu. Kepala Nevan menyembul keluar dari salah satu tirai, tertawa melihat Migu yang berjalan sambil mengendap-endap. "Kamu udah nggak apa-apa?" tanya Migu memastikan, mesti sudah kelihatan jelas sekali bahwa Nevan bisa berdiri dan berjalan tanpa sedikit pun masalah.
"Nggak apa-apa kok, aku kuat hehe," pamernya dengan bangga. Migu merasa lega mendengarnya. "Ngomong-ngomong, makasih buat ini, Nevan," kata Migu, mengangkat sepaket obat yang dia temukan di nakasnya tadi.
Nevan memandang dalam diam untuk sesaat. "Aku? Bukan aku kok, mungkin dari temanmu," jawab Nevan, membuat Migu kebingungan. "Eh, siapa ya?"
Migu melihat ulang kertas bertuliskan "Untukmu", lalu membaliknya. Ada tulisan-tulisan lain di sana. "Untukmu aja, aku salah beli tadi. Sekalian mau bilang, aku butuh jaketku." Migu membacanya dalam hati. Setelah berpikir sejenak, dia memekik pelan ketika sosok seseorang muncul di pikirannya. Di bawah tulisan itu ada kata-kata dengan huruf agak besar, seolah berusaha lebih ditonjolkan. "Nggak usah geer."
Ah, si Norwen itu emang ngeselin ya? rutuk Migu dalam hatinya.
*
To be continued.
21 Agustus 2020