Secepat itu waktu berlalu usai penyidikan. Kini tinggal pengadilan merumuskan vonis. Reesha merasa gagal tidak menemukan apa apa semua seolah di rancang rapih untuk menjatuhkan Abhi agar tidak siapapun menteri nya akibat kesalahan yang tidak pernah ia lakukan tersebut. Reesha tidak berhenti menangis. Apa yang ia takutkan menjadi nyata. Ia benar benar akan kehilangan Abhi tidak lama lagi.. Tapi terjadi sesuatu meski tidak mendapat bukti yang menyatakan Abhi tidak bersalah seseorang datang..
"HENTIKAN". Ruang sidang itu kini menjadi sangat hening.. seorang perempuan datang dengan wajah pucat dan lusuh seperti telah usai menangis.
"Siapa dia?". Batin Reesha menatap Gabriella dengan khawatir
"Alesya". Ucap Abhi perlahan.
"Dia tidak bersalah! lelaki yang sedang kau adili ini tidak melakukan apapun". Perempuan bernama Aleysa itu datang seolah menjadi pahlawan untuk setiap rasa takut yang ada dalam diri Reesha.
"Apa yang membuat mu yakin? Apa kau memiliki bukti?". Ucap sang hakim.
"Aku adalah dokter yang bekerja satu rumah sakit dengan Abhi aku tau seperti apa dia Pak. dia orang baik dan di saat hari sebelum Abhi pulang aku menyatakan cintaku pada nya sesaat setelah itu Abhi menolak dengan alasan telah memiliki Reesha perempuan yang selalu ia banggakan dan ia ceritakan padaku! aku merasa marah dan ingin membuat Abhi tak dapat kembali. Aku menyuruh beberapa orang memasukan benda haram itu di malam terakhir Abhi di base lalu merobek halaman kamar 24 agar tidak dapat di temukan". Jelas Aleysa
"APA?".Ucap Reesha Terkejut dengan nada tinggi. Reesha mendekati Aleysa dan tidak melakukan apapun selain memandangi nya beberapa saat lantas berkata..
"Apa? Ucap kan sekali lagi? Apa?". Marah Reesha sambil memukul mukul dan menyerang Aleysa deng sangat sangat sangat kesal.
Kekesalan itu berubah menjadi tangis lega saat benar tidak akan ada lagi ketakutan ia akan di pisahkan dari belahan hidup nya.
Reesha masih marah dan terus menyerang menarik rambut dan memaki maki Aleysa. Dia ingin Aleysa merasakan setiap ketakutan nya akan jika benar suami nya terpisah dari nya.
"Kakak sudah". Gabriella mencoba memisahkan mereka. Reesha tidak peduli dia hanya ingin marah pada wanita yang bahkan baru ia temui hari ini
"Biarkan dia merasakan sa kitku!".Ucap Reesha dengan tangis terisak.
"Dengan ke saksi an saudri Aleysa sebagai saksi kunci sekaligus pelaku sesungguh nya maka saudara Abhi bagaskara di nyatakan bebas dan tidak bersalah". Ucap sang hakim lalu palu pengadilan.terketok
Tangis bahagia lagi.. Reesha Menangis karena ia bersyukur atas kemenagan nya dan atas bukti tuhan masih bekerja.
"Terimalah syukur ku Bapa. Kau telah mengembalikan apa yang menjadi milikku". Batin nya memeluk Abhi sambil menangis bersyukur.
"Benar bukan? jangan mencari pembenaran Tuhan sudah bekerja drngan cara yang lebih indah jauh dari apa yang kau rencana kan". Ucap Abhi
Reesha tersenyum mereka keluar dari gedung kesakitan itu dan kembali ke rumah
"Tunggu". Reesha berniat menemui Aleysa untuk mengatakan apa yang harus nya ia katakan bukan memaki tapi lihat sendiri bagaimana kita patut menjadikan nya contoh
"Kalian tunggu aku di depan". Pinta Reesha pada Abhi dan Gabriella
Reesha dan Aleysa duduk berdua di taman luas pengadilan itu dan mulai saling bicara
"Terimakasih sudah menyelamatkan Abhi dari hukuman nya".Reesha tersenyum manis
"Maafkan aku dan atas niat burukku aku layak dan aku yanh seharus nya di hukum". Ucap Aleysa.
"Aku akan mencabut tuntutan atas mu asal kau berjanji menjadi orang yang lebih baik". Reesha Tersenyum Tulus.
"Apa?". Aleysa terkejut.
"Iya aku tau aku mungkin sakit hati akibat kelakuan mu pada Abhi tapi jika aku membalas sakit ku dengan sakit yang sama apa beda nya aku dengan mu?". Reesha Berdiri dan membelakangi Aleysa.
"Aku tau aku bersalah maafkan aku Reesha". Aleysa tulus mengucapkan itu.
"Jika aku mau mau bisa saja tidak membenaskan mu tapi aku juga tau kau memiliki kehidupan.yang sama drngan ku kau juga seorang istir dan suatu hari nanti akan menjadi seorang ibu. Reesha Tersenyum meski hati nya ingin sekali membalas perlakuan Aleysa. Tapi dendam tidak pernah indah.
"Mengapa kau se memahami aku? padahal pertama.kali nya kita bertemu?'. Ucap Aleysa
"Karena aku sudah pernah kehilangan banyak hal dan sama sekali tidak ingin membuat orang lain kehilangan.sesuatu yang mungkin berharga bagi mereka". Reesha memalingkan wajah nya dan menatap Aleysa dengan senyum yang ikhlas.
"Terimakasih Reesha terimakasih benar semua yang Abhi ceritakan kau memang tidak layak di gantikan drngan apapun kau Abhi dan seluruh keluarga mu lebih mulia dari permata". Puji Aleysa..
Setelah itu Abhi Reesha dan Gabriella kbali pulang ke rumah
"Apa yang kau katakan pada Aleysa?". Tanya Abhi.
"Ya mengatakan apa yang pernah kau ajarkan". Ucap Reesha Sambil bersandar pada pundak Abhi.
"Oh ya? Apa yang aku ajarkan padamu?". Ucap Abhi.
Tangan itu bergandeng seolah tampak tanpa sela dan Gabriella hanya bergumam.saja. Ia merasa ada di sana.tapi tidak di anggap.
"Kau mengajarkan banyak hal padaku tentang memberi kesempatan dan memperbaiki. Aku merasa Aleysa mempunyai hak yang sama. Mungkin cinta nya pada mu yang membuat nya membuta tapi aku yakin cintaku padamu saja pemenang nya"
Mereka saling menatap wajah itu kini seolah tiada jarak mata itu kini saling menatap senyum lebar yang tidak bisa di bandung.
"Nanti saja mojok nya! ". Goda Gabriella seolah risih dengan meledek.
Kedua nya saling tersenyum.
lalu mereka pulang ke rumah dengan hati yang sedikit lega meski tidak berarti mereka baik baik saja selama nya. Ya masih belum sepenuhnya selesai. Masih ada masalah yang lebih besar dari yang telah berhasil mereka lewati.
"Akhirnya sampai". Gabriella bernafas lega dan mulai memasuki rumah itu. Masih dengan sunyi yang sama perbedaan nya sekarang sudah ada Abhi bersama mereka..