بــــــــــــــسم اللّــــــــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم
"Kamu hanya memiliki dua teman dalam hidup ini. Pertama adalah Allah, dan yang kedua adalah orang yang selalu mengingatkanmu kepada Allah."
•┈┈••••○○❁❁○○••••┈┈•
Suara dentuman di setiap penjuru membisingkan telinga. Lampu yang berwarna-warni bergerak begitu cepat membuat kepala terasa pusing. Cairan bening yang terbungkus botol panjang dipajangkan di atas mini bar dengan berantakan.
Hampir seisi manusia di ruangan itu menenggaknya seperti kehausan. Salah satunya adalah Humaira. Ia telah menghabiskan 3 botol berwarna hijau dengan puas. Prustasinya seakan hilang sementara.
Dengan setengah kesadarannya ia berusaha tetap membuka matanya untuk mencari keberadaan kekasihnya. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan kekasihnya itu meninggalkannya.
Pakaian glamor yang dikenakan Humaira membuat para laki-laki menggoda bahkan melecehkannya. Ia sangat risi jika tubuhnya dijamah oleh orang yang tidak ia sukai.
Kakinya yang sedikit lemas berusaha berdiri dan berjalan keluar dari tempat itu. Ia merayapi tembok dan sesekali memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing dan perutnya yang mual.
Beberapa laki-laki menarik paksa agar Humaira tidak meninggalkan tempat itu. Tapi, ia memberontak, menendang dan menggigit mereka sehingga Humaira berhasil berjalan menjauhi tempat yang bernama club itu.
Tiba-tiba ada sebuah lampu terang yang berasal dari mobil melewati jalanan tempat Humaira saat ini.
Mobil itu dikemudikan oleh Syakib yang usai membeli makan malam dan menemukan Humaira yang berjalan sempoyongan.
Dari kejauhan Syakib melihat Humaira memegangi kepalanya beberapa kali yang terlihat seperti kesakitan. Ia segera menepikan mobilnya dan meminta temannya juga ikut turun.
Syakib berlari menghampiri Humaira yang hampir saja terjatuh dan temannya segera membuka sorban yang di bahunya lalu ia gunakan untuk menutupi sebagian tubuh Humaira yang sangat terbuka.
"Astaghfirullah Humaira lo apa-apaan sih!" Syakib segera membopong Humaira.
"Jangan omelin gue sekarang! Kepala gue sakit banget." Humaira menjambak rambutnya.
"Yasudah gue antar pulang."
"Jangan. Nanti bisa-bisa gue habis di siksa bokap nyokap."
"Terus lo mau pulang kemana?"
"Rumah lo." Tanpa berpikir panjang Syakib langsung membawa Humaira memasuki mobilnya.
"Lo kenapa bisa kayak gini, Ra? Gue sudah sering ingetin kalau ini gak baik buat kesehatan lo, ini haram! Lo ngerti gak sih? Gue sayang sama lo. Gue gak mau tubuh lo kenapa-napa, gue gak rela aurat lo ke umbar gini, gue gak rela lo berbuat gak benar kayak gini. Tolong ngerti!" cerocos Syakib seraya menatap wajah Humaira namun Humaira hanya memejamkan matanya dan bersender ke belakang jok mobil seraya bergumam.
"Lo dengar gak?" tanya Syakib geram.
"Dengar! Yang ditutup mata gue bukan telinga gue. Bawel ah."
"Lo cerita dulu kenapa bisa kayak gini? Siapa yang ajak lo? Gue gak akan bawa lo pulang kalau lo gak cerita."
"Miko, biasa sih anak muda. Harus menikmati dong, hidup cuma sekali harus di manfaatkan." Mendengar ucapan Humaira Syakib dan temannya hanya bisa beristighfar.
"Sekarang lo gak sadar. Terus kalau lo di apa-apain apa lo terima, Ra? Setelah sadar lo mengingat kejadian ini dan terjadi sesuatu. Miko juga gak sadar melakukannya dan dia gak akan tanggung jawab kalau terjadi sesuatu sama lo."
"Nyatanya gue gak di apa-apain," jawab Humaira dengan santainya lalu merubah posisinya menjadi berbaring.
Syakib menahan kesalnya lalu membawa mobilnya menuju rumahnya. Teman Syakib juga sedang menginap di rumah Syakib. Ia ikut masuk ke dalam tanpa membantu Syakib yang membopong Humaira.
"Syakib!" bentak seorang laki-laki dengan gagah dan suara beratnya lalu berjalan mendekat.
Terpaksa Syakib menghentikan langkahnya walaupun ia merasa tidak kuat lagi membopong Humaira yang berat, "Syakib antar Humaira dulu ke kamar tamu. Ini berat, pah."
"Tidak! Haram wanita seperti ini menginjakkan kakinya di rumah ini!" lalu laki-laki yang disebut 'papah' itu menarik kasar tangan Humaira membuat Humaira terjatuh.
"Papah! Seburuk apapun dia, dia tetaplah manusia. Yang buruk adalah perilakunya bukan tubuhnya. Tidak berhak papah menghakimi seperti itu." Syakib membangunkan Humaira sedangkan Humaira yang kehilangan kesadaran hanya terdiam memejamkan matanya.
Lalu Syakib kembali membawa Humaira ke kamarnya tanpa memperdulikan ucapan papahnya, Andri.
Syakib membaringkan tubuh Humaira. Humaira melingkarkan tangannya di leher Syakib membuat Syakib tidak bisa berdiri kembali dan terkunci dalam pelukan Humaira walaupun tubuh mereka tidak menempel. "Tolongin gue Syakib. Gue gak kuat tahan ini, gara-gara gue minum tadi."
"Tolongin apa?" tanya Syakib merasa risi lalu melepas paksa tangan Humaira.
"Kepala gue pusing banget. Gue gak kuat tahan rasa sakit ini gara-gara minum terlalu banyak tadi."
-----
Gadis yang kembali berseragam serba mini sedang berjalan di koridor dengan angkuh. Seluruh pasang mata menatapnya aneh. Pasalnya, kemarin menggunakan hijab dan sekarang tidak. Apakah hijab hanya fashion yang bisa dilepas pasang?
Tiba-tiba sebuah tangan menarik Humaira ke atas rooftop sekolah. Humaira duduk di atas kursi yang sedikit rapuh. Beberapa murid ternyata ada di sana menyambut Humaira dengan riuh.
Humaira tersenyum kebingungan. Ia mengingat apakah ini hari ulang tahunnya?
"Wellcome back to Rara! Not Humaira!" seru Mita lalu ia bertepuk tangan.
"Apaan sih ini?" Humaira kebingungan.
"Gue pikir lo jadi culun kayak Annisa. Ternyata lo tetap jadi Rara kita," jelas seorang murid laki-laki yang berseragam urakan.
"Gue dengar juga lo putus sama Miko? tenang, Ra. Ada kita! kita akan bikin lo happy hari ini!" sahut temannya yang lain.
Mita mengeluarkan benda kotak dari sakunya yang bertulisan marlboro berwarna hitam, "kesukaan lo!"
Humaira terbelalak, "serius lo? sejak kapan lo baik, Mita!" Humaira sangat kegirangan dan menerimanya dengan antusias.
"Itu belum seberapa. Masih ada kebaikan lain dari kita, Ra!" jelas teman laki-lakinya.
"Botol hijau favorit lo juga udah gue siapin!"
"Berteman sama kita gak akan buat lo terbully kayak kemarin, cantik! justru lo diperlakukan seperti ratu."
Humaira tersenyum senang, detik kemudian ia meluruhkan senyumnya dan mengingat ucapan Syakib, "lo akan mendapatkan semuanya ketika lo mendekati Allah."
Ia menjadi bimbang. Tapi, bukankah menjadi dirinya yang sekarang tetap bisa mendekati Allah?
Ia akan mencobanya. Tujuannya sekarang untuk mendekati Allah adalah untuk mendapatkan semua yang ia inginkan. Walaupun, niat awalnya salah, Allah yakin seiring berjalannya waktu semua akan benar.
Karena, ketika kita berniat baik, malaikat sudah mencatat pahalanya. Tetapi, ketika kita berniat buruk, Allah melarang malaikat untuk mencatatnya sebagai dosa. Karena, Allah selalu yakin bahwa hambaNya akan berubah pikiran.
Allah begitu baik, sangat baik bahkan amat baik. Ia senang, jika hambaNya meminta banyak kepadaNya.
Yang terpenting adalah. Jika do'a kalian beribu-ribu, maka sujud kalian jangan terburu-buru.