بــــــــــــــسم اللّــــــــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم
"Penyebab utama gagal hijrah adalah tidak menjauhi teman lama yang buruk."
•┈┈••••○○❁❁○○••••┈┈•
Bel masuk berbunyi membuat seantero sekolah riuh berlarian memasuki kelas masing-masing. Semua siswi bergaya modis tanpa wajah polosnya, begitu juga para siswa yang berpakaian urakan.
Wajar sekali Humaira seorang gadis yang labil, mudah terbawa arus. Dia tidak mendapat didikan agama dari keluarganya, termasuk orang tuanya.
Ia sudah salah pergaulan sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Langkahnya yang salah tidak pernah dibenarkan oleh kedua orang tuanya.
Langkah kaki terlihat begitu lesu memasuki kelas dua belas IPS empat. Ia duduk di samping Mita tanpa ekspreksi.
Tanpa aba-aba ia langsung membuka kain putih yang menutupi kepalanya lalu mengibaskan buku di hadapan wajahnya.
"Ra?" panggil Mita antusias. Humaira tidak menoleh sama sekali.
Mita langsung membetulkan posisi rambut Humaira yang sedikit berantakan, "cantik banget sih lo. Apa lagi rambut lo bagus," pujinya lalu menepuk-nepuk pipi chubby milik Humaira.
"Ngapain? Bukannya lo jauhin gue?" ketus Humaira dengan tatapan sinis sembari membetulkan posisi duduknya.
Mita memasang ekspreksi terkejut, "siapa yang jauhin, Ra? Gue tadi pergi sama Devan ada urusan. Anak lain aja pada ngikutin gue."
"Alasan," cibir Humaira.
"Loh, gak jadi hijrahnya?" teriak seorang siswi yang duduk di pojok ruangan kelas.
"Ustadzah, mari beri ceramah untuk seseorang yang hijrah tapi tidak jadi," sindir siswi lain kepada Annisa membuat seantero kelas tertawa.
"Diam lo!" teriak Humaira seraya menggebrak meja.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka dan menampakkan seorang guru. Semua murid menyapa guru dengan baik terkecuali Humaira yang masih kesal dengan keadaan.
Beberapa menit kemudian guru yang mengajar di kelas Humaira menerangkan pelajaran hari ini. Tapi, Humaira justru diam-diam memainkan ponselnya di bawah meja.
"Humaira!" panggil seorang guru tersebut. Tatapannya yang mengabsen berhenti saat melihat sosok Humaira tidak memperhatikannya.
Humaira tidak terlihat terkejut sama sekali. Ia menyimpan ponselnya di laci meja dengan santai lalu mendongakkan kepalanya menatap sang guru yang saat ini di sampingnya.
"Kamu ini murid baru tapi sudah sering membuat ulah. Keluar kamu dari pelajaran saya!" bentak sang guru.
Humaira bangkit dari duduknya, "gak masalah." Lalu ia melenggang pergi sembari menggulung baju panjangnya hingga pendek.
Humaira berjalan hingga gerbang sekolah.
"Loh, non Rara mau ke mana?" tanya seorang satpam yang sudah cukup tua.
"Bukain!" pinta Humaira.
"Buka! Kalau nanti guru nanya, lo jawab aja gak tahu," ucap Humaira sembari mengerenyit akibat teriknya matahari.
"Lama lo!" Humaira menyingkirkan pak satpam dari hadapannya lalu membuka pintu gerbang dan pergi dari area sekolah.
Ia berjalan tanpa tujuan. Hari ini cukup prustasi untuk dirinya. Ia baru sekali ini diperlakukan seperti ini.
Pakaiannya sangat urakan. Rambut yang di kucir berjatuhan beberapa helai, keringat membasahi sebagian tubuhnya, seragamnya ia gelung menjadi pendek. Ia juga tidak membawa tasnya.
Tring!
Notifikasi di ponselnya membuat Humaira menghentikan langkahnya lalu melihat notifikasi tersebut.
Ternyata notifikasi tersebut dari Miko. Mantan kekasihnya itu meminta Humaira untuk menemuinya malam ini untuk terakhir kali.
Humaira semakin prustasi. Kesempatannya untuk memiliki Miko sudah tidak ada lagi. Tanpa membuang waktu lagi Humaira langsung membalas pesan Miko.
Ia meminta Miko menjemputnya saat ini.
-----
Satu jam kemudian motor ninja milik Miko menghampiri Humaira. Ia hendak turun dari motornya namun Humaira bergegas menghampiri Miko, "pergi sekarang."
"Ayo naik," ajak Miko lalu membantu Humaira untuk menaik karena kesusahan dengan roknya yang panjang.
"Lo pake seragam panjang?" tanya Miko membuka pembicaraan setelah motor melaju cukup jauh.
Humaira diam tidak berniat menjawab. Miko tertawa pelan setelah melihat wajah Humaira melalui spion motornya.
"Ngapain sih kayak gitu, Ra?" tanyanya kembali dan Humaira tetap memilih bungkam.
Humaira melihat wajah Miko yang tertutup helm fullface melalui spion motor. Matanya memanas dan berembun. Memorinya terbuka terbayang kenangan manis bersama seseorang dihadapannya ini.
Sebentar lagi seseorang yang sangat ia cintai meninggalkannya bersama perempuan lain. Tidak ada kesempatan untuk memilikinya kembali.
Air matanya tumpah membasahi pipi. Ia membiarkan air mata ketidak relaan itu terlihat oleh Miko agar Miko iba sehingga tetap bersamanya.
Tangannya melingkar di perut Miko. Kepalanya ia sandarkan di bahu Miko. Ia menumpahkan air matanya di sana.
Miko langsung menolehkan kepalanya. Ia sadar atas kesedihan Humaira. Ia langsung menepikan motornya lalu membuka helmnya dan memposisikan dirinya agar bisa melihat Humaira, "sayang." Lalu Miko turun dari motornya dan memeluk Humaira dengan sangat tulus.
"Maafin aku," lanjutnya.
"Aku sudah berusaha keras menolak. Tapi, dia mengancam memenjarakan orang tuaku. Mungkin kalau aku yang di penjara aku akan terima demi kamu, demi hubungan kita. Maafin kebodohanku," jelasnya dengan suara lirih serta mengecup puncak kepala Humaira cukup lama.
Humaira meregangkan pelukannya. Miko menatapnya lurus menelusuk manik mata hazel berwarna cokelat milik Humaira, "kita berbahagia hari ini."
Miko kembali menaiki motornya dan tangannya menarik kedua tangan Humaira agar kembali memeluknya. Lalu ia melajukan motornya kembali.
-----
Tettt...!!!
Bel pulang sekolah berbunyi menggemparkan seantero sekolah. Sorak kelegaan bergema di setiap penjuru sekolah. Mereka berlarian bebas menuju gerbang sekolah.
Kelas dua belas IPS empat begitu riuh saat guru pengajar meninggalkan kelas. Mita mengemasi beberapa alat tulisnya lalu meraih tasnya. Namun, ia melihat tas Humaira disampingnya.
Ia menatap ke arah jendela keluar dan tidak ada tanda-tanda Humaira akan datang.
"Biarin aja, deh." Lalu kakinya hendak melangkah pergi namun tiba-tiba berhenti.
Ia meraih kain putih yang menutupi tas Humaira lalu ia masukkan ke dalam tasnya.
"Assalamu'alaikum, Mita?" ucap Annisa menghadang langkah kaki Mita.
"Ngapain lo?" ketus Mita.
"Afwan, dijawab dulu salamnya."
"Sudah. Dalam hati," ujar Mita dengan tatapan sinis.
"Mau di bawa ke mana kerudung Rara?" tanya Annisa dengan khas suara lembutnya.
"Bisa gak usah nanya-nanya?" ketus Mita yang merasa jengkel karena Annisa selalu mencampuri urusannya dengan Humaira.
"Afwan Mita. Biar ana yang membawa barang Rara saja," ujar Annisa.
"Iya gue tau lo itu pembantu! Tapi, kali ini kayaknya gue gak butuh lo. Gue bisa sendiri. Minggir!" Mita mendorong Annisa sehingga Annisa terjatuh di meja.
Annisa merintih kesakitan karena punggungnya terbentur ujung meja. Ia mengabaikan rasa sakitnya lalu meraih tas Humaira dan beranjak pergi meninggalkan kelas yang sudah kosong.
Di lorong sekolah ia dihampiri seorang laki-laki yang berjalan tergopoh-gopoh, "Assalamu'alaikum, Annisa?" salamnya.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wa Barakatuh." Annisa langsung menundukkan pandangannya saat berhadapan dengan seseorang yang bukan mahromnya.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
"ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal yang diperbolehkan untuk dipandang. Dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan." (Tafsir Ibnu Katsir, 6/41)
"Kata Mita Humaira gak di kelas," ucapnya to the point.
"Iya," jawab Annisa secukupnya. Perasaannya selalu gelisah saat berada di dekat yang bukan mahromnya.
"Yang lo pegang tasnya Humaira?" tanya Syakib.
"Iya," jawab Annisa kembali.
"Boleh gue yang bawa? Gue juga mau cari dia. Gue khawatir," ujarnya.
Annisa langsung menyimpan tas Humaira di bangku koridor sekolah, "Rara membuka kerudungnya di kelas dan kerudungnya tadi di bawa oleh Mita," terang Annisa. Bukan bermaksud ia mengadu dan memata-matai Humaira. Tetapi, ia bertujuan agar Syakib tahu sehingga Syakib mengubah Humaira kembali.
Bukan Annisa tidak mau membantu Syakib untuk mengubah Humaira. Ia hanya takut. Kain sucinya selalu terancam jika berurusan dengan Humaira.