بــــــــــــــسم اللّــــــــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم
"Teman yang baik adalah teman yang mengajak pada kebaikan. Menuntunmu, karena ia ingin masuk surga bersamamu."
•┈┈••••○○❁❁○○••••┈┈•
Bel masuk sudah berkumandang semenjak 15 menit yang lalu. Guru-guru memberi laporan kepada para OSIS karena beberapa murid di kelasnya tidak menghadiri kegiatan belajar mengajar.
Syakib selaku ketua OSIS langsung turun ke lapangan dan memerintah beberapa rekannya untuk mencari keberadaan mereka di toilet, gudang, taman sekolah, kantin, koperasi dan Syakib langsung menuju ke rooftop.
Dalam hatinya merapalkan keyakinan agar Humaira tidak ada di sana. Hatinya begitu gelisah disetiap langkahnya. Tangannya mengepal kuat menahan agar ia tidak membuka pintu rooftop.
-----
Humaira duduk di ujung bangunan sekolah. Kakinya tergantung menjulang ke bawah. Tatapan mata Humaira lurus penuh kekosongan. Di sampingnya ada sosok laki-laki yang merangkulnya seperti memberi kekuatan.
Laki-laki itu mengambil sebuah bungkus kotak yang berisi tembakau lalu tersenyum, "Ra, lo kan paling nggak bisa ditantang. Gimana kalau lo habisin sebungkus rokok ini dalam 10 menit!" ucap Devan menghibur Humaira.
Humaira seketika membelalak, "nggak waras, lo!"
Devan menautkan kedua alisnya, "kenapa? lo nggak mampu?"
Humaira menelan salivanya lalu merampas bungkus kotak yang disebut rokok, "kelamaan! 5 menit doang habis!"
Brak!
Syakib berjalan dengan cepat lalu menarik Humaira untuk berdiri dan berjalan mengikutinya, "bawa mereka ke kantor ruang guru!" titah Syakib kepada beberapa teman OSISnya.
Langkah kaki Humaira terseret-seret karena harus mensejajarkan langkah lebar Syakib. Beberapa kali ia memberontak untuk melepaskan diri dari Syakib.
"Apaan sih, lo? Lepasin sakit!" bentak Humaira namun Syakib tidak menggubrisnya.
Syakib berusaha susah payah untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak akan lagi memergoki Humaira melakukan perilaku kurang baik. Tapi, usahanya sia-sia. Di depan mata dan di samping telinganya ia melihat dan mendengar Humaira kembali melakukan kesalahan.
"Lepas!" Humaira murka bahkan cekalan tangan Syakib yang erat terlepas begitu saja.
"Apa sih mau lo?!" bentak Humaira lagi. Sorotan matanya menunjukkan ia begitu marah dan tidak suka.
Syakib mengatur nafasnya yang terdengar ada emosi, "lo bilang mau dapetin semuanya. Kenapa lo jauhin Allah lagi?"
"Bukan urusan lo! Ini urusan gue!"
"Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam berkata kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ’Urus saja dirimu sendiri.”
Humaira membuang wajahnya dari tatapan Syakib, "gue udah coba dekat. Tapi, gue malah dibully."
Kini Syakib sudah jauh lebih tenang, "itu ujian namanya Humaira. Lo bakalan dapet hadiah dari Allah kalau lo berhasil lewati itu." Nadanya kini menghangat agar Humaira bisa menerimanya dengan baik.
Humaira antusias menoleh dan menatap manik mata legam milik Syakib, "nggak perlu. Makasih. Gue udah senang dengan hidup gue. senang tanpa harus diuji."
"Akan lebih nikmat, Humaira." Syakib berbicara penuh dengan keyakinan.
"Stop panggil gue Humaira. Rara!"
"Gue mohon jangan kayak gini lagi," ucap Syakib dengan penuh permohonan. Niatnya merubah Humaira begitu sungguh-sungguh tanpa putus asa.
"Lo siapa, sih? ngurusin hidup gue banget. temen temen gue gak lo urusin, tuh!" Humaira tidak terima.
"Karena kalau lo berubah, mereka juga ikut berubah, Ra," jawab Syakib dan merasa yakin dengan tindakannya.
"Ini hidup gue. Gue yang jalanin, baik buruknya gue. lo gak akan kena imbas apapun," ujar Humaira meyakinkan Syakib.
"Apa lo marah sama Allah karena Allah jauhin lo dari Miko?" tanya Syakib. Sorotan matanya menembus manik mata hazel cokelat milik Humaira. Ia mencari kejujuran di sana.
Humaira diam.
"Allah sedang berbuat baik sama lo, Ra. Allah peduli sama lo walaupun lo jauhin Allah," terang Syakib. Matanya tidak lepas dari sorotan indah Humaira.
"Baik apa? gue kehilangan orang yang gue cintai. yang terbaik buat gue." Kembali mengingatnya membuat bola mata Humaira menggenang cairan hangat.
"Terbaik buat lo belum tentu baik buat Allah." Syakib menghela nafas sebelum melanjutkan penjelasannya. "Allah baik ngejauhin lo dari orang yang kurang baik. Allah beri petunjuk ketidak baikan dia di depan lo sehingga lo mutusin dia, kan?"
"Lo akan terus berulang kali mendapatkan hal yang sama. Karena cinta lo nggak direstui oleh Allah. gue mohon, tolong dekati Allah," lanjut Syakib.
"Kenapa harus gue?" tanya Humaira yang terdengar begitu sedih.
Syakib terdiam, "entah. Gue ngerasa ini tugas gue." Syakib tidak menemukan jawabannya.
"Gue nggak mau. Titik! Jangan ganggu hidup gue!" Humaira hendak pergi namun Syakib segera menahan tangan kanan Humaira.
"Ketua sekolah macam apa lo? di bully saja takut. Lo cuma berani karena ada teman, nggak berani menghadapi banyak orang yang mencela lo sendirian." Humaira antusias menoleh lalu menunjuk wajah syakib, "jangan main-main lo sama gue! Jaga ucapan lo! Semua murid di sini takut sama gue!" sungut Humaira tidak terima.
Syakib mengangkat kedua bahunya, "kalau lo hebat harusnya apa pun pakaian lo mereka tetap takut sama lo."
Humaira menyelipkan rambut depan ke belakang telinganya, "oke gue buktiin."
Syakib tersenyum sangat manis, "kenapa lo nurut?"
"Karena lo nantangin gue dan gue paling nggak bisa ditantang!"
"Kalau gitu. gue tantang lo besok pakai syar'i"
Humaira membelalak bahkan bola matanya hampir saja keluar dari kelopak matanya, "gue pakai hijab biasa saja dibully!"
Syakib menyunggingkan bibirnya, "oke kalau lo nggak mampu. Lo kalah sama Annisa yang cuma sendirian pakai hijab di sekolah ini. Dia dibully bertahun-tahun tapi tetap kuat."
Humaira sangat geram, "apa! Lo bandingin gue sama dia? nggak level jauh banget!" Humaira berdecih pertanda sangat tidak suka.
Syakib tertawa meremehkan membuat Humaira semakin geram, "kenyataannya memang begitu, Humaira."
Humaira membuang nafas gusar, "gue terima tantangan lo!"
Ini adalah rencananya. Ia tahu kelemahan Humaira bahwa ia sangat tidak bisa diberi tantangan. Ia tahu bagaimana cara meluluhkan batu yang besar dan keras. Yaitu, rajin menetesinya dengan air. Karena jika batu dilawan dengan api maka sampai kapanpun tidak akan pernah hancur.
Hati yang keras lawan dengan hati yang lembut. Perlahan namun pasti. Walaupun awalnya terpaksa insyaa Allah selanjutnya akan terbiasa.
Mengapa Syakib ingin merubah Humaira? apakah ia menyukainya? jawabannya, tidak. Ia merasa ini hanya tugasnya. Namun, jika ditanya tugas di sekolah atau tugas menjaga Humaira? Syakib tidak tahu jawabannya.
Resiko hijrah adalah kehilangan teman yang tidak siap menerima kita. Hijrah adalah perpindahan. Jika teman lama tidak siap menerima. Maka Allah sudah menyiapkan teman yang jauh lebih baik yang akan membimbing menuju Jannah.