بــــــــــــــسم اللّــــــــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم
"Wanita itu adalah aurat, hingga dia keluar maka setan mengawasinya" (H.R. At Tirmidzi)
•┈┈••••○○❁❁○○••••┈┈•
Humaira berada di rooftop sekolahnya bersama Mita dan teman laki-laki lainnya. Ia menangis tersedu-sedu menceritakan kejadian semalam kepada teman-temannya.
"Jangan nangis lagi, Ra. Percuma lo tangisin!" ucap Mita lalu mengeluarkan sebungkus rokok.
"Nanti malam kita ke club lagi biar lo lupa sama masalah lo," usul teman laki-laki Humaira.
"Gak mau. Gue gak mau ke club lagi. Kalau gue ke sana pasti gue inget Miko karena gue sering banget ke sana sama dia," jelasnya sembari terisak.
"Yaudah minum di rumah gue aja. Gue kan tinggal sendiri di rumah," ujar yang lainnya dan disetujui oleh semua pihak termasuk Humaira.
Setelah bel istirahat berbunyi. Mereka turun dari rooftop untuk menuju kantin. Humaira turun terakhir bersama Mita. Di koridor sekolah perjalanan Humaira dihalangi oleh seseorang.
"Dari mana lo Humaira? Gue dari pagi nyari lo," ujar seseorang itu.
"Rara!" ucap Humaira membenarkan sembari mendelikkan matanya malas.
"Jawab," paksa seorang laki-laki yang Humaira kenal beberapa minggu lalu, Syakib. Sosok laki-laki yang ditugaskan untuk mengawasi Humaira.
"Gak usah ngurusin hidup gue lagi. Lo gak di bayar kan? Dapet keuntungan apa lo dari ngatur hidup gue?" tanya Humaira geram.
"Urusin aja hidup sendiri," timpal Mita yang ikut malas.
"Gue ikhlas bantu lo, Ra. Kalaupun guru-guru gak minta gue ngawasin lo gue tetap bakalan ada buat lo, ngawasin lo, bimbing lo."
Humaira sempat tertegun oleh ucapan Syakib. Namun, dengan cepat ia tersadar, "perlu gue bayar biar lo jauh dari gue?"
"Gak usah diladenin, Ra. Nanti juga capek sendiri." Mita menarik Humaira pergi menuju kantin.
"Nisa!" panggil Humaira.
"Iya, Humaira? Ada apa?" sahut Annisa dengan suara lembutnya seraya mendekat.
"Rara! Mau gue tarik kerudung lo?" ancamnya karena ia tidak suka dengan nama Humaira dan Annisa menggeleng antusias.
"Beliin gue mie ayam bakso dua sama jus jeruk dua," ujar Humaira.
"Iya, Rara. Maaf, uangnya mana?"
"Lo ke sekolah bawa uang gak!"
"Bawa, Ra."
"Pakai uang lo lah!"
"Tapi, Ra...."
Humaira bangkit dari duduknya, "oh. Mau dibayar pakai kerudung lo?" ancam Humaira kembali membuat Annisa mau tidak mau menuruti permintaan Humaira. Bagaimanapun harta yang ia punya saat ini tidak sebanding dengan kain suci yang ia pakai untuk menutup auratnya.
Syakib melihat kejadian itu dari kejauhan. Ia menggelengkan kepalanya lalu berjalan menghampiri Annisa.
"Assalamu'alaikum, Annisa?" panggil Syakib.
Annisa menoleh lalu menundukkan pandangannya, "wa'alaikumussalam."
Syakib memberikan beberapa lembar uang. Annisa merasa bingung karena untuk apa uang itu?
"Uang buat bayarin makanan dan minuman Humaira," ujar Syakib seperti tahu apa yang Annisa tanyakan dalam pikirannya.
"Tidak apa-apa Syakib. Annisa juga ada uang," tolak Annisa dengan lembut.
"Anggap aja gue traktir mereka berdua. Lo gapapa kalau mau pergi. Biar gue yang pesan," ujar Syakib.
"Tidak, kok."
"Gapapa biar gue aja. Sekalian gue juga mau pesan."
"Terima kasih." Lalu Annisa melenggang pergi meninggalkan Syakib.
Syakib merasa iba kepada Annisa dan perempuan lainnya yang ditindas oleh Humaira dan temannya.
Syakib membawa nampan berisi tiga mangkuk dan tiga gelas lalu disimpan di meja Humaira dan Mita.
"Kenapa nangis?" tanya Syakib.
Humaira mendongak lalu menghapus sisa-sisa air mata di pipinya, "kenapa lo? Nisa mana?"
"Ada tugas. Lo kenapa nangis? Cerita sama gue." Ucapan Syakib membuat Humaira bertanya-tanya. Mengapa Syakib terlihat ingin sekali dekat dengannya? Padahal Humaira sama sekali tidak pernah meresponnya baik.
"Kepo lo!" jawab Mita.
"Ra, lo mau tau gak? Cara agar hidup kita jauh dari kesedihan? Jawabannya lo harus dekat dengan Allah maka Allah akan ngasih semua yang lo mau," terang Syakib.
Humaira mendengarkan, "serius lo? Tau dari mana?"
"Jangan didengerin, Ra. Gak penting," ketus Mita.
"Al-Qur’an. Allah sendiri yang ngasih tau dan Allah menjanjikan itu," jawab Syakib dan menghiraukan celotehan Mita.
"Gue gak yakin," jawab Humaira meragukan ucapan Syakib. Lalu ia menyendok makanan yang ada dihadapannya.
"Gimana lo bisa yakin kalau lo belum mencobanya?" tantang Syakib membuat Humaira menatap Syakib.
Mita memukul tangan Syakib, "eh! Lo gak usah hasutin orang deh. Lo kalau mau makan di sini diem!" bentak Mita yang merasa risih.
"Lo yakin semua kemauan gue Allah turuti?" tanya Humaira yang mulai tertarik dengan pembahasan Syakib kali ini.
"Janji Allah gak pernah ingkar, Ra. Bahkan Allah bisa memberi lebih dari yang lo minta. Allah itu tuhan, Dia punya segalanya," jawab Syakib.
"Gimana cara gue deketin Allah?" tanya Humaira kembali. Ia menjadi tidak fokus pada makanannya.
Mita menghentikan makannya, "lo gak usah dengerin dia bisa gak? Udah, kita udah terbiasa sama hidup kita yang sekarang. Gak perlu lo rubah. Orang tua lo aja gak pernah rubah apa-apa, kan? Hoax tuh yang dia omongin."
"Perlu dirubah Mit. Kita hidup sampai sekarang itu karena Allah masih memberi kita kesempatan untuk berubah jadi lebih baik," jelas Syakib meluruskan. Nada bicaranya begitu lembut dan tegas. Terdengar sangat tulus dan nyaman.
"Ceramahin yang lain aja deh, gak minat kita sama tawaran lo!" ucap Mita yang hendak bangkit dari duduknya.
"Lo hijrah, Ra," jawab Syakib atas pertanyaan Humaira beberapa menit yang lalu.
"Hijrah? Gimana caranya?" tanya Humaira membuat Mita mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi.
"Apaan sih, Ra! Lo inget kan nanti malem kita ada pesta minuman? Gak usah hijrah hijrah! Nanti lo terkekang," ucap Mita tidak terima.
"Islam tidak mengekang. Tapi, Islam itu melindungi, Mit," sahut Syakib lalu ia kembali menatap Humaira, "pertama lo niat untuk hijrah. Setelah itu gue akan tuntun lo, Ra. Gue gak akan menyerah sampai lo berada di jalan Allah."
Humaira tidak keras kepala seperti Mita. Ia bukan tipe orang yang malas mendengarkan tawaran seseorang. Dirinya mudah terbawa arus dan hanyut dalam tindakan.
Ia benar-benar masih labil dan tidak tau arah tujuan hidupnya. Siapapun yang membawanya berjalan ia pasti mengikutinya. Inilah alasan Syakib ingin membawa Humaira ke jalan yang lebih baik. Syakib tau bahwa saat ini Humaira hanya salah jalan dan tersesat.
Syakib juga tau bahwa ucapannya salah. Tidak seharusnya kita mendekatkan diri karena menginginkan sesuatu. Tapi, kita sebagai manusia diberi akal untuk berpikir. Mencari cara agar kita bisa berbuat baik.
Mungkin ucapan Syakib salah. Tapi, cara Syakib benar. Biarkan saja jika niat awal Humaira berhijrah untuk menggapai suatu keinginannya. Suatu saat, ia akan tau hijrah sesungguhnya tanpa mengharapkan apapun selain ridha Allah.