بــــــــــــــسم اللّــــــــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم
"Perhiasan terbaik seorang wanita adalah rasa malunya." - Fatimah binti Muhammad
•┈┈••••○○❁❁○○••••┈┈•
Disebuah rumah yang berbentuk minimalis namun megah terdapat sebuah keluarga dengan kepala keluarga yang bernama Hanan Abraham, ibu rumah tangga yang bernama Aini Aflansya, seorang kakak yang bernama Aisyah Arafah dan seorang adik sekaligus anak terakhir bernama Humaira Azzahra. Ia adalah seorang gadis cantik yang kini masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
"Umah, ayah, Rara pergi dulu ya,” pamit Humaira kepada kedua orang tuanya.
"Mau diantar nggak?" tawar Aisyah karena kebetulan ia pun akan pergi ke tempat kuliahnya.
"Nggak usah, gue udah dijemput sama Miko." Lalu Humaira melenggang pergi begitu saja tanpa mencium punggung tangan siapapun dan tanpa mengucap salam.
"Humaira! Biasakan mencium tangan orang yang lebih tua dan mengucap salam!” teriak Hanan. Namun, diabaikan oleh Humaira.
"Kamu masih berhubungan dengan Miko? Sudah umah tegaskan jangan kamu berhubungan dengan dia, dia itu membawa pengaruh buruk sama kamu!" teriak Aini. Namun, tetap diabaikan oleh Humaira yang kini sudah menaiki motor Miko -kekasihnya-
"Semangat nggak ke sekolah barunya?" tanya Miko memulai percakapan ketika perjalanan menuju sekolah baru Humaira.
"Nggak lah kan nggak ada kamu," ucapnya dengan manja seraya memeluk kekasihnya dengan erat.
Humaira turun dari motor Miko lalu pamit masuk ke sekolah barunya. Rok yang pendek, baju yang dikeluarkan serta berukuran kecil, tidak memakai dasi, rambut yang diberi warna merah, tas yang dijinjing, tidak memakai kaus kaki dan sepatu berwarna putih.
Humaira berjalan dengan santainya memasuki ruangan tata usaha untuk menanyakan kelas manakah yang ia masuki.
"Permisi." Humaira mengetuk pintu sambil masuk tanpa diberi perintah untuk masuk.
Ada seorang guru laki-laki dengan nametag bernama Ridwan yang sedang menatap layar komputer dan jari yang mengetik di keyboard.
"Pak, saya Humaira murid baru. Saya harus masuk ke kelas mana?" tanyanya tanpa sopan santun.
"Bicara dengan saya?" tanya pak Ridwan yang masih fokus kepada komputernya.
"Ya iyalah orang cuma ada bapak di sini."
"Buang waktu saya kalau saya harus memarahi dan menghukum kamu. Kelas sebelas IPS empat," ujar pak Ridwan sambil melihat daftar nama.
"Saya kesini nanyain kelas, nggak minta bapak buat marahin saya. Salam kenal pak panggil aja saya Rara," ucapnya lalu melenggang pergi tanpa permisi. Ia pun menyusuri koridor mencari kelas dua belas IPS empat.
"Kelas dua belas IPS empat di mana?" tanya Humaira to the point kepada siswi yang sedang berdiri mengobrol dengan temannya.
Siswi itu menatap sinis Humaira dari bawah hingga atas, "Murid baru?"
"Gue kesini nggak ajak lo kenalan, gue nanya kalau nggak mau jawab gue bisa nanya yang lain. Buang waktu!" Humaira melenggang pergi lalu menaiki tangga karena ketika ia menyusuri koridor tadi hanya kelas dua belas dan kemungkinan kelas sebelas di lantai dua.
Ketika Humaira menaiki tangga ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang baru saja turun dari lantai dua.
"Kelas dua belas IPS empat di mana?"
"Habis anak tangga itu kelas dua belas IPS satu sampingnya IPS dua terus aja nanti ada kelas dua belas IPS empat," jelas laki-laki itu. Tanpa berterima kasih Humaira melenggang pergi.
"Songong banget lo anak baru!" cibir laki-laki itu.
"Eh biasa aja dong!" Humaira menatap laki-laki itu.
"Lo anak baru penampilan kayak gitu, rambut merah bibir pake lipstick."
"Suka-suka gue, urusin aja hidup lo yang belum tentu benar ngapain ngurusin hidup orang."
"Yang penting gue udah ngurusin hidup gue."
"Yaudah! Orang tua gue aja nggak larang ngapain lo larang-larang?"
"Males gue ngomong sama lo."
"Yang ngajak adu omong duluan siapa," ucapnya sambil melangkah meninggalkan pergi.
Ketika Humaira melewati kelas dua belas IPS dua ada seorang perempuan yang menahannya dengan tatapan sinis, "anak baru lo?"
"Segitu pentingnya ya gue sebagai anak baru?"
"Nggak usah nyolot dong!"
"Lo duluan yang nyolot!"
"Ngajak ribut lo!"
Lalu Humaira dan perempuan yang bernama Citra itu beradu fisik dan untung ada seorang OSIS yang memisahkan mereka yang bernama Syakib.
Mereka dibawa ke dalam ruangan BK. Humaira mendapat hukuman karena hari pertamanya sudah membuat onar.
Hari pertama Humaira di sekolah barunya sudah mendapat pengalaman yang buruk. Namun, itu bukan suatu hal aneh untuk Humaira. Bahkan ia dikeluarkan dari sekolah lamanya karena terlalu sering singgah di ruangan BK.
Beberapa hari kemudian ia mulai terbiasa dengan teman sekelasnya. Ia sangat mudah bergaul. Bahkan ia sekaligus membuat seantero sekolah tunduk kepadanya terkecuali seorang murid kelas dua belas IPS dua yang bernama Citra.
"Nisa beliin gue rokok!" perintah Humaira kepada teman satu kelasnya yang bernama Annisa.
"Tapi-"
"Beliin atau gue tarik kerudung lo?" ancam Humaira kepada Annisa lalu Annisa pun membeli rokok untuk Humaira dengan uangnya.
Bukan Annisa takut kepada Humaira namun ia takut Humaira melepas kehormatannya yang selama ini ia jaga. Ia tidak mempunyai teman untuk membelanya. Dalam hati Annisa menegaskan ia ingin berteman dengan Humaira dan berjanji akan mengajaknya berhijrah!
Humaira selalu bolos pelajaran dan merokok di rooftop bersama temannya yang bernama Mita dan anak laki-laki yang nakal di sekolah itu. Humaira sering membuat keributan dengan siapapun bahkan baru beberapa minggu di sekolah barunya ia sudah sering mendapat surat panggilan untuk orang tua.
Humaira sering main fisik kepada siapapun yang tidak menuruti perintahnya termasuk Annisa.
Humaira sering pulang telat karena sering berkumpul dengan teman laki-lakinya. Setiap hari ia pulang malam. Ia tidak mematuhi perintah orang tuanya. Ia tidak pernah menghormati orang yang lebih tua darinya sekalipun orang tuanya. Ia selalu ingin ditunduki oleh siapapun.
Hari ini Humaira pergi menuju club malam bersama Miko dan tidak pulang membuat keluarganya khawatir. Ia sering bolos pergi bersama Miko. Ia sangat mencintai kekasihnya.
Humaira turun dari motor ninja hitam milik Miko. Pakaiannya sangat minim dengan make up yang tebal. Sepulang sekolah tadi Humaira meminjam baju Mita untuk ia pakai malam ini.
"Cantik banget," ujar Miko lalu mencium Humaira sekilas dan menggandengnya masuk ke dalam tempat maksiat tersebut.
Humaira dan Miko bersenang-senang di dalam serta meminum-minuman keras hingga Humaira kehilangan akal.
"Miko!" panggil seseorang dan Humaira menoleh. Ternyata yang memanggil kekasihnya adalah seorang perempuan.
"Ngapain lo di sini?" tanya Miko berbisik kepada perempuan itu.
"Kenapa lo selama ini gak bisa dihubungi?" tanya perempuan itu menggebu-gebu.
"Gue udah bilang kita putus," ujarnya berbisik.
"Gue hamil anak lo, Mik!" teriak perempuan itu dan terdengar jelas di telinga Humaira.