بــــــــــــــسم اللّــــــــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم
"satu langkah wanita keluar rumah tanpa menutup aurat, satu langkah pula ayahnya hampir masuk neraka. Satu langkah seorang istri keluar rumah tanpa menutup aurat, satu langkah suaminya hampir masuk neraka."
•┈┈••••○○❁❁○○••••┈┈•
Bel masuk kembali berbunyi. Namun, bukannya mengikuti pelajaran kelas, Humaira dan Mita malah kembali bolos di rooftop sekolah. Mereka sama sekali tidak memiliki rasa takut terhadap guru.
"Ra, lo ke rooftop sana nanti gue nyusul," titah Mita kepada Humaira.
"Eits, tunggu Ra! gue nitip ini." Mita memasukkan sesuatu ke dalam saku rok milik Humaira.
"Udah sana." Mita mendorong bahu Humaira.
Humaira berjalan menuju rooftop lalu duduk di kursi yang disediakan dan merogoh sakunya untuk mengambil barang tersebut.
"Rokok?" Humaira menatap bungkus rokok itu.
Udah lama gue gak ngerokok.
Tapi, gue kan mau mencoba hijrah.
Sekali gapapa kali ya.
Batin dan pikirannya terus bergelut dan akhirnya ia memilih mengikuti pikirannya. Ia mengambil satu batang rokok di sana dan membakarnya. Saat ia ingin menghisap ada seseorang yang datang dari pintu rooftop.
"Humaira!" bentak seseorang itu, tanpa menoleh Humaira sudah tahu siapa yang memanggilnya karena hanya seseorang itu yang memanggil dirinya 'Humaira' di sekolah.
"Syakib?" sontak Humaira sangat terkejut karena laki-laki yang membimbingnya untuk berhijrah. mengetahui hal buruk yang sedang Humaira lakukan. Syakib merebut batang rokok itu lalu menginjaknya dan menyeret Humaira menuju kelas.
"Duduk Humaira!" titah Syakib dengan tegas.
"Beberapa menit yang lalu lo bilang lo mau hijrah! tapi apa? lo lupa?"
"Hijrah itu memang mudah tapi yang susah itu istiqomah, kan? lagi pula gue gak tau cara mulainya dari mana dan gimana," ucap Humaira dengan nada yang terdengar kesal.
"Tergantung niat, Ra."
"Susah. Gak semudah lo larang-larang gue!" bentak Humaira.
"Gue tanya sama lo! lo tetap mau di jalan ini?" tanya Syakib dengan tegas.
Humaira tampak berpikir. Ia tidak ingin melakukan hijrah. Tapi, ia juga ingin mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Yaitu mantan kekasihnya, Miko.
"Gue bakalan coba," ujar Humaira.
"Kalau gitu lo siap besok datang ke sekolah pakai rok dan baju yang panjang lalu pakai hijab tanpa lilitan?" tanya Syakib.
"Hah? Gue? Pakai baju kayak gitu? Gak waras ya lo!" tolak Humaira mentah-mentah.
"Lo menuntut Allah untuk memenuhi permintaan lo tapi lo gak mau mengikuti ajaran-Nya?" tanya Syakib membuat Humaira kembali terdiam mencari jawaban.
"Oke, gue turuti kemauan lo."
"Kemauan gue? Ini kemauan Allah, Ra. Allah yang memberi ajaran seperti ini," terang Syakib membenarkan.
Humaira membuang nafasnya gusar, "kemauan siapapun itu bakalan gue lakuin demi Miko."
"Gue akan beri tau caranya gimana lo bisa dapetin hati Miko," ujar Syakib membuat mata Humaira berbinar-binar, "lo serius?"
"Ya. Asalkan lo hijrah."
"Gue janji. Makasih, Syakib! Lo baik banget!" Humaira hendak memeluk Syakib namun Syakib antusias menjauh.
Gue akan merubah segalanya, Ra. Gue akan memberi tau hijrah sesungguhnya. Perlahan namun pasti.
-----
"Rara pulang!" teriak Humaira sambil membuka sepatu yang melekat di kakinya.
"Ucap salam, Humaira!" protes Aini yang berada di dapur bersama Aisyah.
"Umah." Humaira berlari menuju Aini dan melemparkan tasnya kesembarang arah.
"Ada apa?" tanya Aini setenang mungkin.
"Umah, Rara boleh minta sesuatu nggak?" tanya Humaira sembari memeluk tangan kiri Aini.
"Minta apa, nak?" tanya Aini. Ia memang selalu dibuat kesal oleh Humaira. Tapi, bagaimanapun Humaira adalah anaknya. Ia selalu luluh setiap kali Humaira bermanja padanya.
"Rara mau minta belikan baju seragam sekolah, umah," ujar Humaira.
"Seragam kamu masih bagus, Ra!" protes Aisyah sambil memainkan handphone miliknya.
"Rara minta belikan seragam yang pan...jang, umah," ucap Humaira dengan perlahan seraya menyengir kuda menunjukkan deretan giginya.
"Untuk apa Humaira? kamu sekolah tinggal beberapa bulan lagi. Lagi pula di sekolah kamu itu nggak ada yang pakai seragam panjang."
"Ada, kok. Sama beli hijabnya ya?"
"Nggak bisa Humaira! sekolah itu dulu sudah menjelaskan tidak boleh pakai panjang dan berhijab dan kamu menyetujuinya."
"Ada, umah!" bentak Humaira seraya melepas kasar tangan Aini dari pelukannya.
"Berani kamu bentak umah Humaira!" Aisyah bangun dari duduknya dan menatap Humaira.
Humaira berdecak, "Maaf, umah. Tapi, Rara mau pakai itu, izinkan ya?"
"Dulu kamu ingin sekali masuk sekolah itu. ayah kamu sampai bekerja keras hingga pulang malam demi menuruti permintaan anaknya. Sekarang kamu malah sering membuat ulah dan sekarang kamu mau melanggar peraturan sekolah. Gimana kalau sampai dikeluarkan?" cerocos Aini. Humaira mengumpat dalam hatinya karena kesal kepada Aini.
"Ya gapapa melanggar aturan sekolah demi melaksanakan perintah Allah," ucap Humaira dengan tatapan polosnya.
-----
Handphone Humaira berbunyi menandakan notifikasi masuk. Dahi Humaira berkerut menandakan ia sedang kebingungan.
Syakib
Jangan lupa wudhu Humaira, baca surah Al-Falaq, An-nas dan Al-fatihah sebanyak tiga kali sebelum tidur.
"Lo tuh kenapa sih? Kenapa niat banget buat bimbing gue hijrah? Kenapa gak Mita atau perempuan lainnya? Kenapa harus gue? Apa karena lo suka sama gue?" monolog Humaira.
Humaira mencoba mengikuti apa yang Syakib perintahkan. Rasanya terakhir kali ia membaca surah Al-Qur'an waktu ia sekolah agama pada umur sepuluh tahun yang lalu.
Menurutnya hijrah adalah cara agar Allah menuruti semua permintaannya. Bukan Syakib mengajarkan yang tidak benar. Tapi, Syakib menuntun Humaira pelan-pelan. Jika Humaira sudah menjalaninya, Humaira pasti tau apa itu hijrah yang sesungguhnya.
-----
Pintu kamar Humaira diketuk beberapa kali membuat Humaira nyaring dari tidurnya. Ia berjalan gontai dan membuka pintu dengan malas.
"Nih!" Aisyah menyodorkan sebuah paper bag.
"Apaan ini?" tanya Humaira seraya membuka paper bag tersebut. "Seragam sekolah?" tanya Humaira dan Aisyah hanya bergumam saja.
"Lo kemarin minta, kan? Sampai bentak umah!"
"Oh. Makasih!" lalu Humaira kembali menutup pintu kamarnya. Ia membuka paper bag tersebut.
Sebuah seragam sekolah yang besar dan panjang. Seragam semula yang serba mini kini seragam yang sekarang hampir menutupi seluruh tubuhnya yang mungil. Ditambah dengan hijab yang besar.
"Perasaan gue gak minta seragam ukuran gede."
Setelah membersihkan diri. Humaira mengenakan seragam barunya. Ia sedikit kesusahan berjalan karena pertama kali menggunakan rok panjang.
"Rara kan gak minta seragamnya besar," protesnya saat berjalan menghampiri keluarganya yang sedang sarapan.
"Loh, katanya sedang melaksanakan perintah Allah. Allah mengajarkan menutup aurat, bukan membungkus. Jadi buat apa panjang kalau sempit?" celoteh Aisyah.
"Ikut campur mulu lo!"
Pada pukul 07.00 wib Humaira berangkat menuju sekolah. Ia tidak yakin mengenakan pakaian yang sekarang. Seorang bad girl seperti dirinya apa tidak malu secara tiba-tiba memakai baju seragam syar'i?
Tidak apa-apa, demi Miko!
Itulah prinsipnya saat ini.
"Rara!" teriak Mita saat melihat sahabatnya memakai pakaian aneh.
"Ra! Lo diomongin di kantin. Lo nurunin derajat banget pakai baju kayak gini. Lo udah gak mau ditakutin sama seantero sekolah lagi?" tanya temannya yang lain. Humaira terdiam tampak berpikir.