setelah mendengar nama santika , pak Sugondo termenung di ruang pribadi nya seorang diri, ia membuka laci meja kerja nya terdapat sebuah kotak berwarna merah beludru ia buka perlahan, di dalam nya ad a sebuah lembar foto dan salah satunya terdapat gambar dua orang anak perempuan saling berpelukan dengan senyum lebar nya.
ia memperhatikan dengan seksama foto tersebut
'apa kah benar dia anak ini, aku harus cari tahu jika memang dia ' gumam pak Sugondo sambil memandang lekat foto di tangan nya.
ia pun menyimpan kembali kotak tersebut di laci kerja nya, setelah nya ia keluar dari ruangan menuju halaman dan bergegas mengendarai mobil nya, beberapa penjaga pun tak di hiraukan nya, ia hanya melambai kan tangan nya untuk tidak mengikuti nya.
ia pacu dengan cepat kendaraan roda empat miliknya membelah jalan, cukup satu jam ia pun sampai di tujuan.
di sebuah rumah sakit jiwa mobil tersebut terparkir rapih di halaman, ia pun segera memasuki rumah sakit tersebut, terlihat beberapa perawat jaga sedang berlalu lalang.
"maaf pak ada yang bisa saya bantu? " tanya perawat tersebut.
"saya ingin bertemu sari, hanya sebentar saja bisa??" tanya pak Sugondo dengan tergesa-gesa
"tapi ini sudah malam pak, pasien sedang istirahat dan sangat di larang bagi pengunjung untuk datang malam hari" ujar perawat tersebut.
"saya paham bu tapi ini sungguh mendesak, hanya sebentar saja saya berjanji" paksa pak Sugondo.
"baiklah saya hanya memberikan waktu beberapa menit, sehabis itu pasien harus istirahat kembali, mari saya antar" ujar perawat tersebut dan mengantar pak Sugondo ke ruangan yang di inginkan.
tak lama mereka pun sampai di depan ruangan yang di tuju, disana ada satu penjagaan khusus untuk ruangan tersebut, penjaga pun menghampiri perawat itu dan bertanya, setelah di jelaskan akhirnya di berikan izin sementara untuk mengunjungi sari.
sari terbaring di ranjang sempit rumah sakit jiwa, dengan di pasangkan tali pengikat pada kedua tangan nya dan juga kaki nya, pak Sugondo menatap sendu ke arah nya, namun apa boleh buat itu semua demi kebaikan nya.
"maaf pak kami terpaksa memasang tali ini sebab pasien sering mengamuk dan juga kami masih sering memberikan obat penenang, saat ini pasien semakin sering mengamuk entah apa penyebab nya dan hal itu lah yang membuat kami kesulitan untuk berkomunikasi dengan nya, saya harap bapak bisa memaklumi keadaan nya " ungkap perawat tersebut yang menjelaskan keadaan sari.
pak Sugondo mengangguk paham meski tatapan nya tak dapat di bohongi, ia terasa nyeri di d**a melihat sari harus dengan kondisi yang terikat, sungguh berbeda jauh saat sebelum ia berada di tempat ini.
"baiklah saya paham, apa boleh saya bangunkan dia semoga saja dia bisa mengenali saya dengan baik, saya berjanji akan bertanggung jawab atas pasien" ujar pak Sugondo.
"saya akan coba tapi saya minta tolong pada bapak untuk, bertanggung jawab setelah ini pada atasan saya, karena bagaimana pun kondisi pasien masih tanggung jawab rumah sakit ini" sahut perawat tersebut dan berjalan mendekat ke arah sari, ia mengusap wajah sari sambil menyebut nama nya lembut dan berharap mendapat respon baik dari sari.
"sari... cantiiik bangun yuk ada yang ingin bertemu" ucap perawat tersebut dengan hati-hati.
tak lama sari pun membuka mata nya dengan terkejut ia berusaha menarik tangan nya dengan mengguncang tubuh nya namun tak dapat juga terlepas, sari tampak ketakutan melihat perawat di depan nya.
hingga kemudian pak Sugondo mendekat ke arah nya sambil mengusap lengan sari lembut, mata nya berkaca-kaca melihat kondisi sari.
"sari ini om nak masih ingat kan sama om teman mama dan papa mu" ujar pak Sugondo lembut
seakan terhipnotis, sari melihat ke arah Sugondo dan terdiam, ketika Sugondo menyebutkan kata mama dan papa sari kembali teringat dengan kedua orang tua nya, dengan spontan ia memanggil mama nya.
"mama... mamaaaaa " teriak sari
"ssstttt sari jangan teriak ya nak, sari mau ketemu mama" tanya Sugondo.
sari mengangguk cepat dan kembali menyebutkan kata mama "mau mau mau mama mana mama" jawab sari dengan berbinar.
Sugondo tersenyum lega kala melihat sari sudah sedikit tenang dan tidak bergaduh lagi, ia pun meminta perawat tersebut untuk menunggu nya di luar sebentar sebab ia ingin berkomunikasi dengan sari dari hati ke hati.
perawat tersebut pun memberikan waktu pada Sugondo, dan berlalu meninggal kan nya Sugondo duduk di sisi ranjang sari sambil memegang lembut tangan sari dan menatap lekat ke arah nya.
"sari kau harus segera sembuh nak, adik mu masih hidup dan kau harus bertemu dengan nya" ujar Sugondo lembut.
"sari kau ingin bertemu mama kan, kalau mau bertemu mama sari harus sembuh ya nak " lanjut Sugondo.
sari tampak cuek namun mendengar kan baik-baik ucapan Sugondo, mata sari menatap ke arah pintu yang sudah tertutup rapat, ia pun menyelipkan salah satu tangan nya ke sisi ranjang, ia menyerah kan selembar kertas ke Sugondo sambil tersenyum dan mengangguk seakan memeberikan isyarat agar Sugondo tidak bicara kala mengetahui jika sari hanya lah berpura-pura gila.
"apa ini, jadi benar kamu sudah sembuh nak" bisik Sugondo.
sari hanya tersenyum dan berbisik pada Sugondo untuk tidak bercerita pada siapa pun termasuk para perawat di rumah sakit tersebut.
"jangan bilang siapa pun om, nanti baca saja ketika om sudah pulang dan jangan bilang pada perawat atau siapa pun di rumah sakit ini kalau aku baik-baik saja" bisik sari.
Sugondo paham ia pun segera memasukan kertas tersebut ke dalam saku celana nya, setelah nya ia pun pamit pada sari dan seperti biasa sari kembali berpura-pura gila.
Sugondo pun segera keluar dari ruangan sari dan menemui perawat tadi , ia pun segera berlalu dari rumah sakit tersebut dan kembali ke rumah nya.
dengan langkah tergesa ia segera memasuki rumah nya dan menuju ke ruang pribadi nya tanpa memperdulikan beberapa penjaga yang menyimpan banyak tanya tentang kepergian nya.
ia membuka lembaran kertas yang di berikan sari, alangkah terkejutnya ia kala mengetahui isi pesan tersebut, ia tampak marah tangan nya terkepal hingga urat-urat otot nya terlihat, meski usia nya sudah terbilang tua tapi ia tetap menjaga postur tubuhnya dengan berlatih hingga otot nya terbentuk sempurna.
'kurang ajaarrrr, lihat saja kalian pasti habis di tangan ku' gumam Sugondo geram.