suasana pagi hari sangat cerah, di kediaman santika mereka di sibukan dengan rutinitas rutin setiap hari nya, setelah kembali dari rumah sakit santika kembali menjalani aktivitas nya seperti biasa ia disibukan dengan mengurus tanaman di halaman rumah nya , ia memilah milah daun daun yang telah tua dan memangkas sedikit tanaman yang sudah liar.
bibi santika kembali pada pekerjaan nya sebagai pemimpin pengganti perusahaan keluarga santika, sedangkan paman nya memiliki sebuah pondok untuk anak-anak berlatih bela diri.
santika tidak masalah jika perusahaan orang tua nya di urus oleh bibi nya, sebab tiap tahun nya ia melihat laporan kerja bibi nya dan juga perkembangan perusahaan yang cukup bagus bahkan menaik dengan pesat, ia memang tak berminat mengelola bisnis orang tua nya yang di bidang fashion, ia lebih tertarik dengan tanaman hias.
bibi nya sudah berkali-kali meminta santika untuk melanjutkan bisnis orang tua nya namun santika selalu menolak, dengan alasan tak tertarik dengan dunia fashion, meski begitu bibi nya tak pernah sedikit pun melakukan pelanggaran pada perusahaan orang tua santika, ia tetap menjaga amanah tersebut dengan baik.
santika masih asik bermain dengan tanaman hias nya dan memilih beberapa bunga yang akan ia tempatkan pada sebuah guci untuk di pajang di kamar nya.
tak lama ia dikejutkan dengan kedatangan Lukman beserta ayah nya.
"selamat pagi santika, apa kabar" tegur Lukman dengan senyuman yang mengembang manis.
santika menyambut nya dengan bahagia dan segera menghampiri Lukman, ia melihat ke sisi Lukman ada pria baya berdiri dengan tegap menggunakan setelan yang sepadan, cukup menarik untuk pria seusia nya.
Lukman segera mengenalkan santika pada ayah nya.
"perkenalkan ini ayahku, dia mengajak ku ingin bertemu dengan mu" ujar Lukman dan memperkenalkan ayah nya pada santika.
Sugondo tampak bahagia mengulurkan tangan nya pada santika untuk berjabat, santika mencium tangan Sugondo sebagai memberikan hormat.
"santika om, oh ya mari masuk maaf halaman ku sedikit berantakan sebab aku sedang memilih bunga" ujar santika dan mempersilahkan kedua tamu nya untuk menunggu di ruang tamu sementara dirinya membuatkan jamuan di dapur.
tak lama sebuah nampan berisikan tiga gelas minuman dan juga camilan telah di sajikan oleh santika, ia pun duduk di hadapan kedua tamunya.
" maaf hanya ini saja yang bisa ku berikan, mari silahkan cicipi jangan sungkan" ujar santika lembut.
"tidak apa, maaf kami sudah merepotkan mu datang sepagi ini" sahut Sugondo yang merasa sungkan.
"jangan sungkan om, oh iya ada apa ya datang tiba-tiba seperti ini " tanya santika.
"ah tidak apa-apa nak saya hanya ingin tahu saja seperti apa wanita yang sudah di tolong oleh anak ku ini, selama ini dia tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun, dan begitu aku mengetahui jika dia telah menolong seorang wanita makanya membuat ku penasaran, rupanya cantik juga " sahut Sugondo dengan tersenyum ramah.
santika tampak merona ketika mendengar pujian dari Sugondo, sedangkan Lukman tampak kikuk dan memalingkan wajahnya .
"hmm san,, kemana paman dan bibimu kok aku tidak lihat ya" tanya Lukman memecahkan kecanggungan.
"oh ya paman sedang di padepokan ia mengajar disana, sedangkan bibi di kantor mungkin sore hari mereka sudah kembali, apa ada perlu dengan nya biar nanti aku sampaikan" sahut santika.
"ah tidak aku hanya ingin bertemu dengan mu sekaligus mengundang mu makan malam nanti, dan itu usul ayah ku kalau kamu tidak keberatan jam 7 malam aku jemput sekalian aku izin pada paman dan bibimu" ujar Lukman dan menjelaskan maksud dan tujuan nya.
di tengah perbincangan hangat antara Lukman dan santika serta Sugondo tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara kaca pecah dari arah dapur, mereka pun menghentikan obrolan nya dan bergegas menuju suara.
terlihat kaca dapur yang mengarah ke halaman belakang telah pecah berserakan dan ada sebuah batu terbungkus kertas, santika segera meraih nya dan membuka lembar kertas tersebut.
terlihat sebuah tulisan besar bertinta merah, ia tampak geram dan meremas kertas tersebut dengan erat, nafas nya memburu seakan menahan amarah.
Lukman segera merebut kertas tersebut dan melihat nya, Sugondo pun tak lepas dari penasaran setelah melihat isi dari tulisan itu santika pun meminta pelayan nya untuk membereskan pecahan kaca tersebut.
mereka bertiga kembali ke ruang tamu dengan perasaan masing-masing, namun Lukman dan Sugondo menyimpan banyak tanya.
setelah keadaan tenang, Sugondo pun bertanya.
"apa kamu memiliki musuh nak" tanya Sugondo.
santika menatap lurus kedepan dan setelahnya memandang sugondo
"entah lah om tapi aku yakin ini semua ad hubungan nya dengan orang tua ku, selama ini aku memburu mereka namun belum juga mendapat titik terang, bahkan paman dan bibiku saja seolah menutupi segalanya, entah harus dari mana lagi aku mulai mencari nya dan memulai nya, tapi aku tidak akan putus asa, aku harus dapat jawaban nya" sahut santika dengan menggebu-gebu.
"kami akan bantu, nanti malam kau persiapkan diri mu, Lukman akan menjemput mu tenang saja om tidak akan memanfaatkan mu " ujar Sugondo meyakinkan santika.
"iya san, kami akan membantu mu percaya lah " lanjut Lukman yang berusaha meyakinkan santika.
santika pun mengangguk mantap. setelah nya mereka pamit dan tak lupa memastikan kembali pada santika.
.
.
.
malam pun tiba Lukman telah tiba di rumah santika dan tengah berbincang sambil meminta izin pada paman dan bibi nya untuk membawa santika keluar makan malam.
tak lama santika keluar dari kamar dan menemui Lukman yang telah menunggu nya di ruang tamu, semua mata tertuju pada nya.
santika tampak anggun dengan memakai dress selutut berwarna biru muda dengan rambut terurai rapih , ia pun mengenakan heels untuk memadu padan kan dengan dress nya, meski tampak santai penampilan nya namun tetap elegan dan sempurna tampilan nya malam ini.
Lukman tampak terpesona sehingga tatapan nya tak luput dari santika yang berjalan anggun ke arah nya.
"sudah siap" tanya santika yang membuyarkan lamunan mereka pada nya.
"e-eeh cantik nya anak gadis bibi mau kemana neng" puji bibi santika sambil mengusap rambut nya yang tergerai panjang.
santika tersipu mendengar pujian bibinya.
"iya kamu cantik banget neng mau kemana sih!! " lanjut paman nya yang tak kalah heboh melihat penampilan santika malam ini.
sedangkan Lukman masih terpaku melihat santika di hadapan nya tanpa menggubris kehebohan di sisi nya yang memuji kecantikan santika saat ini.
puk!!!
"ehh maaf aku jadi melamun, kamu cantik banget " ujar Lukman yang terkejut.
gelak tawa pun menghiasi ruangan tamu malam itu.
mereka pun segera pamit dan bergegas pergi ke tempat yang telah di tuju.