suasana Haru memenuhi ruang tamu santika atas kepulangan nya, Lukman merasa hangat bisa berada ditengah keluarga santika meskipun bukan bersama kedua orang tua nya santika beserta lainnya mampu menjaga keharmonisan keluarga.
terasa rindu hati Lukman terhadap ibu kandung nya yang telah lama tiada, meskipun masih ada sosok ayah di sisi nya namun kenangan indah terhadap ibu nya tak mampu menghapus atau menggantikan nya dengan apapun.
santika memperhatikan Lukman dari kejauhan, ia tampak murung bahkan sempat menitikan air matanya tertunduk.
"kamu kenapa mas? " tanya santika lembut yang menyentuh bahu Lukman.
"oh emmhhh aku tidak apa-apa aku tidak apa-apa sungguh, maaf aku jadi terharu saja melihat kedekatan kalian sekeluarga" kilat Lukman yang berusaha menutupi kesedihan nya.
bibi santika merasakan Lukman menyimpan kelukaan serta kesedihan, ia pun berpindah posisi ke sisi Lukman dengan merangkul nya dan mengusap kepala Lukman lembut dan penuh kehangatan seorang ibu.
"jangan malu, ungkap kan saja apa yang menjadi beban hati mu nak Lukman, anggap lah kami juga keluarga mu, dan anggap lah bibi adalah ibu mu mau ibu peluk nak? " ungkap bibi santika penuh perhatian terhadap Lukman.
seakan mendapatkan undian berhadiah Lukman menghambur pada bibi santika, tubuhnya bergunjang hebat, ia tumpah segala sedih serta sakit yang selama ini ia pendam, rasa rindu nya terhadap sang ibu tak dapat lagi terbendung, ia peluk erat wanita yang rela menjadikan nya bahu sebagai ibu pengganti di hadapan nya, meskipun rasa itu berbeda namun keikhlasan seseorang mampu mengalahkan segala ego yang terpendam.
"aku sangat merindukan ibuku sangaaatt sangaat merindukan nya,, telah lama aku pendam rasa ini seorang diri setelah kepergian nya" ungkap Lukman dengan kesedihan yang dirasanya.
bibi santika mengeratkan pelukan nya sambil mengusap punggung Lukman lembut, begitu pun santika serta paman nya, mereka memeluk Lukman dengan hangat seakan memberikan nya kekuatan yang mungkin selama ini telah hilang selamanya dari kehidupan nya.
"terima kasih kalian sudah berbaik hati padaku, jujur harta ayah ku banyak tapi tak mampu memberikan sesuatu yang selama ini telah hilang dari ku, sesuatu yang sangat amat aku rindukan, saat ini aku sudah semangat kembali seakan aku telah lahir kembali, terima kasih atas hari ini dan aku harap kalian tetap mau menjadi keluarga ku selamanya " ungkap Lukman.
mereka mengangguk dan saling menggenggam satu sama lain nya untuk saling memberikan kekuatan.
kepulangan santika memang lah membuat Haru sekaligus membuat perasaan yang hilang kembali menghangat.
.
.
.
di kediaman Lukman, ayah nya dengan wajah ketat dan tegas memandang Lukman tajam.
"sudah selesai urusan mu" tanya ayah Lukman dengan intonasi penekanan.
"sudah yah, maaf aku lalai dalam tugas ku tapi aku janji setelah ini aku akan kembali bertugas sesuai arahan ayah" jawab Lukman malas.
entah ada angin apa Lukman berani mendekat kan diri nya pada ayah nya yang terkenal dingin dan keras semenjak kematian ibu nya, ia berlutut di hadapan ayah nya serta memeluk ayah nya.
"aku rindu kita yang dulu ayah, aku merindukan semua hal yang kita lalui bersama saat ibu masih bersama kita, sekarang aku kehilangan kedua nya aku mohon kembali lah menghangat ayah aku sungguh merindukan mu, jangan kau buat aku sebagai anak yang kehilangan segala arah tujuan ku pulang, ibu telah tiada dan saat ini yang ku punya hanyalah ayah, aku mohon ayah lupakan sejenak dendam kita aku ingin kau yang dulu ayah aku mohon " ungkap Lukman setulus hati
tangis Lukman pecah di pelukan ayah nya yang selama ini tak terlalu memperdulikan nya lagi, semenjak tragedi lalu yang menewaskan ibunda nya.
sang ayah pun luluh bagaimana pun Lukman masih anak kandung nya, anak satu-satunya hasil buah cinta nya bersama almarhumah istrinya, dengan lembut ia mengangkat bahu Lukman dan menatap dalam wajah nya, wajah Lukman yang mewarisi mendiang istri nya ia tatap lekat dengan penuh cinta, seakan memori lama tumbuh di ingatan nya, di kecup nya kening Lukman sebagai tanda cinta seorang ayah terhadap anak nya.
ia pun menyadari bahwasanya ia telah lama tak memperdulikan anak semata wayang nya, sebab di hati nya hanya lah dendam pada seseorang yang telah menghancurkan keluarga nya bahkan dengan tega merenggut nyawa bidadari nya satu-satunya wanita yang sangat ia cintai, hingga ia lupa bahwa ia masih memiliki tanggung jawab sebagai seorang ayah.
"maafkan ayah, mungkin kejadian lalu telah membutakan mata ayah nak tapi ayah janji kita akan memulai lagi seperti dulu saat kita masih bersama ibumu, kekasih ayah satu-satunya setelah semua ini selesai" ujar ayah Lukman.
"baiklah bapak Sugondo yang terhormat maafkan jua anak mu ini yang terlalu melow karena merindukan istri mu yaitu mamak ku hehe, marilah kita bersama lagi menuntaskan misi kita" sahut Lukman yang telah kembali bersemangat.
tawa bahagia pun pecah setelah adegan sedih melewati mereka berdua, kini mereka memilih berbincang hangat dan saling bertukar saran ataupun cerita yang telah mereka lalui saat waktu tak bersama.
"oh ya teringat ayah kau menolong seorang wanita? bagaimana keadaan nya nak, apa sudah baikkan" tanya pak Sugondo.
"sudah yah, tadi aku pun mengantar nya sampai di rumah dan bertemu dengan keluarga nya tapi sayang, dia anak yatim piatu sampai saat ini dia tak tau dimana keberadaan kedua orang tua nya, dia hanya di asuh oleh paman dan bibinya" sahut Lukman.
"memang kemana kedua orang tua nya, apa tidak kamu tanya, yahh!!! siapa tahu ayah mengenal nya" ungkap pak Sugondo.
"aku sih!! belum bertanya lebih banyak tentang hal pribadi nya takut menganggu fikiran nya tapi nanti aku coba untuk cari tahu yang penting aku sudah tahu di mana dia tinggal, dan ayah tahu paman nya seperti bukan orang asing bagi ku tapi aku lupa siapa dia" ungkap Lukman sambil mengingat.
"kau cari tahu, dan kalau bisa bawa wanita itu kesini oh ya siapa nama wanita itu" tanya pak Sugondo.
"santika namanya" sahut Lukman.
"SANTIKAAAA??? " kejut pak Sugondo.
"apa kau yakin wanita itu bernama santika" lanjut pak Sugondo.
"i-iya aku yakin sekali kenapa memang nya, apa ayah mengenal nya" tanya Lukman heran.
pak Sugondo tampak berfikir, nama tersebut seakan tak asing di dengar nya, ia mengingat pada seseorang di masa lalu entah suatu kebetulan ataupun tidak tapi yang pasti ia akan mengetahui nya cepat atau lambat.