Cukup lama Diana mematung sambil berpikir. Ia tidak sanggup jika ayahnya sampai tidak bisa tertolong kali ini. Tapi menjadi seorang simpanan? Itu bukanlah pekerjaan yang terhormat.
Diana menggigit kecil bibirnya, menahan gelisah dan juga rasa memberontak di dalam hatinya. Tidak ada pilihan yang bisa membuatnya nyaman sedikit saja. Sungguh sulit baginya.
Jika menolak maka ia tidak akan tahu lagi nasib ayahnya akan seperti apa. Sekalipun ayahnya harus pergi pun juga dia akan kesusahan melunasi biaya rumah sakitnya. Siapa lagi yang akan mau meminjaminya uang? Aira, sahabatnya pun juga tidak akan bisa lagi meminjaminya.
Liona?
Hah, jangan diharapkan. Untuk makan saja dia bergantung padanya. Ibu tirinya apalagi, wanita itu tidak akan mau repot-repot memikirkan biaya rumah sakit itu.
Tapi jika menyetujui menjadi simpanan lelaki m***m ini, lalu bagaimana dengan harga dirinya? Apa yang akan orang katakan tentangnya.
"Bagaimana?" Suara seorang lelaki yang berada dibelakangnya membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Aku ... aku ...." Memutar badannya menghadap Raymond. Diana tak sanggup rasanya. Kenapa hidupnya begitu hancur seperti ini. Apakah dimasa lalu dia pernah membuat salah sehingga mendapat karma di kehidupan sekarang ini?
Ia menatap nanar kearah pria dihadapannya yang tubuhnya lebih tinggi darinya. Bibirnya bergetar menahan rasa sesak di dalam dadanya.
Apa? Apa lagi Diana? Apa lagi yang kau pertahankan? Harga dirimu bahkan sudah hancur ditangan lelaki ini. Kegadisan mu sudah sirna sejak semalam. Mungkin menjadi simpanannya juga bukan sesuatu yang buruk.
Diana merasa hampir frustasi rasanya.
"Bagaimana? Kau setuju?" tanya Raymond seraya menatap dalam pada mata Diana yang terlapisi kaca.
Wanita itu mengangguk seiring dengan tumpahnya bulir demi bulir air matanya.
"Bagus! Seharusnya seperti itu." Raymond mendekat dan merapatkan tubuh mereka. Meraih dagu Diana dengan lembut lalu melumat bibir mungil miliknya. Tidak ada balasan, namun Raymond merasa senang karena pada akhirnya ia bisa mengikat rubah kecil temuannya.
"Tanda tangani ini!" Lelaki tampan itu menyodorkan map berisi kertas perjanjian tadi. "Kau boleh membacanya dulu."
Sementara Diana dengan pasrah menerimanya. Ia membuka perlahan map itu membaca satu persatu poin perjanjian yang tertulis disana. Dirinya sebagai pihak kedua sedangkan Raymond adalah pihak pertama.
Poin-poin perjanjian.
1. Pihak pertama memiliki hak penuh atas seluruh waktu dari pihak kedua.
2. Pihak kedua tidak memiliki hak untuk menolak apapun yang dikatakan oleh pihak pertama.
3. Selama perjanjian ini masih berlaku, pihak kedua harus tinggal di kediaman pihak pertama.
4. Pihak kedua tidak berhak mencampuri urusan pribadi dari pihak pertama. Sementara pihak pertama sebagai pembuat keputusan berhak mengatur urusan pribadi pihak kedua.
5. Selama perjanjian berlaku, segala kebutuhan pihak kedua akan dicukupi sepenuhnya oleh pihak pertama.
"Apa tidak ada poin yang lebih memberatkan ku lagi?" tanya Diana usai membaca poin demi poin perjanjian itu.
"Memberatkan? Oh ayolah, Diana. Bukankah tidak ada hal yang lebih penting dari pada kesembuhan ayahmu?"
"Aku tahu. Ini, terserah kau akan buat seperti apa." Diana membubuhkan tanda tangannya secara asal dan menyodorkan map itu dengan kasar pada Raymond.
Lelaki itu tersenyum miring. Tidak peduli suasana hati Diana seperti apa sekarang. Yang penting baginya ia bisa mengikat gadis itu dalam sebuah perjanjian. Raymond sudah terlanjur ketagihan akan tubuh Diana. Ia terus terbayang rintihan, desahan dan wajah sayu nan polos milik Diana.
"Ikut aku sekarang!"
Tangan Diana ditarik begitu saja oleh Raymond. Ia menyerahkan Diana pada pelayan dan menyuruhnya untuk membersihkan tubuh gadis itu.
Diana hanya pasrah. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun harus bagaimana lagi, ia sudah terlanjur menandatangani kertas perjanjian sialan itu.
***
Lebih parah dari semalam, Diana kali ini justru disuruh memakai lingerie yang membuatnya nampak begitu seksi. Wajahnya dipulas tipis dengan bibir berwarna merah jambu.
Ia duduk menghadap jendela, menatap burung-burung yang terbang bebas melintas di udara.
Betapa senangnya mereka, bisa terbang bebas dan tidak perlu memikirkan beban hidup seperti manusia.
Ceklek ...
Pintu kamar Diana terbuka. Ia tidak menoleh sama sekali karena ia tahu itu pasti Raymond.
Diana Pov
Langkah kaki itu terdengar semakin mendekat kearah ku. Aku tidak peduli! Hidupku sudah hancur. Tidak ada lagi yang perlu ku pertahankan. Hari ini aku memulai hidupku dipenjara. Ya, penjara milik Raymond yang dibangun secara mewah ini.
Tidak tahu apa dosaku hingga bertemu manusia m***m sepertinya. Dan parahnya, aku menyerahkan diriku padanya.
Demi ayahku? Pantaskah alasan itu ku gunakan?
Kurasakan tangan kekar lelaki itu melingkar di pinggangku. Dengan tidak tahu malu ia menciumi pipiku dan melumat bibirku.
Sungguh diriku sudah seperti p*****r sekarang. Melayani lelaki hanya untuk uang.
Tapi yang ku benci adalah respon tubuhku. Sentuhan Raymond membuatku gelisah. Tangannya terus bermain di dadaku dan bibirnya terus memagut bibirku.
Hingga tak sadar aku sudah berbaring di atas ranjang empuk ini. Tangan Raymond terus menyusuri tubuhku dan bermain di area sensitif ku. Ia memainkan benda kecil yang terselip diantara miss v ku.
"Ehm ...." Aku tak bisa mengontrol diriku untuk tidak merespon atas apa yang Raymond lakukan saat lelaki ini sudah memainkan lidah dan bibirnya di area intimku.
Seprai kasur yang tadinya rapi ini sampai ku remas karena gejolak dahsyat yang ku rasakan.
Raymond membuatku berada diujung rasa yang seolah hampir meledak saat ia lagi-lagi melumat benda kecil itu.
"Henti ... kan ... akh, please!"
Lelaki itu bukannya berhenti, tapi malah semakin menjadi.
Rasa bagai melayang itu semakin membuai kala lelaki itu memasukkan miliknya ke dalam area pribadiku.
Mataku terpejam, aku tidak berani membuka dan melihat kearahnya. Aku malu sekali, karena aku menolak namun juga menikmatinya.
Dasar Diana bodoh!
Aku merutuki diriku sendiri karena tidak mampu menolak hal ini.
"Akh ... Diana, milikmu sangat nikmat." Raymond mulai meracau sambil melakukan gerakan in-out.
Aku memalingkan wajahku. Menyembunyikan rasa nikmat yang kurasakan. Semakin Raymond memompa rasanya aku semakin tak tahan.
"Kau menikmatinya, bukan? Lepaskan saja apa yang kau rasakan." Begitu ujarnya sebelum ia melahap benda kembar di dadaku.
"Emh ...." Ku tahan sebisa mungkin agar suara itu tak keluar. Namun sialnya tetap keluar juga saat ledakan nikmat itu melandaku.
Malu sekali, kulirik lelaki yang masih asik bermain dengan gundukan kembar ku itu tengah tersenyum miring.
"Kau puas?" tanyanya setelah melepas lumatannya.
Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku tak tahu semerah apa wajahku saat ini. Ya, aku puas. Aku merasakan nikmat itu lagi. Dan aku membenci diriku sendiri.
Kututup mataku dan membiarkan lelaki ini menyelesaikan misinya hingga tuntas.
"Tuan, ijinkan aku pulang sebentar saja!" pintaku setelah beberapa saat pergumulan kami selesai.
"Mau apa lagi?"
"Aku hanya ingin mengambil pakaianku dan juga menengok ayahku sebentar saja. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Please! Hanya ada ibu tiri dan adik tiri ku yang menjaganya." Aku berusaha merayu lelaki itu.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan kirimkan orang khusus untuk menjaga ayahmu. Dan tentang pakaianmu, kurasa kau tidak perlu mengambilnya."
"Apa? Tolong jangan seenaknya! Aku tidak nyaman memakai pakaian seperti ini," protes ku. Di lemari hanya ada lingerie dan pakaian seksi dengan belahan d**a rendah, dan aku tidak bisa hidup dengan pakaian seperti itu.
Aku mendengar dia mendengus kesal sementara matanya terpejam. Entahlah, aku tidak begitu peduli.
"Sebaiknya kau baca lagi perjanjian yang kau tanda tangani tadi. Kau adalah seorang simpanan. Bersikaplah baik dan menurut layaknya wanita simpanan." Raymond berkata dingin.
Aku merasa nada bicara Raymond sudah berbeda. Tiba-tiba saja aku menjadi merinding.