"Bu, Liona, aku mau pergi dulu. Aku titip ayah pada kalian. Tolong jaga dia sebentar saja." Diana keluar dari ruang UGD dan berbicara pada ibu dan adik tirinya.
"Enak saja! Kau mau lari dari tanggung jawab mu dan melemparkan tua bangka itu pada kami, hah?" Sovia berdiri dari tempat duduknya.
Diana memejamkan matanya sebentar, ia tidak ingin berdebat. Tapi wanita ular dihadapannya ini benar-benar keterlaluan. Dulu saat ayahnya masih kaya raya saja dia bisa bersikap manis dan sangat menghargainya. Tapi sekarang ... jangankan menghargai, bersikap lembut saja tidak bisa.
"Aku tidak akan pergi lama dan pasti kembali lagi nanti. Aku harus mengurus pekerjaanku sebentar. Saat aku kembali nanti kalian bisa pulang. Tolong mengertilah! Aku bekerja juga untuk kalian."
"Aku tidak mau, aku ada kerjaan. Hari ini aku ada janji dengan seseorang yang menawarkan endorse padaku dan aku tidak mungkin menolaknya." Liona berkata dengan angkuh sambil mengibaskan rambut pirangnya.
"Bu, Diana mohon. Minta tolong kali ini saja. Urusanku kali ini harus ku selesaikan." Tidak ada pilihan dan harapan lain selain mengharapkan belas kasih dan kemurahan hati Sovia.
Diana meraih tangannya dan berusaha memohon dengan wajah memelas. Ia harus menyelesaikan urusannya dengan Raymond secepatnya agar lelaki itu tidak mengganggunya lagi. Juga menyerahkan kembali kartu tanpa limit yang lelaki itu berikan padanya tadi pagi.
Tidak sudi rasanya jika harus menerima pemberian dari lelaki macam Raymond. Itu sama halnya dengan menjual tubuh dan harga dirinya.
"Hah ... baiklah. Aku akan menjaga ayahmu yang pesakitan itu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa? Syarat apa lagi?"
"Aku minta uang harian dinaikkan dua kali lipat. Dan aku juga minta jatah mingguan khusus untuk kebutuhanku sendiri. Bagaimana? Kau sanggup Diana?" Sovia menaikkan satu alisnya sambil melipat tangan di depan dadanya.
"Bu ... itu mustahil. Gaji ku sangat rendah, tidak cukup untuk memenuhi hal itu. Obat-obatan ayah saja sangat mahal. Belum sewa rumah dan kebutuhan makan kita."
"Kalau begitu ya sudah, urus saja tua bangka itu sendiri. Kau pikir aku budaknya? Liona ... kita pulang sekarang!" Sovia meraih lengan putri kesayangannya dan berbalik hendak meninggalkan Diana.
"Tunggu! Iya baiklah, aku akan kabulkan permintaan ibu. Tapi tolong jaga ayahku dengan baik! Aku benar-benar harus segera pergi."
Sovia menyeringai dan berbalik menghadap Diana.
"Oke ... pergilah, jangan khawatirkan ayahmu. Selama kau masih bisa memberiku uang, aku akan membantu merawat ayahmu yang sudah bau tanah itu."
Diana mengangguk, ia tidak punya pilihan lain selain menyetujui permintaan ibu tirinya itu. Lagipula jika wanita itu tidak ada, ia juga kesusahan merawat ayahnya sendirian sambil bekerja. Jadi hitung-hitung ini sebagai balas budinya.
Dengan langkah cepat Diana meninggalkan dua orang wanita itu.
"Ibu bagaimana sih?! Kenapa masih mau menjaga tua bangka sialan itu?"
"Tidak ada pilihan lain, Liona. Memangnya kau bisa memberi ibu uang? Bisa menyewakan rumah untuk ibu, memberi makan ibu, hah?"
"Ibu! Selalu saja mengungkit soal itu. Kebutuhanku banyak, Bu. Uang hasil endorse habis untuk kebutuhanku sendiri. Itupun masih tidak cukup. Tolong mengertilah!"
Terdengar ibu dan anak itu berdebat di belakang Diana. Tapi terserah, Diana sendiri tak peduli. Liona mana bisa diharapkan? Gaya hidupnya masih sama seperti saat mereka masih kaya seperti dulu.
Pergi ke mall, belanja, kelab malam dan segala hal yang berkaitan dengan foya-foya masih melekat dalam dirinya. Padahal sebenarnya jika Liona bisa mengelola keuangan dengan baik, mereka bisa hidup dengan lebih layak. Hasil endorse Liona cukup lumayan, dua kali endorse saja sudah setara gaji Diana selama satu bulan penuh.
***
Diana tengah berdiri di depan pagar yang menjulang tinggi. Ia masih memakai pakaiannya yang sejak kemarin ia pakai. Sedikit bau keringat dan matahari.
"Nona Diana, ya?" Seorang penjaga menghampirinya dan menanyainya karena sejak sepuluh menit tadi Diana hanya diam di depan pagar dan enggan memencet bel.
"Iya, Pak."
"Silahkan masuk, Nona. Tuan muda sudah menunggu Anda di dalam." Penjaga dengan name tag Johan itu membukakan pintu gerbang.
"Em ... i-iya," jawab Diana sembari melangkahkan kakinya dengan ragu-ragu. Ia cukup takut jika Raymond kembali mengurungnya atau melakukan kegiatan seperti semalam padanya.
Diana terus mengikuti langkah kaki penjaga yang mengantarnya. Kemudian saat di depan pintu, ia sudah disambut oleh para pelayan yang semalam melayaninya. Mereka mengantarkan Diana ke belakang.
Di sana terlihat pemandangan kolam renang yang begitu luas. Banyak pohon dan tanaman hias sehingga membuat suasana disana sangat sejuk dan asri di hari menjelang siang seperti ini. Nampak dua orang pria duduk di kursi dengan meja bulat ditengahnya. Siapa lagi kalau bukan Willy dan Raymond.
"Permisi, Tuan muda. Tamu Anda sudah datang, Tuan," ujar seorang pelayan.
"Willy, pergilah ke ruang kerjaku atau kemanapun. Aku tidak ingin diganggu!" titahnya.
"Baik, Tuan."
Raymond berdiri dan menghampiri Diana yang mematung ditempatnya. Sementara para pelayan tadi juga ikut pergi bersama Willy.
"Aku senang kau menurut. Duduklah!"
"Aku kesini hanya untuk mengembalikan ini!" Diana merogoh tas lusuh miliknya dan mengeluarkan kartu tanpa limit milik Raymond.
"Segala apapun yang sudah ku berikan, tidak bisa dikembalikan dan aku pun tidak akan memintanya atau menerimanya. Seharusnya kau bersyukur karena kau telah beruntung membuatku mengeluarkan kartu itu untukmu."
"Maaf! Tapi aku tidak bisa menerima ini. Terlebih lagi kau menganggap ini sebagai bayar jasa atas apa yang kau buat padaku semalam." Diana bersikeras.
"Aku-"
Tring ...
Ucapan Diana terhenti karena ponsel di dalam tasnya berbunyi. Ia merogoh dan mengambilnya, memeriksa nama siapa yang tertera disana.
"Ada apa Liona?"
"Ayah sedang tidak baik-baik saja! Dia harus segera dioperasi secepatnya!" Suara diseberang sana terdengar santai, namun hal itu tetap membuat Diana seperti kehilangan separuh nyawanya.
Tut tut tut
Sambungan telepon itu terputus begitu saja. Tubuh Diana merosot ke bawah, ia terduduk dilantai dihadapan Raymond.
Melihat hal itu Raymond membantunya dan menuntunnya agar duduk di kursi.
"Kenapa?" tanyanya secara acuh.
Bagaimana ini? Operasi jantung itu sangat mahal. Bisa menelan biaya ratusan juta. Darimana aku bisa mendapatkan uang itu?
Diana kalut dengan pikirannya sendiri. Ia tidak mendengarkan pertanyaan dari Raymond.
"Ayah," gumamnya lirih.
"Ayahmu sakit? Kurasa biaya perawatan sakit jantung dan juga ginjal itu tidak sedikit. Aku bisa mengcover semuanya sampai ayahmu sembuh jika kau mau."
Diana menoleh. Ia mengernyitkan dahinya karena heran. Darimana pria ini tahu penyakit ayahnya?
"K-kau?"
"Kau heran? Aku tahu semua tentang kehidupanmu. Tentang ibu tiri dan adik tiri mu. Tentang ayahmu dan historisnya. Tentang mu dan segalanya."
"Darimana kau tahu?"
"Hah ... itu mudah bagiku. Sudahlah! Aku hanya ingin bekerjasama denganmu. Aku akan tanggung pengobatan ayahmu, operasi, perawatan dan segalanya. Sampai ayahmu sembuh. Dan aku hanya memintamu untuk tinggal disini bersamaku, sebagai simpanan ku, sebagai partnerku."
Diana menelan salivanya yang terasa pahit.
Simpanan?
Lelucon apa ini?
"Bagaimana? Jika kau mau, tanda tangani perjanjian ini!" Raymond menyodorkan sebuah map berisi perjanjian bermaterai.
"Tidak!" Diana berdiri. Dadanya bergemuruh karena amarah. "Aku tidak mau, Tuan! Ini, ku kembalikan kartu milikmu!"
Gegas Diana pergi. Namun baru beberapa langkah, suara Raymond berhasil membuatnya berhenti dan membatu.
"Jika tidak mau tidak masalah. Apa kau lebih memilih membiarkan ayahmu kesakitan? Sementara kau bisa menolongnya."