Raymond Pov
Akhirnya aku berhasil membuatnya menandatangani surat perjanjian itu.
Hahaha ... Diana, dasar gadis bodoh. Jangan sekali-kali bermain dengan Raymond atau aku akan menghancurkan mu.
Tidak ada wanita di dunia ini yang akan mampu menghindari ku.
Siang itu setelah ia menandatangani perjanjian itu, aku segera meminta pelayan untuk membersihkan tubuhnya. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan sedikit saja untuk tidak menikmati tubuhnya. Sensasinya membuatku ingin lagi dan lagi.
Selang satu jam, ku lihat dia sedang duduk termenung menatap jendela. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, aku tidak peduli. Bagiku, selama dia mau menurut padaku maka akupun akan bersikap baik padanya.
Kubuka pintu kamarnya, gadis itu memakai lingerie yang sudah ku sediakan. Ah ... seksi sekali hingga membuatku menelan salivaku. Ya, meski aku sudah merasakan banyak wanita, tapi tidak ada yang seperti Diana.
Tubuhnya tidak terlalu tinggi namun sangat sintal dan padat. Buah dadanya yang bulat menggoda telah membayangiku sejak tadi pagi. Benda kembar itu terasa pas di tanganku, terasa bulat dan padat.
Beruntung akhirnya sekarang dia mau datang kemari dan menyerahkan dirinya. Tidak sia-sia aku menyuruh Willy mencari tahu segala sesuatu tentangnya.
Dengan memanfaatkan ayahnya yang sedang berada di ujung mautnya, aku bisa mendapatkannya.
Aku menyergap tubuhnya yang seksi, dan kurasakan tidak ada penolakan darinya. Kulakukan apa yang ku mau. Menciumi wajahnya dan merasakan manis bibirnya.
Aku sangat menyukainya. Namun satu hal yang membuatku seperti kecanduan padanya, yaitu aroma vaginanya. Aroma khas yang menbuatku tidak bisa melupakannya. Baru kali ini aku mencicipi area yang dulu ku hindari untuk di cumbu karena bagiku itu adalah area kotor dan menjijikkan yang tidak pantas untuk mendapat cumbuan ku. Terlebih lagi milik para jalang itu ... cih ... sudah tidak karuan bentuknya. Jika bukan karena butuh pelampiasan, aku tidak akan menaiki tubuh murahan mereka yang entah sudah dipakai oleh siapa saja.
Tapi Diana ... aku melihat miliknya sangat bersih dan indah dengan bulu halus menghiasinya. Semalam secara spontan akupun ingin mencoba mencicipinya. Sangat berbeda dengan milik Vivian, aku ingat betul miliknya.
Betapa bodohnya aku dulu, percaya begitu saja saat Vivian mengatakan masih virgin. Bahkan ku serahkan perjaka ku untuknya. b******k! wanita pengkhianat itu mungkin sudah berhubungan dengan banyak pria sebelum denganku. Berani sekali dia menipuku. Dan sekarang ia justru kembali setelah pergi tanpa pamit tujuh tahun lalu.
Ah ... berhenti mengingatnya! Lagipula aku sudah jijik dan tidak memiliki perasaan apapun dengannya.
Aku kembali fokus pada wanita menggemaskan yang sedang kucumbui vag***nya dihadapan ku. Aku suka melihat ekspresi yang ditunjukkannya. Diana tampak berusaha menyembunyikan wajahnya yang merasakan nikmat yang ku berikan, terlihat imut, menggemaskan dan aku menyukai hal itu.
Dia tidak seperti jalang yang terlalu binal hingga kadang membuatku justru ilfil dan membuat juniorku menolak.
Diana ... menyebut namanya bahkan membuatku berhasrat.
Usai percintaan aku mendengar Diana meminta ijin untuk keluar dan aku tidak menyukainya. Gadis itu tampaknya belum bisa patuh sepenuhnya padaku.
Tapi aku tidak tega melihat wajah murungnya. Aku memang sudah tidak punya orang tua. Mereka meninggalkanku saat aku masih kecil. Namun beruntungnya aku karena ada seorang kakek yang memungut ku. Merawat ku dengan sepenuh hati, dia juga kaya raya tanpa anak dan cucu.
Ini tentu menjadi anugerah yang besar untukku.
***
"Baiklah, cepat pakai pakaianmu. Aku akan mengantarmu kerumah sakit." Akhirnya aku mengalah. Lagipula dia baru saja membuatku puas.
"Benarkah?" Seolah tidak percaya atas apa yang ku katakan, Diana menoleh sambil menunjukkan binar matanya yang sepolos anak kecil.
Aku mengangguk lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dari sisa percintaan kami barusan.
Selang dua puluh menit, aku keluar dari kamar mandi dan melihat dia sudah rapi namun terlihat tidak nyaman dengan penampilannya. Diana terlihat berulang kali menarik gaunnya yang hanya sebatas atas lutut.
"Kenapa? Kau tidak nyaman?" tanyaku padanya yang langsung mendapat anggukan kepala darinya.
"Mulai sekarang kau harus membiasakannya. Dan saat aku pulang dari kantor, kau harus memakai lingerie itu lalu menungguku disini dengan manis. Biasakan tersenyum padaku dan menyambut ku."
Aku tahu Diana tidak suka, tapi masa bodoh. Dia sudah menjadi milikku. Jadi sudah kewajibannya untuk menurut padaku.
Setelah aku memakai pakaianku, akhirnya aku dan dia berangkat menuju rumah sakit tempat dimana ayahnya dirawat.
***
Author Pov
Diana dan Raymond berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar ICU. Namun karena mendapat telepon dari kakeknya akhirnya Raymond tidak ikut sampai di ruangan ayah Diana.
"Diana!" panggil ibu tirinya.
Wanita itu dan anaknya memandangi Diana dari atas hingga ke bawah. Mereka heran dengan penampilan Diana. Darimana Diana mendapatkan gaun indah dan tas mewah seperti itu.
Liona memutari tubuh kakak tirinya. Ia mengendus aroma tubuh kakaknya yang menguar mengusik indera penciumannya.
"Kak Diana dari mana?" selidiknya.
"Bukan urusanmu! Bagaimana keadaan ayah?"
"Kau habis melacur, ya? Dasar murahan! Ayahmu sedang sakit dan kau malah senang-senang. Beli gaun dan tas mewah pula." Sovia ikut menimpali.
Diana terdiam. Apa yang dikatakan oleh ibunya memang tidak salah. Ya, menjadi simpanan dengan imbalan uang bukankah sama saja dengan melacur?
"Sudahlah, Bu. Aku tidak ingin berdebat. Sekarang bagaimana keadaan ayah?"
"Ayahmu harus segera dioperasi. Kau punya uang?" Sovia bertanya dengan nada angkuh sembari melipat tangannya di depan d**a.
"Ya, ayah juga akan dipindahkan keluar negeri untuk penanganan yang lebih maksimal." Diana berkata datar.
"Apa?!" Dua wanita dihadapannya membelalakkan matanya.
Uang darimana? Apa Diana bercanda? Untuk makan saja susah.
"Apa kau sadar atas apa yang kau ucapkan?" Sovia tak percaya.
"Tentu saja. Karena aku yang akan membiayainya." Tiba-tiba seseorang yang muncul dari balik dinding dan menjawab pertanyaan Sovia.
Jangan tanya lagi, mata Sovia dan Liona seolah ingin melompat keluar melihat sosok tampan, elegan, dan penuh aura kekuasaan tengah berjalan mendekati mereka.
"Ibu, dia adalah pengusaha sukses," bisik Liona ditelinga ibunya.
"Sungguh?"
"Iya."
"Aku adalah teman dekat Diana." Raymond memperkenalkan dirinya tanpa mengulurkan tangannya.
"Oh ... iya, aku ibunya Diana dan ini adalah adiknya Diana." Sovia tersenyum manis, begitupun Liona. Adik tiri Sovia itu nampak berusaha menebar pesonanya pada Raymond. Ia mengeluarkan pesona terbaiknya dan senyum andalannya.
Sementara Raymond hanya melirik sekilas dan terlihat datar.
"Diana, aku tunggu di mobil. Kau selesaikan urusanmu. Sebentar lagi orang suruhan ku akan sampai kemari." Raymond menepuk pundak Diana dan berlalu.
"Kak ... darimana Kakak kenal pria itu?" Liona dan ibunya menarik Diana setelah Raymond menghilang dari pandangan mereka.
"Sudahlah! Aku malas membahasnya." Diana menarik kedua tangannya dan menghindari mereka.
"Kak ... Kak Diana. Kenalkan aku padanya, please!" Liona merengek seperti anak kecil padanya.