Raymond POV
Sial! Apa yang terjadi pada diriku? Rasanya aku penasaran dengan kehidupan gadis itu. Ah ya ... siapa namanya? Oh aku ingat, Diana. Ya, Diana. Aku melihat name tag di dadanya semalam.
Tapi aku tidak peduli, atas dasar apa aku peduli padanya. Aku tidak ingin melepaskannya begitu saja. Mengingat percintaan panas kami semalam, rasanya aku ketagihan dengan tubuhnya.
Dia sangat berbeda dengan para jalang sialan itu. Diana masih perawan saat aku menidurinya. Dan miliknya begitu sempit.
Shit!
Aku jadi membayangkannya lagi kan! Juniorku sampai berdiri sekarang. Sayangnya hari ini aku ada meeting penting. Jika tidak aku tidak akan melepaskannya. Aku bahkan tidak peduli keluarganya mencarinya atau tidak.
Aku menginginkannya!
***
Author POV
Raymond terus melajukan mobil dua pintunya menyusuri jalanan yang mulai sibuk. Ia menuju ke salah satu hotel miliknya karena ada janji temu dengan kliennya.
Butuh waktu dua puluh lima menit dari komplek tempat tinggal Diana untuk sampai ke lokasi.
Dengan mulus mobil mewah itu memasuki area hotel. Di sana Willy tengah menunggu di loby dan berdiri saat tuannya datang.
"Selamat pagi Tuan muda." Willy menundukkan kepalanya dengan hormat.
"Hem," jawab Raymond.
"Mari, Tuan. Klien kita sudah menunggu di restoran hotel." Willy memandu Raymond menuju tempat kliennya berada.
"Hai Raymond."
Raymond tidak tahu jika klien itu adalah seseorang dari masa lalunya. Wanita cantik, anggun dan penuh aura sensual.
Dialah Vivian, seseorang yang dulu sangat dicintai oleh Raymond. Namun jangan tanyakan bagaimana perasaan lelaki itu sekarang.
"Untuk apa kau kemari? Bukankah kau tinggal di luar negeri?" Tatapan dingin Raymond tujukan pada perempuan dengan rambut panjang bergelombang.
"Aku sangat merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku?" Vivian berjalan anggun dan tanpa sungkan mengalungkan tangannya pada leher Raymond. Ia memasang wajah sensual menggoda yang dipulas dengan cantik.
"Menyingkir lah! Bukankah kita disini untuk meeting? Willy, siapkan berkasnya!" Raymond menepis tangan Vivian tanpa ekspresi. Ia lalu berjalan begitu saja melewati perempuan itu dan duduk di tempat yang sudah dipesan.
Sementara Vivian mendengus kesal. Ia tidak menyangka akan ada penolakan dari Raymond. Apakah lelaki itu sudah melupakan semuanya?
Tidak! Tidak boleh!
Vivian menyusul Raymond dan dengan sengaja duduk di pangkuan lelaki itu tanpa malu sedikitpun.
"Sayang, kau marah padaku? Aku bisa jelaskan semuanya." Tangan Vivian menangkup wajah Raymond yang berekspresi dingin dan datar.
Ia hampir tak mengenali Raymond, dimana lelaki yang begitu hangat dan bisa memuaskannya itu? Raymond yang selalu b*******h padanya, yang selalu memanjakannya, yang selalu perhatian padanya, dimana sosok itu?
Vivian merindukannya.
"Apa kau sudah tidak punya rasa malu? Cepat turun dan duduk di kursi mu!" Dengan sedikit kasar Raymond mendorong tubuh Vivian agar menyingkir dari pangkuannya.
"Raymond! Kau sudah berubah. Apa kau sudah melupakanku? Melupakan semua tentang kita?" Kali ini mata Vivian sedikit terlapisi kaca.
"Bukankah kau yang memilih pergi?" Dengan sangat tenang Raymond mengatakannya. Di hatinya tidak ada lagi sisa perasaan apapun untuk Vivian.
"Aku bisa menjelaskannya padamu. Dengarkan aku! Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu, tapi-" Vivian menghentikan ucapannya. Tenggorokannya terasa tercekat.
"Tapi apa? Karena ambisi mu bukan? Lalu bagaimana sekarang? Kau sudah sukses mengarungi dunia model yang kau banggakan itu? Aku tahu dulu aku tidak punya harta yang banyak untuk kuberikan padamu." Raymond tersenyum miring.
"Tidak! Bukan seperti itu. Aku sangat mencintaimu, Raymond. Aku-"
"Jika kau begitu mencintaiku, kenapa kau tidak tinggal? Kenapa memilih pergi saat usaha keluargaku diambang kebangkrutan? Kau pergi bahkan tanpa pamit ataupun meninggalkan pesan untukku. Padahal aku sudah melakukan segalanya untukmu."
Vivian terisak dihadapan Raymond. Ia berusaha menggenggam tangan lelaki itu. Ia sadar, Raymond jelas marah dan kecewa padanya. Tapi ada satu hal yang tak bisa Vivian ceritakan saat ini.
"Maafkan aku Raymond, tujuh tahun lalu aku memang bodoh. Aku bodoh karena meninggalkanmu. Maafkan aku."
"Maaf Vi! Aku tidak punya waktu untuk masa lalu. Jika hari ini kau datang sebagai klien yang akan menjalin kerjasama denganku, aku akan tetap disini. Tapi jika kau datang hanya untuk membuatku mengenang masa lalu, maafkan aku! Aku tidak ada waktu." Raymond gegas berdiri.
"Tunggu, Raymond! Sedikit saja apa kau tidak bisa memberiku kesempatan? Aku akan perbaiki semuanya. Aku sadar tidak ada lelaki di dunia ini yang bisa sebaik dirimu dalam menjagaku. Aku ingin kita bisa memulai semuanya dari awal."
Mendengar ucapan Vivian, Raymond hanya tersenyum miring sambil membuang pandangan keluar jendela.
Vivian ... aku bukanlah pria bodoh yang sama seperti tujuh tahun lalu. Yang percaya padamu apapun yang kau katakan. Aku memberikan seluruh cintaku hanya untukmu. Menjadikanmu proiritas dalam hidupku. Bahkan keperjakaanku juga berakhir di tanganmu. Hingga aku mendapati satu fakta itu. Aku jadi tahu segalanya tentangmu. Kau benar-benar wanita jahat, gumamnya dalam hati.
"Maaf Vi! Aku masih banyak urusan." Raymond menepis tangan Vivian yang memegangi lengannya. Ia lalu pergi berlalu begitu saja bersama Willy. Meninggalkan wanita yang pernah menjadi bagian hidup Raymond.
"Raymond, tunggu!"
Tak ingin menyerah, Vivian mencoba mengejar.
"Aku janji, nggak akan pergi lagi dari sisimu. Aku janji, aku akan jadi wanita yang lebih baik untukmu. Bukankah dulu kita menjalin semuanya dengan indah? Sekarang pun kita pasti bisa. Kita bisa memulai dari awal lagi."
"Aku sudah beristri, Vi!"
Wajah Vivian memucat seketika.
"Istri?" gumamnya lirih.
"Ya! Aku menikah setahun setelah kau pergi."
Raymond berlalu, ia berharap dengan hal itu Vivian tidak lagi berusaha mengejarnya.
"Aku tidak percaya hal itu, Raymond! Kau hanya mencintaiku, hanya mencintaiku dan aku tahu itu! Kau tidak bisa berpaling dariku barang sedetik pun!" teriak Vivian yang entah masih di dengar Raymond atau tidak.
Wanita itu menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia tidak percaya jika Raymond sudah menjadi suami orang lain. Vivian tahu dia sudah salah, dia salah karena telah berselingkuh dibelakang Raymond hingga hamil. Padahal Raymond sangat menyayanginya dan bisa memuaskannya dalam urusan ranjang.
Ia tahu, Raymond masih perjaka saat pertama kali tidur dengannya. Sedangkan ia sendiri sudah tidak gadis lagi. Ia sudah menipu Raymond saat itu.
Vivian merasa sangat menyesal sekarang. Ia pergi ke luar negeri bukan untuk mengejar cita-citanya, tapi untuk menyembunyikan kehamilannya karena Raymond tidak akan percaya jika itu adalah anaknya.
Raymond selalu menggunakan pelindung saat melakukannya, sementara selingkuhan Vivian tidak. Hingga akhirnya Vivian hamil.
***
Raymond menekan sebuah nomor dan menghubunginya.
Tut ....
"Halo! Siapa?" Suara dari seberang.
"Kutunggu kau di mansion ku satu jam lagi!"
"Apa? Hei aku sedang menemani ayahku di rumah sakit! Bukannya kau bilang nanti malam?"
"Aku tidak menerima penolakan! Cepat pergi kesana atau aku akan menjemputmu!"
"Hhh ... baiklah!" Suara diseberang terdengar mendesah kesal karena ulahnya. Namun Raymond justru tersenyum.
Tut ... tut ... tut ....
Ia menutup teleponnya.
"Willy, kita kembali ke mansion ku!" titahnya. Raymond diantar oleh Willy, sementara mobil Willy ditinggal di hotel.
"Baik, Tuan." Pria itu melirik sekilas. "Anda terlihat senang sekali," ujar Willy diiringi sebuah senyum.
"Begitulah, aku tidak bisa melupakan gadis itu. Dan akan kubuat dia juga tidak bisa lepas dariku."