"Aku ingin pulang," lirih Diana hampir menyerah. Ia terpaksa memakai kembali gaun mini yang diberikan oleh pelayan tadi. Duduk di tepi ranjang sambil membelakangi orang yang merenggut kesuciannya semalam.
"Setujui dulu permintaanku!"
"Aku bukan jalang yang biasa menjajakan nikmat. Tolong hargai itu!" Tak terasa buliran bening pun lolos kembali dari pelupuk mata Diana. Meskipun Raymond melakukannya dengan lembut, tapi bagi Diana dia adalah orang asing dan Diana tidak menghendaki berbagi nikmat dengannya.
"Aku tidak peduli! Mulai hari ini dan seterusnya, kau akan jadi teman tidurku. Aku juga tidak peduli kau akan setuju atau tidak," pungkas Raymond mengakhiri perdebatannya dengan rubah kecil yang ia temukan hari ini.
Lelaki tinggi dan berparas nyaris sempurna itu melenggang dengan santai ke kamar mandi.
Melihat hal itu Diana juga ikut berdiri. Ia pikir ini adalah saat yang tepat untuk kabur.
Dasar lelaki egois! Tidak waras! Lihat saja, aku pasti bisa keluar dari sini! umpat Diana dalam hatinya.
"Aw ... sial! Milikku sakit sekali. Jika seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa berlari?" Diana merutuki dirinya sendiri. Bagian yang terasa robek kemarin masih begitu nyeri dan perih.
Sementara Raymond hanya meliriknya. Ia belum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi. Sebuah senyum tipis terbit di bibirnya. Lucu sekali melihat wajah kesal dan frustasi yang ditunjukkan oleh mainan barunya itu.
"Jangan coba kabur jika aku tidak mengijinkannya! Ingat itu, aku bisa menemukanmu sekalipun kau bersembunyi di lubang semut."
Diana membatu mendengar perkataan Raymond. Ia lalu menatap lelaki tidak tahu malu yang sekarang masih mempertontonkan tubuh telanjangnya di depan pintu kamar mandi.
"Aku sudah memohon padamu. Aku punya keluarga! Mereka pasti mencemaskan ku karena hingga detik ini aku belum pulang kerumah. Dan lagipula siapa kau? Berani mengaturku."
"Tidurlah! Esok aku akan mengantarmu!" Setelah mengatakan hal itu Raymond menghilang dibalik pintu kamar mandinya.
Diana terus merutuki dirinya, kenapa ia bisa sampai terjebak dengan lelaki itu hanya gara-gara kakinya yang tidak bisa diam dan menendang botol kosong sialan itu. Lelaki itu tampan tapi otaknya tidak waras. Manusia waras mana yang akan semudah itu bergumul dengan wanita yang bahkan tidak ia kenal?
Hah ... jangan-jangan dia sudah terbiasa melakukan hal itu. Iiiuuuhhh ....
Diana berekspresi jijik membayangkan lelaki itu.
***
Pagi menjelang, Raymond membuka matanya karena cahaya mentari menembus kisi-kisi jendelanya. Mengusik matanya yang sedang lelap terpejam.
Ia tersenyum simpul melihat seorang wanita manis tengah tidur disampingnya. Diana terlihat begitu imut saat sedang tidur seperti itu. Wajahnya bersih tanpa make up tebal seperti kebanyakan wanita yang membuat Raymond mual. Ia terdiam cukup lama mrmandangi wajah polos didepannya. Namun mata Raymond terasa diundang untuk melirik gundukan kenyal yang tidak tertutup sempurna. Selimut yang membungkus tubuh Diana itu melorot dan menampilkan pemandangan luar biasa menggoda bagi Raymond. Bahkan puncak benda itu terlihat samar-samar di balik gaun yang dikenakan oleh Diana.
Ia beringsut, menyentuh dan mengusap benda itu dengan lembut hingga membuat pemiliknya menggeliat.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" Diana membuka paksa matanya dan langsung melotot menatap lelaki yang tengah memandangi dadanya dengan penuh hasrat. Ia menarik selimutnya yang melorot hingga menutupinya sampai leher.
"Salah siapa kau begitu menggoda."
Raymond menyeringai dan itu membuat Diana merinding. Ia tidak ingin kejadian semalam terulang kembali.
Tidak!
Lelaki penguasa yang memiliki banyak hotel dan restoran mewah serta mall yang tersebar di seluruh kota dalam negeri itu semakin mendekat menarik selimut yang dipakai Diana lalu menindih tubuhnya. Gaunnya tersingkap hingga menampakkan paha mulusnya yang semakin membuat Raymond tak bisa menahan hasratnya.
"Pergi! Pergi dari atas tubuhku! Kau tidak punya hak untuk berbuat ini padaku!" gertak Diana sambil meronta dan memukuli d**a Raymond yang semakin menempel padanya.
"Aku menginginkannya, Sayang."
"Tidak mau! Tolong jangan lakukan lagi! Hiks ... hiks ... aku ingin pulang."
"Jangan keluarkan air mata seperti itu. Aku pasti akan mengantarmu pulang, tapi tidak sekarang."
"Dasar jahat! Kau manusia jahat. Biarkan aku pergi!"
"Hei ... tenanglah sedikit! Jika kau mau menyetujui permintaanku aku janji, aku akan memberikan banyak hal yang kau inginkan. Aku akan kabulkan semua permintaan yang terlontar dari bibirmu."
Cup ...
Raymond mendaratkan bibirnya diatas bibir Diana. Tidak tahu kenapa ia merasa gemas sekali melihat gadis ini.
"Tidak! Sampai kapanpun aku tidak mau menyetujuinya. Kau pikir aku ini barang, hah? Yang bisa kau pakai seenaknya dan akan kau buang saat kau sudah bosan. Aku tidak sudi!"
"Kenapa? Bukankah selain mendapatkan materi kau juga mendapatkan kepuasan? Aku masih ingat desahan nikmat mu semalam. Dan selama kau menjadi partner ku, aku akan selalu memberikan kenikmatan itu padamu setiap waktu."
"Hentikan omong kosong mu, Tuan! Sudah kubilang, aku bukan wanita jalang yang menjajakan nikmat dengan imbalan apapun. Aku-"
Ucapan Diana terhenti saat ponsel butut miliknya berdering nyaring.
"Minggir lah, Tuan!" pintanya.
Raymond tak punya pilihan, ia beringsut turun dan duduk di tepi ranjang memperhatikan Diana yang berjalan menghampiri meja dan mengambil ponselnya.
"Halo!"
"Hei, anak tidak tahu diri! Dimana kau sekarang? Tidak pulang semalaman dan membiarkan kami kelaparan."
"Aku ... aku tidur di tempat temanku, Bu. Sebentar lagi aku pulang. Maafkan aku, aku lupa membawakan makanan untuk kalian."
"Oh ya ... ayahmu yang pesakitan itu memburuk kondisinya. Ia lemah dan semakin pucat karena obatnya untuk semalam ternyata sudah habis."
"Apa? Aku masih ingat obat itu masih ada saat aku berangkat kerja. Kalian jangan coba membohongiku!"
"Kau pikir aku menyembunyikannya begitu? Sudah untung aku mau merawat lelaki yang tidak menghasilkan apa-apa seperti itu. Tidak tahu terimakasih. Sekarang cepat pulang dan jangan lupa bawakan kami makanan!"
Tut ... tut ... tut ...
Sambungan telepon itu terputus begitu saja.
Diana mendesah kesal pada ibu tirinya yang terlalu kejam itu. Disaat seperti ini masih saja memikirkan perutnya sendiri.
"Tuan, aku hanya ingin kemurahan hatimu saja. Ayahku sedang kambuh penyakitnya. Dia membutuhkanku jadi aku harus pulang."
"Baiklah, mandilah dulu! Setelah itu aku akan mengantarmu."
Mata Diana membelalak tidak percaya. Akhirnya pria sialan ini mengijinkannya untuk pulang.
Ya, mendengar nada bicara Diana yang putus asa membuat Raymond menjadi iba. Dan pagi itu setelah Diana mandi dan memakai pakaian miliknya semalam. Ia sarapan bersama Raymond diruang makan dan dilayani bak seorang ratu. Setelahnya Raymond mengantarnya secara pribadi tanpa seorang sopir ataupun Willy.
"Jadi rumahmu dikawasan ini?" Raymond menyapukan pandangannya ke sekeliling komplek kumuh.
"Ya, aku sudah bilang padamu, bukan? Jika aku berasal dari lingkungan yang kotor."
"Baiklah ... ambil ini! Ini kartu namaku, dan ini adalah kartu tanpa limit. Jangan menolaknya! Kau bisa gunakan untuk apapun yang kau inginkan. Turunlah, aku menunggumu di mansion milikku nanti malam!" Raymond membukakan pintu mobilnya tanpa turun. Tubuhnya yang sangat dekat membuat Diana menahan nafasnya. Tak disangka setelah membuka pintu itu, Raymond menoleh dan mengecup pipi Diana.