Mentari telah bersemangat untuk menyongsong hari yang baru. Ia menebarkan sinar hangatnya ke seisi bumi, menembus celah terkecil sekalipun untuk sekedar membagi pancaran sinarnya ke dalam ruangan yang semalam menjadi tempat memadu hangatnya cinta antara sepasang pria dan wanita.
Tubuh yang sejak semalam dibiarkan polos itu nampak masih bermalas ria dibawah selimut bulu yang tebal.
Sisa-sisa percintaan masih terasa meski aromanya tak lagi menguar.
Tangan kokoh Raymond masih melingkar dan mendekap gadisnya dengan posesif. Wajah tampannya tampak nyaman dalam keadaan setengah tenggelam dibelakang tengkuk Diana.
Gadis itu menggeliat, tanda jika kesadarannya mulai menuntut agar ia segera bangun.
"Jangan banyak bergerak, Sayang!" gumam Raymond sambil mempererat dekapannya.
"Aku mau ba