"Aku ragu apa kau milikmu benar-benar sakit?" Raymond berkacak pinggang setelah membaringkan Diana ke atas ranjang di kamar milik Diana.
Perkataan Raymond membuyarkan lamunan Diana yang tadi berada di dalam gendongan lelaki itu. Menikmati perhatian dan juga hangat tubuh Raymond yang mengeluarkan aroma maskulin. Memanjakan indera penciuman dan juga netranya yang tak sadar telah mengagumi paras lelaki yang nyaris tanpa cela itu.
"Maksudmu?" sengit Diana. Biasa, dia sedang menutupi perasaan aneh yang sudah tidak sungkan-sungkan masuk ke dalam hatinya.
"Kau hanya pura-pura, kan? Kau pasti ingin lari dari tugasmu. Ingat, Diana! Aku bisa menghentikan semua perawatan ayahmu jika kau berani menghindar dariku."
"Dasar, kau! Aw ...! pekik Diana.
"Aku tidak sedang menghindar. Apa kau pikir aku menipumu? Semua ini terjadi juga karena kau kegilaanmu! Untung hanya bengkak dan robek sedikit saja, ah satu lagi ... lecet. Jika aku sampai mati bagaimana? Kau ini manusia apa bukan?" gerutu Diana lirih di akhir kalimat.
"Kau bilang apa tadi?"
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun. Emm ... apa kau tidak pergi ke kantor? Jika perusahaan mu bangkrut, kau tidak akan bisa membayar ku lagi." Diana mengalihkan pembicaraan.
Cara itu berhasil membuat Raymond diam dan menengok arloji mewah yang melingkar ditangannya. Ia baru ingat jika Willy mengabarinya kalau dia ada jadwal makan siang bersama tamu penting dari Jepang.
"Kau benar juga," ujarnya lalu bergegas tanpa pamit pergi meninggalkan Diana yang meringis merasakan nyeri di bagian intinya.
Pria sialan! Dia pikir aku ini apa? Memakai milikku tanpa ampun.
Ceklek ....
Pintu kamar Diana kembali terbuka dan pria yang baru saja ia kutuk itu muncul dengan membawa beberapa setelan jas. Sontak saja membuat Diana mengernyit.
"Mau apa lagi?" ketus Diana.
"Kau ini kenapa? Baru kali ini aku punya simpanan segalak ini. Mana masih bocah lagi. Kau tahu diluar sana para wanita memujaku dan ingin berada di posisimu. Harusnya kau bersyukur."
"Itukan mereka, bukan aku. Lagipula kenapa tidak memilih mereka saja? Bukankah mereka lebih penurut?"
Raymond memijat pelipisnya.
"Aku sedang tidak ingin berdebat, Diana. Jika kau sudah sembuh, silahkan mengajakku berdebat agar aku bisa menghukummu segera."
Diana terkesiap dan menatap pria itu.
"Hhh ... sudah jangan menatapku seperti itu! Pilihkan aku pakaian! Mana yang lebih bagus? Hari ini aku ada janji penting dengan seseorang," terang Raymond seraya sibuk menunjukkan beberapa setel pakaian yang ia bawa tadi.
Namun Diana justru terdiam.
Siap tamu penting itu? Apakah dia wanita?
Dasar, Raymond sialan! Disaat dirinya tidak bisa melayani, Raymond sudah membuat janji dengan yang lain. Apa memang semudah itu bagi pria ini untuk berganti wanita?
Ah ... Diana, apa yang terjadi padamu? Apa yang kau pikirkan, hah? Dia kan memang seperti itu!
Apa kau mulai memakai perasaanmu? Sesuatu dalam diri Diana menyayangkan.
Tapi dia memang penuh pesona. Tampan, rupawan, bersih, kaya raya dan bisa memuaskan diatas ranjang. Bagaimana aku bisa menghindari untuk tak menyukainya?
Pikiran Diana berkecamuk.
"Hey! Aku tidak menyuruhmu melamun. Mana yang lebih bagus?" Suara Raymond mengembalikan kesadaran Diana.
"Emm ... apa kau sedang membuat janji dengan seseorang yang spesial?" tanya Diana sedikit ragu. Hal itu mengundang guratan senyum di wajah Raymond.
"Apa yang kau pikirkan? Wanita? Apa kau sedang dihantui cemburu?" godanya.
"Tidak! Untuk apa? Bukankah aku tidak berhak untuk hal itu? Karena pada saatnya nanti kau akan membuang ku juga seperti yang sudah-sudah." Bibir Diana bergetar, matanya tiba-tiba terasa panas. Ada rasa sakit di dalam sana yang tiba-tiba muncul.
"Omong kosong apa ini? Sudahlah jika kau tidak ingin membantuku memilih pakaian." Raymond berlalu begitu saja.
"Yang warna navy lebih cocok untukmu," sahut Diana saat pria itu telah sampai di depan pintu. Namun Raymond tak menghiraukan.
Pria itu pun merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam hatinya. Perasaan yang seperti hilang timbul itu kini seolah muncul lebih kuat dan terasa mengusiknya.
***
Tiga hari berlalu, Diana telah merasa nyaman kembali. Ia kini sedang berada di taman belakang dan membaca sebuah novel di aplikasi baca yang ada di ponselnya. Ponsel yang ia terima dari Raymond tadi pagi.
Ah ... Diana berdebar kembali saat mengingatnya. Lelaki itu tadi mengecup keningnya cukup lama setelah memberikan benda itu. Membuatnya merasakan gelenyar aneh di seluruh tubuhnya hingga tembus ke hatinya. Sebelum berangkat ke kantor pun Raymond menyempatkan untuk ke kamarnya hanya untuk berpamitan dan memberikan ciuman singkat di bibirnya. Benar-benar manis bagi Diana.
"Nona ... ini s**u strawberry nya." Seorang pelayan meletakkan s**u itu di atas meja.
"Terimakasih, Bi. Emm ... apa Raymond sudah pulang?"
"Su-sudah, Nona." Pelayan itu gugup.
"Baiklah, dimana dia sekarang? Oh aku akan cari sendiri saja." Diana segera bangkit dan berjalan. Ia hendak mengucapkan terimakasih pada Raymond. Karena selain memberikan ponsel baru, Raymond juga kini telah mengijinkannya keluar mansion. Ya, Diana baru saja berjalan-jalan ke mall kemarin dengan diantar sopir pribadi.
Hubungan Diana dan Raymond sungguh begitu baik beberapa hari terakhir ini.
"Tapi, Non ...." Pelayan itu tak bisa mencegah Diana.
Langkah kaki ringan dan juga senyum ceria kini menemani Diana. Ia menaiki anak tangga menuju kamarnya dan kamar Raymond. Ingin sekali segera bertemu dengan pria tampan itu.
"Oh ... Raymond, aku bisa gila! F**k me!"
Suara yang berasal dari kamar ketiga itu membuat Diana lemas. Dadanya berdesir nyeri.
Suara siapa?
Ia melangkahkan kakinya menuju sumber suara. Kamar itu tak sepenuhnya tertutup, menyisakan ruang sekitar lima senti dan itu cukup untuk Diana mengetahui aktifitas di dalam sana.
Matanya memanas, air matanya luruh seketika saat menyaksikan tubuh polos Raymond dan seorang wanita yang berada di bawahnya. Mereka nampak sedang berpacu mengejar nikmat.
Gerakan menghujam yang Raymond lakukan pada Laura seolah terasa menghujam di jantung Diana. Terlihat Raymond begitu keras bermain hingga tubuh Laura ikut bergoyang-goyang seirama sentakan yang di berikan lelaki itu.
Laura yang menyadari kehadiran Diana pun semakin terpacu. Hal itu meningkatkan gairahnya berkali-kali lipat. Seolah sengaja ia memejamkan matanya dan mengimbangi gerakan Raymond dengan liar.
"Ouh Baby ... i love you so much ... faster baby! F**k me! Ouh ... ouh ...."
Racauan Laura sungguh sangat mengiris hati Diana. Membuatnya tak kuat lagi berada disana menyaksikan permainan panas Raymond bersama Laura. Ia pun memilih pergi ke kamarnya. Membawa rasa sakit itu bersamanya.
Kenapa Raymond? Kenapa?!
Kenapa kau seolah memberiku perhatian dan harapan jika pada akhirnya kau menyakitiku seperti ini?
Tiga hari ini aku tidak buta untuk menyaksikan dan merasakan perhatianmu yang terasa lain untukku. Tiga hari ini kau seperti seorang pangeran impian yang memperlakukan ku bagaikan seorang puteri.
Apa memang aku yang sudah bodoh karena berharap lebih padamu? Sementara aku tahu bahwa jika sebelum bersamaku pun kau sudah tidur dengan banyak wanita.
Aku memang bodoh!
Kau jahat, Raymond! Kau jahat!
Kenapa kau harus membuatku jatuh cinta padamu seperti ini?
Diana terisak di dalam kamarnya. Ia melipat kakinya dan bersandar di kepala tempat tidur. Membenamkan wajahnya disana. Dunianya terasa kembali gelap seperti sedia kala, bahkan lebih.