"Kau mau kemana, Raymond?" Laura dengan tubuh masih telanjang berusaha menahan Raymond yang hendak turun dari dari tempat tidur.
"Bukan urusanmu!"
"Raymond, dia bukan gadis yang baik! Bukankah foto itu sudah cukup membuktikannya?" Laura sengaja mengungkit apa yang ia tunjukkan beberapa saat sebelum pertempuran panas itu terjadi.
***
"Hai, Raymond!" Laura berdiri saat melihat suaminya baru saja datang dari kantor. Senyum paling menarik yang ia miliki, ia keluarkan untuk memikat Raymond. Ya, walaupun sampai dengan detik ini pria itu tak juga tertarik padanya. Tapi yang namanya berusaha apa salahnya?
"Siapa yang menyuruhmu kemari? Dan untuk tujuan apalagi kau kesini?" tanya Raymond dengan malas.
Tapi istrinya itu justru bergelayut manja di lengannya. Membuat Raymond sedikit muak. Oh tidak ... Raymond lupa jika dirinya tidak seperti dulu lagi, yang begitu membenci Laura. Kini dia memiliki sedikit ruang untuk wanita itu. Hanya sedikit, ya tentu saja. Raymond ingin menjaga jarak dari Laura karena ia berniat segera mengakhiri hubungan sahnya dengan wanita ular itu.
Ia tidak ingin perasaan kecil yang bermula dari rasa bersalah itu kian membesar dan menyulitkan dirinya suatu saat nanti.
"Aku punya sesuatu untukmu," kata Laura dengan senyum yang tersungging begitu elegan.
"Katakan!"
"Bukan disini, Sayang. Apa kau tidak ingin mengajakku masuk? Aku bahkan tidak berani masuk tanpa ijin mu." Dengan gaya sok manis dan manja, Laura menatap penuh harap pada suaminya.
"Baiklah! Cepat masuk!"
Mendengar hal itu, Laura pun sedikit menyeringai dan berjalan masuk seraya terus menggandeng lengan kokoh suaminya.
Sesampainya di ruang tamu, Raymond berusaha menepis tangan istrinya.
"Cepat katakan, ada keperluan apa kau kesini!" Lelaki itu mulai jengah.
"Tidak mungkin disini, Sayang. Aku ingin mengatakannya di kamar yang waktu itu kau buat untuk mengambil keperawanan ku," rengek Laura manja, bertujuan mengingatkan kembali laki-laki itu pada momen indah yang pernah terjadi. Ia lalu menarik lengan Raymond menuju ke atas.
"Ck ... jangan bermain-main denganku, Laura! Cepat katakan karena aku masih ada urusan!" bentak Raymond. Rencananya kacau gara-gara kedatangan wanita satu ini.
Saat pulang tadi Raymond sudah berencana memberi kejutan pada Diana dengan memberikannya hadiah. Bahkan bunga yang ia beli pun tertinggal di dalam mobil gara-gara ia melihat Laura berada di teras rumahnya.
"Urusan apa, Raymond? Apa urusan dengan simpanan mu itu?" Raut wajah Laura muram seketika. Tapi beberapa detik kemudian ia langsung kembali memasang senyum manisnya. Ia tidak ingin hari ini kedatangannya akan sia-sia.
"Oh ... maaf, maafkan aku." Buru-buru Laura meminta maaf saat melihat perubahan wajah Raymond yang kian menakutkan.
"Jangan mengulur waktu lagi. Cepat katakan, apa mau mu!"
"Sabarlah, Raymond. Aku hanya ingin menunjukkan ini padamu." Laura meyerahkan ponselnya pada Raymond.
Pria itu memperhatikan dengan seksama lalu meremas ponsel itu dengan keras.
"Apa maksudnya ini?"
"Kau masih bertanya padaku? Baiklah ... jika kau tidak melihat dengan jelas. Biar aku jelaskan padamu. Apa kau pura-pura tidak tahu jika perempuan yang berada dalam pelukan seorang pria ini adalah simpanan mu?" tanya Laura seraya mengangkat satu alisnya.
"Lalu?" tanya Raymond dengan santai seolah tak terjadi pergolakan di dalam batinnya. Padahal di dalam dadanya begitu bergemuruh.
Ia cemburu!
Sangat cemburu melihat Diana sedang dipeluk pria lain di dalam foto yang ada di ponsel Laura.
"Apa memang begitu harga diri seorang simpanan? Bisa menjalin hubungan dengan banyak pria dalam satu waktu?"
Pertanyaan Laura sukses membuat Raymond makin terbakar.
"Bukan urusanmu, Laura!"
"Memang bukan urusanku. Tapi aku hanya merasa aneh saja. Apa dia tidak menghargai mu sehingga masih berusaha memikat orang lain? Atau uang darimu masih kurang? Atau bahkan mungkin itu sesungguhnya adalah kekasihnya?"
Laura terus berbicara dan semakin membuat Raymond merasa panas. Lelaki itu pun tak tahu, untuk apa merasa terbakar seperti ini. Bukankah memang wanita-wanitanya selalu bergonta-ganti pria juga?
"Kenapa kau diam, Sayang? Kau memikirkan jalang yang sudah menghianati mu itu?" Tangan Laura membelai bahu suaminya.
Perlahan ia beralih ke depan dan memulai aksinya. Tangan lentik nan mulus milik wanita itu membelai wajah Raymond dengan lembut lalu turun ke bawah dan melepaskan jas yang dikenakan Raymond.
Pelan tapi pasti, Laura mulai melepaskan ikatan dasi suaminya. Ia semakin berani saat Raymond tak menghentikannya sama sekali dan hanya menatap tajam padanya.
"Darimana kau dapatkan foto itu?"
"Aku sendiri yang mengambilnya, Sayang. Aku melihat mereka makan berdua di sebuah restoran. Mungkin ia mentraktir kekasihnya itu menggunakan uangmu."
Ucapan Laura semakin menambah buruknya suasana hati Raymond.
"Aw!" pekik Laura saat tangan Raymond mencengkeram bahunya dengan kuat.
"Jangan sakiti aku! Kau seharusnya berterimakasih, bukan?" Mata Laura menatap dengan intens kedalam mata Raymond yang menggelap. Lalu beberapa detik kemudian bibir mereka telah bersatu.
Laura semakin melancarkan aksinya saat tau Raymond tak menolak bibirnya. Ia semakin berani memainkan tangannya pada kejantanan Raymond yang mulai mengeras.
Tanpa melepaskan ciuman, Laura telah berhasil membuat lelaki itu bertelanjang d**a.
"Aku akan membuatmu puas, Raymond," bisiknya dengan sensual yang membuat Raymond seperti dialiri listrik.
Geloranya dan hasratnya sudah tinggi sekarang. Tak mungkin lagi ia tahan. Tanpa ia sadari, ia juga melucuti pakaian Laura tanpa sisa. Membanting tubuh polos itu diatas kasur lalu menindihnya. Memberikan ciuman panas dan kuluman di kedua buah kembar istrinya.
"Oh Raymond ... aku bisa gila! F**k me!" Desahan keras Laura itu membuat Raymond kian meninggi. Ia tidak tahu jika Diana tengah berjalan ke atas untuk mencari dan menemuinya.
Raymond melesakkan miliknya pada inti Laura yang sudah basah, memompanya dengan keras bukan karena nafsu, melainkan karena emosinya yang memuncak mengingat Diana yang sedang dipeluk laki-laki lain.
Fantasi Raymond membuatnya tak berpikir jernih. Ia membayangkan Diana-nya bukan hanya dipeluk, namun juga disetubuhi oleh pria itu.
Oh tidak! Raymond sudah gila!
Dan dengan kegilaannya ia telah berhasil diperdaya lalu masuk ke dalam perangkap Laura. Wanita itu ingin bercinta dengan Raymond dan berharap bisa hamil lalu mengikat Raymond untuk tetap bersamanya dan tidak menceraikannya.
Mata Laura yang tak sengaja melirik ke arah pintu kamar itu terlihat berbinar kala melihat Diana telah berdiri disana.
Ia tidak menyangka akan seberuntung ini. Niat hanya ingin bercinta, namun ternyata ketidak sengajaannya tak menutup rapat pintu kamar justru menguntungkannya.
Diana terlihat terisak dan membungkam bibirnya di ujung pintu saat menyaksikan Raymond terus memberi hujaman pada miliknya. Dan itu adalah hal yang sangat membahagiakan bagi Laura.
"Ouh Baby ... i love you so much ... faster baby! F**k me! Ouh ... ouh ...."
Laura sengaja meracau dengan keras karena gairahnya semakin meningkat drastis setelah melihat Diana disana. Ia juga meggoyangkan pinggulnya seiring dengan hujaman dari Raymond.
Diana ....
Aku bahkan tak bisa berkonsentrasi bercinta dengan orang lain karena bayanganmu yang selalu menari-nari di dalam otakku.
F**k!! Aku akan menghajar mu setelah ini. Beraninya kau menemui lelaki lain di belakangku.
Mantra apa yang kau gunakan hingga membuatku terngiang-ngiang akan keerotisan mu.
Aku gila karena mu, Diana!
Raymond merutuki dirinya. Ia tidak sadar jika bocah yang menjadi simpanannya itu telah merasuk semakin dalam dipikirannya.
"Raymond!" Laura kecewa karena lelaki itu mencabut miliknya tanpa memberikannya pelepasan yang ia inginkan. Raymond bahkan juga tak mengeluarkan spermanya sama sekali.
Gagal sudah rencana Laura yang ingin menanamkan benih Raymond ke dalam rahimnya.