Tap love ya sayang, biar authornya semangat.
_______
Raymond terkekeh melihat reaksi Diana yang demikian.
"Tidak akan masuk angin karena aku akan selalu menghangatkan tubuhmu," jawabnya kemudian, disertai senyum nakal yang membuat Diana menjadi kikuk.
"Dasar otak m***m!" umpat Diana untuk menutupi desiran aneh dalam hatinya. "Istrimu tadi bagaimana?" tanyanya lirih, sedikit takut jika Raymond tiba-tiba akan marah mengingat lelaki itu terlihat membenci Laura.
"Istri? Apa kau mulai cemburu?" Raymond semakin menggodanya.
Secepat kilat Diana menoleh dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak!" Tak tahu kenapa wajahnya terlihat bersemu merah. Ya, tadi saat Raymond terlihat masuk ke dalam kamar bersama istrinya, pikirannya mendadak traveling membayangkan lelaki itu pasti menyatukan miliknya bersama Laura.
Ah ... seperti ada sesuatu di bagian hatinya yang terasa seperti dicubit. Tapi Diana tidak mau menganggap itu sebagai rasa cemburu.
Tunggu!
Cemburu? Apa dia mulai cemburu?
Bukan tanpa alasan, masalahnya Raymond adalah lelaki pertama yang menidurinya. Hal itu pun praktis terkesan dan terngiang terus di dalam pikiran Diana.
"Kenapa berpaling? Kau mulai cemburu padaku?" tanya Raymond sekali lagi sambil meraih dagu Diana dengan lembut. Mendekatkan wajahnya hingga nafasnya yang beraroma mint tercium oleh Diana.
"Mana mungkin aku cemburu. Lagipula dia kan istrimu, lebih berhak atas dirimu juga." Diana melengos, sesuatu di dalam hatinya terasa tidak nyaman. "Dia cantik, kenapa kau malah selingkuh?"
"Kau tak perlu tahu hal itu. Yang perlu kau tahu adalah ini," ujar Raymond seraya meraih tangan Diana dan meletakkannya pada juniornya yang tegang.
Melihat tingkah Diana yang seperti orang cemburu membuat hasrat Raymond menjadi bangkit. Raymond suka hal ini. Mata Diana, tatapan antara sayu dan sedih membuat hati Raymond sedikit membuncah.
"Dasar m***m!" Diana menarik tangannya.
Beberapa detik berikutnya, Raymond sudah mendaratkan bibirnya dan Diana tak bisa menolak. Hangat tubuhnya, lembut bibirnya serta belaian tangan yang menimbulkan sensasi hingga hawa panas terasa menjalari tubuhnya itu tak dapat Diana tolak.
Ia menginginkannya, meski ia tahu statusnya hanya sebagai simpanan yang dibayar. Tapi Diana merasa nyaman.
Terkadang apa yang terjadi sering tidak sesuai dengan yang diinginkan. Diana ingin pergi dan kembali bebas, menjalani hidupnya yang sederhana seperti dulu. Tapi nyatanya kenyamanan dan kenikmatan yang Raymond berikan membuatnya tak bisa beranjak.
Hatinya seolah terbelah, sebagian yang lain ingin tetap tinggal dan menikmati segalanya sementara sebagian yang lain masih waras dan ingin pergi.
Deru nafas Raymond semakin memburu, ia membaringkan tubuhnya di sofa panjang.
"Naiklah, Sayang!" perintahnya yang disambut dengan tatapan tak mengerti dari Diana.
"Hhh ...." desah Raymond merasa gemas. "Berdirilah, kemari!"
Diana mengikuti setiap aba-aba dari Raymond. Saat ia berdiri, gaunnya merosot seketika ke lantai karena Raymond sudah menarik talinya yang terikat di leher tadi.
"Kemari lah! Naik di atas wajahku!"
"Hah?!" Diana semakin mengerutkan dahinya.
Raymond meraih paha gadis itu setelah menarik g-string yang masih menempel di kulit Diana. Sementara Diana hanya menurut sambil terus bertanya-tanya. Ia tidak tahu jika Raymond akan mengajarkan posisi baru untuknya.
"Kau gila! Akh ... Tuan ...." Baru saja menempatkan posisinya, Raymond sudah menjulurkan lidahnya dan menggelitik area basah milik Diana. Gadis itu mengapit kepala Raymond dengan dua paha mulusnya.
"Tuan, stop! Akh ...."
Gila! Kenapa sensasinya lain? Aku bisa melihat wajah lelaki ini di bawah selangkanganku. Aku semakin berhasrat sekarang, sial!
"Emh ... Tuan, yah ...." Diana terus meracau sambil menikmati hisapan dan kuluman bibir Raymond yang berada dibawah tubuhnya.
Raymond sendiri senang bukan main mendengar kemajuan Diana. Gadis itu tak lagi terlihat menahan hasratnya.
"Tuan, stop! Aku mau ... akh ... akh ...." Bagian sensitif Dian terasa berkedut seiring dengan lenguhan panjang yang ia keluarkan.
Tapi di bawah sana, Raymond belum berhenti bermain setelah menghisap habis cairan yang keluar dari milik Diana.
"Tuan, sudah ... geli, Tuan ... aw ... emh ...."
Meski Diana meminta berhenti berkali-kali pun juga Raymond tak menghiraukannya. Ia justru menahan paha Diana agar gadis itu tak bisa beranjak dari atas wajahnya. Hingga membuat Diana kembali basah dan semakin basah. Entah sudah berapa kali inti Diana itu berkedut karena pelepasannya.
Lelaki itu justru kian berhasrat memberikan lagi dan lagi sampai Diana terlihat lemas.
"Akh ... sudah, Tuan. Ampun!" teriaknya setelah mendapatkan kembali pelepasannya hanya dengan bibir dan lidah Raymond.
Raymond membiarkannya turun dan terkulai di sofa. Sebuah senyum terbit dari bibir lelaki itu seraya membersihkan sisa lelehan lendir Diana di bibirnya.
"Kau sudah lemas?"
"Ampuni aku, Tuan!" Diana memejamkan matanya. Merasakan sisa kedutan di area intinya. Rasanya ia lemas sekali dibuatnya, tak terhitung sudah berapa kali ia o*****e.
"Ampun? Aku belum apa-apa, Sayang." Raymond berganti menindih tubuh gadis kecilnya dan mengecup wajah Diana yang sedikit berpeluh.
Ia lalu membuka lebar kaki Diana dan menenggelamkan miliknya disana.
"Akh ... Sayang, milikmu selalu nikmat. Emh ... aku suka sekali." Raymond meracau sambil terus memompa.
"Tuan, jangan buat aku ... akh ... Tuan." Diana menggigit bibirnya saat desiran hangat kembali menjalari tubuhnya.
Raymond hanya tersenyum sambil terus melakukan gerakan in-out di bawah sana. Memainkan dan menghisap ujung benda kembar milik Diana yang masih begitu kenyal.
Sensasi melayang dirasakan oleh mereka berdua hingga lewat tengah malam Raymond tak kunjung mengampuni gadisnya.
Saat Diana mulai terlihat kelelahan dan susah b*******h, Raymond selalu kembali menenggelamkan wajahnya pada inti Diana. Seperti itu terus hingga ia mulai lelah.
Raymond sudah seperti seorang maniak seks saat bersama Diana.
Tiga hari meninggalkan gadis itu, membuat Raymond hampir gila. Ya, dia sepertinya sudah gila pada Diana.
***
"Aw!" pekik Diana dengan keras saat ia ingin bangun.
Suaranya membuat pria yang tidur disampingnya pun menggeliat dan mengerjapkan matanya.
"Masih pagi, jangan buat keributan, Sayang." Dengan tanpa dosa lelaki itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Diana.
"Ini sudah siang, Tuan. Aku lapar!"
"Hemm ... benarkah? Jam berapa memangnya?" tanyanya sambil mengubah posisinya menjadi miring. Tapi bibirnya sungguh tidak bisa diam, ia menciumi bahu terbuka Diana hingga membuat pemiliknya merinding.
"Jam 10.00."
"Hah?! Sial, aku melewatkan satu meeting penting hari ini!" gerutunya kemudian bangun dan mengecek ponselnya.
Ada banyak panggilan tak terjawab dari Willy. Semalam ponsel itu ia silent karena tak ingin ada yang mengganggunya.
"Kau tidak jadi bangun?" tanya Raymond.
"Tidak bisa."
"Kenapa denganmu? Kenapa seperti menahan sakit seperti itu?"
"Milikku sakit sekali, kurasa sepertinya sudah robek gara-gara ulah mu semalam!"
"Apa? Jangan bercanda! Bagian itu kan elastis?"
"Lalu menurutmu tidak bisa lecet atau robek begitu?!"
Raymond menatap Diana seperti orang bodoh. Diana memang berani, ia membentak dan memarahi Raymond habis-habisan.
"Lalu sekarang bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana? Aku tidak bisa bangun dan berdiri sekarang."
"Oke kita ke dokter kalau begitu. Ada-ada saja, mana mungkin bisa robek? Kau kan bukan baru melahirkan."
Perdebatan panjang terjadi diantara mereka berdua. Tapi hal itu membuat keduanya jadi lebih dekat dan intim karena Raymond harus menggendong Diana kemanapun gadis itu ingin pergi.
***
"Bagaimana, Dokter?" tanya Raymond sedikit cemas. Tapi dokter yang memeriksa Diana justru tersenyum-senyum.
"Apa kalian pengantin baru?"
Raymond dan Diana saling berpandangan untuk sesaat.
"Iya."
"Bukan."
Menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda. Raymond mengiyakan sementara Diana tidak. Membuat dokter berusia setengah abad itu menatap bingung pada keduanya.
"Maksud kami, kami adalah pengantin baru tapi juga sudah lumayan lama." Raymond membuat karangan.
"Hehehe ... pantas saja, begini, Tuan dan juga Nyonya. Berhubungan suami istri itu sah-sah saja. Apalagi untuk pasangan sah seperti Anda berdua. Tapi alangkah baiknya jika dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan. Terlebih lagi untuk pengantin baru seperti kalian yang hasratnya sedang tinggi-tingginya. Namun organ vitalnya masih sangat sensitif dan rentan lecet, khususnya untuk wanita. Disini saya melihat ada bengkak, sedikit robekan dan juga luka lecet yang menyebabkan Nyonya Diana kesulitan beraktifitas. Saya sarankan sebaiknya Anda berdua tidak saling berhubungan dulu untuk beberapa hari kedepan agar lecetnya tidak semakin parah dan bengkaknya pulih. Karena jika dipaksakan berhubungan, maka bisa menimbulkan infeksi."
Wajah Raymond menjadi merah karena malu mendengar penuturan dokter tadi.
"B-baik, Dokter." Ia bahkan sampai tergagap menjawabnya.