"Maukah kau memberiku kesempatan?" Laura memeluk suaminya dari belakang. Ia menempelkan kepalanya di punggung Raymond. Berusaha menyalurkan kehangatan dan perasaan itu pada lelaki yang amat dicintainya itu.
Raymond sudah kembali berpakaian rapi, begitupun dirinya. Ia memakai gaun baru yang dibawakan oleh seorang pelayan. Laura tidak tahu jika gaun itu diambil dari koleksi gaun yang ada di kamar Diana.
"Tidak!" jawab Raymond dengan datar. Tangannya ia lipat di depan dadanya. Sementara matanya menatap lurus ke arah jendela. Alisnya berkerut seolah sedang memikirkan sesuatu. Entah apa itu.
"Kenapa?" Perlahan pelukan Laura mengendur. Mendapat jawaban seperti itu saja sudah membuatnya lemas. Ia lalu berpindah ke hadapan Raymond. Berusaha menatap mata hitam dengan sorot yang tajam bak seekor elang.
"Dari awal kau sudah tau alasannya." Raymond berbalik, berjalan dan mengambil jasnya.
"Apa tidak ada getaran sedikit saja di hatimu setelah kita melakukannya tadi?" Buliran bening yang sejak tadi sudah mengembun di mata Laura pun tumpah. Ia meremas ujung gaunnya untuk menetralkan rasa sakit yang begitu menghimpit dadanya.
Harus bagaimana lagi? Harus seperti apa agar suaminya mau menoleh kearahnya. Ia lelah sekali rasanya, setiap waktu harus mengemis cinta dari suaminya sendiri.
Raymond berbalik membalas tatapan Laura seraya menyeringai.
"Aku sudah sering melakukannya dengan banyak wanita, yang lebih hebat dan istimewa darimu pun banyak. Tapi tak ada satupun yang membuat hatiku bergetar. Apalagi dirimu," bohongnya.
Ya, Raymond berbohong. Sesungguhnya ia sedang gelisah saat ini. Tapi ia juga tak ingin terpaut hubungan lebih dalam lagi dengan wanita selicik Laura. Cukup hari ini saja, setelah itu urus berkas perceraian dan meninggalkan wanita itu begitu saja.
"Tega kau, Raymond," lirih Laura pasrah. Rasa lelah dan kecewa telah menjalar di dalam hatinya. Ia lalu menyambar tasnya dan pergi meninggalkan Raymond dengan membawa luka hatinya yang sudah teramat dalam. Makin hari semakin dalam rasanya.
Sakit sekali hingga air matanya tak mau berhenti meleleh. Laura terus menuruni anak tangga dan berpapasan dengan Diana yang baru saja dari dapur dan membawa sekotak strawberry segar dan beberapa snack. Gadis itu tepat berada di ujung anak tangga terakhir.
Diana mematung saat Laura berhenti di hadapannya. Ia tidak tahu harus menyapa bagaimana atau bersikap seperti apa. Yang ada dihadapannya adalah istri sah dari lelaki yang menjadikannya sebagai simpanan.
Haruskah ia tersenyum?
Hah ... itu jelas konyol sekali.
"Kau ... dasar jalang tak tahu diri!" umpat Laura sambil menyeka air matanya.
Sementara Diana hanya diam sambil menatap polos. Ia sesungguhnya kasihan pada Laura, entah apa yang Raymond lakukan dan katakan pada wanita itu hingga membuat Laura begitu kacau seperti ini.
"Aku bersumpah akan merebut Raymond darimu dan akan membuatmu di tendang dari rumah ini," ancam Laura kemudian.
"Maaf, Nyonya. Tapi-"
Plak!
Belum sempat Diana menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya hingga membuatnya menoleh kesamping. Pipinya terasa panas sekali.
"Jangan berani menjawab apa yang ku katakan. Aku akan buat kau menyesal, juga semua wanita yang berurusan dengan suamiku!"
"Jangan buat keributan lagi di kediamanku!" Suara Raymond menggema dari atas tangga.
"Baik. Aku akan pergi, tapi aku bersumpah akan buat kau menyesalinya, Raymond." Sesaat Laura menatap penuh dendam pada suaminya kemudian berpaling dan kembali melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Raymond yang begitu mewah.
Diana hanya bisa melongo melihat apa yang terjadi. Ia tidak habis pikir, dimana letak kesalahannya. Dia disini juga bukan atas kemauannya sendiri. Apalagi untuk merusak rumah tangga orang.
***
Sudah waktunya makan malam. Dimeja makan beberapa macam hidangan telah tersaji dengan rapi. Namun hanya ada Diana disana.
"Bik ... Tuan Raymond kemana?" tanya Diana pada salah satu pelayan yang berujung penyesalan. Untuk apa juga ia menanyakannya. Bukankah bagus jika lelaki itu tidak ada?
"Tuan Raymond belum keluar kamarnya sejak sore tadi, Nona."
"Oh ... baiklah, terimakasih." Diana lalu tanpa dosa mengambil piring dan mengisinya dengan lauk pauk serta nasi.
Mulai makan sesuap demi sesuap.
Beberapa kali ia menengok ke atas, namun lelaki sialan itu tak kunjung terlihat juga.
"Non, Tuan Raymond bilang ... ingin diantarkan makanan ke kamarnya," ujar pelayan yang tadi.
"Oh ... ya sudah, Bibi antarkan saja!"
"Tidak boleh, Non."
"Kenapa?" Diana mengernyit lalu menghentikan aktifitasnya. Ia membersihkan bibirnya dan minum segelas air.
"Tuan minta Nona yang mengantarkannya."
"Ada-ada saja. Ya sudah, Bibi siapkan saja. Nanti Diana antar ke kamarnya."
Dasar orang aneh. Tidak mau makan ya sudah, tidak usah makan saja sekalian. Merepotkan saja minta diantar ke kamar. Gerutu Diana dalam hatinya.
Setelah makanan disiapkan oleh pelayan tadi, Diana segera mengantarkannya ke atas. Ia mengetuk pintu kamar Raymond dengan pelan. Karena tak ada jawaban, Diana pun mencoba untuk membukanya.
Ceklek ....
Suasana hening membuat suara itu terdengar begitu jelas.
Gelap sekali, gumam Diana sembari berjalan masuk.
"Tuan!" Ia memanggil lelaki yang kini terus menatap jendela kamarnya.
"Bibi bilang, Tuan ingin makan. Kenapa tidak turun ke bawah saja?" tanya Diana. Namun Raymond tetap tak bergeming.
"Oh ... baiklah. Maaf aku mengganggu!" Diana menyadari, lelaki itu sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Aura di dalam kamar ini pun terasa mencekam baginya, jadi lebih baik ia pergi saja.
Dengan pelan ia meletakkan nampan berisi makanan itu ke atas meja, lalu ia beranjak pergi.
"Berhenti!" titah Raymond dengan lirih. Ia berjalan mendekati mainan kecilnya.
"Mau kemana?"
"Pergi! Kenapa?" jawab Diana ketus.
"Aku ingin kau menyuapiku!" Raymond duduk di sofa.
"Memangnya tanganmu tidak berfungsi?"
Mata Raymond terpejam. Ia benar-benar dibuat gemas bercampur geram. Bocah cilik ini, kenapa tidak bisa menurut padanya sekali saja. Tanpa menjawab, tanpa bertanya dan tanpa banyak bicara.
"O-oke ... oke. Aku akan menyuapi mu," ujar Diana setelah mendapat tatapan dari Raymond. Ia lalu segera duduk di samping lelaki itu, mengambil sendok dan membuka makanan yang ia bawa tadi. Tapi sendok yang ia pegang jatuh seketika saat Raymond membuatnya terkejut karena tiba-tiba mencekal tangannya.
"Aku ingin tanya padamu, kenapa bibirmu selalu enteng sekali saat berbicara? Bukankah sudah ku bilang jika kau lebih baik menurut?" Aroma maskulin dari tubuh Raymond menguar dan menggelitik indera penciuman Diana. Nafas lelaki itupun terasa hangat menerpa wajahnya.
"Itu ... aku-" Diana hanya menggantung kalimatnya. Entah kenapa ia merasa berdebar-debar.
"Apa kau memang sengaja? Kau suka dihukum? Kebetulan sudah tiga hari aku tidak menjamah mu. Apa kau begitu rindu pada sentuhan ku? Aku pulang setelah tiga hari pergi, tapi kau bahkan tidak menyambut ku. Kenapa?" Jantung Diana terus terpacu mendengar segala desisan Raymond.
"Bukankah sudah ku bilang juga, agar kau memakai pakaian yang seksi saat aku ada dirumah. Kenapa kau memakai baju seperti ini?" Raymond memandangi Diana yang memakai piyama. Piyama yang ia pinjam dari salah seorang pelayan di rumah ini.
"Aku tidak nyaman."
"Tidak nyaman? Baiklah, akan ku ubah peraturannya."
"Apa?" tanya Diana dengan wajah berbinar. Ia berharap Raymond akan mengijinkannya memakai piyama seperti ini setiap waktu.
"Kau senang?"
Diana mengangguk cepat.
"Baiklah, ku anggap ini adalah persetujuan darimu juga."
Sebuah seringai yang muncul di bibir Raymond tiba-tiba membuat perasaan Diana menjadi tidak enak.
"Aku tidak harus memakai lingerie itu, kan?" tanyanya memastikan.
"Tidak ... tidak perlu karena kau tidak ku perbolehkan memakai apapun saat aku dirumah."
Diana terkesiap seketika begitu mendengar ucapan Raymond.
"Suka, kan?" goda Raymond.
"Gila! Dasar gila! Kalau aku masuk angin bagaimana?"