Tap love nya gais, biar authornya makin semangat.
________
"Tidak perlu kau bertanya padaku, tanyakan saja ayah yang kau banggakan itu." Raymond melirik sinis kearahnya.
Laura terlihat tidak percaya akan apa yang ada dipikirannya. Tidak mungkin ayahnya bangkrut. Tidak mungkin hartanya yang begitu berlimpah bisa habis.
"Kamu bohong, kan?" tanyanya sekali lagi ingin meyakinkan.
"Sebaiknya kau pulang! Aku masih bisa berbaik hati padamu, jika saja kau tidak pernah mencampuri segala urusanku dan kesenanganku. Tapi nyatanya selama bertahun-tahun aku memberi kesempatan padamu, kau selalu saja menyia-nyiakannya."
"Apa? Apa maksudmu?" Laura mendekat kembali dan masih berusaha mendapatkan perhatian Raymond.
"Ingat-ingat sendiri ke belakang! Apa saja yang sudah kau lakukan pada para wanita ku."
Seketika Laura pun terkesiap. Apa Raymond mengetahui semuanya? Apa Raymond tahu jika ia adalah orang yang berada di balik kematian Sandra, salah satu kekasih gelap Raymond.
Dengan sangat kesulitan Laura menelan salivanya. Tubuhnya sedikit bergetar. Kini matanya mulai memanas dan membentuk butiran-butiran embun yang membuat pandangan matanya memburam.
"A-aku tidak mengerti apa yang kau maksud." Bibirnya terlihat bergetar dan memucat saat berkata.
"Seandainya kau tidak seangkuh itu. Aku mungkin bisa mempertimbangkan dirimu. Tapi sayangnya, kau terlalu gila, Laura. Kau sakit!"
Tulang-tulang Laura seolah melunak semuanya. Tak mampu menahan bobot tubuhnya untuk berdiri.
"Aku melakukannya karena mereka merebut posisiku. Apakah aku salah jika aku cemburu? Kau tidak pernah walau hanya membelaiku, tapi dengan mereka kau malah mencurahkan hasrat mu. Apa kau pikir hatiku sekuat itu, Raymond?" Laura yang tadi merosot ke lantai, kini tergugu sambil menunduk menahan rasa sakit yang entah sudah berapa lama selalu menghujam jantung dan hatinya.
Setiap mendengar Raymond memiliki simpanan baru, hatinya selalu sakit bak ditusuk oleh ribuan duri tajam. Wanita mana yang rela membagi tubuh suaminya untuk wanita yang lain sementara dirinya sendiri bahkan tak pernah disentuh.
"Lalu apa menurutmu benar saat kau menghilangkan nyawa orang lain karena sakit hatimu?"
"Aku tahu itu salah, tapi aku sudah sangat gila karena mu, Raymond. Aku gila karena aku memilikimu tapi aku tidak pernah berarti di matamu. Aku menjadi istrimu tapi kau bahkan tak pernah sekalipun memberikan hak itu padaku dan justru memberikannya pada para jalang itu." Laura menatap nanar pada suaminya.
"Jadi kau begitu menginginkannya?" Raymond melirik wanita cantik yang terduduk di bawahnya.
Ia lalu dengan sangat kasar menarik tangan Laura dan membawanya ke atas.
Diana yang melihat pemandangan itupun menjadi khawatir. Ia takut Raymond akan menyiksa Laura. Yang ia tahu, Raymond bisa melakukan apa saja tanpa pikir panjang.
Laura terseok-seok mengikuti langkah kaki Raymond dalam menaiki anak tangga menuju sebuah kamar. Bukan kamarnya ataupun kamar Diana tentunya.
_____
Bruk ....
Lelaki itu melemparkan tubuh Laura ke atas ranjang dengan begitu kasar.
Raymond melepaskan jasnya dan melonggarkan dasinya, juga melepas ikat pinggang yang melingkar dengan rapi di perutnya.
Berjalan perlahan menghampiri wanita yang terbaring di ranjang. Ia menindih paha Laura yang tak tertutup gaun karena gaun yang dipakainya tersingkap hingga menampakkan kain berwarna hitam dan berenda.
Laura tidak tahu, ia harus bahagia atau harus bersedih. Momen kebersamaan dengan Raymond yang ia tunggu-tunggu kini menjadi kenyataan.
Raymond begitu dekat dengannya. Tapi entah kenapa ada sebuah ketakutan yang tiba-tiba menyelimuti dirinya.
Krak ....
Raymond menyobek gaun itu di bagian jahitan sampingnya. Hingga terlihat bongkahan d**a Laura terpampang indah di depan matanya. Bra berenda senada dengan g-string yang membungkus area sensitif Laura nampak menggairahkan.
Tak butuh waktu lama, Raymond segera melucuti semuanya hingga tubuh Laura benar-benar polos.
Lidah runcing Raymond menyentuh permukaan kulit dadanya lalu menghisap ujung bukit kembar Laura dengan kasar.
"Akh ...." desah Laura tak bisa tertahan. Disaat bersamaan air matanya mengalir melewati pelupuk matanya. Ia tak tahu sedang melukiskan perasaan apa saat ini.
Untuk pertama kalinya ia bisa sedekat ini dengan suaminya. Memegang kepala Raymond yang sedang memainkan bukit kembarnya dengan bibir dan lidahnya.
Seumur hidupnya, baru kali ini area itu dijangkau oleh lelaki. Dimainkan dengan hebat oleh suami sahnya.
Bibir Raymond berpindah ke bibir Laura. Untuk sesaat mata mereka bertemu, namun Raymond tetap menatap dingin padanya. Tatapan yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun.
Laura terpejam saat bibir mereka bertemu. Ada sedikit rasa bahagia yang menjalar. Ia bisa memeluk Raymond.
Beberapa menit berlalu, Raymond melepaskan pagutannya. Ia menatap wajah Laura yang sebenarnya sangat cantik. Tapi Raymond benar-benar tidak bisa untuk memberi kesempatan dan membuka hati untuknya.
Laura gelisah karena Raymond tak kunjung melepaskan pakaiannya, tapi ia juga tak berani bertanya.
Cup ...
Bibir itu kembali bersatu, seolah menghapus rasa gelisah tadi. Tangan Raymond mulai merayap ke dadanya dan meremas benda kembar itu secara bergantian.
Lelaki itu menurunkan posisinya hingga kepalanya sejajar dengan gundukan kenyal itu, ia melumatnya kembali dan memainkan tangannya pada belahan sensitif Laura. Mencari benda kecil yang terselip diantaranya.
"Emh ... Akh ... Raymond," racau Laura saat tangan Raymond dengan lihai bermain disana.
Kepalanya terangkat ingin menyaksikan apa yang Raymond lakukan. Namun terpaan rasa nikmat yang menjalar membuatnya merebahkan kembali kepalanya.
"Akh ... akh ...." Desahan Laura semakin tak teratur ketika Raymond memasukkan jarinya ke dalam rongga nikmatnya.
Melihat milik Laura sudah sangat basah, Raymond pun beralih dan bersiap memasukkan senjatanya. Ia melepaskan semua pakaiannya hingga tak tersisa.
Pengalaman yang sama ia rasakan seperti halnya saat ia meniduri Diana. Milik Laura terasa sangat sempit dan menggigit. Ya, meskipun ia lebih tua dari Raymond tapi rupanya dia memang masih virgin.
"Akh ... Raymond, sakit ...." pekik Laura saat benda tumpul itu berhasil melesak masuk ke dalam miliknya.
Rona kebahagiaan menghiasi wajahnya, ia menatap penuh cinta pada Raymond. Sementara perasaan yang lain tiba-tiba muncul di dalam diri Raymond.
Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyelimutinya. Wajah Laura yang merah karena gairah dan juga bahagia itu membuatnya gelisah.
"Emh ... emh ...." desahan itu pun lolos begitu saja saat ia mulai memompa milik istrinya. Raymond tidak menyangkal jika milik Laura ternyata juga seenak ini.
Tiba-tiba ia menyesal. Kenapa ia justru selama ini memilih melampiaskan hasratnya pada wanita bayaran dari pada bersama Laura.
Tak sadar ia menurunkan wajahnya dan mencium kening Laura. Lalu turun ke bibir dan melumatnya dengan lembut.
"Emh ... akh ...." Laura memekik sesaat setelah Raymond melepaskan ciumannya. Tubuhnya mengejang hebat sementara tangannya mencengkeram tengkuk Raymond dengan kuat.
Laura tersenyum bahagia. Ini adalah pelepasan pertamanya bersama Raymond. Wajahnya kini berubah menjadi sendu. Ia mengusap d**a Raymond dan juga wajah Raymond. Akhirnya apa yang ia tunggu selama bertahun-tahun ini diberikan juga oleh suaminya.
Lelaki itu terus memompa untuk mendapatkan pelepasannya. Ia memejamkan matanya guna menghindari tatapan Laura yang membuatnya gelisah.