Please jangan lupa buat tap icon love nya jika kalian suka cerita ini untuk dukung author.
Ini adalah novel pertama yang saya publish disini, jadi harap beri masukan dan kritik yang membangun juga.
________
Raymond menjadi sedikit gugup karena ini untuk pertama kalinya ia mengajak dan menemani wanitanya pergi ke dokter kandungan.
"Tuan Raymond," panggil dokter yang Raymond tahu bernama Elios.
"Ah ... emm ... iya, ini adalah partnerku. Dokter tahu kan? Aku hanya tidak ingin dia hamil. Jadi lakukan sesuatu untuk itu." Raymond mengutarakan maksudnya.
Dokter Elios tersenyum mengerti. Ia bukan tidak tahu siapa Raymond. Justru ia sangat mengerti orang-orang seperti Raymond. Ya, pria dengan segala kekuasaan dan materi dalam genggamannya. Apalagi rumor yang beredar mengenainya jika bukan tentang penikmat wanita.
"Untuk hal itu sebenarnya harus menunggu dulu saat yang tepat, Tuan. Karena penggunaan alat kontrasepsi itu tidak bisa sembarangan. Jadi kita harus menunggu nona ini datang bulan dulu," terang dokter Elios.
Raymond mendesah kesal mendengarnya. "Apa tidak bisa dengan cara lain? Kau adalah dokter, lakukan sesuatu yang bisa mencegah hal itu," tanyanya.
"Begini saja, saya akan berikan obat khusus yang bisa diminum untuk pencegahan sementara. Lalu saat nona ini selesai datang bulan, Tuan bisa membawanya kembali kesini. Nanti saya akan pilihkan jenis kontrasepsi yang cocok untuk kalian."
"Hhh ... baiklah kalau begitu." Raymond sedikit lega. Paling tidak ia bisa bermain dengan aman sekarang. Kepalanya sudah pusing memikirkan hal ini karena sejak kemarin dan hari ini ia terus menumpahkan cairannya ke dalam rahim Diana. Bagaimana tidak? Ia tidak bisa menahannya.
Gadis itu sekarang hanya bisa diam dan mendengarkan percakapan antara dokter kandungan itu dan Raymond. Ia setuju dengan keputusan Raymond kali ini. Ia juga tentu tidak mau jika sampai hamil tanpa status yang jelas. Bagaimana nasib anaknya kelak?
Usai dari rumah sakit, Raymond mengajak Diana pergi ke sebuah mall miliknya.
"Mau apa lagi kita kesini?" tanya Diana setelah turun dari mobil.
"Kau tahu, alangkah lebih baiknya jika kau bisa diam dan tidak berisik apalagi bertanya ini dan itu terus."
"Aku-"
Cup ....
Raymond mendaratkan ciuman dan melumat bibir Diana yang baginya terasa manis. Ia tidak peduli tempat, sudah gemas sekali dengan perempuan satu ini. Meski banyak mata yang melirik dan melihat ke arah mereka, Raymond tidak peduli.
"Emh ... emh ...." Diana meronta hingga akhirnya ciuman itu terlepas.
"Kau mau membunuhku?" tanyanya dengan terengah-engah hampir kehabisan nafas.
"Itu namanya hukuman! Jika kau tidak bisa diam dan menurut padaku, maka ku pastikan kau akan mendapat banyak hukuman seperti itu."
Diana terdiam seketika.
"Bagaimana? Mau hukuman lagi?"
Mendapat pertanyaan dari Raymond yang seperti itu, Diana pun langsung menggeleng dengan cepat. Ia tidak tahu jika lelaki dihadapannya tengah tersenyum tipis melihat tingkahnya.
"Ayo masuk!"
"Kemana?"
"Kau sengaja membuatku kesal atau bagaimana? Kita masuk ke dalam mall itu!" Raymond lalu menggenggam tangan Diana dan membawanya masuk ke dalam gedung empat lantai nan megah dihadapannya. Diana menjadi sedikit salah tingkah.
Di dalam mall, Raymond mengajak Diana masuk ke sebuah butik mewah dengan beragam model pakaian terpajang rapi. Beberapa orang pegawai menyambut mereka dengan antusias.
"Temani nona ini untuk memilih baju!" perintah Raymond pada para pegawai. Sementara itu dia pergi karena ada urusan.
Diana berkeliling melihat-lihat. Semua pakaian yang dipajang di butik itu terlihat sangat indah. Ia terkesan melihatnya. Entah sudah berapa tahun ia tidak lagi pernah berbelanja pakaian-pakaian mewah seperti ini.
Sejak ibunya meninggal, dunianya serasa berubah 180 derajat. Tidak ada lagi kasih sayang, kemewahan dan juga kesenangan pribadi. Meski saat itu ayahnya masih bergelimang harta, namun Diana tidaklah seperti anak orang kaya pada umumnya.
Jatah uang jajannya bahkan dipangkas banyak oleh ibu tirinya hingga ia hanya menerima seperlimanya saja dari yang seharusnya. Sementara Liona menerima jatahnya secara penuh. Segala kebutuhan Liona selalu terpenuhi, pakaian mewah, mobil mewah, hampir segala keinginannya juga dikabulkan oleh Sovia.
"Lihatlah, wajahnya sangat biasa. Aku yakin dia pasti merayu tuan Raymond hingga naik ke ranjang untuk mendapatkan kemewahan."
"Apalagi? Semua wanita tuan Raymond pasti melakukan hal itu hanya untuk bisa hidup mewah."
Diana yang sedang memilih pakaian itu mendengar obrolan diantara pegawai butik yang ada dibelakangnya. Mereka lalu tertawa mengejek sambil melirik ke arah Diana.
"Saya ingin pakaian ini," ujar Diana sambil berpura-pura tidak mendengar apapun yang mereka katakan.
"Tentu, Anda bisa mencobanya sendiri disana." Pegawai butik itu menunjuk ke sudut ruangan. Padahal untuk butik semewah ini, pelanggan harusnya dilayani dengan baik dan ditemani saat mencoba-coba pakaian.
"Oh ... terimakasih." Diana melangkah hendak menuju kesana. Namun seorang pegawai sengaja memajukan kakinya saat Diana hendak melewatinya. Alhasil Diana tersandung dan tersungkur ke depan.
Para pegawai itu tersenyum meremehkan sambil mengulurkan tangannya. "Ups! Hati-hati, Nona. Jika tidak hati-hati, Anda akan terjatuh."
Saat Diana meraih tangan yang terulur itu, pegawai tersebut menarik tangannya.
"Anda bisa bangun sendiri, kan?" Kembali pegawai itu menegakkan badannya.
Diana mengeratkan giginya karena geram. Tidak pernah ia dipermalukan hingga seperti ini.
"Tentu, aku bisa berdiri sendiri. Ini, aku kembalikan gaun ini." Diana berdiri dan melangkahkan kakinya.
"Hei! Kau sudah membuat kotor gaun ini, jadi kau harus membayarnya!" Tangan Diana dicekal oleh salah satu pegawai butik itu.
"Minta saja pada orang tadi."
"Wah ... wah ... rupanya wanitanya tuan Raymond kali ini tidak berdaya, ya? Biar ku tebak! Kau pasti dari kalangan miskin, kan? Ceritakan padaku, bagaimana cara memikat hati tuan Raymond? Apa harus perawan? Kau pasti menjual keperawanan mu, kan?" sindir pegawai butik.
"Hal itu tidak ada urusannya dengan kalian! Jika kalian menginginkannya, kenapa tidak kalian coba saja! Siapa tahu tuan Raymond tertarik pada kalian." Diana mengibaskan tangannya hingga lengannya terlepas dari cekalan pegawai itu.
Diana melanjutkan langkah kakinya dan tiba-tiba Raymond muncul begitu saja.
"Beraninya kalian bersikap buruk pada wanitaku! Apa kalian sudah bosan bekerja?" Raymond menatap tajam pegawai itu satu persatu.
Mereka menunduk dalam. Tidak tahu jika Raymond ternyata sudah berdiri disitu. Sejak kapan? Apakah Raymond mendengar semuanya?
Habis sudah! Bisa-bisa tamat riwayat mereka.
"Maafkan kami, Tuan. Kami tidak bermaksud demikian."
Raymond merogoh ponselnya lalu menelepon seseorang dan terlihat serius. Dan tak lama kemudian seorang wanita berpakaian rapi datang.
"Tuan Raymond, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita yang merupakan manajer butik.
"Aku tidak ingin melihat para pegawai ini lagi. Pastikan mereka tidak bekerja di butik ini, atau pun di dalam mall ini lagi!" Raymond berkata dengan mata yang merah.