Yang belum tap ❤️ dan follow akun author, ayo di tap dulu trus follow.
Semakin banyak loves dan followers authornya akan semakin semangat buat update ceritanya.
_________
"Sesuai perintah Tuan Raymond, mereka tidak akan terlihat lagi di kawasan mall ini mulai hari ini juga." Manager butik itu masih tetap menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap wajah Raymond. Sungguh, ia rasanya tidak punya muka dihadapan Presdir Vernon Group itu. Malu sekali dengan ulah anak buahnya yang sudah berlaku tidak sopan pada kekasih Raymond hingga mempermalukan gadis itu.
Diana pun ikut terdiam menyaksikan apa yang Raymond katakan. Ia seolah ikut merasakan terintimidasi seperti yang dirasaka oleh para pegawai butik yang semuanya menunduk dalam. Dari sini ia mulai sedikit tahu jika Raymond bukanlah orang sembarangan. Aura kekuasaan yang kuat menyelimuti lelaki itu. Diana terasa bergidik ngeri mengingat dirinya pun telah menerima imbas dari perbuatan konyolnya yang hanya menendang botol kosong dan tak sengaja mengenai mobil lelaki sialan itu tempo hari.
"T-tuan, aku tidak apa-apa. Tolong jangan keterlaluan, hingga sampai memberhentikan mereka dari pekerjaannya." Diana angkat bicara. Ya, begitulah dirinya. Meski dia tadi sudah diperlakukan dengan buruk oleh para pegawai itu, tapi Diana masih punya rasa iba melihat mereka menerima dampak sampai dipecat seperti ini.
"Apa yang kau katakan? Kau membela mereka, padahal mereka telah berbuat kurang ajar padamu?" tangan Raymond membelai pipi Diana yang mulus, namun bagi Diana itu bukan seperti belaian. Ia justru merinding dengan sikap Raymond.
"A-aku yakin mereka tidak bermaksud demikian. Please! Aku yakin mereka punya keluarga yang bahkan mungkin mengandalkan mereka menjadi tulang punggung." Diana berkata sedikit gugup lalu mengedipkan matanya beberapa kali. Dan itu sangat menggemaskan dimata Raymond.
Lagi-lagi kau membuatku tak berdaya karena tatapan mu. Dasar bocah nakal!
"Hhh ... baiklah. Jika itu yang kau inginkan." Bibir Raymond mendarat singkat pada bibir Diana yang terlihat sedikit pucat.
"Biarkan mereka tetap bekerja," ujarnya kemudian pada manager butik.
"Kalian lihat, bahkan orang yang telah kalian sakiti dan kalian permalukan justru tidak ingin kalian dipecat. Berterimakasih lah dengan pantas atas kemurahan hatinya!" Raymond menatap tajam ke arah mereka.
Para pegawai itu tak membuang waktu lagi. Mereka yang berjumlah lima orang segera berlutut dan mengatupkan kedua tangan mereka dihadapan Diana seraya mengucapkan permintaan maaf dan berterimakasih pada Diana.
Diana tersenyum. "Kalian berdirilah! Jangan seperti ini. Aku pun sama seperti kalian, bukan seseorang yang harus kalian agungkan. Ayo, berdirilah!" pintanya sembari membantu salah satu dari mereka untuk kembali berdiri.
"Maafkan kami, Nona. Anda sungguh baik, sekali lagi terimakasih. Kami tidak akan mengulangi perbuatan kami lagi," ujar salah satu dari mereka dengan penuh penyesalan. Bahkan terlihat mata itu seperti dilapisi kaca.
"Sudahlah, lupakan saja! Ku harap kalian bisa lebih profesional lagi dalam melayani pelanggan kalian karena tanpa pelanggan, butik sebesar apapun tidak akan ada artinya."
Mendengar ucapan Diana, para pegawai itu langsung mengangguk dengan sopan. Ya, Diana benar. Tanpa adanya pelanggan, usaha sebesar apapun pasti hancur.
"Ayo pergi!" ajak Raymond. Ia meraih Diana dan melingkarkan salah satu tangannya di pinggang wanita itu setelah tadi sempat mencium kening Diana hingga membuat Diana sedikit terpaku.
"Sekali lagi kami meminta maaf, Tuan. Terimakasih juga atas kemurahan hati, Nona," ujar manager butik sebelum Raymond dan Diana benar-benar pergi dari sana.
***
"Dasar bodoh!" celetuk Raymond secara tiba-tiba saat di dalam mobil.
"Kenapa?" Diana yang merasa tidak tahu apa yang dibicarakan Raymond hanya mendelik kearah lelaki yang kini tengah mengemudikan mobilnya.
"Kau sudah dipermalukan seperti itu tapi masih membela para pegawai yang tidak tahu diri itu!" Raymond kesal sekali dengan sikap Diana.
"Aku ... aku hanya kasihan pada mereka. Sama halnya sepertiku, mereka pun juga tidak mudah mencari uang. Tidak sepertimu!" Diana menjawab dengan ketus diakhir kalimatnya.
"Kau!" Raymond menahan rasa geramnya. Diana selalu saja menjawab apa yang dia katakan. Ia mencengkeram kemudinya lalu menepikan mobilnya di sisi jalan yang kebetulan sepi karena mereka hampir sampai di mansion. Mansion milik Raymond tentunya.
"Mau apa?" Diana memundurkan wajahnya karena Raymond mendekatkan wajahnya kearahnya dan membuka sabuk pengamannya.
Beberapa detik kemudian tangan Raymond sudah berada di tengkuknya dan menarik kepalanya. Sementara bibir Raymond melumat bibirnya dengan kasar. Raymond membuat Diana tak bisa bergerak karena ia menahan tengkuk Diana dengan kuat.
"Emh ... emh ...." Diana berusaha melepaskan ciuman lelaki itu dan memukul bahu Raymond. Namun tak kunjung berhasil juga. Tenaganya terlalu kecil untuk melawan Raymond.
"Bernafas lah, dasar gadis bodoh! Kau bisa kehabisan nafas jika seperti ini."
"Kau mengagetkanku!" protes Diana sambil terengah-engah. Bibirnya masih basah karena saliva Raymond.
"Tidak ada protes! Ini semua karena kau selalu menjawab dan melawanku. Sudah kubilang jadilah simpanan yang baik dan penurut! Apa susahnya, hah?" ujar Raymond kesal.
Detik berikutnya ia lebih lembut meraih Diana hingga bibir mereka kembali bertemu. Raymond kembali melumatnya, tidak kasar seperti tadi. Meski tanpa balasan dari Diana tapi ia terus melakukan aksinya. Baginya bibir Diana terasa manis dan sangat menggoda.
Kadang Raymond pun bingung, kenapa dia berhasrat sekali saat bersama Diana. Seperti saat ini, hanya melihat bibir Diana yang manyun saja sudah membuatnya hampir terbakar. Tak tahan jika tidak segera dituntaskan.
Kini tangannya bahkan sudah menyusup di dalam gaun yang dipakai Diana. Dengan lihai mencari area sensitif milik gadis itu yang masih terbungkus dalamannya.
"Emh ...." Diana hendak protes, tapi ditelinga Raymond itu terdengar seperti sebuah lenguhan. Seksi sekali, membuatnya semakin liar memainkan benda kecil yang berada diantara belahan sensitif Diana.
Sesaat ia melepaskan ciumannya dan mengalihkan bibirnya pada leher mulus Diana.
"Tuan ... stop!" tatapan Diana terlihat sayu, gadis itu sepertinya sudah terpengaruh oleh sentuhan dan rangsangan dari Raymond.
"Nikmat, bukan? Milikmu sudah basah sekali, apa kau tidak ingin menuntaskannya?" goda Raymond.
"Jangan, Tuan! Sudah cukup!" pinta Diana, meskipun ia sebenarnya hampir merasa melayang karena sentuhan intens Raymond di area sensitifnya.
Tak ingin mendengar ucapan Diana, Raymond pun kembali membungkam bibir Diana dengan ciuman seraya terus aktif memainkan area pribadi gadis itu. Hingga ia rasakan bagian itu terasa berkedut, tanda jika Diana telah mencapai pelepasannya. Tangan Diana pun terasa mencengkeram lengannya.
Raymond tersenyum di depan wajah Diana yang merah karena menahan malu.
"Bagaimana? Jika ku hentikan kau tidak akan merasakan nikmat itu, bukan?" godanya yang langsung membuat Diana merasa salah tingkah.
Sementara Raymond hanya menyeringai samar sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kita lanjutkan nanti di mansion."
Diana membelalak seketika mendengarnya.