Hai reader ...
Please tap lovenya jika kalian suka cerita ini, biar authornya makin semangat buat terus update cerita ini. Follow juga akun authornya ya, biar authornya semangat juga buat membuat cerita yang lainnya lagi.
_______
"Kak, Kak Diana! Ayo dong kasih tau Liona, kenalin Liona sama cowok tadi, please!"
Karena Diana tak menghiraukannya, Liona terus merengek pada kakak tirinya. Ia bergelayut sok manja pada Diana. Padahal, ya ... dia tidak pernah bersikap baik sedikitpun pada Diana. Tidak sedikitpun, baik saat mereka masih kaya ataupun sudah jatuh miskin.
Saat ini Diana sibuk merapikan selimut ayahnya, meski sejak tadi juga sudah rapi. Diana hanya ingin ayahnya merasa nyaman dan bisa merasakan kehadirannya saat ini.
"Kak, jadi nggak mau cerita nih?" Liona berpura-pura merajuk.
"Apa sih, Liona? Kakak tidak ada waktu dan malas sekali membahas tentang laki-laki itu!" hardik Diana. Jangankan bercerita panjang lebar. Diana masih merasa sebal pada lelaki yang kini mengikat kebebasannya. Lelaki yang sudah mengambil hal paling berharga darinya.
"Ya siapa lagi kalau bukan laki-laki tadi. Dia bilang teman dekat Kakak, kan?"
"Dia hanya ngaku-ngaku. Kakak hanya nggak sengaja ketemu dia." Diana dengan malas menjelaskannya.
"Masa? Kalau bukan teman dekat ngapain dia mau repot-repot biayain ayah. Kan biayanya nggak murah. Atau jangan-jangan ...." Liona menggantung ucapannya, ia memicingkan matanya dan mulai menyelidik.
"Kakak jadi simpanannya, ya?" tanyanya spontan, membuat Diana panas dingin mendengarnya.
Bagaimana tebakan Liona bisa tepat begitu? Tenggorokan Diana terasa tercekat.
"Kamu sudah gila, ya? Mana ada lelaki yang mau menyimpan ku sebagai simpanan?" Diana menjawabnya dengan tatapan tajam. Walaupun kenyataannya memang benar tapi dia tidak mungkin membenarkan pertanyaan Liona.
Liona memanyunkan bibirnya. Benar juga, meski tak kalah cantik darinya namun Diana terlihat tidak menarik. Dandanannya ala kadarnya, tidak modis seperti dirinya. Sementara selera orang-orang dengan julukan hidung belang tidak seperti itu, karena Liona sendiri pernah menjadi simpanan om-om.
"Iya juga sih, Kak Diana kan agak kuno dandanannya, tapi darimana Kakak dapat baju sama tas mewah itu?" tanya Liona.
"Ini? Ini ... sudahlah, lain kali ku ceritakan. Pikiranku kacau, jangan membuatnya tambah kacau dengan segala pertanyaan mu itu."
"Ya udah, aku pulang sama ibu dulu. Emm ... oh ya, Kakak ada uang? Uangku habis nih, lapar. Di rumah nggak ada apa-apa, bagi uangnya dong!" Tanpa sungkan Liona menengadahkan tangannya meminta uang pada kakak tirinya.
"Nggak ada! Gaji kakak belum ditransfer. Lagi pula kamu kalau punya uang tuh digunain baik-baik, jangan hura-hura terus! Lihat tuh ibu kamu, kasian nggak ada yang kasih uang," sindir Diana.
"Ya udah sih kalau nggak mau kasih uang. Nggak usah ceramahin aku." Liona melengos dengan cepat dan keluar dari ruangan tempat ayah tirinya dirawat. Ia merasa sebal dengan Diana.
Sementara Diana hanya menggelengkan kepalanya melihatnya. Ia kemudian fokus pada ayahnya yang terbaring tak berdaya dengan tubuh yang dipasangi beberapa alat.
"Ayah ... Ayah yang kuat, ya. Diana usahakan yang terbaik buat ayah. Ayah harus sembuh dan sehat lagi." Air mata Diana tak bisa ditahan lagi. Ia sedih karena ayahnya tak lagi bisa menyahuti ucapannya, ia juga sedih harus memilih jalan seperti ini demi kesembuhannya.
Diana tidak sanggup rasanya jika harus ditinggalkan secepat ini. Ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi dalam hidupnya.
"Ayah, jika suatu saat ayah mendapati fakta tentang Diana yang seperti ini, Diana mohon ayah jangan kecewa. Diana tahu ini salah, tapi Diana tidak punya pilihan lagi. Diana nggak sanggup hidup sendirian tanpa ayah disisi Diana." Diana meletakkan kepalanya diatas tangan ayahnya yang ada dalam genggamannya. Air matanya terus bergulir, lolos dari pelupuk matanya.
Tring ....
Ponsel Diana berdering. Dilihatnya, sebuah nomor tak dikenal meneleponnya.
"Halo!" sapanya seraya menetralkan suaranya dan mengusap lelehan bening dimatanya.
"Mau sampai kapan kau akan berada di dalam sana? Cepat kembali ke mobil! Orang suruhan ku sudah datang, jadi kau bisa pergi meninggalkan ayahmu disana." Suara siapa lagi kalau bukan Raymond. Lelaki menyebalkan dimata Diana.
"Sebentar lagi. Ijinkan aku sebentar lagi untuk tetap disini sebelum ayahku diterbangkan keluar negeri."
"Tidak!" tolak Raymond dengan tegas.
"Hhh ... baiklah! Tunggu saja disana! Aku segera kesana!" jawab Diana dengan kesal. Ia lalu menutup teleponnya.
"Dasar lelaki menjengkelkan! Seenaknya saja menyuruh ini dan itu. Mengatur ini itu." Diana menggerutu sambil memasukkan kembali ponselnya.
"Ayah, Diana pergi dulu. Pokoknya ayah harus sembuh, dan juga jangan lupa untuk terus mendoakan Diana," ujarnya kemudian, lalu mencium tangan ayahnya.
Ia sebenarnya tidak tega meninggalkan ayahnya sendirian dan dijaga orang asing yang bahkan Diana sendiri tidak tahu seperti apa wajah mereka. Tapi jika tidak pergi, ia juga tidak bisa menyelamatkan hidup ayahnya.
Sebagai seorang simpanan, ia harus bersikap manis dan menurut pada Raymond. Ia tidak boleh membuat Raymond kecewa, bukan?
Diana berjalan menyusuri lorong rumah sakit hingga ke tempat parkir. Ia melihat Raymond berdiri disamping mobil mewahnya.
"Lama sekali!" protes Raymond.
"Apa kau tidak bisa bersimpati sedikit saja? Dia adalah ayahku. Sedang sakit keras dan berjuang melawan maut yang bisa datang kapan saja. Aku hanya ingin menemaninya." Diana menjawab dengan sengit.
"Hhh ... sudahlah. Aku tidak suka mendengar keluhan orang-orang lemah seperti itu. Ikut aku sekarang!" Raymond meraih tangan Diana dan menuju kembali ke dalam rumah sakit.
"Kita mau kemana?"
"Ikut saja! Sekali saja menurut lah tanpa perlu bertanya ini dan itu!" Raymond terus berjalan. Langkahnya begitu lebar hingga menyulitkan Diana untuk berjalan sejajar dengannya.
"Dia ini manusia apa bukan, sih? Cepat sekali jalannya," rutuk Diana dalam hati.
"Kau mengumpat?" Raymond berhenti.
"Tidak! Telingamu sudah rusak mungkin. Aku tidak bicara apapun." Diana berkilah, padahal ia memang merutuki lelaki yang kini berjalan dihadapannya.
"Dasar lelaki angkuh. Tidak punya hati!" Kembali Diana mengumpat.
"Jika kau mengumpati ku, aku tidak akan mengampunimu malam ini. Lihat saja, besok pagi kau tidak akan bisa berjalan." Sebuah seringai terbit di bibir Raymond, dan itu terlihat mengerikan dimata Diana.
"Hei, apa dia punya mata batin? Dari tadi seolah tahu jika aku sedang mengumpatinya." Diana membatin dan tak habis pikir.
Bruk ....
Diana menubruk pria kekar dihadapannya karena pria itu berhenti tiba-tiba.
"Kalau jalan, matanya juga dipakai!" Raymond melirik tajam.
"Salah siapa berhenti mendadak?"
"Sssttt! Pelankan suaramu!
Diana pun reflek membungkam mulutnya sendiri setelah Raymond menegurnya. Ia pun melirik kiri kanan dan mendapati tulisan spesialis kandungan dipapan kayu di depan ruangan tempatnya kini berada.
"Mau apa kita kesini?" tanyanya kemudian.
"Ikut saja!"
"Hhh ... ikut saja! Ikut saja! Selalu seperti itu. Apa sebenarnya maunya. Apa dia ingin aku mengandung anaknya? Oh tidak! Enak saja menginginkan hal itu," batin Diana.
Tanpa perlawanan lagi, Diana mengekor dibelakang Raymond yang sedang masuk ke ruangan itu.
"Selamat datang, Tuan Raymond. Silahkan duduk!" Dokter dan asistennya mempersilahkan mereka duduk.
"Apa yang bisa kami bantu, Tuan?"