Menjelang malam, Flak menemukan Kay menunggu di ruang duduk rumah mereka di Maine. Ia telah mengabari bahwa ia pulang terlambat, tetapi tidak menjelaskan lebih banyak. Kali ini ia menelepon sebelum meninggalkan Washington dan kembali mengirim pesan saat pesawatnya mendarat. Itu tidak menghapus hari-hari yang pernah ia tinggalkan tanpa penjelasan, tetapi setidaknya Kay tidak harus menebak apakah ia masih hidup.
“Aku tidak bisa menceritakan semuanya,” katanya setelah meletakkan jaket. “Ada penyelidikan yang sedang berjalan. Aku bisa memberitahumu bahwa aku aman, dan aku harus kembali ke Washington besok.”
Kay menutup buku yang ada di pangkuannya. “Aku tidak membutuhkan rincian rahasia. Aku perlu tahu kapan kau menghilang dari hidupku.”
Flak duduk di kursi seberangnya, menjaga jarak yang memberi ruang untuk memilih. “Aku mengerti. Aku tidak bisa menjanjikan jadwal yang selalu teratur. Tapi aku bisa memberi kabar sebelum pergi dan mengatakan kapan aku akan menghubungimu lagi.”
“Dan kalau kau belum tahu?”
“Aku bilang belum tahu. Aku tidak akan mengatakan semuanya baik-baik saja kalau aku bahkan tidak bisa memastikan itu.”
Kay memandangnya lama. “Itu lebih baik daripada surat yang kutemukan setelah kau pergi.”
“Aku tahu.” Flak menunduk. “Aku minta maaf.”
Ia tidak meminta Kay menghiburnya. Ia tidak menjelaskan bahwa pekerjaan itu penting atau bahwa orang lain bergantung padanya. Ia hanya membiarkan permintaan maaf itu berdiri tanpa syarat. Kay kemudian meletakkan bukunya di meja.
“Aku masih harus menyelesaikan disertasiku. Pembimbingku sudah mengirim catatan revisi. Hidupku tidak berhenti saat kau pergi, Robert.”
“Aku tidak ingin itu berhenti.”
“Bagus. Karena aku juga tidak akan meninggalkan semua hal yang sedang kubangun hanya untuk menunggu kabar darimu.”
Flak mengangguk. “Aku menghormatinya.”
Mereka makan malam sederhana, lebih banyak diam daripada bicara. Diam itu tidak terasa seperti hukuman. Setelah selesai, Kay menjelaskan jadwal konsultasinya dengan pembimbing dan rencana presentasi riset bulan depan. Flak mendengarkan tanpa berusaha mengaitkannya dengan pekerjaannya. Ia bertanya tentang model matematis yang sedang Kay uji, lalu meminta Kay mengulang bagian yang tidak ia pahami. Kay tertawa kecil melihat ia sungguh-sungguh berusaha mengikuti.
“Jangan berpura-pura mengerti,” katanya.
“Aku tidak berpura-pura. Aku memang belum mengerti.”
“Setidaknya jujur.”
Pagi berikutnya, Flak menghubungi Maggie dari mobil. Ia mengatakan bahwa ia akan kembali ke Washington tetapi akan menelepon Kay setelah tiba. Maggie tidak menyindirnya. Ia hanya berkata tim William menemukan ketidaksesuaian antara satu transkrip dan waktu komunikasi yang dicatat. Mereka akan memeriksanya lagi sebelum mengubah penilaian.
“Jangan berangkat hanya karena sebuah ketidaksesuaian,” kata Flak. “Minta mereka memastikan sumbernya.”
“Sudah. Naya juga sedang membandingkan catatan FBI.”
“Bagus.”
Saat tiba di kantor, ia menemukan Naya di ruang arsip dengan lembar transkrip terbuka. Ia telah memberi tanda pada bagian yang waktunya tidak cocok dengan laporan awal. “Kalau kita membaca ini sebagai pesan kepada Tom, artinya Idris memberinya jadwal sebelum serangan. Tapi jam pada salinan cadangan menunjukkan pesan itu mungkin dikirim setelah jadwal berubah.”
“Berapa besar selisihnya?” tanya Flak.
“Belum bisa dipastikan. Jam pada perangkat sumber tidak disinkronkan. Aku tidak akan menyebutnya bukti yang membebaskan dia, tapi itu membuat kronologi awal kita tidak kokoh.”
Flak menatap lembar itu. “Kirim ke Kelly dengan penjelasan yang sama.”
“Sudah kukirim. Dia meminta kami menahan kesimpulan sampai ahli forensik mengonfirmasi.”
“Dan Grant?”
“Belum.”
Maggie masuk beberapa menit kemudian. Ia membaca temuan Naya dan memutuskan laporan itu diteruskan kepada Grant. “Kalau ketidakpastian disembunyikan, kita mengulang kesalahan lama dengan alasan berbeda.”
Flak menatapnya, menyadari betapa berat kalimat itu bagi seorang pejabat yang selama ini menjaga rahasia institusi. Maggie tidak membahas masa lalu mereka. Ia hanya mengirim dokumen melalui jalur resmi dan meminta penerima mencatat perubahan kronologi.
Di rumah sakit, Naya menerima kabar bahwa Naomi belum siap menerima kunjungan. Naya menjawab bahwa ia mengerti dan tidak meminta tanggal. Ia menuliskan permintaan maaf di catatan pribadi, bukan untuk memaksa Naomi membacanya, tetapi supaya ia tidak menghapus tanggung jawab itu dari ingatannya.
Sore itu, Kelly mengadakan konferensi singkat bersama CIA. Tidak ada kamera. Ia menyampaikan bahwa FBI belum menyimpulkan keterlibatan Idris dalam pembunuhan Senator Chow dan tidak akan memberi rincian penyelidikan. Grant meminta waktu untuk menjelaskan temuan CIA, tetapi Kelly menolak mengeluarkan klaim sebelum diverifikasi. Mereka akhirnya sepakat mengeluarkan pernyataan bersama tentang kerja sama dan keselamatan para korban.
Setelah konferensi, Naya berjalan bersama Flak menuruni tangga. “Kita baru saja menghabiskan satu hari untuk mengatakan bahwa kita belum tahu.”
“Itu juga informasi,” kata Flak. “Kadang jawaban paling berguna adalah batas dari apa yang bisa kita pastikan.”
Naya memandang halaman gedung yang ramai. “Mereka tidak suka mendengarnya.”
“Tidak harus suka.”
Ia terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku akan tetap menyelidiki kebocoran itu. Tapi bukan karena Kelly menuduh kita. Kalau ada orang yang membocorkan informasi, kita harus mengetahuinya.”
“Setuju.”
Ponsel Flak bergetar. Pesan Kay menanyakan apakah ia sudah makan. Ia mengetik bahwa ia belum, tetapi akan mencari makanan setelah rapat terakhir. Pesan berikutnya datang: jangan lupa menelepon setelahnya. Ia membalas, “Aku ingat.”
Naya melihat senyum kecil di wajahnya. “Dia?”
“Ya.”
“Bagus. Jangan membuat dia menebak.”
“Aku sedang belajar.”
Mereka kembali masuk. Di papan kerja, foto Tom Norris masih tergantung di antara potongan data, bukan sebagai jawaban akhir, melainkan sebagai pertanyaan yang semakin besar. Flak menatapnya lama. Ia tahu masa lalu sedang mendekat, tetapi kali ini ia tidak akan membiarkan rasa bersalah menjawab lebih dulu daripada bukti.
Naya meninjau catatan kunjungan rumah sakitnya sebelum rapat terakhir. Ia tidak mengirim permintaan maaf kedua, karena tidak ingin membebani Naomi dengan kewajiban membalas. Ia memastikan petugas penghubung memahami bahwa semua komunikasi harus melalui jalur yang disetujui Naomi atau keluarganya. Lalu ia menutup map. Selama ini ia mengira ketekunan berarti terus meminta jawaban. Ia mulai mengerti bahwa kadang kerja yang benar adalah berhenti mengetuk pintu dan membiarkan orang lain memutuskan kapan pintu itu dibuka.