Menjelang senja, udara semakin dingin dan salju halus menempel di kaca mobil. Kelly menolak tawaran kopi dari seorang agen karena tangannya sudah terlalu gemetar untuk memegang cangkir. Ia berdiri dekat meja komunikasi, membaca ringkasan percakapan yang dicatat menit demi menit. Setiap kalimat Idris ditulis apa adanya. Tidak ada tafsir di sela-selanya.
Naya memeriksa catatan itu bersama negosiator. “Kita harus memastikan orang di dalam sudah benar-benar sendirian sebelum meminta dia keluar.”
“Staf itu mengatakan tidak ada orang ketiga,” jawab Kelly. “Tapi dia masih terlalu terguncang untuk menjawab pertanyaan panjang.”
“Jangan membuatnya mengulang semuanya,” ujar Naya. “Biarkan dokter menanganinya.”
Kelly memandangnya, lalu memberi instruksi kepada agen untuk tidak meminta wawancara malam itu. Ia mungkin ingin segera mengisi kekosongan informasi, tetapi ia melihat sendiri harga yang harus dibayar seseorang ketika kebutuhan investigasi menyingkirkan martabatnya.
Flak berbicara dengan Maggie melalui telepon terenkripsi. Ia tidak menyampaikan rincian yang belum dikonfirmasi, hanya bahwa negosiasi masih berlangsung dan seorang staf telah keluar dengan selamat. “Naya bekerja baik dengan Kelly,” katanya.
“Jangan ganggu dia,” jawab Maggie. “Aku akan menangani pertanyaan Grant.”
“Grant menganggap dia masalah?”
“Grant menganggap semua orang masalah sampai mereka membuktikan sebaliknya.” Ada jeda. “Kau sendiri, Flak, harus ingat bahwa kau bukan komandan di sini.”
“Aku tahu.”
“Bagus. Tetap di belakang Kelly.”
Flak menutup telepon. Ia tidak tersinggung. Maggie benar. Tugasnya bukan untuk mengambil alih, melainkan memberi Kelly informasi yang bisa membantu dan mengendalikan bagian dirinya yang selalu ingin bergerak sebelum semua orang lain siap.
Mikrofon negosiator menyala. Kelly berbicara kepada Idris, memberitahunya bahwa staf itu selamat dan sudah berada bersama tenaga medis. Ia juga mengingatkan bahwa mereka tidak akan memasuki ruangan selama tidak ada bahaya mendesak. “Kami siap mendengar apa yang Anda butuhkan,” katanya.
“Air,” jawab Idris.
Permintaan itu terdengar biasa, nyaris menyedihkan. Kelly bertanya bagaimana air bisa diserahkan dengan aman. Idris ingin meletakkannya di dekat pintu, lalu meminta petugas mundur. Kelly mengatur agar sebotol air dan selimut diletakkan di titik yang disepakati. Tidak ada yang berusaha memanfaatkan momen itu untuk mendekati pintu.
Mereka menunggu sampai Idris mengambil keduanya. Setelah itu ia tidak bicara selama beberapa menit. Pada saat itu, Kelly menerima telepon dari atasannya. Ia mendengarkan dengan wajah mengeras, menjawab bahwa ia bertanggung jawab dan tidak akan mengubah rencana hanya karena siaran langsung. Setelah panggilan berakhir, ia menatap Flak.
“Mereka ingin penyelesaian sebelum malam.”
“Penyelesaian bukan berarti pintu harus didobrak,” kata Flak.
“Aku tahu. Aku hanya ingin semua orang tahu tekanannya.” Kelly kembali ke pengeras suara. “Idris, kami ingin Anda keluar. Anda bisa meletakkan apa pun yang Anda pegang di dalam, lalu berjalan ke pintu dengan tangan terlihat. Kami tidak akan membuat Anda berlari. Kami akan memberi instruksi satu per satu.”
Kesunyian berlangsung begitu lama sehingga seorang petugas di belakang mereka mulai bergeser gelisah. Naya menatapnya, dan petugas itu kembali diam. Tak seorang pun menyalakan mikrofon untuk mengisi jeda.
Akhirnya, Idris bertanya, “Apa yang terjadi setelah saya keluar?”
Kelly menjawab dengan hati-hati. Ia akan diperiksa, ditahan untuk ditanyai, dan mendapat akses kepada pengacara. Ia tidak akan menjanjikan hasil yang berada di luar kuasanya. “Anda akan diberi kesempatan menjelaskan apa yang terjadi. Tidak seorang pun bisa memutuskan bersalah atau tidak bersalah di trotoar ini.”
Flak melihat tirai bergerak lagi. Beberapa detik kemudian, pengeras suara mengeluarkan satu kalimat: “Saya ingin pengacara.”
“Anda berhak meminta pengacara,” jawab Kelly. “Kami akan mencatat permintaan itu.”
“Dan saya ingin tahu apakah staf itu baik-baik saja.”
Kelly meminta izin mengonfirmasi lewat jalur medis. Setelah mendapat konfirmasi bahwa perempuan itu sadar dan sedang ditangani, ia menyampaikan kabar tersebut tanpa menyebut namanya.
“Dia selamat,” katanya. “Dokter sedang bersamanya.”
Tak ada jawaban, tetapi bayangan di balik tirai menjauh. Lima menit kemudian pintu lantai dasar terbuka. Idris muncul di sisi dalam lobi, cukup jauh untuk tidak terlihat dari jalan. Kelly meminta semua petugas menahan posisi. Ia lalu mengulang instruksi sederhana, satu demi satu, melalui pengeras suara gedung.
Idris berjalan keluar dengan tangan terbuka. Ia tidak membawa apa pun. Para petugas mendekat perlahan setelah Kelly memberi tanda. Seorang agen membacakan perintah dan hak-haknya, kemudian memasangkan borgol tanpa kekerasan. Idris menunduk, tubuhnya menggigil; tak jelas apakah karena dingin atau karena kelelahan.
“Jangan dorong dia,” kata Kelly kepada petugas yang menggiringnya. “Beri ruang.”
Sebuah ambulans tetap menunggu. Idris menolak pemeriksaan pada awalnya, lalu setuju setelah dokter menjelaskan bahwa ia dapat diperiksa tanpa diwawancarai. Ketika pintu ambulans tertutup, Naya baru sadar bahunya tegang sejak berjam-jam lalu.
Kelly berdiri di sampingnya. “Kita punya orang selamat. Kita juga punya seseorang yang akan ditanyai secara sah. Itu cukup untuk malam ini.”
“Dan kita masih belum tahu apa yang dia lakukan,” kata Naya.
“Benar. Kita akan mencari tahu tanpa mengarang jawabannya.”
Flak memperhatikan para wartawan yang kini berebut melaporkan penyerahan diri itu. Mereka menyebut nama Idris dengan suara yang sama kerasnya seperti sebelumnya. Tidak satu pun menyebut betapa lama ia menunggu, atau bahwa ia meminta pengacara, atau bahwa keputusan untuk keluar dibuatnya sendiri.
Naya memperhatikan seorang petugas pers mendekat kepada Kelly. Ia menduga mereka akan mengeluarkan pernyataan singkat. Sebelum petugas itu bicara, Naya berkata, “Sampaikan bahwa tidak ada orang yang terluka dalam proses penyerahan. Jangan menyatakan motif atau keterlibatan lebih jauh.”
Kelly mengangguk. “Itu saja.”
Saat malam turun, Flak berjalan menjauh dari pusat komando. Ia harus menelepon Kay sebelum terlambat lagi. Ia belum tahu bagaimana menjelaskan hari itu, tetapi ia tahu diam bukanlah penjelasan. Di belakangnya, Naya mulai mendikte laporan awal. Kalimat pertamanya sederhana: “Idris Rahman menyerahkan diri tanpa paksaan setelah staf kongres yang berada bersamanya berhasil keluar dengan selamat.”
Di dalam ambulans, dokter meminta Idris menyebutkan namanya dan tanggal hari itu. Ia menjawab benar, meskipun suaranya serak. Ia tidak meminta obat dan tidak menunjukkan luka yang terlihat. Petugas mencatat bahwa ia mengalami dehidrasi ringan dan kelelahan. Kelly menyampaikan catatan itu kepada pengacara yang telah diminta Idris. Pemeriksaan berlangsung singkat; setelahnya mereka memindahkannya ke ruang wawancara tanpa kamera. Semua orang sepakat bahwa malam itu bukan waktu untuk mengejar pengakuan. Keputusan itu membuat jadwal penyelidikan mundur, tetapi menjaga proses tetap bersih.